
🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Reza dan Melisa yang baru saja datang ke kediaman Bumi tentu disambut baik oleh sang menantu yang sudah menunggu. Hanya butuh waktu kurang lebih dua puluh menit jarak dari kediaman mereka ke rumah utama. Tapi beda cerita jika si sulung yang membawa mobil, Air yang sedari remaja hobby balap tentu akan lebih cepat sampai jika ia yang mengendarainya.
"Mah... Pah" Sapa Khayangan sambil meraih punggung tangan sang mertua rasa kandung untuk ia cium secara takzim scara bergantian.
"Apa kabarmu, Yang?" tanya Melisa.
"Sehat, Mah. Mamah sehat juga, kan?"
"Tentu, kami akan selalu sehat demi kalian semua" timpal Reza sambil merengkuh bahu istrinya.
Bumi yang tak mau kalah langsung melakukan hal yang sama, Yayang yang malu di perlakukan begitu manis di depan mertuanya dengan cepat mencubit perut Bumi.
"Abi, ih..."
Keempatnya pun tertawa bersama di ruang tamu, itulah kenapa Reza dan Melisa selalu nampak mesra di hadapan semua anak dan cucunya, mereka hanya ingin semua rukun diatas nama cinta dan keharmonisan sebuah hubungan yang terjalin dalam ikatan pernikahan.
Kahyangan yang berlalu ke dapur langsung membuat kan minuman dan membawa cemilan, tak adanya jarak antara ia dan Melisa membuat hubungan keduanya seperti anak dan ibu, Melisa lah tempat Ia mengeluh dan bersandar sejak menjadi yatim pintu, terlebih tak adanya perbandingan antara ia dan Hujan sebagai sesama menantu Rahardian. Tak perduli umurnya yang lebih tua tapi Hujanlah yang paling berhak di panggil kakak olehnya.
"Silahkan, Mah. Pah"
"Terimakasih, Sayang" balas Melisa yang duduk di sisi suaminya.
"Kapan Gala pulang?" tanya Reza.
__ADS_1
"Akhir pekan ini, Pah" jawab Bumi yang duduk di sofa single.
"Lalu Aurora? apa dia baik baik saja, semalam mama tak sempat mengangkat teleponnya"
"Ola semalam pergi, mungkin dia telepon mama untuk pamit" sambung Kahyangan.
"Semoga urusan mereka semua berjalan lancar dan kembali membawa kabar baik untuk kita semua" ujar Reza.
Aamiiin...
Hampir satu jam lamanya, Bumi meminta Reza dan Melisa untuk beristirahat di kamar yang sudah di persiapkan, letaknya di lantai bawah agar pasangan baya itu tak perlu repot naik turun lift.
Tak ada barang bawaan apapun yang mereka bawa karna semua sudah ada dan di siapkan seperti biasa.
"Tak perlu, nanti biar mama hubungi kamu jika butuh sesuatu" jawab Melisa.
"Mama jangan cari sendiri ya, panggil aku atau Yayang juga ART disini" pesan Bumi. Ia paling tak suka mamanya selalu beralasan tak ingin merepotkan padahal gunanya ia sebagai anak adalah untuk selalu ada kapanpun di butuhkan, karna Bumi paham betul tak ada yang bisa ia berikan demi membalas semua pengorbanan sang mama.
"Iya, kak"
"Ya udah, kakak tinggal ya" pamit Bumi kemudian yang langsung menutup pintu kamar dengan pelan.
.
.
__ADS_1
Reza yang sudah duduk di tepi ranjang langsung mengulurkan tangannya, Melisa yang paham tentu menerimanya sambil tersenyum.
"Apa?" tanyanya dengan nada menggoda sebelum sang suami melayangkan aksi mautnya.
"Ada hal yang harus kamu tahu, Ra" ucap Reza, yang dengan lembut menciumi punggung tangan Khumairahnya.
"Apa itu? jangan terlalu tinggi merayuku, Mas. kakiku kini kadang tak kuat menahan lemas saat kamu menggombal" kekeh Melisa yang belum apa-apa sudah tersipu malu.
.
.
.
Enggak, Sayang. Aku cuma mau bilang jika cintaku padamu seperti shalat TARAWIH, bukan perkara siapa yang datang lebih awal, tapi siapa yang mampu bertahan hingga selesai...
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Pegangan ke tiang listrik, Ra 🤣🤣🤣
Percaya gak sih? idup aku tuh rasanya bahagia banget kalo udah nulis mereka tuh..
Halunya ketinggian ampe takut kena sayap pesawat 😂😂😂
Tapi gak apa apa ya, namanya juga HIBURAN..
__ADS_1