Suami Dadakan

Suami Dadakan
extra bab 184


__ADS_3

🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Abang pulang hari ini ya, bareng Buna?


Permintaan Melisa yang cukup terang-terangan membuat semuanya tercengang.


"Ra.."


"Rumah Abang disana, Abang cuma punya satu tujuan pulang!" ucapnya tegas, satu tetes air mata jatuh lagi di pipinya.


"Iya Abang nanti pulang ya" jawab Langit sambil menghapus air mata wanita yang sudah menjaganya lebih dari dua puluh tahun.


"Gak harus nunggu nanti kalau sekarang pun bisa!" sambungnya lagi dengan nada tak ketus.


Reza mengangguk kan kepala saat Langit menoleh padanya, ia meminta anak itu untuk merayu KHUMAIRAHnya lebih dulu.


"Iya, Abang ikut pulang"


"Anak pintar. Nanti Buna buatkan makanan kesukaanmu"


Diana melengos. Semakin pedih rasa hatinya kini, di usia anaknya yang menginjak dua puluh empat tahun bahkan ia ragu tentang makanan yang disukai langit apakah masih sama dengan saat ia dulu mengurusnya.


"Apa kamu masih suka dengan kentang goreng?" tanya Diana, hanya itu kesukaan sang anak yang ia tahu.


"Gak! Abang gak aku biasain makan kentang goreng" Melisa menyelak ucapan Langit yang baru saja ingin menjawab.


"Padahal dulu kamu suka banget kalo di gorengin kentang" tutur Diana dengan nada getir.


"Aku suka, meski gak sering makannya" balas Langit. Ia sedang benar-benar menjaga dua wanita pemilik surganya itu.


Reza menghela nafas kasar. Ini bukan KHUMAIRAHnya , Melisa seakan menjelma menjadi sosok orang lain yang tak ia kenal.


Begitu besar rasa sayangnya pada Langit hingga ia membuang semua sisi baiknya dan malah menonjol kan sifat angkuhnya.


Ia seakan mengecam seluruh dunia jika ia lah yang pantas hanya di sebut ibu.


.


.


.


"Ra.. kita makan siang dulu, aku lapar " ajak Reza yang sudah mulai jengah dengan sorot mata Melisa yang begitu tajam menatap Diana.

__ADS_1


"Ayo, Bang" bukan menjawab ajakan suaminya, ia malah menarik tangan Langit, tapi anak itu menahannya sampai membuat Melisa mengernyitkan dahinya.


"Kenapa?" tanya Melisa.


"Abang udah makan, Bun" jawab Langit.


"Makan sama apa?, makanan rumah sakit?" tanya Melisa lagi.


"Enggak, tadi Nana bawain makanan buat Abang"


Melisa melepas tangannya dari Langit, kini tangannya ia lipat didepan dada


"Siapa lagi Nana?"


"Saya Nyonya" jawab Nana yang ternyata sedari tadi berdiri di dekat pintu.


"Kamu siapa?" tatapan tajam Melisa kini beralih kepada gadis dua puluh tiga tahun itu.


"Saya yang mengurus nyonya Diana" jawabnya cepat namun tetap sopan.


Reza langsung merangkul bahu Melisa, setelah ia berpamitan untuk makan siang lebih dulu.


Melisa yang meronta akhirnya diam saat Reza mencium bibirnya.


Ia tak akan melepas pagutan nya jika Melisa belum meminta ampun.


"Maaf" lirihnya dengan nafas tersengal.


.


.


.


Reza tak menjawab permintaan maaf istrinya, ia hanya menarik tangan Melisa keluar dari rumah sakit menuju mobilnya.


Tak ada obrolan sama sekali di antara mereka, Keduanya tenggelam dalam pikirannya masing-masing.


Melisa dengan rasa takutnya dan Reza dengan rasa serba salahnya.


Mobil melaju dengan kecepatan tinggi sampai Melisa harus memegang setbelt nya karna takut.


Tapi ia bisa bernafas lega saat kendaraan suaminya itu berhenti di sisi pantai dengan hamparan pasir putih yang luas.

__ADS_1


"Kesini?" tanya Melisa bingung.


"Hem.." jawab Reza sambil turun dari mobilnya.


Melisa yang belum mengerti ikut turun juga dan menyusul suaminya mendekat ke arah laut lepas.


Kini mereka berdiri berdampingan namun masih saling diam.


"Ra.."


"Iya, Mas" jawab Melisa dengan tatapan kosong melihat air laut berwarna biru.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jika pasir ini terlalu kuat kamu genggam, ia akan jatuh lewat celah celah jarimu, begitupun jika kamu hanya meletakkannya di atas telapak tangan yang terbuka, ia pun akan habis terbawa angin. Tapi jika kamu menggenggamnya dengan lembut, percayalah...


ia akan bertahan denganmu!!!!



🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉


Oy.. akoh hayang ngojay 😂😂😂


What is ngojay?


Berenang euy 🤭 🤭🤭 biar adem ni kepala...

__ADS_1


Like komen nya yuk ramai kan ♥️🤗


__ADS_2