Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Nomor telfon


__ADS_3

Andry merebahkan tubuhnya diranjang berukuran king size miliknya itu. Meraih rermote dan menghidupkan pendingin ruangan. Andry ingin tidur dengan seragam putih abu-abu yang masih melekat ditubuhnya. Mulai memjamkan mata dan sekelibat terlintas nama Fani dan perkara balas dendam dipikiran Andry. Sontak Andry membuka matanya dan duduk  diujung ranjang. Dengan cepat Andry meraih ponsel pintar dari saku celana abu-abu itu. Membuka pola dan kemudian memilih menu kontak untuk mencari nama Ardi. Terlintas difikiran nya ingin menelfon Ardi dan meminta kontak gadis pematah hati itu. Namun, Andry merasa ragu jika permintaan nya itu akan ditolak lagi oleh Ardi. Pasti Ardi enggan memberikan kontak Fani kepada Ardi. Apalagi Andry yang terang-terangan mengatakan maksud dan tujuan nya mendekati fani. Hanya untuk sekedar belas dendam yang dibungkusnya dengann kata memberi pelajaran.


“ Apa gue minta ke Ardi? Tapi pasti Ardi tidak menggubris perimntaanku.”


“ Apalagi dia kan teman baik cewe itu. Ah gak akan dikabulkan perintaanku.”


“ Ujung-ujungnya gue disuruh minta sendiri ke gadis itu.” Gerutunya.


 


Andry mengurungkan niat dan kembali merebahkan tubuhnya. Mengedarkan pandangan ke seluruh bagian atap rumah. Memikirkan bagaimana cara agar dia mendapatkan kontak gadis itu.


“ Masa iya gue minta langsung ke gadis pematah hati itu.”


“ Wah engga bisa. Bisa-bisa besar kepala tuh cewe kalau gue minta secara langsung. Berasa paling dikejar-kejar lelaki.”  Gumamnya menggeleng-gelengkan kepala.


“ Eh tapi kan tujuan gue emangmau bikin tu cewe suka sama gue. Terus kalau udah suka gue tinggalin deh tu


cewe. Pasti seru kalau cewe pematah hati patah hati hahahaha” Andry tertawa jahat membayangkanya.


 


Meraih lagi ponsel yang dia letakan disebelahnya. Mencari nama Ardi dan dengan cepat melakukan panggilan. Sudah tiga kali Andry mencoba menghubungi, namun tidak ada jawaban dari Ardi.


“ Sengaja lo ya gak angkat telfon gue.” Gerutu Andry menggenggam kuat ponselnya. Sekali lagi, Andry mencoba

__ADS_1


menghubungi dan akhirnya telepon tersambung dengan Ardi.


“ Hallo bre. Ada apaan?.” Sahut Ardi dari telepon.


“ Sok sibuk sekali anda pak Ardi. Sangat sudah dihubungi.” Protesnya mengudara.


“ Yak an gue memang sibuk hahahaha.” Ardi terkekeh mendengar protes temannya itu.


“ Gak usah ketawa lo. Sekarang kirim kontak Fani dong.” Pintanya seolah menghiba.


“ Lah kan tadi kita ketemu Fanidisekolah. Kenapa lo gak minta langsung aja tadi? “ Pertanyaan Ardi seolah mengatakan jika dia tidak akan memberi kontak Fani.


“ Ye.. Lo gimana sih. Kan lo tau gue gak pernah deketin cewe. Ini juga kali pertama gue mau coba deketin cewe. Jadi lo kirim ajadeh sekarang, beres deh urusan nya.”


“ Ah terserah lo deh. Bodo amat sih, udah ya bye. Tuutt… Tuuuttt… Tuuttt.. “ Ardi memutuskan sambungan telepon.


Ardi.


“ Wah parah ni anak. Gak ada adab, sembarangan aja matiin telfon.” Gerutunya kesal.


Udah jelas-jelas ini pertama kalinya deketin cewe. Gak punya pengalaman


sama sekali. Sekalinya  deketin cewe Cuma


buat balas dendam. Eh memberi pelajaran sih katanya. Ini sih balas dendam

__ADS_1


berkedok memberi pelajaran. Sok-sok an mau memberi pelajaran supaya meghargai


perasaan orang lain. Etdah boro-boro bahas soal perasaan, selama ini juga lo


antiwanita. First impression lo dalam percintaan jelek banget ya An. Ardi.


 


Dengan rasa kesal Andry memejamkan matanya. Menutupi semua wajahnya dengan selimut dan kemudian terlelap dalam tidurnya. Seolah dalam tidur pun Andry menyusun rencana untuk kedepannya. Tidur bersama kekesalan, tidur bersama rasa dendam.


***************************************************


Fani membuka mata menggeliat ke kiri dan kekanan. Tanpa disadarinya hari sudah sangat gelap. Fani beranjak dan


meregangkan otot-otot tubuhnya.


“ Ah kasur kurang ajar. Kau benar-benar menyandera ku sore ini.” Gumam Fani menepuk-nepuk ujung kasurnya.


Fani membersihkan diri dan segera keluar untuk menyapa penghuni rumah yang lain. Berkumpul diruang makan dan menyantap makan malamnya. Tak ada sedikitpun yang bersisa dipiringnya.


“ Ini yang makan Fani apa setan? “ Joo terbahak-bahak.


“ Ah diem. Aku lapar banget hari ini. Soalnya habis bertarung dalam mimpi.” Jawabnya sambil meneguk segelas air


dingin dihadapannya.

__ADS_1


“ Mimpi apaan Fan kok sampai bertarung gitu? “ Tanya ibu penasaran.


“ Mimpi bertarung sama diri sendiri bu. Jiwa ku ingin bangun, tapi ragaku masih ingin tdur hehehehe.” Fani tertawa dan akhirnya diikuti oleh anggota keluarga yang lain.


__ADS_2