Suami Dadakan

Suami Dadakan
extra bab 121


__ADS_3

🌻🌻🌻🌻🌻


Dikediaman Rumah utama kini sudah berkumpul seluruh keluarga yang tinggal menunggu kedatangan cucu pertama Rahardian, Melisa yang dikirimkan foto anak sulungnya sedang merangkul seorang gadis yang sama di kos'an tadi mendadak merasakan sakit di bagian kepala yang luar biasa, Hipertensinya kambuh.


"Kakak lama banget, aku udah ngantuk" keluh Si bungsu yang sedari tadi bersandar dalam pelukan Langit.


"Kamu tidur duluan sana, nanti Abang ceritain"


"Dih, gak seru!" kekeh Cahaya.


Keduanya malah bercanda untuk mengisi kebosanan menunggu Air datang.


Berbeda dengan Bumi, ia hanya sibuk dengan ponselnya bertukar pesan dengan Kahyangan yang masih dalam perjalanan pulang, senyum tak lepas dari wajah tampannya.


" Si kakak lagi kasmaran ya, Bang" bisik Cahaya.


" Hem, kan baru ketemu Yayang" balas Langit sambil terus mengusap kepala gadis kecilnya itu.


"Nanti Abang kalo ketemu pacarnya kak Bu jangan paling yang ya" pinta Cahaya sedikit ketus.


"Kenapa?" Tanya Langit.


"Nanti aku sama dia sama-sama nengok, Bang"


Langit terkekeh lalu mencium pucuk kepala gadis kecilnya itu.


Bumi hanya melirik sesekali, ia tahu dan mendengar apa yang di bicarakan adik dan Abangnya itu.


.


.


"Kak, kamu gak tahu nomernya Hujan?" tanya Reza, iapun kesal karna si sulung tak kunjung datang.


"Enggak, Pah" sahut anak tengahnya itu.


"Temennya mungkin?"


"Aku mana nyimpen no orang gak penting sih, Pah" Jawabnya lagi.

__ADS_1


"Istirahat dulu yuk ke kamar, Ra" ajak Reza pada istrinya yang masih memejamkan matanya.


Wanita itu mengangguk kan kepalanya, ia setuju dengan apa yang di katakan Reza, ia butuh istirahat saat ini.


Dengan sigap Ia memapah tubuh istrinya menaiki tangga menuju kamar mereka di lantai dua, tempat yang sama saat pertama kali mereka menikah. Tak ada yang berbeda dan berubah meski sering di renovasi.


" kamu istirahat ya, jangan terlalu banyak pikiran semua akan baik-baik aja, Ra" ucap Reza saat membaringkan KHUMAIRAHnya di tengah ranjang.


"Aku takut, by" lirih wanita itu dengan satu tetes air bening di ujung matanya.


"Gak ada yang harus di takuti, kita percepat semuanya kalau kamu terlalu khawatir dengan anak-anak"


"Adek dan Abang yang aku Pisahin kenapa si kakak yang buat masalah" gumam Reza, ia iku memijit pelipisnya sendiri.


"Kamu tidur ya, aku gak mau kamu makin sakit. Besok kita periksa kerumah sakit, ok"


Melisa kembali mengangguk, ia tak ingin membantah perkataan Suaminya, semua harus cepat di selesaikan


Reza mencium kening sang istri setelah menyelimutinya sampai batas sepinggang.


Menatap wajah yang terlihat begitu ketakutan dan cemas berlebih.


.


.


BRAAAAAAKKKKK


"Aw...sakit" Air Langsung mengusap lengannya yang begitu nyeri saat menyenggol lampu hias yang baru di beli Ameera dari luar negeri.


Semua menoleh kearah pintu utama menunggu Air masuk karna meskipun belum terlihat seluruh keluarga sudah tahu jika ia datang pasti ada saja barang yang jatuh dan berantakan.


"Oppa, yang taro tiang di depan siapa sih?" tanya Air yang masuk memegang lengannya.


"Rusak ya?, wah kakak bisa kena omel Aunty tuh" seru Cahaya.


"Kurang kerjaan banget beli begituan" ucapnya lagi sambil menyalami oppa dan ommanya yang baru saja keluar dari kamar.


"Kamu dari mana, kak?" tanya papa yang mengusap kepala cucu kesayangannya itu.

__ADS_1


"Biasa, hahaha" kekeh yang langsung bermanja dalam pelukan kakeknya.


Reza yang baru turun langsung mengernyitkan dahinya saat ia melihat si sulung yang datang.


"Kak.."


"Hem, apa pah?" sahut Air.


"Kamu sendiri?, Hujan mana?"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


"Ya ampun, kakak lupa! masih di luar, Pah" ....


🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉


Astaghfirullah


Astaghfirullah


Astaghfirullah


banyakin istighfar buat si kakak 🤭🤭🤭

__ADS_1


Like komennya yuk ramaikan.


__ADS_2