Suami Dadakan

Suami Dadakan
extra bab 70


__ADS_3

🌻🌻🌻


Bumi terus menatap punggung kakaknya yang berjalan santai menaiki tangga, sampai ia sendiri tak sadar jika sedang di tertawa kan adiknya.


"Kakak, kenapa sih?" tanya Cahaya disela gelak tawanya.


"Kakak teleponan sama siapa sih?" Bumi malah balik bertanya pada si bungsu.


"Pertanyaan yang sulit di Jawab, hahaha. Kak Ay tuh banyak pacarnya jadi ya mana tau itu pacar yang mana yang telepon" ujar Cahaya.


"Tapi kok tumben ya kakak Ay panggil yanh?" tambahnya lagi sambil berpikir.


"Yang ini beneran sayang kali, kaya Abang ke kamu" goda Langit sambil terkekeh, Cahaya langsung melempar pemuda itu dengan kulit kacang.


Bumi yang entah kenapa mendadak gelisah akhirnya bangun dari duduk membuat adiknya yang masih bersandar tersentak kaget.


"Maaf"


Cahaya langsung merengut kesal, lalu pindah ke sebelah langit, sedangkan Bumi bergegas menuju kamar kakaknya.


Tok..tok..tok..


Bumi mengetuk pintu kamar Air sedikit keras karna sudah hampir lima menit kakaknya tak kunjung membukanya.


CEKLEK


pemuda tampan itu akhirnya memilih masuk tanpa menunggu sahutan dari Air.


"Kak...."


"Kakak" ia terus memanggil kakaknya.


"Mandiiiiiiiiiiii" teriak Ay dari dalam kamar mandi.


Bumi tersenyum kecil, kemudian memilih duduk di tepi ranjang berukuran sedang yang terdapat bantal guling pisang kesayangan Air.


"Ini kalo ilang bisa nangis empat puluh hari empat puluh malem" gumam Bu sambil terkekeh.


Ia lalu merebahkan tubuhnya, mencoba mendekap merasakan si Pisang dalam pelukannya.


.


.


"Heh, peluk peluk!"

__ADS_1


Suara Ay membuat Bumi sedikit terlonjak kaget dan membuka matanya.


"Ish, ngagetin aja"


"Kenapa?, kangen ya tidur sama kakak" ucap si sulung dengan bangganya.


Bumi hanya mencebikkan bibirnya sambil terus menatap punggung Air yang berjalan menuju lemari.


Namun fokusnya terhenti saat getar ponsel diatas meja terus bergetar.


Ia yang langsung bangun dari tidurnya reflek meraih benda pipih itu.


Yayang


Air menadahkan tangannya dihadapan Bumi untuk meminta barang pribadinya.


"Maaf, kak" ucap Bumi yang lancang mengambil ponsel Air.


"Gak apa-apa"


Air meraihnya dari tangan sang adik kemudian berjalan ke bangku perangkat game nya untuk menerima telepon.


Bumi memasang telinganya agar bisa mencuri dengar apa yang sedang di bicarakan Air disana.


"Hahaha, enggak lah"


"Ya udah, kita ketemu lagi nanti ya"


"Gak boleh kangen sama aku, ok"


Hanya itu yang di dengar Bumi, hanya perbicangan biasa yang sering ia dengar selama ini, tapi entah kenapa hatinya begitu sesak dan pemasaran.


"Kak.." panggilnya pada Air


"Hem, apa?" sahut Ay masih di kursi yang berjarak lebih dari satu meter darinya.


"Tumben panggil pacarnya yayang?" tanya Bumi, pertanyaan konyol sampai membuat Air mengerutkan alisnya.


"Terus panggil apa dong?, Dede gitu?" Air menjawab sambil tertawa terbahak-bahak, ia ingat adik dan Abangnya.


" Ya, tumben aja, gitu!" ucapnya lagi, ia sedang sangat ingin tahu siapa sosok yang tadi menelpon kakaknya.


"Biasa aja, emang lagi mood panggil sayang" jawab Air santai ,.ia tak merasa jika kali ini sang adik sedang mengintrogasinya.


"Nanti yang lain marah loh, kalo denger kakak panggil yang tadi sayang, apalagi simpen namanya juga Yayang" hatinya kini mulai berdebar.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


"Yang mana?"


💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕


Sakit tak berdarah 🤭🤭🤭


korek terus Bu kaya upil 🤣🤣


oh iya, tadi ada yang komen di bab sebelumnya kalo Langit sama cahaya gak pantas di nikahkan karna saudara tiri.


mohon maaf.ya 🙏🙏


langit itu nemu di jalan 🤭🤭


bukan anak tiri, Situ mau belokin cerita babang Reza punya racun?


duh bisa diserang online diriku.🙄🙄🙄


mungkin bacanya gak di resapi kali ya jadi lupa 🥺


sekali lagi dijelasin


Langit itu gak ada hubungan darah atau apapun sama keluarga Reza.


fix ya... yuk pantau sampe halal.💕💕💕


Like komen nya yuk ramai kan ❤️

__ADS_1


__ADS_2