Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Misi Sophia (part3)


__ADS_3

Fani berbaring menatap langit-langit kamarnya yang dipenuhi dengan kemerlap lampu-lampu warna-warni miliknya. Sejak dua jam lalu Fani hanya berbaring dan menatap kerlap-kerlip lampu, sesekali tangannya meraih ponsel dan menatap layar yang hening. Tidak ada notif dari sang kekasih, apalagi telepon. Sejak dia mematikan telepon sore tadi, mereka tidak ada berkomunikasi lagi. Meskipun jari-jemari Fani sudah tidak tahan ingin menelepon Andry, masih bisa dikendalikan oleh rasa gengsi. Mengingat dia mematikan telepon karena kesal Andry membentak dirinya tanpa menyebutkan apa salahnya.


Udah hampir larut begini tapi dia masih belum menghubungiku. Aku salah apasih? Masa iya Cuma karena cemburu dia sampai ngebentak bahkan diemin aku. Lagian kan itu Cuma asumsinya doang, realitanya beda lagi.


Wajah Fani ditekuk pelan, ada sedikit sesal dan kesal. Terus saja menatap layar ponselnya, berharap Andry akan segera meneleponnya. Biasanya pukul segini mereka melakukan panggilan video, bertatap muka dan bercanda tawa. Bahkan dalam waktu yang cukup lama, hingga terlelap kadang.


“ Kau tak mau menghubungi ku ya? Baiklah aku pun tak akan menghubungimu, lihat saja siapa yang egois sesungguhnya.”


Tangannya langsung melempar ponsel kesudut ranjang, menjauhi dirinya yang masih terbaring telentang. Memilih melupakan tentang penantian sejak beberapa jam lalu. Fani merenung menatap langit-langit, perlahan matanya mulai sayu dan tampak akan terlelap. Langkahnya menuju alam mimpi tiba-tiba terhenti oleh suara dering ponsel. Seketika matanya terbelalak dan dengan cepat dia beranjak mendekati ponselnya. Pikirnya dari Andry ternyata bunyi alarm yang disetelnya kemarin malam. Raut wajahnya seketika berubah menjadi kecewa, harapannya tak sesuai realita.


“ Aku pikir ini telepon dari kau Andry, rupanya aku diprank diriku sendiri. Lagian kenapa aku menyetel alarm jam segini sih?.” Tanyanya sambil terus menggerutu kesal.


“ Terlalu excited sampai kantuk ku hilang.” Sambungnya sambil kembali merebahkan diri ditempat semula.


Menurutnya mungkin ada baiknya dia menunggu sebentar lagi, bisa jadi karena ada kesibukan lain hingga Andry belum sempat mengabari. Fani membuka sosmed dan menatap room chatnya dengan Andry, ah sunyi sekali. Hanya terlihat pesan terakhir, itupun pesan siang tadi. Untuk mengurangi rasa bosan biasanya Fani memilih menonton story dan bahkan mereplay story teman-temannya. Tangannya dengan lihai menggeser kekanan dan kekiri, melihat-lihat apa saja yang ada diberanda storynya hari ini. Pandangannya terhenti, matanya terbelalak, tubuhnya sontak duduk terperanjak ketika menatap kekasihnya satu frame dengan (mantan)  teman yang saat ini memusuhinya setengah mati.


“ Ha? Apa ini? Gue gak salah lihat kan?.” Tanyanya sembari menepuk-nepuk pipinya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

__ADS_1


“ Ah enggak, ini gak mungkin.” Sambungnya diiringi gelengan-gelengan seolah yang dilihatnya itu tidak  mungkin.


“ Ini pasti gue salah lihat, karena lagi kesal sama Andry. Apalagi Sophia sekarang memang memusuhiku, wah ternyata bukan hanya hati tapi mataku juga ikut berkhianat. Itu pasti bukan Andry.” Protesnya tetap tidak percaya. Berulang kali dia keluar dari aplikasi dan masuk kembali untuk memastikan. Jari  jempol dan telunjuknya mendekat dan menjauh, gambar itu diperbesar dan diperkecil. Gelengan dan kucek-kucek mata menjadi saksi ketidak percayaannya atas semua yang dilihatnya.


“ Ini pasti editan, ini bukan Andry. Berani-beraninya Sophia mencoba menghancurkan hubungan kami.” Wajahnya ditekuk kesal, jarinya menekan kuat  layar ponselnya kesal. Ingin membalas postingan itu, namun Fani masih enggan terprovokasi oleh postingan Sophia. Beruntung jemarinya masih bisa terkendali, meskipun dadanya sudah bengkak dan sesak.


Kau sedang mencoba membuatku tersulut emosi ya Sophia? Hey aku tau kita sekarang bermusuhan, eh lebih tepatnya kau yang memusuhiku.


Ponselnya berkali-kali dibanting diatas ranjang, meluapkan kekesalan yang semakin tidak tertahankan. Beberapa kecurigaan bergelayut dalam pikirannya, mencoba menepis namun tetap kembali bergelantungan dalam pikiran. Wajahnya ditekuk sempurna ketika sebuah asumsi berhenti dipikirannya.


“ Apa mereka lagi berduaan sekarang? Atau lebih parahnya mereka memang lagi dekat? Pacaran? Ah mana mungkin, kan aku masih sah kekasihnya. Lagian Andry juga gak mungkin secepat itu jatuh cinta sama Sophia.” Gumamnya. Tangannya tampak terdiam dan berhenti membanting-banting ponselnya. Sesekali jari-jemarinya menggaruk dahi yang tidak gatal, mencoba mematahkan asumsi yang baru saja dia ucapkan. Mencoba menenangkan diri lebih tepatnya, sekalipun hal itu benar dia sedang mempersiapkan ekspresi dan cara meredam emosi. Mencoba menepis pernyataannya yang seolah benar, menimbang sejak tadi sore Andry belum menghubunginya, ditambah lagi dengan sikap Andry yang berubah, mulai membentak. Namun Fani benar-benar tidak bisa, tidak tenang sebelum dia mengetahui kenyataannya.


“ Apa aku telepon aja?.” Sambungnya. Bertanya sendiri lalu menjawab sendiri, kepalanya menggeleng berulang kali. “ Gak usah deh, enak aja. Besar kepala deh tu cowok kalau aku yang duluan menghubungi.” Apapun situasi harus tetap menjaga gengsi. Memilih untuk bodoh amat dengan situasi saat ini, Fani mencoba memejamkan matanya kembali. Meskipun malam ini akan terasa sangat panjang, dia tetap berusaha untuk tidak ambil pusing dengan masalah ini. Meskipun matanya terpejam, hatinya tak henti-henti menggerutu kesal, menyumpah serapahi kedua manusia yang dicurigainya bescandal. Semakin lama matanya terpejam, semakin banyak asumsi-asumsi yang membuatnya tak enak hati, tangannya mengepal dan menggenggam kuat selimutnya.


“ Ah tidak bisa dibiarkan!.” Bangkit dan duduk, tangannya meraih ponsel dan tanpa ragu-ragu dia menelepon Andry. Tak peduli lagi dengan gengsi, sedang mencoba membunuh asumsi yang bersarang sejak tadi. Tidak ada jawaban dari Andry, entah apa yang dilakukannya saat ini. Fani tak menyerah, mencoba menelepon berkali-kali lagi meskipun tetap sama tidak ada jawaban dari sang kekasihnya. Bukan asumsi yang dibunuhnya, malah kecurigaan semakin menguasai pikirannya, semakin berfikir buruk tentang dua manusia yang mengganggu malamnya.


Awas saja kau menghubungiku besok, aku hilang, pura-pura mati saja, ditelan bumi.

__ADS_1


*******


Andry menatap jam yan melingkar dipergelangan tangannya, sudah menujukkan pukul 12 malam. Sudah larut, waktu sangat cepat berlalu. Terlalu asyik menghargai temu hingga melupakan waktu. Andry memutuskan untuk pulang, menyudahi gelak tawa yang sejak tadi menggelitik perutnya. Beranjak dan melangkah menjauhi kerumunan teman-temannya, menuju parkiran dan melajukan mobil membelah jalanan. Dadanya terasa lapang seolah tidak ada beban, melupakan tuduhan yang tadi sore dia layangkan kepada sang wanita pujaan. Kakinya menginjak pedal gas menambah kecepatan, membelah jalanan yang tidak terlalu ramai.


“ Harus lebih sering-sering nongkrong sama tu anak-anak deh biar gak bosan terus.” Gumamnya sambil memarkirkan mobil kedalam garasi. Turun dan melangkah masuk kedalam rumah yang tampak sudah sunyi.


“ Pada tidur deh kayaknya.” Matanya menyapu seluruh isi rumah, menatap lampu-lampu yang sudah tidak menyala, hanya tersisa remang-remang cahaya. Dengan cepat melangkah menuju kamarnya, tak sabar ingin bersetubuh dengan kasurnya.


“ Aaaa..” Gumamnya sambil membanting tubuh diranjang miliknya. Wajahnya menyentuh dinginnya kasur yang sejak tadi terkena hembusan pendingin ruangan. Kedua tangan dan kakinya direntangkan dan bergoyang turun naik ikut menikmati dinginnya kasur.


Setelah puas menyedot hawa dingin dari ranjang, Andry beranjak dan mengganti pakaiannya. Mengenakan kaos longgar dan celana pendek andalan, Andry sudah siap melangkah kealam mimpi. Mematikan lampu utama dan kembali bersetubuh dengan ranjang. Diraihnya ponsel yang sejak beberapa jam tak disentuhnya, dilihatnya ada beberapa panggilan tak terjawab dari Fani. Seolah lupa dengan rasa kesalnya, Andry mencoba menelepon kembali kekasihnya. Ada rasa bersalah dihatinya, membiarkan Fani tanpa kabar sejak sore tadi.


“ Hei baru saja kau meneleponku 20 menit yang lalu, kenapa sekarang kau tidak mengangkat teleponku.” Gumamnya sembari terus mencoba menghubungi Fani. Sudah lima kali, namun tak kunjung dijawab oleh Fani.


“ Kau sudah tidur ya? Aku yang salah, kumpul dengan teman-temanku tapi aku melupakanmu.” Sambungnya mengakui kesalahannya. Dikirimnya sebuah pesan yang berisi permintaan maaf dilengkapi dengan ucapan cinta dan gambar hati.


“ Tapi kau yang membuat ku pergi bersama teman-teman, andai saja kau tak membuatku kesal tentu saja aku akan dirumah dan menghabiskan waktu dengan teleponan. “ Protesnya tak terima jika ini sepenuhnya salah dia.

__ADS_1


Meskipun ini sepenuhnya bukan salah dia, Andry tetap mengirimkan beberapa pesan permintaan maaf dan ucapan selamat malam. Berharap senyum tipis menghiasi wajah sang kekasih kala dia membaca pesan-pesan singkat ini.


Selamat malam gadis tengil, maaf hari ini aku mencurigaimu, maaf jika kerinduanku meracuni pikiranku. Kau pasti sejak tadi  menunggu aku menghubungimu kan? Yah maaf aku bersama tema-teman dan mengabaikanmu. 


__ADS_2