Suami Dadakan

Suami Dadakan
166


__ADS_3

🌻🌻🌻


Hari ini tepat tiga puluh hari umur baby Ay baby Bu dan baby Cha lahir ke dunia, ketiga anak itu tumbuh menjadi bayi yang sehat dan gemuk meski baby Cha lebih lamban perkembangannya di banding dari kedua kakaknya termasuk masalah respon dan berat badan, tapi tak membuat kedua orangtuanya patah semangat untuk melakukan yang terbaik termasuk pengobatannya.


Sicantik masih harus melakukan cek kesehatan rutin setiap minggunya guna mengetahui keadaan jantung dan nafasnya yang sampai saat ini masih tersengal terutama jika menangis terlalu lama.


"Mas Reza besok jadi ke luar kota?" tanya Melisa usai sarapan pagi diruang makan bersama mama dan papa.


"Jadi sayang, besok aku berangkat pagi banget, kenapa?"


"Gak apa-apa, aku cuma mastiin aja" ucap


Melisa sambil mengganti popok Bu yang ternyata basah.


Reza menghela nafas berat lalu menghampiri sang istri kemudian memeluknya dari belakang seraya berbisik tepat di telinga kanannya.


Melisa tetap bergeming ia hanya mengusap tangan Reza yang melingkar di perutnya.


"Katakan jika ada yang membuatmu tak nyaman,Ra.. apa kamu gak ijinin aku pergi?"


Melisa memutar tubuhnya agar bisa berhadapan dengan Reza, di tatapnya lekat lekat pria yang sudah memberinya tiga orang anak itu dengan sorot mata sendu.

__ADS_1


" Aku hanya lebih membutuhkan mu, Mas. akhir akhir ini, entahlah" gumam Melisa yang kini sudah menundukan wajahnya.


"Hanya dua hari, aku janji akan segera kembali, Ok." jawab Reza sambil mengangkat wajah Melisa., di ciumnya kening yang tertutup anak rambut itu dengan lama.


Reza langsung merengkuh tubuh yang sudah kembali langsing itu dalam dekapannya di ciumnya lagi pucuk kepala sang istri berkali kali.


"Acara aqiqah nanti pokoknya mas Reza harus sudah dirumah, aku gak mau denger alasan apapun" rengek Melisa sambil mencubit kecil dada Reza sampai ia harus meringis kesakitan.


"Ya ampun,Ra... masih sepuluh hari juga, kan aku bilang cuma dua hari, sayang"


"Dua hari itu lama bagiku yang gak pernah jauh dari mas reza selama ini?" godanya dengan senyum simpul.


tok tok tok..


CEKLEK


"Wah, udah mainnya sama oppa?" ujar Melisa saat mengambil baby Ay dari gendongan mama.


" Kayanya Ay haus, Mel"


"Iya mah, terakhir aku kasih ASI sebelum sarapan tadi" jawab Melisa.

__ADS_1


"Bu, mana?" tanya mama.


"Ada di box udah tidur lagi abis pup, tadi mandinya duluan biasanya paling akhir kan" kekeh Melisa.


"Ya udah mama keluar lagi, Cahaya masih sama papa dibawah" pamit mama.


Sekeluarnya mama dari kamar, Melisa langsung menyusui baby Ay di sofa di temani Reza yang akan memijit bahunya agar lebih rileks supaya ASI yang keluar pun akan berlimpah mengingat ia tak hanya menyusui satu bayi tetapi tiga sekaligus yang terkadang di waktu yang bersamaan.


Bahkan disaat senggang pun di gunakan Melisa untuk memompa ASI-nya untuk jaga jaga ketiganya lapar dan haus secara berbarengan, maka itu peran Reza sangat dibutuhkan oleh Melisa saat ia kelelahan bahkan tak jarang ia menangis di tengah malam di pelukan sang suami.


"Ambil Chaca, Mas. biar aku susui duluan nanti gantian sama Bu kalo udah bangun" titah Melisa saat bangun dari duduknya menuju box bayi Ay untuk menidurkan si sulung yang sudah terlelap karna kekenyangan.


" Ya udah aku kebawah dulu, kamu mau aku bawain apa?" tanya reza sebelum bangun.


"Tolong bikinin aku jus alpukat aja, Mas"


Reza hanya berdehem kecil lalu bergegas keluar kamar mengambil si bungsu yang sedang diasuh kedua orang tuanya di ruang tengah, menuruni tangga dengan santai sambil bersiul kecil, langkahnya terlebih dulu masuk kedalam dapur bersih untuk menyuruh salah satu ART membuatkan jus alpukat pesanan sang istri.


"Halo cantik, anteng banget sih sampe gada suaranya" kekeh reza sambil menciumi pipi Cahaya.


bayi mungil itu hanya melirik sekilas namun kembali asik sendiri membuat Reza semakin gemas di buatnya.

__ADS_1


you my everything baby



__ADS_2