
🌻🌻🌻🌻
"Makan gak?" Titah Ay pada si bungsu.
"Gak.. aku gak laper" Cahaya menggeser piring berisi nasi bakar dan ikan goreng itu semakin jauh darinya
"Makan dek" Bumi ikut menimpali, Adik perempuannya itu paling tidak bisa telat makan, tubuhnya akan mengeluarkan keringat berlebih sampai akhirnya tak sadarkan diri.
Si cantik Putri satu-satu Reza dan Melisa sampai detik ini belum sembuh total, masih mengkonsumsi obat yang tak bisa telat, Rutin kontrol setiap Minggu untuk mengecek detak jantungnya.
"Biarin, tar juga Abang kalo ngamuk ngamuk jangan di tolongin". Ancam Ay tak main-main.
Cahaya mendelik kesal, ia kembali meraih piring yang tadi sudah di jauhkan darinya, mulai memakannya walau sangat sangat terpaksa.
"Kamu gak akan kenyang kalo cuma liatin ponsel" Bumi mengusap kepala Cahaya, ia tahu adiknya sedang resah menunggu telepon dari Langit.
"Abang janji mau telepon kalau istirahat"
"Abang janji kalo sempet, kalo gak telepon berarti lagi sibuk" Bumi menyodorkan air putih pada Cahaya, namun justru kakaknya yang merebut dan meminumnya.
"Gile, pedes banget ya!!!" Ay yang sudah berkeringat kembali meminum sisa airnya.
"Gimana Ay, pedes banget ya?" tanya Nella yang tiba-tiba duduk di sebelahnya.
"Tadi aku Nyenggol sambel, eh tumpah ke piring kamu, maaf ya Ay ganteng" kekeh Nella yang merasa gemas melihat Mantan kekasihnya itu penuh dengan keringat dengan wajah merah menahan pedas yang seakan meletup-letup di lidahnya .
"Njiiiiir... mantan laknat!!"
Cahaya, Bumi dan Nella tertawa saat Air bangun dan berlari ke kamar mandi.
__ADS_1
"Kamu jahat, Nell" seru Cahaya.
"Huft, kesel aku Cha!" dengusnya dengan helaan nafas berat.
"Di tinggal pas sayang sayangnya itu sakit banget" keluh Nella menahan rasa kecewanya
"Kan udah di bilang, sama kakak tuh jangan di seriusin dia aja lupa siapa aja pacarannya" Ujar Cahaya sambil terkekeh.
"Iya, ini salah aku" kata Nella, lalu meninggalkan Cahaya dan Bumi begitu saja.
***
"Mas, tau gak?" tanya Melisa pada suaminya saat ia meringsek masuk kedalam pelukan Reza.
"Jangan suka nanya kalo belum cerita, emang aku Mbah dukun yang tau hati kamu?" kekeh Reza mencium pucuk kepala istrinya.
"Aku mau cerita nih"
"Diem dulu tangannya, jangan traveling dulu" kata Melisa sambil menepis tangan Reza dari area favoritnya.
"Ya udah cerita aja, aku dengerin" sahut Reza yang tangannya kembali lagi bergreliya kemanapun yang ia mau.
"Aku nemu kalung di tangan Bumi"
"Terus?" tanya Reza yang masih santai.
"Ya, itu kalung siapa?, ada namanya tapi aku lupa apa ya" gumamnya sambil terus mengingat ingat.
"Itu kamu cerita?, apa kode pengen aku beliin kalung?" goda Reza .
__ADS_1
"Aku buat apa kalung?, yang ada juga gak di pake!" serunya jujur
"Kamu tuh sekali-kali minta apa gitu, Ra. sama aku"
"Jangan sekalinya minta, minta anterin beli terigu, beli sabun, beli kangkung, beli ayam mending dadanya lah ini malah cekernya"
Melisa mencubit perut Reza tanpa ampun.
"Emang kenapa?, aku kan minta begitu juga buat masak dirumah" timpal Melisa.
Wanita beranak tiga itu bingung apalagi yang mau dia pinta dari suaminya jika semua sudah di cukupi secara lahir dah bathin.
"Aku mau mas Reza sayang sama aku sampe akhir" lirih Melisa membisikkan keinginannya itu di telinga suaminya.
"Jangan kan sampe akhir, yang ada sampe mentok kejedot malah, Ra!"
"Janji?" ia menyodorkan kelingkingnya pada sang suami.
"Janji sayang, honey, bunny, Sweety my lovely" kekeh Reza sambil tertawa.
"Mas Reza kenapa kaya Ay sih?"
"Eh yang ada Ay yang ikutin aku, Ra" protes Reza.
"No...no.. Authornya kan satu. jadi gombalan buat kalian di bagi dua, hahahaha"
💦💦💦💦💦💦💦💦💦💦
Kalian ghibahin gueðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
__ADS_1
astaghfirullah
Like komen nya yuk ramai kan