
Fani merebahkan tubuhnya diatas ranjang yang berukuran
sedang, meski tak sebesar dirumah
lamanya. Namun tetap nyaman dan empuk. Fani meraih ponsel dan hendak menghubungi
Andry, menekan kontak dan mencari nama Anddry. Menekan tombol telepon dan
menunggu jawban adari Andry. Fani menelepon berulang kali hingga Andry
mengangkatnya. Saat telepon terhubung langsung Andry marah dan menyerbu dengan
beberapa pertanyaan.
“ Hallo sayang, kamu dimana? Kamu keman aja? Aku khawatir
tau gak sih? Kamu udah gak sayang aku lagi ya? Atau kamu mau pergi ninggalin
aku? Kamu dimana? Aku jemput ya. Kita jalan-jalan.” Sahut Andry dari dalam
telepon. Menyerbu dengan banyak pertanyaan, membuat Fani bingung harus menjawab
yang mana duluan.
“ Iya sayang, aku sengaja gak hubungi kamu dua hari. Aku takut
kamu sedih, aku udah pindah keluar kota. Ini dadakan karena ayah dipindahkan
pihak perusahaan.” Jawabnya dengan nada sedih.
“ Apa kamu pindah keluar kota? Kenapa kamu baru bilang
sekarang. Bahkan kau tak sempat menemuimu sebelum pergi. Apa yang kau lakukan? Kenapa
kau membuatku begini.” Teriaknya frustarsi. Tak percaya jika Fani pindah keluar
kota tanpa memberitahu dirinya.
“ Maaf sayang aku sengaja tak memberi tahu mu. Aku takut kau
sedih dan tak mengizinkan aku untuk pergi.” Fani tak dapat membendung lagi,
terdengar suara isak tangisnya.
“ kamu kenapa ? kamu baik-baik aja kan sayang? Kenapa kamu
nangis?” tanya Andry terdengar khawatir saat mendengar isak tangis Fani.
“ Aku sedih harus ninggalin kamu, aku rindu. Tapi aku gak
bisa menemui mu kemarin. Maafkan aku.” Ucapnya tersedu-sedu.
“ Sudahlah aku akan menyusulmu akhir minggu ini.” Ucapnya menenangkan
Fani.
“ istirahatlah, aku merindukan mu.” Sambung Andry mengakhiri
telepon.
“ iya sayang, bye.” Ucap Fani memutuskan sambungan telepon.
Fani tersandar diranjangnya, masih terisak tangisnya menahan
semua kerinduan. Baru saja beberapa hari dia tidak bertemu namun rindu sudah
mencabik-cabik hatinya. Beberapa kali menyeka air mata yang memenuhi wajahnya,
Fani benar-benar merasa sedih merapi keadaan. Diraihnya laptop yang sudah lama
tak disentuhnya, mulai menulis sajak cinta, untaian kata tentang rindu. Malam ini
__ADS_1
adalah pertama kalinya dia tidur ditempat baru. Fani mencoba menguatkan dirinya
dan menjalani hari-hari seperti biasa.
Andry Pov
Aku menatap langit malam yang indah. Menatap bintang-bintang
yang indah memenuhi langit malam ini. Aku masih menantikan kabar dari kekasihku
yang sudah beberapa hari ini tidak mengabari. Sesekali aku menatap layar
ponselku dan mebuka kembali kenangan indah bersama Fani. Main dipantai,
jalan-jalan dipersawahan dan lain sebagainya. Aku senang jika mengilas balik
kenangan yang indah itu, serasa aku ingin terus membahagiakan wanita yang
paling aku cintai itu. tiba-tiba ponsel ku berdering, membuyarkan lamunanku. Dengan
cepat aku raih ponselku, dan betapa terkejutnya aku seseorang yang baru saja
aku pikirkan menghubungiku. Dengan segera aku menggeser layar ponselku,
menjawab panggilan dann segera ku rajam dia dengan banyak pertanyaan.
“ Hallo sayang, kamu dimana? Kamu keman aja? Aku khawatir
tau gak sih? Kamu udah gak sayang aku lagi ya? Atau kamu mau pergi ninggalin
aku? Kamu dimana? Aku jemput ya. Kita jalan-jalan.” Rasa khawatir dan rindu
membuatku bertanya banyak sekali. Mungkin Fani akan bingung menjawab
pertanyaanku.
“ Iya sayang, aku sengaja gak hubungi kamu dua hari. Aku takut
kamu sedih, aku udah pindah keluar kota. Ini dadakan karena ayah dipindahkan
menyukai kepindahannya ini.
“ Apa kamu pindah keluar kota? Kenapa kamu baru bilang
sekarang. Bahkan kau tak sempat menemuimu sebelum pergi. Apa yang kau lakukan? Kenapa
kau membuatku begini.” Aku berteriak frustasi ketika medengar Fani pindah
keluar kota. Bagaimana aku bisa menjalani hari-hariku tanpanya. Aku belu siap.
“ Maaf sayang aku sengaja tak memberi tahu mu. Aku takut kau
sedih dan tak mengizinkan aku untuk pergi.” Sahutnya sambil terdengar isak
tangis dari dalam telepon.
“ kamu kenapa ? kamu baik-baik aja kan sayang? Kenapa kamu
nangis?” tanya Andry terdengar khawatir saat mendengar isak tangis Fani.
“ Aku sedih harus ninggalin kamu, aku rindu. Tapi aku gak
bisa menemui mu kemarin. Maafkan aku.” Ucapnya tersedu-sedu.
“ Sudahlah aku akan menyusulmu akhir minggu ini.” Aku
mencoba menenangkan kekasihku yang tengah bersedih itu.
“ istirahatlah, aku merindukan mu.” Ku minta dia untuk
beristirahat karena aku tau dia sedang sangat lelah.
__ADS_1
“ iya sayang, bye.” Fani mengakhiri telepon dan memutuskan
sambungan.
Aku masih belum percaya dengan apa yang aku dengar barusan,
aku melempar ponselku kesal. Kekasihku sudah pindah keluar kota, berarti aku
harus menjalani hubungan jarak jauh dengannya.. belum pernah aku mencoba,
apakah aku bisa? Aku terus menatap langit sembari menyusun rencana bagaimana
caranya aku bisa menemuinya akhir minggu ini. Aku harus bertemu dengannya, aku
sangat merindukannya. Meskipun terpisah jarak saat ini, cintaku akan tetap
abadi sampai nanti sesuai ikrar janji kami di bawah sinar mentari saat itu.
****
Fani belum mengatakan dia pindah ke kota mana. Hanya saja
Andry tadi langsung mengatakan jika dia akan menemui kekasihnya. Entah dimana
akan ditemuinya, padahal dikota mananya saja dia tidak tahu. Andry dan Fani
saling menatap langit malam iini. Hanya saja sedikit berbeda, Andry menatap
langit sungguhan sementara Fani menatap langit-langit kamar. Mereka saling
memikirkan satu sama lain, saling merindukan. Hanya foto-foto yang ada didalam
ponsel lah yang menjadi penawar rindu. Fani menggeser-geser layar ponslenya
menatap foto-foto liburan mereka. Tersenyum bahagia, meskipun jauh dilubuk
hatinya ada rasa sedih yang medalam karena harus meninggalkan Andry yang dia
cintai.
“ Aku senang melihat foto ini, tapi aku juga sedih karena
sekarang kita sudah berjauhan. Apakah aku akan tetap menjadi satu-satunya orang
yang kau cintai atau hanya salah satunya.” Gumam Fani menatap Foto Andry yang
tersenyum manis sekali.
“ Apa kau tau? Bahkan aku belum mengenal tetanggaku disini. Tapi
rumahku sangat asri, jauh dari polusi.” Sambungnya sambil mengelus-elus foto
Andry yang menatapnya.
“ Dan apa kau tau? Aku bahkan sudah disiksa rindu.” Matanya kembali
berkaca-kaca. Pecahnya tangis saat melihat fotonya merangkul dan mencubit wajah
Andry mesra, merasa moment ini akan jadi sangat langka. Mengingat jarak meraka
yang cukup jauh, 6 jam perjalanan darat.
“ Tapi jangan khawatir, aku akan menggantung semua foto kita
berdua. Memenuhi seluruh ruangan ini, akan aku tambah dengan kemerlap lampu
tumblr agar lebih indah. Aku mencintaimu sayangku.” Fani sudah seperti pasien
gangguan jiwa, berbicara dengan telepon dan mencium-cium teleponnya.
Andai jarak punya
__ADS_1
telapak, mungkin disitu takdir kita memilih letak.