Suami Dadakan

Suami Dadakan
bab 225


__ADS_3

🌻🌻🌻


Alarm yang bunyi lebih awal dari biasanya membuat Melisa tak langsung bangun, ia justru mengeratkan pelukannya pada sang suami yang masih terlelap, entah jam berapa Gajah kesayangannya itu menuntaskan misi tambahannya, yang jelas ia sudah terkapar tak berdaya setelah ronde pertama usai.


CapCipCup kembang kuncup Melisa lakukan sebelum beranjak dari tempat tidur, ia memunguti baju tidur tipisnya yang berserak di lantai.


"Masih utuh, bisanya di sobek!" kekeh Melisa saat memakainya kembali.


Mandi lalu berhias tipis sebelum akhirnya mengecek dua kamar anaknya.


Air dan Bumi masih tidur satu kamar berbeda dengan Cahaya yang dua tahun ini sudah tidur terpisah dari kakak-kakaknya.


CEKLEK.


Pintu di buka dengan sangat pelan, hanya lampu tidur yang menerangi kedua jagoannya yang terlelap di dalam kamar yang sangat luas.


Berbeda karakter tentu berbeda juga mau dan kesukaannya.


Si sulung yang ceria sangat menyukai warna terang yaitu kuning, sedang kan adiknya yang tak banyak bicara lebih memilih warna biru yang terkesan lembut dan tenang untuk menghiasai dinding bagian kamarnya.


"Masih pada tidur rupanya" Ucap Melisa saat mendekat ke arah dua ranjang yang berdampingan.


"Bawelnya mama, si cengengnya mama" ujarnya setelah mencium kening dan pipi Ay.


Berpindah ke ranjang Bumi, Melisa pun melakukan hal yang sama, mencium pelan kening si tengah yang tertidur dengan pulas nya.


"Pinter nya, mama"


Melisa menatap lama wajah teduh Bumi, anak introvent nya yang berbeda jauh dari sang kakak, namun Bumi justru lebih bisa mengungkap rasa sayang nya pada Melisa. tak jarang bocah berbulu mata lentik membisikkan rasa kagumnya pada sang mama yang menurutnya sangat luar biasa menghujani Melisa dengan ucapan terima kasih.


**


Pagi ini Melisa tak begitu sibuk di dapur menyiapkan sarapan, hanya sajian sandwich dan segelas susu yang akan suami dan anak-anak santap sesuai permintaan mereka.


"Pagi, mah" sapa Bumi lebih dulu disusul Cahaya dan Air yang baru saja datang dengan memanyunkan bibirnya.


"Kakak kenapa?" tanya Melisa yang aneh dengan raut wajah masam si sulung.

__ADS_1


"Gak apa-apa" jawabnya malas sambil menarik kursi.


"Dek, tolong panggil papa ya sayang" pinta Melisa pada si bungsu yang langsung di iyakan


Cahaya langsung kembali ke arah tangga, punggung kecil yang sudah memakai seragam sekolah itupun perlahan menjauh dan hilang.


Tok.. tok.. tok..


"Papa.. paaaa" panggil Cahaya di depan pintu kamar kedua orangtuanya sambil mengetuk pintu.


"Iya, sayang masuk"


Cahaya langsung membuka pintu, dilihatnya Reza yang sedang berdiri di depan lemari.


"Kok belum siap?" tanya sembari jalan mendekat.


"Belum sayang" Sahut Reza sambil menutup pintu lemari dengan tangan memegang satu dasi berwarna biru Dongker.


"Sini adek pakein, Pah" tawarnya pada Reza yang langsung berjongkok di hadapan putri kecilnya, dengan sangat cekatan mirip sekali mamanya si bungsu mengalungkan kain panjang itu ke leher papanya.


"Selesai!" Cahaya bertepuk tangan kecil saat ia sudah memasangkan dasi untuk Reza.


"Haha, kembali kasih yang mulia raja" sahutnya sambil terkekeh, Reza menciumi seluruh wajah si bungsu, gadis cilik kesayangannya.


"Yuk, sarapan, Pah.. kakak Ay lagi cemberut aja loh" adunya pada Reza yang sudah siap menggandeng tangannya.


"Kakak kenapa?" tanya Reza.


"Masih ngantuk katanya"


Kini Keduanya berjalan beriringan menuju dapur, sudah ada dua jagoannya yang menunggu di depan meja makan.


"Pagi sayang" sapa Reza pada Ay dan Bu.


Bocah tampan itu langsung memeluk papanya saat Reza mencium kedua pipi mereka.


"Kok yang ini asem banget sih, kaya mangga muda" ejek Reza pada si sulung yang menekuk wajahnya.

__ADS_1


"Ngantuk, Papa" rengeknya langsung minta di pangku.


"Memang Kakak semalem gak bobo?"


"Bobo, Pah tapi kebangun pengen pipis habis itu gak bisa bobo lagi sampe pagi" ucapnya lirih, matanya memang sedikit terlihat merah.


"Tapi kakak harus sekolah sayang" kata Melisa yang sudah menyiapkan sarapan di masing masing piring.


"Mau bobo" rengeknya lagi, kini Ay justru sudah menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Reza dengan manja.


Reza langsung mengangguk kan kepalanya ke arah Melisa dan wanita itupun paham walau tak setuju.


semuanya sarapan dengan lahapnya, begitupun dengan Reza yang menghabiskan roti sandwich nya sambil memeluk si sulung yang ternyata justru tertidur dalam dekapannya.


"Papa bawa kakak ke kamar dulu ya" ujar Reza pada si tengah dan si bungsu yang sudah bersiap untuk berangkat sekolah.


Dengan langkah panjang Reza langsung berjalan ke lantai dua kamar anaknya, di baringkan nya tubuh si sulung yang sudah memakai seragam sekolah.


"Ganteng banget sih, kak" ujarnya dengan bangga setelah mencium kening Air.


Reza mengernyitkan dahinya, di sentuhnya lagi dahi si sulung dengan telapak tangannya.


"***DEMAM!!"


.


.


💦💦💦💦💦💦💦💦💦***


Kakak kok Auh cih 😭😭😭


pasti kecapean mikirin 🐘 ya 🤭


Sembuh ya sayang, apa mau Mak otohor cium dulu bapaknya 🙈.


Like komen nya yuk ramai kan ❤️❤️

__ADS_1



__ADS_2