
🌻🌻🌻🌻
Flashback on
Langit tersentak kaget saat namanya di panggil begitu lengkap oleh pria yang kini masih berjongkok di hadapan gadis kesayangannya itu.
"Iya, Om" jawab Langit.
"Chaca kenapa bisa begini sih?"
Semua diam, tak ada yang berani menyelak Reza ataupun membela Langit, karna mereka tau tidak ada toleransi apapun jika menyangkut Cahaya.
Anak perempuan satu-satunya yang selama ini Reza jaga hingga tak ada satu nyamuk pun yang pernah menyentuhnya.
"Pah, Gendong adek ke kamar" Pinta Cahaya, agar Langit dan yang lainnya bisa sedikit bernafas, ruang tengah yang biasanya hangat penuh canda tawa kali ini hanya penuh wajah wajah tegang.
"Ayok, papa antar kamu ke kamar" Reza dengan sigap menggendong anaknya menuju kamar, raut khawatir belum lepas dari wajah tampannya.
"Istirahat ya, kamu mau makan apa?" tanya Reza kemudian setelah merebahkan tubuh Chaca di atas ranjang, ia mengusap kepala Cahaya penuh sayang.
"Aku gak laper, papa jangan marahin kakak sama Abang ya"
"Gimana papa gak marahin, liat lutut kamu sampai terluka begitu, mereka kemana aja!" dengus Reza kesal.
"Abang sama kakak gak mungkin dua puluh empat jam sama adek, Pah" kekeh Cahaya mencoba mencairkan suasana.
"Anak nakal, udah gadis masih lari-lari akhirnya kesandung kan!" Reza mencubit gemas pipi Cahaya.
"Kalo kata kakak, jalannya yang nakal mau cium-cium hahahaha" Cahaya dan Reza tertawa bersama.
***
Reza turun kembali ke lantai bawah. Melisa, Bumi, Air dan Langit masih di posisi yang sama seperti terakhir ia tinggalkan ke kamar Cahaya.
"Kamu ngapain malah bengong, kak"
Air langsung terlonjak saat papanya menjewer telinganya.
"Terusin sana nguras kolamnya, si Kuya jangan lupa di mandiin" titahnya lagi pada si sulung.
"Abang sama kakak ganti baju sana"
"Dan kamu!!!" Reza menunjuk istrinya, tentu Melisa langsung reflek bangun dari duduknya.
__ADS_1
"Apa?" tanya wanita cantik itu dengan wajah tegang.
"Bikin mie sekarang, aku laper" ucap Reza lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa.
Kini semuanya merasa lega dengan cara membuang nafas mereka secara kasar setelah beberapa menit tadi mereka tahan sampai terasa begitu sesak.
.
.
.
Enam mangkuk mie kini terhidang di atas meja makan tentu dengan toping berbeda, Melisa tak pernah lagi bertanya karna ia hafal apa yang di sukai keluarganya.
Air tanpa sayur, Bumi dan Reza komplit, Langit tanpa telur, dan cahaya harus ada suiran ayam yang banyak, dan ia hanya cukup mie dan telur, perutnya tak pernah bisa menampung banyak toping dalam satu mangkuk mie.
"Abang anter mienya ke kamar adek sana, temenin makan sekalian!" titah Reza yang membuat Langit hampir menjatuhkan sendok nya.
"Aseeeek.. tuh tangan nanti gak usah ngumpet-ngumpet di kolong meja lagi kalo abis makan" bisik Air menggoda Langit.
Langit hanya mendelik ke arah Adiknya, ia takut Reza mendengarnya dan tahu kebiasaan mereka selama ini.
"Iya, om"
"Permisi"
CEKLEK
Cahaya menoleh, senyum mengembang di wajah manisnya yang baru saja bangun tidur.
"Abaaaaang"
Langit masuk sambil tersenyum, di izinkan masuk kedalam kamar Cahaya tentu itu adalah keajaiban luar biasa baginya. Meski kenal sedari bayi dan selalu bersama tapi saat ia yakin perasaannya pada Cahaya berbeda ia tak pernah lagi mendatangi gadis cantik itu di dalam kamarnya
"Abang bawa mie, kita makan ya"
Cahaya mengangguk senang, aroma wangi masakan mamanya memang selalu menggoda perutnya.
"Abang gak di marahin sama papa kan?" tanya Chaca sambil mengaduk makanannya.
"Enggak, yank. Om gak ngomong apa-apa lagi, malah Abang disuruh nemenin kamu makan"
"Oh, adek takut kalo Abang disuruh pulang tadi" ucap Cahaya lirih.
__ADS_1
"Maaf, Abang belom bisa jagain kamu sampai terluka begini".
*****
"Mah, ko punya kakak sedikit sih" keluh Air pada Melisa.
"Kamunya yang kecepatan makannya" sahut Melisa.
"Iya laper banget, capek loh pah nguras kolam" rengeknya pada Reza, namun papanya itu malah mengacuhkan.
"Suruh siapa gak sekolah" Justru Bumi yang menjawab.
"Pusing tau di tanyain pacar pacarnya kakak, tuh adek sampe lari terus kesandung"
Semua mata fokus pada Air, remaja tampan itu hanya melongo dan pura pura tak mendengar.
"Oh, jadi adek jatuh gara-gara ngehindarin pacar pacarnya kakak?" Ujar Reza, kini tanduk kecilnya sudah muncul di atas kepalanya.
"Lah, kakak mana tau, Pah" elak Air, ia melirik mamanya meminta pertolongan.
"Hukuman kamu double ya!"
Air menelan Salivanya, menguras kolam saja belum selesai, pikirnya
"Apa?, aku capek Pah"
.
.
.
.
.
Habis kuras kolam, kamu ajarin ikan-ikannya nyanyi!
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Wah...
Hukuman nya berat banget Ay🤣🤣🤣🤣
__ADS_1
Kayanya sampe lebaran monyet tuh
Like komen nya yuk ramai kan ❤️😂