
“ Hei kembalikan ponselku.” Ucap Joo sembari mencoba meraih ponselnya dari tangan Fani. Tidak mengerti kenapa sang adik tiba-tiba mematikan panggilan dari Andry, kemudian mematikan serta menahan ponselnya. Joo sudah berusaha meminta dengan baik-baik, namun Fani tetap enggan mengembalikannya. Masih tetap menahan dan bahkan memasukkan ponsel Joo kedalam baju kaosnya.
“ Ih jorok. Lo kenapa sih matiin teleponnya? Terus sekarang pakai acara matiin dan menyita ponsel gue pula. Lo kesambet apaan sih dek?.” Lanjutnya semakin kesal melihat Fani yang masih enggan mengembalikan ponselnya. Bahkan dia tidak memberi penjelasan apapun kenapa dia mematikan telepon, mematikan ponsel dan menahan ponsel Joo ditangannya.
“ Lo ya, mint ague gellitikin sampai nangis.” Lanjutnya kali ini terdengar mengancam. Sudah tidak tahan lagi melihat Fani yang semakin menyebalkan. Wajahnya pura-pura tidak bersalah dan sama sekali tidak ingin berbicara. Hanya menunjukkan muka datar dan sesekali mengelak ketika Joo mencoba meraih ponselnya.
Joo mencoba merebut ponselnya dari Fani, meskipun agak susah dan perlu sedikit baku hantam, akhirnya dia berhasil mendapatkan kembali ponselnya dari sang gadis usil yang tidak jelas maksud dan tujuannya melakukan ini. Namun, ketika Joo sudah berhasil mengambil ponsel dan akan beranjak pergi, Fani tiba-tiba memeluk dan Menahan langkah kaki Joo. Hanya menatap penuh kebingungan, kemudian tampak mata Fani berkaca-kaca. Wajahnya ditekuk sedih entah apa penyebabnya. Joo kembali duduk dan memeluk adiknya yang entah kenapa tiba-tiba menangis tersedu-sedu.
“ Nah kenapa nangis sih?.” Tanya Joo bingung. Mencoba menenangkan sang adik yang masih tersedu-sedu.
“ Gapapa kok bang, Cuma gue minta lo blokir kontaknya Andry. Jangan kasih dia celah untuk ganggu hidup gue lagi.” Ucapnya semakin tersedu-sedu.
“ Loh kenapa? Kalian kenapa? Ada masalah? Coba bicarain baik-baik dulu.” Mencoba menengahi permasalahan dua manusia yang tengah bercinta ini.
“ Gak. Pokoknya lo harus blokir kontak dia dan jangan pernah sekali-kali kasih celah buat dia datang dan ganggu gue lagi.” Ucap Fani tetap memaksa Joo untuk memblokir kontak Andry. Tidak ingin lagi Andry datang dan mengganggu dirinya melalui celah Joo.
“ Hem. Coba diskusi dulu, bicara baik-baik, ini kenapa langsung blokir-blokir sih? Atau jangan-jangan kamu mendesak minta beliin simcard karena ini juga ya?.” Tanya Joo teringat dengan perkara pemaksaan dan desakan minta dibelikan simcard tadi.
“ Hem.” Fani hanya menjawab dengan deheman dan mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan oleh Joo barusan.
“ Yaudah deh, nanti gue blokir kontaknya Andry. Udah ah gue mau keluar dulu udah ditungguin temen-temen.” Ucap
__ADS_1
Joo mencoba melepaskan pelukan Fani yang erat itu, seolah tidak ingin melepaskan pelukannya dari sang kakak.
“ Hei lepas dong, ini kenapa jadi gini sih.” Lanjut Joo masih mencoba melepaskan.
“ Gak mau, pokoknya lo harus blokir tu kontak didepan mata gue. Baru deh gue lepasin ni pelukan.” Ucapnya memeluk semakin erat. Meminta Joo untuk menyalakan ponsel dan memblokir kontak Andry persis dihadapannya. Tidak ingin jika nanti sang abang membohonginya.
“ Nanti lo lupa atau sengaja gak blokir kontaknya. Gue gak mau pokoknya harus lo blokir terus hapus didepan
gue.” Lanjutnya memaksa Joo untuk segera menghapus dan memblokir kontak Andry yang ada diponselnya.
“ Hem iya iya ini gue hapus didepan mata kepala lo. Lihat ya lihat ni, buka mata lo lebar-lebar.” Ucap Joo kesal dengan Fani yang terus saja memaksa dirinya. Menyalakan ponsel dan kemudian mencari kontak Andry, menekan tombol blokir dan kemudian menghapus kontak Andry tepat didepan mata Fani. Melakukan itu dengan perlahan-lahan dan dibumbui rasa geram karena dirinya ikut-ikutan menjadi korban, ikut diseret dalam permasalahan pribadi mereka.
Setelah selesai memblokir dan menghapus kontak Andry, Joo kembali melepaskan pelukan Fani yang tetap masih erat. Meminta Fani melepaskannya karena dia buru-buru dan harus segera pergi menemui teman-temannya yang sudah menunggu sejak tadi. Seolah seperti ada yang belum selesai, Fani tetap tidak ingin melepaskan pelukannya meskipun sang kakak telah mengikuti semua keinginannya, memblokir dan menghapus kontak Andry.
“ Apa lagi sih dek? Gue buru-buru lo udah ditungguin anak-anak mau main basket.” Ucapnya terus mencoba melepaskan tangan Fani yang memeluknya.
“ Janji dulu.” Ucapnya lirih, semakin mengeratkan pelukannya. Tidak ingin melepaskan sang kakak begitu saja,
masih belum puas, masih ada yang mengganjal dihatinya. Masih harus ada yang dia sampaikan.
“ Janji apa lagi sih dek? Udah dong jangan manja, gue buru-buru ni. Nanti kemalaman ibu gak kasih izin pergi lagi.”
__ADS_1
Lanjut Joo sudha merasa risih dengan Fani yang tidak ingin melepaskan pelukannya itu.
“ Jani kalau lo gak bakal buka tu blokiran, gak bakal kasih tau apapun tentang gue sama tu cowok, gak akan pernah ngebiarin tu cowok ngehubungin lo lagi. Lo janji dulu, lo harus janji sama gue.” Sambungnya meminta Joo berjanji banyak hal. Semua yang bersangkutan dengan Andry harus dihindari oleh Joo.
“ Ih apaan sih lo kayak anak-anak tau gak.” Jawabnya menolak. Kesal dengan apa yang diminta oleh sang adik,
merasa sang adik menariknya semakin jauh kedalam urusan pribadi cinta mereka. Tidak ingin berjanji apapun, tidak ingin membatasi pertemanan apalagi juga ikut-ikutan memusuhi Andry. Sama sekali tidak ingin.
“ Kalau lo gak mau janji gue gak akan lepasin lo, biar aja sampai besok atau lusa gue tetap peluk lo.” Mencoba
mengancam sang kakak agar mau mengiyakan dan berjanji padanya. Satu-satunya jalan yang dia yakini akan membuat Joo mengiyakan permintaannya, meskipun ancamannya terdengar kurang meyakinkan hehehe.
“ Lo apa-apaan sih. Kenapa gue malahh jadi ikut-ikutan dalam hubungan lo berdua. Kenapa gue ditarik-tarik dalam masalah pribadi kalian sih? Lo lama-lama ngeselin juga ya.” Sudah tidak tahan lagi dengan tingkah Fani yang menurutnya sudah diluar batas, Joo marah hingga membentak sang adik yang masih memeluknya. Fani tampak kaget dan tersentak, pelan-pelan pelukannya mengendur dan tangisnya kembali pecah. Kali ini lebih tersedu-sedu dari sebelumnya, lebih kencang dan berurai air mata. Setengahnya adalah tangis nyata setengah lagi adalah sandiwara, ini adalah satu-satunya terakhir agar Joo mau mengiyakan permintaannya.
Gue kaget lo bentak, yaudah sekalian nangis aja kan. Setengahnya nangis karena lo bentak gue, setengahnya lagi yaa drama hahahaha.
Joo merasa bersalah karena telah membentak sang adik, mungkin karena rasa kesal dan dia yang terburu-buru ingin pergi. Joo mengelus rambut Fani pelan dan memeluk Fani dengan erat, mencoba menenangkan sang adik yang masih tersedu-sedu. Agar semua segera selesai, Joo pun mengiyakan apa pun yang dikatakan oleh adiknya. Mengiyakan semua janji dan mengiyakan semua permintaan sang adik.
“ Iyadeh iya gue gak bakal buka tu blokir, gak akan gue biarin Andry ngehubungi gue. Gue bakal pura-pura musuhin tu cowo juga.” Ucapnya dengan nada sedikit kesal. Seketika Fani melepaskan pelukan dan tersenyum senang setelah Joo mengiyakan permintaannya. Memang ternyata menangis tersedu-sedu adalah jurus paling ampuh untuk meluluhkan lelaki heheheh.
Heeheheeh ternyata nangis adalah jurus jitu yang bisa menaklukan hati para lelaki. Besok-besok gue nangis lagi ah.
__ADS_1