
🌻🌻🌻
Cahaya menggeliat dalam pelukan Reza saat ia mendengar teriakan suara yang sangat ia hafal sedari kecil, senyumnya langsung mengembang meski mata gadis cantik itu belum terbuka sempurna.
"Abaaaaaang"
Cahaya langsung meronta dari papanya dan turun menghampiri sosok anak tampan yang sedang duduk di atas karpet.
"Adek dari mana?" tanya Langit setelah Cahaya duduk di hadapannya.
"Dari temu ante dokter" sahutnya.
"Mba asih mana, bang?" tanya Melisa.
"Dibelakang, Bun"
"Jangan cium cium!" ancam Reza saat melewati kedua bocah itu.
Langit hanya tersenyum kecil lalu kembali memfokuskan diri pada si cantik.
"Ante dokter kasih adek obat lagi" adunya dengan wajah menyedihkan.
"Kan biar adek cepet sembuh, nanti kalau Abang sama kakak main bisa ikutan, gak cuma liatin aja" kata Langit sambil mengusap kepala Cahaya penuh kasih sayang.
"Abaaaaaaang" rengek Ay yang tiba-tiba bergelayut manja di bahu Langit.
"Cariin kakak yuk, kakak pengen maen umpet umpet"
"Abang lagi bantu aku gambar, Kak" protes Bu.
"kakak mau maen, tadi main sama mama sekarang sama mba asih, nanti aku tua" oceh Ay dengan nada kesal.
"Uhuk..Uhuk.." Reza menyembur kan air yang baru saja ia minum, tenggorokannya kini terasa sakit.
"Mana ada main sama mama jadi tua?" kata Melisa yang sudah memangku si sulung.
"Abisnya gak ada yang mau maen sama kakak"
"Bu, kakaknya ajak main dong, kamu jangan asik sendirian terus" ujar Reza, memberi pengertian kepada si tengah agar mau berbaur dengan yang lain.
"Kakak berisik, nangis terus" Sahut Bu.
__ADS_1
"Tuh, katanya kakak nangis terus, makanya adek gak mau main sama kakak" Melisa mendekap tubuh Ay yang sudah mulai berkaca-kaca.
"Satu"
"Dua"
"Tiga"
"Pasti nangis nih" kekeh Reza sambil menebak apa yang akan terjadi.
"Huuuaaaaaaaaaaaaaaa"
"Papa nakal, Mah"
"Haha, emang papa ngapain?, gak ngapa-ngapain kan , sayang" matanya melirik kearah istrinya yang sudah memandang nya dengan kesal.
"Cup.. udah ah, jangan nangis terus, berisik kak" bujuk Melisa sambil mengusap deraian air mata di kedua pipi anak sulungnya.
"Huuuaaaa....huuuuaaaaa..huhuhuhuhu"
"Ayok ikut Abang"
Langit mengulurkan tangannya pada adik pertamanya itu.
"Katanya mau ngumpet, Abang udahan gambarnya sama Bu"
Ay langsung meringsek turun dari pangkuan Melisa dan menarik Langit menuju kamarnya.
"Loh.. ko adek nangis?" Reza langsung bangun dari duduknya dan menghampiri Si bungsu kemudian menggendongnya.
"Abang tinggalin adek"
"Kakaknya lagi mau main lari-lari, adek kan gak boleh cape, nanti dadanya sakit lagi"
"Itu abangnya adek, bukan abangnya kakak" rengek si cantik dengan mata yang sudah banjir air mata.
"Abang kalian semua, adek masih ngantuk kita bobo yuk sayang" ajak Melisa sambil meraih tubuh mungilnya dari gendongan Reza.
Cahaya hanya menganggukkan kepalanya pasrah, ia memang belum puas dengan tidurnya tadi.
"Mba Asih jagain Bumi dulu ya, aku mau tidurin Chaca" kata Melisa pada mba Asih.
__ADS_1
"Papa sama Mama kekamar ya sayang" Reza mencium pucuk kepala anak tengahnya itu yang jarang sekali berbicara, dengannya ataupun dengan yang lainnya kecuali dengan Langit.
"Hem" sahutnya tanpa menoleh karna matanya fokus pada gambar yang ia warnai tadi bersama Langit
Dikamar yang sekarang jauh lebih besar dari kamarnya di apartemen yang dulu kini Reza dan Melisa saling duduk bersandar di punggung ranjang, tangan yang saling menggenggam seakan mengisyaratkan jika mereka akan tetap bersama apapun yang terjadi.
"Ra, kayanya aku salah kasih nama buat Ay" ucap Reza.
"Salah gimana lagi?"
"Aku kasih nama air kenapa nangis terus ya dari bayi, matanya penuh dengan air mata" kata Reza sambil mengusap tangan istrinya.
"Ya emang udah begitu sifatnya, udah gede juga gak akan cengeng lagi"
"Tapi kan berisik, Ra. emang kamu gak pusing dirumah denger Ay nangis terus?" tanya Reza.
"Ya pusing gak pusing, namanya anak sendiri"
"Aku ganti ah" kekeh Reza .
"Gak usah macem macem, lagian mau ganti apa?" Melisa yang kesal tapi juga penasaran dengan kekonyolan suaminya itu.
"Kalo ganti petir serem ya, Ra. tar marah marah terus" ucapnya sambil tertawa.
"Terus?" Melisa sudah mengerutkan dahinya menunggu jawaban sang suami.
.
.
.
"***TANAH... hahahaha" .
🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉***
tanah kuburan apa tanah sengeketa.
macem-macem lu bang, sini othor gerek leher lu di tiang listrik 🙄🙄🙄..
Like komennya yuk ramaikan ♥️🤗🤗
__ADS_1
mampir ke babang Reynard ya
#MenikahiSahabatku.