Suami Dadakan

Suami Dadakan
extara bab 151


__ADS_3

🌻🌻🌻🌻🌻


Lo kemana aja?


kenapa seneng banget ilang sih..


Gue capek berantem terus sama Lo, Jan!!!!


Air memeluk tubuh langsing itu dengan begitu erat karna hujan sama sekali tak membalas pelukannya tapi pemuda itu tak perduli, baginya Hujan kini berada dalam dekapannya saja sudah cukup.


"Jam segini kenapa belum pulang?" bisiknya lagi.


"Ini baru mau pulang, Ay" jawabnya begitu lirih bahkan hampir tak di dengar oleh Air.


"Gue anter Lo pulang ya?" Ajaknya sambil mengurai pelukan.


"Gak usah, gue gak mau repotin Lo"


Hujan melepas tangan Air dari bahunya lalu pergi begitu saja meninggalkan calon suaminya itu.


"Lo mau kemana?"


Gadis itu tak menjawab, ia terus berjalan tanpa sedikitpun menoleh kebelakang membuat Air semakin kesal.


"Dikhawatirin malah melengos pergi, gak tau sopan santun banget jadi manusia" umpatnya geram tapi sedetik kemudian ia berlari mengejar Hujan.


"Sini kunci mobilnya" Ia merebut benda kecil itu dari tangan Hujan, memencet tombol kecil pada remote lalu membuka pintu bagian kiri.


"Masuk!" titahnya dengan memaksa.


Hujan hanya menghela nafas, matanya yang sudah merah menahan tangis akhirnya tak bisa ia bendung lagi tapi dengan cepat ia menghapus air matanya sebelum calon Suaminya itu tahu.


"Motor Lo mau di tinggal lagi?" tanya Hujan dengan suara serak.


"Hem."


"Gak takut ilang?, ini udah mau malem" ucap Hujan.


Motor banyak di dealer, tapi Lo? gue mau cari kemana lagi...

__ADS_1


Air mengucapkannya dengan sedikit menaikan nada bicaranya. Hujan hanya diam tanpa berkata apa-apa, ia memilih menyandarkan tubuh sambil memejamkan kedua matanya.


Perjalan Pulang kerumah gadis itu, keduanya lalui tanpa obrolan sama sekali, Air membiarkan Hujan beristirahat karna nampaknya ia begitu lelah.


.


.


.


"Jan, udah sampe" ucap Air saat ia sudah memarkirkan mobil di garasi.


"Jan.. bangun!"


"Hem, iya" Sahutnya sedikit kaget saat Air mengguncang bahunya.


Hujan langsung membuka setbelt dan pintu mobil, ia keluar dengan tergesa.


Air yang ikut turun hanya mengekor di belakang gadis itu yang sedang membuka pintu.


"kok sepi?" gumam Air.


"Kapan pulang?" tanya Air.


"Lusa, biasanya tiga harian"


Air mengernyitkan dahinya, dengan cepat ia mencekal tangan Hujan yang baru mau masuk kedalam kamarnya.


"Lo Sendiri dong?"


Hujan mengangguk kan kepalanya.


"Enggak! gue gak mau Lo sendri dirumah kaya gini"


JEDDDEERRRRR...


Hujan reflek memeluk Air yang berdiri di depannya, tubuhnya menggigil hebat dengan memaksakan matanya agar terpejam..


"Takut, Ay!"

__ADS_1


"Ssttt... gue disini, jangan takut" bisik Air yang membalas pelukan Hujan yang ketakutan.


"Takut...Aku takut" lirihnya pelan, kini terdengar isakan kecil dari mulut gadis itu.


"Jangan nangis, Jan"


Hujan menggelengkan kepalanya yang ia letakkan di dada bidang Air.


"Aku beneran takut!" Air merasa tangan gadis itu meremat belakang bajunya dengan begitu kuat.


"Kan ada aku, aku gak akan ninggalin kamu sendiri." jawabnya mencoba mendongakan wajah Hujan tapi gadis itu justru semakin menekan kepalanya.


"Gak apa-apa, cuma petir bukan geluduk" kekeh Air.


"Bukannya sama ya?" gumam Hujan.


Air tersenyum tipis, ia sangat menikmati pelukannya kali ini karna Hujan yang memulainya lebih dulu.


.


.


.


.


.


.


Kamar yuk..


💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕


Gue pites Lo ya kak!!


Cari GARA-GARA awas aja 🙄🙄🙄


Like komen nya yuk ramai kan ♥️

__ADS_1


__ADS_2