
Fani bersandar diranjang miliknya, menatap luar jendela sembari memegang coklat dan setangkai mawar misterius yang tidak jelas pengirimnya. Hari ini Fani juga beruntung, Endrico menyelamatkannya dari kemarahan Irma. Ya walaupun dia tau hanya hari ini dia bisa lari, namun besok dan seterusnya tidak akan bisa. Fanimasih menerka nerka dari siapa coklat dan bunga mawar ini. Bahkan sepanjang jalan pulang tadi Fani sudah menanyakan berulang kali kepada Endrico, berharap jika hadiah misterius ini sebenarnya dari Endrico. Namun berulang kali pula Endrico menyangkal jika itu bukan dari dia.
“Jadi dari siapa ini?.” Gumam Fani sembari memelintirkan tangkai mawar yang ada ditangannya.
“ Mungkin salah orang kali ya, kenapa gue harus pusing-pusing masalah beginian sih.” Lanjutnya kemudian meletakkan coklat dan mawar itu diatas meja sebelah ranjangnya.
Fani meraih ponselnya, sudah ada beberapa pesan dan panggilan tidak terjawab dari Endrico. Sejak tadi Fani sengaja mematikan nada dering ponselnya, mengantisipasi jika Irma akan menelepon dan meminta penjelasan atas apa yang dilihatnya malam ini juga. Namun beruntung, tidak ada satupun pesan dan panggilan tidak terjawab dari Irma. Yang ada hanya rasa takut dan bersalah dalam diri Fani, tentunya dari kejadian ini akan ada sedikit banyaknya pengaruh dalam persahabatan mereka.
“ Ir, maafin gue ya. Bukannya gue gak mau jujur sama lo dari awal, Cuma gue takut lo marah dan maksa gue putusin salah satu dari mereka berdua.” Gumamnya lirih. Sejak kedatggangan Endrico tadi, perasaan Fani amburadul, tidak menentu. Rasa takut, bersalah, ingin teriak, ingin menangis bercampur menjadi satu. Namun Fani sadar, ini semua murni kesalahannya. Dia yang membuat dirinya terperangkap dalam masalah seperti ini.
“ Pasti Irma marah banget sama gue, pasti dia kecewa banget makanya gak mau tanya apa-apa, gak butuh penjelasan apapun dari gue.” Lanjutnya. Matanya berkaca-kaca menatap layar ponselnya, menatap foto Irma yang sengaja dia ambil ketika dicafe tadi.
“Kenapa Sih selama ini gue gak mikir resikonya gimana? Endingnya bakal kayak apa. Kenapa sih demi kepuasan diri gue sendiri gue malah ngorbanin perasaan orang lain.” Tanpa sadar air mata Fani sudah jatuh membasahi pipinya. Tangannya enggan menyeka air mata, kali ini Fani membiarkan bulir-bulir hangat itu berjatuhan dipipi chubbynya.
“ Gimana kalau nanti semua terbongkar, apa yang harus aku lakukan? Bagaimana aku akan menerima sanksi dari mereka? Bagaimana aku akan menghadapi Endi dan Andry nantinya.” Fani mulai ketakutan membayangkan jika suatu saat nanti kebohongannya terbongkar. Kemarin-kemarin sebelum mengambil keputusan Fani tidak pernah memikirkan tentang resiko yang akan dia hadapi, bagaimana nanti dia akan menghadapi kebencian dari orang-orang yang dia sakiti.
“ Apa aku sanggup menghadapi tatapan kebencian dari mereka? Haaaaaaa masih mending kalau konsekuensi yang aku terima Cuma tatapan kebencian. Bagaimana jika Endi benar-benar merealisasikan ucapannya waktu itu? Bagaimana jika dia membunuhku. Apalagi Andry, sudah dua kali aku sakiti. Apa dia juga akan membunuhku? Aaaa membayangkan saja sudah sangat ngeri ya tuhan.” Fani meringis, membayangkan seolah dia benar-benar akan dibunuh oleh dua lelaki yang dia sakiti secara bersamaan.
Fani meraih kembali setangkai mawar merah dari atas meja, mencium wewangian bunga dan berharap membuatnya lebih tenang. Fani enggan lagi memikirkan tentang konsekuensi yang akan diterimanya suatu hari nanti. Seharusnya jika dia sadar akan kesalahannya, Fani harus tegas dan memilih salah satu antara Endrico dan Andry sekarang juga. Cara terbaik agar tidak memperbesar resiko adalah memutus rantai masalah, meskipun nantinya juga akan menerima resiko dari perbuatannya. Setidaknya tidak terlalu parah.
“ Yang lalu biarlah berlalu. Yang esok gak perlu aku pikirkan. Biar saja semua berjalan sesuai alurnya. Jika memang harus menerima konsekuensi yang berat suatu hari nanti, dengan lapang hati aku menerima. Daripada memikirkan saat ini, membuat aku pusing, dan dihantui rasa ketakutan. Lama-lama aku bisa gila. Sudah lah, yang nanti urusan nanti.” Tukasnya sangat egois. Fani tidak bisa membawa diri kearah yang lebih baik. Sudah jelas salah tapi enggan menghindar dari masalah.
“ Tapi ngomong-ngomong ini bunga dari siapa sih? Pengen makan coklatnya tapi takut ada guna-guna. Aaah kolot sekali pemikiranku.” Fani kembali pada pemikiran utamanya. Mengatasi kebingungannya, dari siapa bunga dan coklat ini?.
“ Apa gue simpan aja ya, buat kenang-kenangan. Siapa pun lo yang kasih gue bunga dan coklat ini, terimakasih telah berbaik hati. Meskipun aku gak tau ini dalam rangka apa.” Fani mencium bunga mawar merah berulang-ulang. Kemudian beranjak dari tempat tidurnya, meletakkan coklat dan bunga misterius itu diatas meja belajarnya, dibuat menjadi pajangan.
**
Sejak tadi Irma mondar-mandir tidak karuan, menggigit jari telunjuknya sembari berpikir apakah yang dia lakukan ini salah atau tidak. Sejak tadi Irma mempertimbangkan apakah yang dia lakukan ini akan menjadi masalah besar nantinya atau tidak. Irma menyalakan ponselnya, menatap dengan lekat kemudian mematikan kembali layar ponselnya. Berulang kali Irma melakukan hal yang sama, masih ragu, masih bingung.
__ADS_1
“ Ah bodo amat, daripada penasaran sendiri mending cari tau yang sebenarnya deh.” Irma mendengus, kemudian dengan cepat menyalakan ponselnya dan memanggil seseorang.
“ Hallo.” Sahut seseorang dari dalam telepon.
Irma tidak menjawab, dia malah mengambil ponsel yang satu lagi untuk merekam pembicaannya. Entah apa yang sebenarnya Irma rencanakan, hanya dia dan tuhan yang tau.
“ Hallo.” Sahut seseorang dari telepon.
“ Eh iya hallo.. halloo.” Sahut Irma seolah-olah jaringannya yang bermasalah.
“ Iya ada apa Ir?.” Tanya orang tersebut.
“ Oh iya kak, ada yang mau aku tanya sama kak Endi. Sebenarnya ini gak ada hubungannya sama aku sih. Tapi aku Cuma penasaran aja, pengen tau yang sebenarnya.” Irma langsung pada tujuannya. Ternyata yang membuat dia mondar-mandir adalah karena ingin menelepon Endrico.
“ Hem, ada apa Ir? Mau tanya tentang apa?.” Tanya Endrico bingung.
“ Kak Endi sama Fani udah berapa lama pacaran? Sempat putus gak? Hem gimana ya, maksudnya kak Endi sama Fani pernah bermasalah sampai putus gak sih?.” Irma begitu gugup hingga melayangkan banyak sekali pertanyaan, yang mungkin sensitive bagi sebagian orang.
“ Hem..” Irma hanya berdehem, kemudian terdiam dalam waktu yang cukup lama. Menyusun kata-kata, bagaimana cara dia menggali informasi tanpa ada rasa curiga dari Endi.
“Hallo Ir, hallo.” Endrico memanggil Irma yang seketika terdiam tidak bersuara,
mungkin saja masih jaringannya yang bermasalah.
“ Eh hallo kak, hallo.” Benar saja, membuat keadaan dimana seolah-olah jaringan yang bermasalah adalah cara paling tepat ketika tiba-tiba mati kutu dan tidak mampu lagi berkata-kata.
“ Hallo Ir, gimana gimana? Ada apa emangnya lo nanya itu?.” Endrico mengulang pertanyaannya, sudah kepalang penasaran dengan maksud dan tujuan dari pertanyaan Irma tadi, seolah ada sesuatu yang ingin dia sampaikan secara tidak langsung.
“ Ada sesuatu yang mau kamu bilang tentang hubungan aku dan Fani Ir? Bilang aja gapapa kok, gue gak mungkin makan lo kali Ir, jadi sans aja.” Endrico merayu Irma, berbalik dia yang mencoba menggali informasi dari Irma.
__ADS_1
“ Hem gak ada apa-apa sih kak, sebenarnya pengen mastiin aja gimana hubungan kak Endi sama Fani selama ini. baik-baik aja kan? Soalnya beberapa kali aku kedapatan Fani bersedih hati, aku pikir ada masalah sama kak Endi, tapi Fani kekeh bilang enggak.” Irma berdalih. Awalnya ingin menggali informasi tapi kenapa dia ikut-ikutan jadi pembong sih. Sudah salah arah.
“Ah masa sih? Hubungan kita adem ayem aja sih. Kadang ya sesekali ada perdebatan kecil, itupun karena aku yang terlalu sibuk dikampus sampai berhari-hari kadang enggak ngabarin.” Sahut Endrico menjelaskan.
“Oh iya, sebenarnya ada apa Ir? Gak mungkin kan lo nelepon gue malam-malam tanpa ada tujuan. Gue yakin sebenarnya ada sesuatu yang pengen lo sampaikan, bilang aja Fan.” Lanjut Endrico, masih belum puas. Masih penasaran dengan maksud dan tujuan Fani yang sebenarnya.
“ Hem gakk ada apa-apa sih kak. Cuma pengen nanya aja, apa kak Endi punya niat serius sama Fani kedepannya. Apa kak Endri benar-benar punya niat untuk ke jenjang selanjutnya atau Cuma sekedar cinta-cintaan aja?.” Irma kembali pada tujuan awalnya, menggali informasi sebanyak-banyaknya dari Endrico.
“ Hem belum tau sih Ir, gue belum ada pikiran kesana. Masih mikirin kuliah, masih lama banget waktunya kan, kurang lebih 4 tahun lagi. Apalagi baru jalan satu semester kan.”
“ Sebenarnya ada sesuatu yang belum sempat gue kasih tau sama Fani, gue pengen pindah kuliah kesini. Gak sanggup kuliah disana, terlalu berat, banyak menyita waktu sampai-sampai jarang ada waktu buat main. Tapi ini masih wacana sih, belum tau gimana nantinya, jadi atau enggaknya.” Sambung Endrico, ternyata ada sesuatu yang belum Fani ketahui tapi sudah diketahui Irma duluan.
“ Eh seriusan pengen pindah kuliah kak? Duh gak sanggup karena berat kuliahnya apa gak sanggup karena berat menahan rindunya?.” Irma menggoda Endrico, tawanya terdengar samar-samar ditelinga Endrico.
“ Hem apaan sih Ir, gak sanggup karena berat kuliahnya sih. Kalau masalah rindu mah gampang, selagi ada ponsel dan bisa video call. Yang jauh jadi deket, ya gak sih?.” Endrico ikut terkekeh geli.
“ Oh yaudah kak. Semoga aja kak Endi mengambil keputusan dengan sebaik-baiknya ya, mempertimbangkan karir dimasa depan dan cinta dimasa depan hehehe. Okedeh kalau gitu aku tutup dulu ya kak, bye.” Irma mengakhiri obrolan, kemudian bergegas mematikan sambungan telepon.
“ Hufffffhhhhh, hampir aja ketahuan. Irma, kenapa lo **** banget sih. Masa lo mau cari infomasi tapi gak pinter ngolah sih. Semoga aja kak Endi gak curiga sama gue ya tuhan. Ah ****, ****, ****.” Gerutu Irma frustasi. Irma menjambak rambutnya kesal, menyumpah serapahi kebodohan dirinya sendiri.
“ Eh tunggu, tunggu. Endrico mau pindah kuliah kesini? Itu artinya dia semakin dekat sama Fani. semakin dekat, berarti semakin sering ketemu. Semakin sering ketemu berarti mereka semakin menguatkan rasa, lalu apa kabar dengan Andry yang jauh disana? Malang banget sih nasib lo Andry, udah deh lo tenang ya disana. Biar gue aja yang minta sama semesta buat serahin lo beserta hati lo buat gue, biar lo ngerasain punya pendamping yang setia.” Sambungnya mengada-ngada, Irma bahkan tanpa sungkan-sungkan menghayal yang bukan-bukan.
Irma menyimpan video dan rekaman suara dalam satu file. Barang bukti yang akan dia simpan dengan sangat rahasia, entah pada siapa akan dibuka nantinya. Irma, awalnya baik, diam dan pemberi dukungan terbaik untuk Fani. Namun sekarang, seketika berubah menjadi Irma yang baru, bukan lagi sekubu dengan Fani. Entah apa yang nangkring dipikirannya, yang jelas dia tidak suka dengan kelakuan Be*at Fani, memainkan hati dua lelaki sekaligus. Berbohong demi menutupi kebenaran, berbohong demi menutupi kebohongan-kebohongan sebelumnya. Irma, sangat kecewa dengan Fani yang tiba-tiba berubah menjadi pembohong yang ulung hanya demi kepuasan hatinya.
“ Lumayan buat bukti. Tenang Fan, lo masih bisa bersandiwara kok. Gue bakal tetap pura-pura ****, pura-pura gak tau yang sebenarnya. Gue masih mau lihat seberapa jagonya lo bersandiwara. Gue gak bakal tanya apapun sama lo, gue gak bakal minta penjelasan. Tenang, lo masih aman. Sampai nanti lo sendiri yang jujur dan mengakui semua kebohongan lo selama ini.” Gumam Irma. Menatap ponselnya sembari tersenyum jahat.
“ Semoga aja karma yang lo terima lebih ringan dari seharusnya ya Fan. Gue emang sahabat lo, tapi gue gak membenarkan kelakuan lo yang kelewatan ini. Semoga aja nanti, ketika Endrico atau Andry tau yang sebenarnya, lo Cuma mendapatkan kata putus dan kehilangan kasih sayang doang. Gue harap Cuma itu, jangan sampai lo kehilangan harga diri dan tertekan mental. Karena gue sendiri gak bisa mengukur tingkat kekejaman seseorang. Bisa aja konsekuensinya gak sesuai harapan, misalnya lo berharap Cuma dimarahin Andry atau Endrico doang, tapi kenyataannya lo dapat beban mental. Atau kemungkinan terburuknya, bukan gue berharap yang enggak-enggak, tapi bisa aja salah satu dari mereka balas lo dengan Fisik, mukul misalnya. Sumpah gue yang bayangin aja seram, merinding gue. Ya tuhan semoga aku senantiasan menjadi wanita yang setia pada pasangan nantinya.
Aamiin.” Sambung Irma berceloteh panjang, tapi semua yang dia katakan ada benarnya juga. Tidak semua orang bisa biasa saja setelah menerima pengkhianatan. Ada beberapa yang biasa saja, tapi ada juga yang tidak bisa terima begitu saja. Hati-hati, masalah paling sensitive adalah masalah hati.
__ADS_1
Ah bukannya gue pengen nikung lo ni ya Fan, tapi gue emang berdo’a, gue berharap kalau suatu saat nanti setelah Andry sadar, dia ninggalin lo. Dan gue berharap dia datang kepelukan gue, dia jadi milik gue. Maap ni ye, bukan nikung. Cuma ngambil bekas lo doang. Dari pada lo sia-siain mending gue seriusin.