Suami Dadakan

Suami Dadakan
extra part 4


__ADS_3

🌻🌻🌻🌻


🌻🌻🌻🌻


Reza menatap punggung istrinya dengan sangat kesal, masuk kedalam kamar mandi untuk mengadakan konser dadakan agar bisa bersolo karir, karna jika tidak begitu sudah bisa di pastikan esok ia akan badmood seharian.


"Tega banget, udah kaya apa aja gue!"


Reza terus berusaha melepaskan apa yang belum ia dapatkan, meski rasanya lain tapi mau tak mau ia juga menikmatinya


"Bae Bae ya cebong, kalian di buang bukan pada tempatnya, mudah-mudahan gak nyangkut di tempat yang aneh aneh"


Ia tertawa sendiri melihat para bibit cebong nya masuk kedalam aliran pembuangan air di kamar mandi.


"Lo pilihan terakhir saat sang pawang menyegel kandang nya secara mendadak!!"


Reza meletakan kembali botol sabun yang menjadi teman terbaiknya saat mengalami drama macet tengah jalan.


.


.


.


"Males banget tidur Sendiri!" gumamnya saat meringsek ke tengah kasur yang berantakan, ia meraih bantal guling yang tadi berserakan di lantai.


Jika dulu ia akan merengek meminta Melisa kembali ke kamar tapi tidak untuk akhir akhir ini, anak anak yang sudah besar sudah paham jika kedua orang tuannya memakai drama kejar kejaran di luar kamar.


***


"Mah.. ko disini?"


Cahaya yang sudah terlelap harus kaget saat bergeliat di pelukan Melisa, wanita yang selalu menghangatkan tubuhnya.


"Mau nemenin adek tidur, boleh?"


"Boleh banget, Mah" si bungsu langsung berhambur memeluk mamanya dengan menenggelamkan kepalanya di dada Melisa.


Wanita beranak tiga itu tak bisa memejamkan matanya, rasa gelisah dan takut di pisahkan dengan Langit kini menyelimuti hatinya. Lima belas tahun menganggap Langit seperti anaknya sendiri, menyayangi sepenuh hati tak membeda-bedakan dengan anak kandungnya sendiri. Bahkan saat Reza ingin mencari kedua orang tua Langit, ia dengan tegas menolaknya.


Melisa tak siap jika Langit melupakannya, apalagi harus berbagi kasih sayang dengan ibu kandungnya kelak


Egois?


Ya, cintanya pada Langit membuat Melissa seakan menutup matanya dari siapa Langit yang sebenarnya.

__ADS_1


Anak kecil yang ia temukan di jalanan saat berumur tiga tahun kini menjadi sosok remaja dengan ratusan prestasi. Tubuh tinggi dan tampannya tentu menjadi rebutan para gadis dan entah berapa kali ia harus menenangkan si bungsu karna rasa tak sukanya saat Abang kesayangannya menjadi incaran di dalam maupun di luar sekolah dari yang menembak Langit secara terang-terangan ataupun hanya menjadi pemuja rahasianya. Air dan Bumi lah yang biasanya menjadi jembatan pengirim salam atau hadiah untuk Langit karna jika meminta pada Cahaya, gadis itu tak akan tinggal diam biasanya langsung membuang apapun yang di titipkan padanya di hadapan Langit.


"Adek bisa kasih yang jauh lebih bagus! Abang gak butuh ini semua"


Itulah yang selalu Cahaya teriakkan di depan Langit sambil menangis.


"Abang memang gak butuh semua itu, Abang cuma butuh kamu selalu senyum buat Abang, jangan nangis lagi ya!"


Jawab Langit sambil memeluk Cahaya, biasanya langsung bisa meredam emosi si bungsu.


****


Bumi dan Langit yang sudah duduk di meja makan hanya diam memperhatikan mama dan kakaknya menyiapkan sarapan pagi ini, kebiasaan si sulung ikut memasak di dapur bukan hal yang aneh lagi meski hanya membantu tapi keahliannya merajang bumbu dan memainkan Pisau sudah tak bisa diragukan.


"Mah, udah wangi belum?" tanya Air saat bumbu yang ia iris sudah di masukan ke dalam wajan diatas kompor.


"Udah sayang, kamu masukin sayurnya" titah Melisa sambil merapihkan piring di atas meja, ia menoleh ke arah tangga karna Cahaya dan Suaminya belum juga turun dari lantai atas.


"Kak, adek sama papa udah bangun belum sih?" tanya Melisa pada Bumi yang di balas gelengan kepala.


"Coba aku liat dulu, mah" ucapnya.


Namun belum sempat beranjak, suara gelak tawa sudah terdengar di tengah tangga, Anak dan papanya itu kini sudah muncul sebelum Bumi melihatnya.


"Pagi, mah..kakak.. Abang." sapa si bungsu dengan senyum Cantiknya.


"Kok papa gak di sapa?" tanya Reza.


"Kan udah tadi di depan kamar dengan bonus cium di pipi kanan sama kiri" jawab Cahaya sambil menunjuk kedua pipi Reza.


"Lupa!"


Kini semuanya sudah siap di meja makan untuk menikmati sarapan pagi sebelum memulai seluruh aktivitas di awal Minggu.


Hari yang paling menyebalkan bagi Air.


"Hari ini gak ada bekal ya, mama gak sempet bikin" ucap Melisa setelah hidangan tandas tak tersisa.


"Sayurnya Kakak yang masak ya?" tanya cahaya merengut kearah si sulung.


"Iya, kenapa?, hanya ada dua kemungkinan yaitu enak banget sama enaknya pake banget, ha-ha-ha" ucapnya dengan bangga.


"Pedes banget!!" jawab Cahaya setelah meneguk susu untuk menetralkan rasa pedas di lidahnya.


"Mana kakak tau, kan gak di cobain dulu"

__ADS_1


Air tetaplah Air.


dari semasa balita sampai remaja ia masih tak menyukai sayuran, ia cukup memasaknya tanpa di cicipi namun hebatnya selama ini tak pernah ada yang Protes dengan rasanya walau ia hanya menakar sesuai apa yang ia tau.


"Lain kali di kurangi cabenya ya"


Air hanya tersenyum lebar sampai terlihat semua deretan gigi putihnya.


"Yuk, berangkat. Udah siang" Ajak Bumi yang sudah lebih dulu berdiri, anak kedua Reza itu selalu on time pada semua hal. Ia tak suka menunggu dan di tunggu.


Semuanya kini bangkit termasuk Melisa yang sudah siap menerima pelukan dari keempat anak-anaknya.


"Hati-hati dijalan, jangan pada ribut ya. Kakak nih harus lihat lihat kalau jalan ya" pesannya terutama untuk si sulung


"Siap Mah"


"Abang, jagain adek adeknya ya"


Langit mengiyakan sambil tersenyum, pelukan hangat tak lupa juga ia berikan karna butuh waktu lima hari kedepan ia baru bisa memeluk BUNA nya lagi.


"Adek cukup duduk manis ya cantik"


Melisa hanya tak ingin terjadi sesuatu pada putri kecilnya yang mudah lelah dan berakhir sesak nafas.


"Bu, jaga Adek dan kakakmu"


Kedua anaknya itu mengangguk paham, Melisa tak pernah bosan mengucapkan semua itu sebelum mereka menuju tempat dimana semua ilmu dan pengalaman mereka dapatkan.


"Pesen buat aku apa?" goda Reza.


.


.


.


.


.


"SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA!!!


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Sini bang, sahurnya ma gua πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

__ADS_1


Kecian banget si lo Bang!!


Ntar pulang kerja mampir ke indoapril ya buat borong sabun yang banyak 🀣🀣🀣🀣🀣🀣🀣🀣...


__ADS_2