Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Kejutan


__ADS_3

Andry dan Fani menyantap saladnya masing-masing. Sesekali mereka bercanda tawa layaknya teman biasa. Matahari sudah mulai meninggalkan siang, menyisakan kegelapan. Semua anggota keluarga Fani sudah kembali kerumah. Ibu juga sudah menyiapkan semua makanan untuk makan malam. Semua sudah berkumpul mengelilingi meja makan, ini kali pertamanya Andry makan dirumah orang lain yang bukan keluarganya. Ibu membagikan piring satu persatu dan menuangkan air minum ke gelas-gelas yang kosong.


" Ayo makan Andry, jangan malu-malu. Anggap aja rumah sendiri." Ibu membuka suara.


" Iya tante." Andry mengangguk. Semua menyantap makan malamnya dengan semangat, tanpa menyisakan sedikitpun makanan dipiringnya. Setelah selesai makan malam Fani membantu ibu mengangkat piring dan membersihkan meja makan. Sedangkan ayah, Joo dan Andry sudah duduk bersantai sambil menonton tv.


Ibu mencuci piring dan Fani membantu membersihkan bagian dapur yang lain. Ibu mulai membuka suara, menanyakan hubungan Fani dengan Andry yang sebenarnya.


" Andry keliatannya anak baik-baik ya." Ibu membuka suara.


" Hem." Fani hanya berdehem.


" Kalian pacaran ya?." Pertanyaan ibu yang membuat Fani terkejut. Dengan cepat Fani langsung menggeleng dan mengerutkan keningnya.


" Ih ennga kok bu. Ibu apaan sih." Protesnya menyangkal.


" Yakin? Kelihatanya dia suka sama kamu hehehe." Ibu mendekatkan wajahnya ke wajah Fani dan terkekeh geli.


" Ih ibu apaansih. Dia kesini cuma mau jenguk aja. Lagian kan kemarin dia yang gendong aku waktu pingsan." Fani menekuk wajahnya, bibirnya maju beberapa centi dari tempat semula.


" Lah, justru karena dia suka kamu makanya dia gendong kamu waktu pingsan. Karena dia suka kamu makanya sekarang dia juga datang jenguk kamu, dia pasti cemas. Mana bawa banyak makanan untuk mu lagi hehehe." Ibu tak hentinya terkekeh saat melihat reaksi Fani yang cemberut masam.


" Bisa gak sih bu jangan berasumsi yang aneh-aneh. Kenapa sih ibu jadi bahas dia." Jawabnya ketus.


" Kenapa kamu marah. Lagian kan gak ada salahnya kalau dia beneran suka kamu." Ibu meneruskan pekerjaannya.


" Ibu lihat dia juga anak yang baik. Yang paling penting ibu suka sikapnya." Ibu memberikan jawaban yang menohok. Memberi lampu hijau mengisyaratkan Fani sangat disetujui berpacaran dengan Andry. Fani hanya terdiam dan meneruskan pekerjaannya tanpa berbicara sepatah katapun.


Sudah pukul 20:00 WIB, Andry berniat untuk pamit pulang. Untuk ukuran menjenguk orang sakit, ini sudah termasuk waktu yang cukup lama. Andry sudah bertamu sejak sore hingga malam begini. Ibu dan Fani sudah ikut bergabung diruang keluarga. Sudah beberapa topik pembicaraan mereka lalui, Andry mulai beranjak berdiri untuk pamit.

__ADS_1


" Om, tante, Joo aku pulang dulu ya. Udah malam soalnya." Andry berpamitan.


" Oh iya iya, makasih ya nak Andry udah datang kerumah kami." Sahut ibu Fani.


" Iya, lain kali sering-sering main kesini ya." Sahut Joo. " Jangan sungkan-sungkan." Giliran ayah yang nimbrung.


" Iya, besok kalau ada waktu aku main kesini lagi deh hehehe." Andry mendekat dan menyalami ayah dan ibu Fani. Kemudian bertepuk toss dengan Joo. Wah kelihatannya Andry sama Joo udah akrab nih hehehe.


Andry melangkahkan kakinya menjauhi keluarga Fani, tangannya melambai-lambai. Fani mengantarkan Andry sampai kepintu depan.


" Makasih ya kak udah jenguk aku kerumah." Fani menghentikan langkahnya diteras rumah.


" Iya sama-sama. Udah sembuh kan? Besok harus masuk sekolah ya." Andry tersenyum tipis.


" Yaudah aku balik dulu ya." Sambungnya.


" Hati-hati ya kak." Fani melambaikan tangan saat Andry melangkah meninggalkannya.


" Loh kenapa lagi kak? Ada yang ketinggalan ya?." Tanya Fani keheranan.


" Hehehe iya nih ada yang ketinggalan." Andry terkekeh.


" Apa? Biar aku ambilin kak." Tanya Fani ingin kembali kedalam rumah.


" Eh stop-stop. Aku yang ketinggalan kasih barang ke kamu." Andry terkekeh kembali. Fani hanya mengerutkan keningnya bingung.


" Tutup mata kamu dong. Aku mau kasih kamu kejutan." Andry memberi perintah.


" Apaan sampai tutup mata segala?." Jawab Fani polos.

__ADS_1


" Udah, tutup aja. Ntar juga tau." Andry memerintahkan kembali. Fani hanya menuruti permintaan Andry.


Apaan sih pakai tutup mulut segala. Aa jangan aneh-aneh lagi dong Andry. Aku gak suka.


" Buka matamu." Andry menyodorkan setangkai bunga mawar didepan wajah Fani. Fani membuka matanya hingga terbelalak kaget melihat benda yang ada dihadapannya. Mulutnya ternganga tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Andry memberikannya setangkai bunga mawar berwarna merah. Segar dan wangi.


" Apa ini kak?." Tanya Fani penuh rasa kaget.


" Ini bunga buat kamu Fani." Andry menyodorkan lebih dekat.


" Iya maksudnya buat apa kak?." Tanya Fani lagi.


" Anggap aja sebagai permintaan maaf aku sama kamu hehehe." Andry tertawa kecil. Tapi Fani tak mengambil bunga dari tangan Andry. Fani malah menunduk sembari berfikir.


" Kenapa? Kamu gak suka ya sama bunganya?." Suara Andry terdengar lirih. Perlahan Andry menurunkan bunga yang semula tepat berada didepan wajah Fani itu. Fani masih bingung dengan maksud dan tujuan Andry. Tapi mendengar kata-kata Andry malah membuatnya merasa bersalah. Fani mendongak dan perlahan meraih bunga dari tangan Andry.


Aaa apa lagi ini? Aku bahkan terpaksa menerima bunga darinya. Yatuhan apa salahku?


" Eh siapa bilang. Aku suka kok." Tersenyum lebar dan mencium bunga mawar yang baru diambilnya dari Andry. Andry tersenyum bahagia melihat Fani yang mencium-cium bunga darinya itu.


" Yaudah, aku balik dulu ya." Andry mendekat dan mengelus pelan rambut bergelombang Fani. Kemudian bergegas kembali kemobil yang mesinnya sudah dihidupkan dari tadi.


" Iya kak. Hati-hati ya. Makasih." Fani setengah berteriak dan melambai kepada Andry. Dengan menggenggam setangkai bunga mawar merah ditangan, Fani menunggu kepergian mobil berwarna hitam itu hingga tak lagi terlihat. Kemudian bergegas kembali berkumpul dengan keluarganya yang lain. Sepanjang langkahnya Fani menggerutu dalam hati.


Ya tuhan.. Apa dia beneran suka sama aku? Kutukan apa ini. Wahai tubuhku, apakah kau sudah siap menghadapi perangai lelaki kurang waras itu. Aaaaa aku ingiin menangis. Tangannya memukul pelan rambut bergelombangnya.


Dari jauh terlihat Fani berjalan gontai dengan setangkai bunga mawar ditangannya. Semua mata tertuju pada Fani yang membawa bunga itu. Jiwa-jiwa usil Joo memberontak ingin mengejek adiknya. Ayah dan ibu saling beradu pandang dan diakhiri dengan senyum tipis.


" Wah sepertinya anak ayah dan ibu udah pandai bercinta nih." Joo tertawa terbahak-bahak. Sementara Fani tetap melangkah menuju kamar tanpa menghiraukan ocehan abangnya itu. Hanya menatap dengan tatapan kebencian.

__ADS_1


" Bu, lihat bu. Dia udah berani bawa pacar kerumah bu." Joo kembali terkekeh. Fani tetap mengabaikan dan mengurung diri dikamar.


__ADS_2