Suami Dadakan

Suami Dadakan
bab 124


__ADS_3

🌻🌻🌻


Melisa menggeliat saat perutnya terasa dingin dan sedikit tertekan, ia mengerjapkan sedikit matanya karna terdengar suara isakan kecil seorang gadis, Ameera!


"Sayang," kata Reza saat mata istrinya mulai sedikit terbuka.


"Ada apa, Mas?" tanya Melisa bingung karna ada seorang dokter muda dihadapannya.


"Gak ada apa-apa, kamu cuma lagi di periksa aja" jawab Reza sembari mengelus kepala Melisa yang masih terbaring lemas.


"Gimana dok?" tata Reza penasaran.


Sang dokter kembali menutup perut buncit itu dan membereskan alat alatnya, ia tersenyum terpaksa dengan kode dimatanya


"Aku antar dokter kebawa dulu ya, Ra"


Melisa pun hanya mengangguk, lalu menoleh kearah Ameera, ia rentangkan kedua tangannya agar si gadis manja itu bisa masuk kedalam dekapannya.


"Adek, kenapa?" tanya Melisa.


"Jangan tidur lama lama, adek gak suka" ucapnya sedih.


"Iya, kakak cuma lelah aja, tadi kata dokter gak apa-apa kan? adek denger sendiri tadi" kata Melisa menenangkan adik iparnya.


"Adek takut kaya dulu lagi"


**************


"Gimana?" tanya Reza, saat ia dan dokter muda itu sudah duduk berhadapan di ruang tamu.


"Dokter Rissa sudah memberitahukan sejak awal riwayat ibu Melisa, dan ia menyuruh saya untuk siap siaga kapanpun bapak menghubungi saya" ucap dokter tersebut.


Reza hanya mengangguk sekali, lalu menyandarkan punggungnya di sofa.

__ADS_1


"Tekanan darahnya kembali naik, dan ini sudah masuk trimester ketiganya."


Reza menarik nafasnya berat, ia memejamkan matanya untuk menguasai perasaannya sendiri.


"Saya tidak memberi kan resep lagi, cukup habiskan obat dari dokter Rissa, tapi jika terjadi flek atau pendarahan tolong cepat bawa ke rumah sakit segera" pesan dokter lagi.


Reza masih diam, tak sedikit pun ia mengeluarkan suara atau bertanya lagi.


Haruskah ia pasrah?


-------Di dalam kamar------


"Eyang kapan pulang?" tanya Melisa saat wanita tua memijit kakinya yang terlihat lebih bengkak.


"Tadi, Non" jawabnya.


"Dijemput Aby?"


"Doakan acara khitbah Aby lancar sampai hari H ya non" kata eyang yang membuat Melisa tersentak kaget'.


"Aby mau meng khitbah siapa?" tanya Melisa.


"Cucunya bi Sarnah yang tadi kita datangi rumahnya" jawab eyang yang tangannya masih menempel di kaki Melisa.


"Kapan eyang?"


"Jika tak ada halangan, mungkin bulan depan"


Melisa terdiam, selama disini ia tak memiliki sedikit pun waktu untuk berbicara dengan Aby. pemuda itu seperti menghindar bahkan selalu menundukkan wajahnya, padahal dulu Ia dan Aby kawan yang baik makan sepiring berdua pun sering mereka lakukan.


"Raaaaaa"


Melisa dan eyang langsung menoleh ke arah suara, ada Reza yang sudah berdiri di ambang pintu.

__ADS_1


"Udah pulang dokternya?" tanya Melisa sambil mengulurkan tangannya.


"Udah sayang" jawab Reza lalu memeluk istrinya.


"Aku gak apa-apa kan?"


"Hem, iya gak apa-apa. kalian kuat dan hebat" kata Reza seraya mengelus perut besar Melisa.


"Adek sampe nangis gitu,Mas" kekehnya.


"Sepertinya ia trauma" kata eyang.


"Kalian istrirahat lah, biar eyang siapkan makan malam dulu" tambah eyang, berpamitan.


Kini tinggal Reza dan Melisa didalam kamar saling memeluk dibawah selimut yang menghangatkan mereka.


"Ra... berjanjilah untuk bertahan" lirih Reza pelan membuat Melisa mendongakan kepalanya.


"Aku disini, Mas. untukmu dan juga denganmu"


"Ya, jangan pernah tinggalkan aku, Ra. ku mohon padamu, apapun yang terjadi jangan pernah pergi dariku, aku akan lakukan apapun agar kamu tetap tinggal denganku"


"Mas Reza kenapa, apa terjadi sesuatu denganku?" tanya Melisa penasaran.


"Kamu baik, Ra.. mungkin hanya aku Saja yang sangat takut kehilanganmu, aku terlalu mencintaimu dan tak ingin ada penggantimu"


setetes air mata kini luluh di sudut mata Reza, pria yang selalu dihantui oleh sebuah pilihan yang sangat sulit ia lakukan.


🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉


Pilih Melisa aja bang, gak usah milih othor 🤭 asal kalian bahagia kita juga bahagia ko'


Like komennya yuk ramaikan ♥️🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2