Suami Dadakan

Suami Dadakan
bab 208


__ADS_3

🌻🌻🌻


**Dua hari kemudian.


"Dek, bangun!" Ay menggoyangkan bahu adik bungsunya yang tergeletak di sisi rak tv ruang tengah apartemen.


"Dek, kok bobo sini sih?" Tambah Ay lagi, kali ini ini mengusap pipi adik bungsunya dengan lembut.


"Bangun, dingin"


Ay diam memperhatikan adiknya yang tak bergerak sama sekali walau ia sudah berkali-kali membangunkan Si cantik, dari menggoyangkan bahu sampai mengusap lembut pipi gembul Cahaya.


"Diem aja ya?" gumam Ay dengan polosnya.


"Adek diem, kakak panggil mama ya"


Air langsung melempar mobilan yang sedari tadi ia genggam ke atas sofa, berlari menaiki tangga menuju lantai dua kamar orang tuanya.


Tok..tok..tok.


"Maaa.. mama kakaaaaaak..mama" serunya sambil terus mengetuk pintu


"Mama kakak, mamaaaaaaa"


"Bukaaaaa"


Air membalikkan tubuhnya dan bersandar di daun pintu, ia ingat pesan mamanya yang di minta menjaga si bungsu karna Melisa akan mandi.


CEKLEK


"Hhuuaaaaa"


BRUUUUKKKK


"Kakaaaaaak" pekik Melisa kaget melihat anak sulungnya tersungkur di lantai tepat di bawah kakinya.


"Huaaaa... mama nakaaaaaaal"


"kakak sakiiiiit"


"kakak di jatuhin!"


"Maaf, sayang. kan mama gak tau" Melisa menciumi seluruh wajah si sulung yang basah dengan air mata penuh rasa sesal dalam gendongannya.

__ADS_1


"Mama gak tau kalo kakak depan pintu, maaf ya" kata Melisa lagi.


"Kan tadi kakak udah panggil-panggil, Mah" jawab Ay masih dengan derai air mata.


"Ya udah, kita turun ya, adek lagi apa?" tanya Melisa sambil menutup pintu kamarnya.


"Kakak Bu sama sama Bu Siti udah pulang belum?" tambah Melisa lagi untuk mengalihkan tangis si kakak.


"Bu, belum pulang, kalo adek lagi bobo di lantai, kakak bangunin gak bangun bangun, adek bobonya lama, kaya lagi mimpi jadi plinces mah" jawab Ay yang langsung membuat langkah Melisa terhenti sebelum menuruni tangga.


"Adek bobo?" tanyanya memastikan.


"Iya, gak bangun" sahutnya polos.


Melisa Langsung menurunkan si sulung dari gendongannya, berlari dengan tergesa menuruni anak tangga dengan perasaan takut.


"Dek" panggil Melisa saat berada di tangga akhir, ia mengedarkan pandangannya ke seisi ruang tengah yang berantakan oleh hamparan mainan ketiga anaknya


"ADEK!" pekik Melisa ketika netranya menangkap tubuh mungil anaknya tergolek di lantai dekat rak TV.


"Adek, bangun sayang" seru Melisa dengan paniknya.


"Kak, adek kenapa?" tanya Melisa pada Air yang sudah berada di dekatnya.


"Ambil minyak kayu putih di kamar, kak" titah Melisa.


"Iya, mah."


Air langsung kembali menaiki anak tangga menuju kamarnya, mengambil barang yang di pinta mamanya.


"Ini dia, si hijau yang bau"


Ya, Ay memang tidak suka saat tubuhnya di balur oleh minyak kayu putih, ia lebih suka di pakaikan minyak telon oleh mama atau papanya.


"Kakak, dateng, maaah" teriaknya sambil menutup pintu kamar, berlari menuruni tangga dengan minyak di tangannya.


"Ini "


"Makasih ya sayang" ujar Melisa dengan senyum hangat walau wajahnya penuh dengan air mata, ia langsung meraih botol panjang berwarna hijau itu dari tangan si sulung.


"Dek, ayo bangun, Nak" seru Melisa sambil mengoleskan minyak di hidung juga pelipis si bungsu.


"Ambil ponsel mama ya, kak, di kamar" titahnya lagi pada Ay yang masih berdiri di dekatnya.

__ADS_1


"Iya, mah" belum ia melangkah, terdengar suara pintu terbuka yang ternyata Bi Siti berasama Bumi.


"Bibiiiiiii, adek Bi" teriak Ay sambil menunjuk kearah Melisa yang masih memangku si bungsu.


"Ya ampun, Non" seru Bi Siti melepas belanjaannya kemudian berhambur menghampiri Melisa dan Cahaya.


"Bi, ambil telepon mas Reza sekarang"


"Iya, Non"


Bi Siti Langsung merogoh tas kecil yang ia selempang kan, meraih ponsel lalu menekan tombol panggilan telepon.


"Ini, Non" Ia menyerahkan ponselnya pada Melisa, meraih tubuh Cahaya agar berpindah ke pangkuannya.


"Hallo, Mas"


"Chaca pingsan, Mas" jerit Melisa histeris dengan wajah panik dan tangan bergetar.


"Bawa kerumah sakit, Ra, nanti aku nyusul "


"Iya, Mas" Setelah telepon terputus, Melisa menghubungi seorang supir untuk menyiapkan mobil.


"Kita bawa kerumah sakit, Bi"


"Kakak, ayo cepet"


Kedua anaknya yang sudah terbiasa dengan keadaan begini selalu sigap, Tak pernah bertanya dan hanya mengikuti perintah sang mama.


"Ayo, kak" ajak Ay pada adiknya sambil mengulurkan tangannya yang langsung di sambut oleh Bumi, Dua jagoan itupun berjalan mengekor di belakang Melisa saling menggenggam erat.


"Jangan nangis" bisik Bumi saat di lift.


"Enggak, kakak gak nangis, tapi ini sedikit lagi pengen nangis gimana dong?" jawabnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Tahan!" balas Bumi.


"Keluar tuh Aer matanya, nakal" jawabnya pelan sambil menunjuk pipinya sendiri yang sudah banjir air mata.


"Udah, kasian mama" ucap Bu sambil mengusap wajah Kakaknya.


"Gak mau berenti, turun terus, dek" keluhnya lagi.


Bumi langsung mendengus sambil mendongakkan wajah kakaknya ke atas.

__ADS_1


"Aku ganteng ya?, hehehe" seru Ay yang melihat ke atas lift.


__ADS_2