
Irma menyeruput nikmat kopi yang ada dihadapannya, tangannya dengan lihai memainkan ponsel, membalas pesan dari Endi dan memantau situasi. Irma awalnya ingin menutup diri dari masalah pribadi Fani, namun daripada makin banyak kebohongan dan orang-orang yang tersakiti, pikirnya lebih baik memaksa Fani untuk berhenti membohongi diri sendiri dan orang lain. Sementara dihadapan Irma, Fani tersenyum-senyum simpul sembari memandangi layar ponselnya, entah membalas pesan siapa, kemungkinan besar membalas pesan Andry.
Yang disakiti Andry sama Endi, tapi kenapa yang nyesek gue ya. Bukan iri atau apa sih, masa iya sekali embat dua. Lah gue satu aja gak punya, ya allah ya gusti ampuni dosa teman hamba ini.
Sesekali Irma melirik jam yang melingkar ditangannya, sudah hampir setengah jam mereka duduk menunggu. Namun yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang.
“ Gila sih, beruntung banget ya kita hari ini. Banyak diskonan.” Ucap Fani memecah keheningan, semula dia sibuk menatap layar ponsel namun tiba-tiba beralih membongkar kantong belanjaannya.
“ Oh iya, minggu depan udah mulai libur kan? Liburan kepulau yuk?.” Lanjutnya mengguguskan sebuah ide.
“ Hem gue sih mau-mau aja, tapi tergantung izin orang tua.” Sahut Irma, pandangannya tidak beralih dari layar ponsel dan room chat dengan Endi.
“ Yaelah, udah mau tamat SMA, masa sih masih nampol diketek mama. Pasti diizinkan kok, percaya deh sama gue.” Jawab Fani santai, sok iya padahal dia saja belum tentu diizinkan orang tuanya.
“ Eh Fan, ada niatan buat lanjutin studi ke Chicago gak? Nyusul Andry gitu.” Irma mengalihkan pembicaraan, mencari celah untuk mengorek informasi dari Fani.
“ Kalau sekarang sih belum ada, gatau deh nanti. Tergantung situasi dan kondisi, tergantung izin orang tua dan tergantung uang juga.” Sahutnya sembari menggidikkan bahunya.
“ Gak kangen lo sama Andry?.” Lanjut Irma masih memancing agar Fani membuka semua rahasianya.
“ Kangen lah gila! Siapa sih yang gak kangen sama pacarnya, tapi ya gue setia nunggu disini aja. Nanti sampai dia balik, lebih kurang setengah tahun lagi lah ya.” jawab Fani dengan lugas.
“ Lo yakin diusia yang kurang dari 20 tahun mau nikah? Apa gak terlalu muda buat lo?.” Irma beralih kepembahasan lain, mulai menyerang pada inti.
“ Hem belum terlalu yakin sih. Cuma ya gue jalani aja, kalau emang jodoh pasti jiwa dan raga gue siap menerima.” Menjawab pertanyaan tanpa menatap lawan bicaranya, Fani malah sibuk bermain ponsel dan membuka sosial media.
“ Loh mana bisa gitu, itu namanya lo gak komitmen. Kasihan sama Andry yang udah berharap lebih sama lo, bisa jadi disana dia mati-matian menahan rindu, menahan diri demi pulang tetap membawa setia, demi menikah dengan lo. Gila ya lo, kayak enteng banget. Padahal ini masalah serius, bukan main-main. Bukan hanya sekedar cinta-cintaan.” Celoteh Irma panjang lebar. Emosinya terpancing mendengar jawaban Fani yang benar-benar santai, menganggap semua ini hanya hiburan saja. Tidak sadar jika dia telah menyakiti banyak hati orang lain.
“ Santai dong, kenapa lo yang sewot sih.” Ketus Fani. Tidak terima diceloteh oleh Irma.
Dih. Sok lo yang paling bener. Terserah gue dong, ini sama sekali gak ada hubungannya sama lo. Ini urusan gue sama Andry, lo Cuma temen gue, orang luar.
“ Gak takut kena karma ya lo, heran gue.” Irma membalas dengan ketus. Kesalnya semakin memuncak ketika sahabatnya ini enggan mendengarkan nasihat yang dia berikan. Padahal ini juga demi kebaikan Fani.
Dasar manusia gak tau diri, dinasehati bukannya bilang terimakasih malah marah-marah gak jelas. Gak ada untung ruginya juga buat gue, Cuma gue masih melakukan tugas sebagai teman yang baik. Masih untung gue mau ngingetin lo.
“ Sebenarnya ya Ir, ada sesuatu yang pengen gue kasih tau sama lo. Gue pengen jujur tentang perasaan gue yang sebenarnya. Gue pengen lo tau gimana susahnya gue menghadapi rumitnya hubungan ini.” Ucap Fani lirih, tampak ingin mengatakan sesuatu yang mungkin sangat penting. Bisa jadi berhubungan dengan kebohongan yang coba dia tutupi selama ini.
“ Apa? Lo ngerahasiain sesuatu dari gue? Tega banget lo. Lo anggap gue apa sih? Rubbish?.” Irma terus memancing agar Fani membongkar semua rahasia yang selama ini dia tutupi, ya sekali lagi padahal gak ada untung ruginya juga buat Irma.
“ Sebenarnya gue…”
Baru saja Fani akan membuka rahasianya, ucapannya terpaksa berhenti ketika seseorang datang menghampiri mereka. Menambah ketegangan diantara kedua manusia yang akan membongkar rahasia ini.
“ Hallo.” Sahut seorang lelaki dari arah belakang Fani.
Dengan cepat Fani membalikkan tubuhnya dan melihat sosok yang membuatnya berhenti bicara. Seorang karyawan café datang membawa sekotak coklat dan setangkai mawar merah.
“ Hallo mbak, apa benar ini dengan mbak Fani?.” lanjut lelaki itu sembari tersenyum manis.
Irma mengerutkan keningnya, padahal dia berharap jika itu adalah Endi. Seketika kesal dan sesal menyeruak dari dirinya. karena kedatangan lelaki ini dia harus kehilangan informasi penting dari Fani, sahabatnya tidak jadi berterus terang.
__ADS_1
“ Iya saya Fani, ada apa ya mas?.” Tanya Fani keheranan.
“ Ini ada hadiah dari seseorang. Beliau meminta saya untuk memberikan ini kepada mbak Fani.” lelaki itu mengulurkan sekotak coklat dan setangkai mawar kepada Fani.
“ Dari siapa mas?.” Tanya Fani dengan wajah ling lung.
“ Maaf mbak saya dilarang memberi tau. Silahkan diterima mbak.” Lelaki itu memaksa Fani untuk menerima coklat dan bunga dari tangannya.
“ Dari siapa mas? Mungkin saja mas salah orang, bisa jadi ada Fani lain kan ditempat ini.” Perlahan Fani meraih coklat dan bunga dari tangan lelaki itu. Fani mengedarkan pandangannya kesekeliling, mencari-cari siapa sosok yang memberinya hadiah ini.
“ Apa gak dicek dulu mas, mungkin aja kan ini bukan buat saya.” Lanjut Fani masih meyakinkan karyawan tersebut bahwa ada kemungkinan ini adalah hadiah untuk Fani lain yang ada diruangan itu.
“ Enggak mbak, ini beneran untuk mbak Fani yang ini kok. Orang yang memberikan ini sudah menunjuk mbak berkali-kali, saya yakin saya gak salah orang mbak.” Lelaki itu juga bersikukuh meyakinkan Fani.
“ Hem okedeh mas, terimakasih ya. sampaikan juga ucapan terimakasih saya untuk orang yang memberikan ini ya.” Fani mengalah, tapi dia juga penasaran siapa yang mengirimkan coklat dan setangkai mawar merah ini.
“ Hem.” Fani menatap Irma dengan keheranan, kemudian berdehem sembari menggidikkan bahu tidak tau.
“ Kira-kira dari siapa Ir?.” Fani malah melayangkan pertanyaan pada Irma yang sama dengan dirinya, sama-sama kebingungan.
“…” Irma menggidikkan bahu, tidak tau.
“ Penggemar lo kali.” Lanjut Irma memberi opsi.
“ Gila lo, gue mana punya penggemar.” Sahut Fani terkekeh geli.
Fani membolak-balikkan coklat yang baru saja dia terima dari orang yang tidak dikenal ini, ingin mencium aroma mawar merah kesukaannya namun masih ragu. Bukan berfikit negative, tapi takut jika seseorang berniat jahat padanya. Sementara Irma sibuk mengedarkan pandangannya, mencari-cari sosok Endi yang tak kunjung tiba. Padahal sudah lebih dari setengah jam dia duduk menunggu disini. Ada pula rasa curiga jika coklat dan bunga yang baru saja diterima Fani itu adalah pemberian dari Endi. Berarti Endi ada disekitar sini.
mendapat kejutan mematikan ini.
Irma menyeruput kopi dengan pelan, pikirannya tak tinggal diam, melayang-layang menerka dimana Endi saat ini. Tiba-tiba Fani teriak minta dilepaskan, sontak membuat Irma mengalihkan pandangannya kearah Fani.
“ Aaaaa lepasin, lepasin gue. Ini siapa sih!.” Teriak Fani sembari berusaha melepaskan tangan seseorang yang menutup matanya.
“ Lepasin. Ir tolongin gue, ini siapa sih.” Lanjutnya meminta pertolongan Irma. Tangannya berusaha keras melepaskan tangan yang menghalangi pandangannya.
Sementara Irma hanya terdiam terbelalak menatap lelaki yang tengah menutup mata Fani secara paksa ini, ternyata adalah Endi yang sejak tadi dia tunggu-tunggu.
“ Shuuttt.” Endrico memberi kode tanpa bersuara kepada Irma, meminta gadis itu untuk diam ditempatnya.
“ Lepasin gak!.” Bentak Fani dengan suara keras, membuat beberapa pengunjung lainnya menatap penuh keheranan.
Endi melepaskan tangannya, mengizinkan Fani untuk membuka matanya. Dengan cepat Fani berbalik dan melihat siapa yang menjahili dirinya. Mata Fani membelalak sempurna, seolah ingin keluar dari sarangnya. Betapa terkejutnya dia melihat Endrico ada disini.
“ K..kaa..kak Endi.” Ucap Fani terbata-bata sembari mencacarkan telunjuknya.
“ Kak Endi?.” Ucapnya sekali lagi, kedua tangannya dengan lincah mengucek-ucek matanya. Masih belum percaya dan ingin memastikan jika sosok yang berada didepannya itu adalah Endrico.
“ Iya ini aku.” Endrico tersenyum senang, merentangkan kedua tangannya seolah siap menyambut Fani yang akan menghambur memeluknya, khayalannya.
" Hem.” Endrico menurun naikkan alisnya, semakin merentangkan tangannya memberi kode agar Fani segera masuk kedalam pelukannya. Namun sayang, Fani tidak peka. Dia masih sibuk mengendalikan rasa kagetnya.
__ADS_1
“ Hem, sini sini. Masih enggak percaya ini aku? ini aku Endrico, lelaki yang paling kamu cintai hehehe.” Ucap Endrico dengan penuh percaya diri, kemudian menarik paksa Fani kedalam pelukannya.
“ Aaaa kangen banget sama kamu sayangku.” Endrico menghujani kepala Fani dengan kecupan-kecupan rindu.
Fani hanya terdiam dan tidak bergeming didalam pelukan Endi. Wajahnya tampak pucat, tangannya memberontak pelan seolah ingin melepaskan diri dari pelukan Endi. Sesekali Fani memandangi Irma dengan wajah ketakutan, tentu saja takut. Ini adalah akhir dari kebohongannya, Irma akan tau semua kebohongan Fani selama ini.
Ya tuhan, kenapa Endi tiba-tiba ada disini sih? Ir, please jangan tatap gue begitu. Maafin gue yang udah bohongin lo selama ini.
Irma menatap Fani dengan sorot mata yang tajam, seolah sorot matanya mengatakan jika dia butuh penjelasan dari apa yang dilihatnya sekarang, sedang marah besar. Padahal sebenarnya hanya dibuat-buat, Irma tidak sepenuhnya terkejut sebab sudah tau semua kebohongan Fani. Hanya saja dia ingin memberi sedikit pelajaran kepada Fani, agar nantinya dia tidak lagi membohongi orang-orang. Berbohongndemi menutupi kebohongan, semakin banyak, semakin menumpuk. Ponselnya sedikit diangkat, ternyata sejak kedatangan Endi, Irma merekam semuanya. Entah apa yang akan dia lakukan selanjutnya, yang penting ada bukti bahwa Fani masih berhubungan dengan Endi.
“ Hem.” Irma berdehem keras, ponselnya diturunkan, disembunyikan agar Endi dan Fani tidak curiga jika dia sedang merekam.
" Heeemm.” Irma berdehem semakin keras, seolah mengatakan jika dirinya ada diantara sepasang kekasih yang sedang berpelukan mesra ini.
“ Oh hehehee. Sampai lupa kalau disini ada Irma.” Endrico terkekeh geli, kemudian melepaskan Fani dari pelukannya, beralih merangkul gadis yang wajahnya pucat pasi itu.
“ Apa kabar Ir? Sehat dong ya, makin subur aja nih badan gue liat.” Lanjutnya bercanda.
“ Kak Endi kapan pulang? Kak Endi tau dari mana kalau aku sama Irma ada disini?.” Fani masih melayangkan pertanyaan yang sama, sebab sejak tadi Endi belum menjawabnya.
“ Hem, aku baru aja sampai tadi pagi. Hemmm..” ucap Endrico terputus-putus. Dia enggan mengatakan bahwa Irma lah yang memberi tahu dimana keberadaan mereka. Sebelumnya Endrico terlah berjanji pada Irma jika dia tidak akan mengatakan bahwa Irma yang mengatakan dimana keberadaan mereka.
“ kebetulan aku emang mau kesini tadi. Mau beliin sesuatu buat kamu. Eh waktu aku mau beli cofe aku lihat kamu juga ada disini. Pucuk dicinta ulam pun tiba, yasudah aku buru-buru kesini samperin kamu. Ternyata waktu tau kalau aku sudah tidak bisa lagi menunda rindu.” Endrico berdalih. Malah ikut-ikutan berbohong demi menutupi kebenaran.
“ Weeeeeeeekkkk.” Batin Irma. Seolah ingin meluat mendengar ucapan Endrico yang penuh dengan gombalan-gombalan setan.
Ternyata semesta gak pernah salah ya. Ternyata sama-sama demen bohong nih pasangan. Yang cewek demen bohong eh yang cowo juga demen bohong ternyata. Huhhh! Yang kasian sih Andry, gak bersalah tapi dipermainkan oleh wanita yang sama dua kali. Ya tuhan, berikan saja Andry padaku. Aku menerima dengan senang hati, aku ikhlas.
“ Oh iya ini ada sesuatu buat kamu.” Endrico menyerahkan seikat Bunga pada Fani, kemudian disusul dengan kotak hadiah berukuran sedang.
“ Apa ini?.” tanya Fani ketika meraih kotak yang diberikan oleh Endi.
“ Oleh-oleh buat kamu, semoga suka ya.” Endrico menarik tengkuk Fani, kemudian tanpa sungkan mengecup kening gadis yang dicintainya itu.
“ Oh iya ini buat kamu Ir, maaf ya Cuma bisa kasih ini doang.” Endrico menyerahkan kotak kecil pada Irma, ternyata dia juga menyiapkan oleh-oleh untuk sahabat dari kekasihnya itu.
“ Eh kenapa repot-repot sih kak. Tapi ya syukur deh, rejeki anak sholeha. Makasih ya.” Irma terkekeh geli. Ketika menatap Endrico seolah dia ingin bercanda terus, tapi ketika menatap Fani, Irma seolah ingin menerkam gadis itu hidup-hidup.
“ Makasih ya kak. Ternyata tadi yang kasih kejutan kak Endi ya. Aku hampir saja mati penasaran memikirkan itu dari siapa.” Meskipun dihantui rasa takut, Fani masih bisa bercanda walaupun hanya sekedarnya.
“ Hem, tadi? Kejutan? Aku gak kasih kejutan apa-apa kok sebelumnya.” Jawab Endrico dengan wajah kebingungan.
“ Loh? Terus coklat dan bunga ini dari siapa?.” Fani menunjuk coklat dan setangkai mawar dengan sudut matanya.
“ Gak tau.” Endrico menggidikkan bahu.
“ Aku baru aja sampai, terus aku Cuma bawa ini.” Lanjut Endrico sembari menunjuk kotak hadiah dan seikat bunga yang dibawanya.
Fani terdiam seketika, perasaannya bercampur aduk. Kepalanya tidak berhenti memikirkan coklat dan bunga ini dari siapa, misterius, membuat penasaran. Fani dengan ragu-ragu menatap Irma yang ada dihadapannya, seolah ingin berbagi rasa penasaran. Namun Irma malah membalasnya dengan tatapan mata yang tajam.
Habislah aku diterkam gadis ini Kak Endi, tolong bawa aku pulang bersamamu. Atau aku akan mati dicabik-cabik pertanyaan dari gadis ini. Melihat sorot matanya saja sudah membuatku takut, apalagi menjawab pertanyaan-pertanyaannya nanti.
__ADS_1