Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Kencan Dadakan (Part 2)


__ADS_3

Andry dan Fani duduk disudut cafe. Pandangan mereka saling beradu, terdiam membisu. Hanya kedipan mata yang ada diantara mereka. Saling menikmati manik mata dihadapannya masing-masing, dilengkapi hembusaan angin dan secerca cahaya yang menyinari. Langit yang begitu gelap, namun pandangan mereka saling terang. Apakah ini mula tumbuhnya rasa cinta?


" Kamu mau pesan apa?." Andry membuka dan menyodorkan buku menu kepada Fani.


" Kok masih bengong, pesan dulu biar gak kelamaan." Andry mengibas-ngibaskan tangannya didepan wajah Fani.


" Eh. Iya kak." Fani tersentak kaget.


" Bengong aja dari tadi. Pesan dulu." Andry tersenyum tipis.


" Aku pesan minum yang ini aja deh kak." Menunjuk salah satu minuman dibuku menu.


" Loh gak pesan makan?." Tanya Andry.


" Engga deh kak. Masih kenyang makan salad dari kak Andry." Fani tersenyum genit.


" Pesan makan aja ya. Aku gak mau anterin pulang kalau kamu gak makan." Andry terdengar mengancam.


" Kok gitu sih." Fani mendengus kesal. Bibirnya maju 5 centi dari posisi awal. Ini benar-benar menggemaskan bagi Andry.


" Mau pesan atau gak mau pulang?" Andry memebri pilihan. Terkekeh dalam hati melihat tingkah gadis yang ada dihadapannya.


" Yaudah deh aku pesan nasi goreng aja." Fani menggerutu. Bibirnya komat kamit seolah mengutuki ancaman Andry.


" Tunggu disini ya. Aku pesan kebawah dulu. Jangan kemana-mana gadis kecilku." Andry beranjak dan mengedipkan mata genit kepada Fani. Berjalan menjauh meninggalkan gadis tengil yang akan dimasukkan kedalam perangkapnya itu.


" Hem." Fani hanya berdehem.


Sambil menunnggu Andry memesan dibawah, Fani beranjak berdiri dipagar pembatas. Menikmati pemandangan alam yang disuguhkan, angin sepoi-sepoi menerbangkan rambut bergelombangnya kekiri dan kekanan. Cuaca tak lagi terasa panas karena sudah terlalu sore, ditambah lagi langit mendung. Mungkin akan segera turun hujan. Fani meraih ponselnya dan memotret beberapa pemandangan yang menurutnya bagus. Tak ketinggalan, Fani juga berselfie. Saat asyik memotret, sebuah pesan masuk mengalihkan fokusnya. Fani membuka sebuah pesan dari Al. Mungkin ingin menagih janji.

__ADS_1


" Hai Fan. Lo lagi apa? Gimana? Lo udah bisa kasih jawaban ke gue? Gue gak bisa nunggu lebih lama Fan. Ini bener-bener nyiksa gue. Tolong kasih gue jawaban sekarang Fan." Sebuah pesan dari Al seperti mengacak-acak isi hati Fani. Matanya berkaca-kaca menatap layar ponselnya itu.


" Eh ngapain berdiri disitu. Sini aku udah bawain pesanan kamu." Andry membawa nampan berisi minuman dan makanan yang mereka pesan. Meletak kan nampan diatas meja dan mendekati Fani.


" Ngapain disini. Anginnya lumayan kencang nanti masuk angin." Andry meraih tangan Fani dan menuntunnya kembali ke meja yang ada disudut cafe.


" Eh iya kak. Tadi cuma lihat-lihat pemandangan aja kok. Soalnya bagus banget." Fani mengikkuti langkah Andry yang lumayan cepat.


" Silahkan duduk tuan puteri." Andry menarik kursi dan mempersilahkan Fani untuk duduk. Kali ini Fani tak bereaksi dan tak mengutuk dalam hati. Hanya mengikuti perintah yang diberikan oleh Andry. Pikiran nya terpaku pada pesan yang mengacak-acak isi hatinya barusan.


" Iya kak. Makasih ya." Fani duduk dengan tatapan kosong. Pikiran nya melayang ntah kemana-mana.


Andry segera duduk dan menyeruput minuman miliknya. Menyantap makanan yang dia pesan tanpa menunggu lagi. Sementara Fani hanya menyeruput pelan, masih memikirkan jawaban. Andry hanya memandang heran Fani yang mengaduk-aduk makanannya itu. Masih memperhatikan dan menerka-nerka apa sebenarnya yang dipikirkan gadis dihadapannya itu.


" Fan." Andry memanggil dan menyentuh pelan tangan Fani.


" Kamu gapapa kan?." Sambungnya sambil mendekatkan wajahnya.


" Kamu sakit?." Andry memeriksa dengan menempellkan punggung tangannya di dahi Fani.


" Eh iya kak. Aku gapapa kok." Fani sontak mundur saat menyadari Andry yang memegang dahinya.


" Lagi mikirin apasih? Sampai makanan nya cuma diaduk-aduk aja." Andry melepaskan tangannya dari dahi Fani dan kembali duduk.


" Hehehe gak kok kak. Gak mikirin apa-apa." Fani menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal. Lalu segera menyantap makanan yang ada dihadapan nya.


" Nah gitu dong. Makan yang banyak biar makin cantik." Andry mengelus pelan rambut Fani.


" Hehehe." Fani hanya terkekeh jijik melihat perlakuan Andry.

__ADS_1


Aaaa bahkan mulutku masih bisa tertawa, padahal hatikku menangis memikirkan jawaban untuk Al.


Andry sudah selesai makan, lalu beranjak dan mengatakan ingin ketoilet. Sebenarnya Andry turun kebawah dan mengambil sesuatu didalam mobilnya. Sebuah kotak kecil berwarna pink dan sekotak coklat yang diber pita. Andry bergegas kembali keatas untuk memulai dramanya. Fani masih sibuk mengunyah makanan, mengoper kekiri dan kekanan. Berfikir dan mulai masuk kedalam dunia lamunan. Beruntungnya Andry datang dan menarik Fani agar segera keluar dari lamunannya.


" Fan." Andry menyentuh pelan bahu Fani. Fani berbalik dan terperanjak saat mendapati Andry yang sudah jongkok dengan sebuah kotak pink berpita dilengkapi setangkai mawar merah ditangannya.


" Eh kak, kenapa jongkok. Berdiri dong." Fani berdiri dan meraih bahu Andry. Mengangkat pelan agar Andry segera berdiri. Andry hanya mengikuti apa yang dikatakan Fani.


" Kenapa kak Andry jongkok gitu sih. Duduk kak." Fani meminta Andry untuk duduk.


" Aku sengaja jemput kamu hari ini Fan. Maaf ya kalau kencan kita dadakan." Andry duduk kembali dikursinya. Fani terus saja mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Memastikan tak ada yang melihat adegan barusan. Padahal hanya ada mereka berdua dilantai atas. Apalagi diatas hanya ada 5 pasang kursi.


" Fan." Sambungnya.


" I.i.yya kak." Fani menjawab terbata-bata. Kaget mellihat tingkah pria yang ada dihadapannya itu.


" Mungkin kita emang baru kenal. Tapi kalau masalah hati kita gak bisa prediksi." Pembicaraan Andry sudah hampir sampai ke inti. Fani hanya diam tak bergeming dengan kedua tangan yang menumpu dagunya.


" Mungkin aku yang terlalu tergesa-gesa, tapi aku gak bisa nahan lebih lama Fan." Andry semakin menarik Fani kedalam perangkapnya. Andry benar-benar memainkan drama dengan sangat lihay. Seperti sudah biasa dia lakukan, padahal ini adalah drama pertamanya.


" Kamu boleh ambil kedua kotak ini kalau kamu bersedia jadi pacar aku." Andry menyodorkan dua kotak yang berbeda ukuran.


" Kalau kamu gak mau, kamu boleh ambil bunga ini aja." Andry tersenyum tipis. Dari tadi hanya Andry yang berbicara, sementara Fani hanya diam dan mendengarkan apa yang diucapkan Andry.


Bagai tersambar petir, Fani terdiam kaku dan membisu. Mencerna semua kata-kata yang keluar dari mulut Andry. Hatinya seolah diobrak-abrik oleh pernyataan Andry barusan. Benar dugaannya selama ini, pria gila yang ada dihadapannya menyukai dirinya sejak beberapa saat lalu. Belum menemukan cara yang tepat untuk menjawab pernyataan cinta dari Al, malah datang sebuah pernyataan yang juga harus dijawabnya hari ini. Kali ini Andry benar-benar mengobrak-abrik isi kepala, perut dan hatinya. Bingung harus melakukan apa, Fani tak bergeming sama sekali.


Ya tuhan. Yang kemarin aja belum bisa kujawab, lalu hari ini diberi pertanyaan lagi. Bahkan kali ini aku tak diberi waktu berfikir. Kenapa kedua manusia ini seperti berkompromi? Tuhan aku gak lagi mimpi kan? Aku harus apa !


 

__ADS_1


 


__ADS_2