
Plaakkk. Sebuah tamparan kuat seolah mendarat dipipi Fani. Bagaimana mungkin sesuatu yang hanya
menjadi dugaan tiba-tiba menjadi kenyataan. Hal yang sejak kemarin membuatnya enggan menyetujui tawaran Endi. Lalu apa yang harus dia katakan? Menolak dengan jutaan alasan, caci maki yang menyakitkan? Atau menerima dengan sejumput perasaan yang sejak kemarin juga menyesakkan.
“ Fan, ini akan jadi kencan terakhir kita. Mungkin kita baru bisa kencan setahun lagi, atau bahkan tidak pernah berkencan lagi.” Endrico merunduk mengiba. Kedua tangannya masih menggenggam erat tangan Fani, berulang kali masih menciumnya.
“ Kak Endi,” Fani bergumam lirih, tidak nyaman berasa disituasi seperti ini.
“ Kak Endi, kak.” Fani mencoba mengangkat dagu Endi. Wajahnya benar-benar terlihat sedih, matanya berkaca-kaca seolah ditolak cintanya. Padahal Fani belum menjawab apapun, apa yang akan dia jawab pun masih bingung. Setengah hatinya ingin menolak, namun setengah hatinya juga ingin menerima. Dibalik rasa jijiknya dengan latar
belakang Endrico yang sering disebut lelaki baji*gan, Fani juga menyimpan rasa diam-diam, rasa sayang.
Apa ini trik baru agar tidak ditolak wanita? Atau dia tau kalau aku ini manusia pengiba? Apa yang harus aku katakan? Aku tolak? Tapi aku juga sayang, ya sekalipun aku gak tau rasa ini hadir sejak kapan.
“ Fan, jawab aku. Bersediakah kamu aku cintai? Bersediakah kamu menjadi mentariku? Bersediakah kau menjadi bulatan hitam dibola mataku? Bersediakah?.” Endrico semakin merunduk, tubuhnya lesu. Kepalanya diletakkan tepat dipangkuan Fani, mengiba dan memohon.
“ Kak Endi, jangan. Jangan begini, aku tidak enak hati.” Fani mengangkat paksa dagu Endrico, menarik perhatian Endrico agar beralih padanya, menatap wajahnya. Kedua tangannya lembut Fani berganti mengelus pipi Endrico, wajah yang tampak seperti menangis meringis.
“ Fan.” Endrico menghambur memeluk Fani. Memeluk dengan erat, sangat erat. Fani hanya diam dan membalas pelukannya, sembari sesekali mengelus punggung lelaki yang mengiba rasa padanya.
Entah ini bagian dari naskahmu, atau memang kau mengiba rasa padaku. Lalu jika aku berikan cinta, kau suguhkan jarak? Kau minta kunci, tapi kau bawa gemboknya. Lalu apa yang akan kita buka? Lembar kesedihan? Menulis kejamnya jarak? Atau kau memintaku menghitung mundur hari? 365?
“ Kak, ini diluar dugaan. Terkait perasaan memang gak ada yang bisa memberi batasan ataupun larangan. Hanya saja untuk apa kita bangun hubungan, jika akhirnya kita membentang jarak secara bersamaan?.” Fani menarik tubuh Endrico menjauh, memaksa tubuh kekar itu melepaskan diri dari pelukannya.
“ Tapi Fan, jarak bukan halangan. Kita bisa saling menabung rindu, kemudian bertemu. Kita bisa berkasih sayang meski hanya lewat pesan dan panggilan.” Endrico bergumam lirih. Terus mencoba meyakinkan Fani jika dirinya benar-benar mencintai.
“ Kak, untuk apa? Kita buka lembaran baru hari ini, tapi besok jarak sudah membentang, menentang. Lalu hal pertama yang akan kita tulis adalah kejamnya jarak? Bagian awal saja sudah rumpang, bagaimana selanjutnya? Ingin seberapa banyak rumpang dalam hubungan ini nantinya? Bukan hanya masalah jarak kak, ini juga menyangkut masalah hati yang terlalu lama ditinggal pergi, nanti bisa mati.” Fani tersenyum tipis, kemudian menggenggam erat tangan Endrico.
“ Kamu nolak aku Fan? Kamu benar-benar gak ada rasa sama sekali?.” Endrico menghela nafas panjang. Suaranya yang semula lirih berganti menjadi lantang nyaring.
“ Bukan begitu kak Endi. Apapun yang berhubungan dengan hati, dengan perasaan kita harus hati-hati. Harus dipikirkan baik-baik, persentase kebahagiaan, kesedihan hingga dengan kekecewaan. Aku hanya gak mau kecewa karena jarang yang membentang, rindu yang menjulang.” Fani berbicara dengan sangat manis, senyum tipis dan sedikit puitis. Mencoba menenangkan Endrico, menenangkan hatinya sendiri, menenangkan rasa yang menggebu-gebu dalam hati.
“ Fan, jarak bukan penghalang. Meskipun membentang ribuan atau jutaan hasta, rasa yang ada juga tetap sama. Jadilah rumah untuk aku kembali, jangan biarkan aku lupa diri.” Endrico terus memohon, mengiba dan mencoba meyakinkan Fani. Ini adalah kesempatan terakhirnya sebelum besok sudah harus pergi mengejar cita-citanya.
Fani terdiam seketika, mencerna kata-kata yang baru saja keluar dari mulut manis Endrico. Entah dia benar-benar serius atau tidak, itu hanya dia dan tuhannya lah yang tau. Rasa yang Fani punya menggebu-gebu tidak tentu makna, ingin membaur dan betemu dengan cintanya. Makin jauh memikirkan kemungkinan, makin kencang nafas Fani, makin tidak beraturan. Nafasnya tersengal-sengal bak orang habis dikejar setan, suaranya denguhan nafasnya lantang.
“ Fan, kamu gak apa-apa kan? Aku salah ngomong ya? Maaf Fan, maafin aku ya.” Endrico mendadak panic melihat reaksi Fani, kalang kabut menanyakan sembari menggosok-gosok punggung Fani agar sadar. Malam ini sudah berapa kali dia dibuat panic oleh Fani, entah sakit atau kesurupan setan.
*Kau kenapa? Tadi juga seperti ini. kau memang sakit atau kau punya riwayat penyakit lain? Apa pernafasanmu bermasala*h.
__ADS_1
“ Fan,” Endrico mengambur memeluk Fani lagi. Sejak tadi sudah tak terhitung berapa kali dia memeluk dan mengecup Fani. Selagi Fani tidak merasa terganggu, dia akan terus melakukannya, selagi bisa, selagi ada kesempatannya.
“ Kak Endi, jangan rengkuh aku terlalu kuat, aku sulit bernafas.” Sahut Fani yang kemudian membuat Endrico buru-buru merenggangkan pelukannya dan terkekeh geli melihat tingkah Fani.
“ Fan, jawab. Jangan biarin aku pergi membawa harapan.” Endrico meringis dipundak Fani, terus mengiba dan memohon agar diterima cintanya.
“ Fan, kamu mau kan jadi pacar aku?.” Lanjutnya terus meringis.
“ Kak Endi, beri aku waktu 2 hari untuk memikirkan jawabannya.” Fani mendorong tubuh Endrico agarmenjauh dari tubuhnya.
“ Terlalu lama Fan, aku kasih kamu waktu 5 menit untuk mikirin jawabannya. Aku mau dengar jawabannya sebelum aku berangkat, apapun jawaban kamu aku bakal terima. Setidaknya aku bisa pergi dengan perasaan tenang.” Ucap Endrico, kemudian menggenggam tangan Fani erat-erat. Tubuh Fani seolah sudah diklaim menjadi hak milik, sentuh sana sentuh sini.
“ Kak, terlalu singkat waktunya. Beri aku waktu sampai besok. Aku harus mikirin jawabannya baik-baik, bagaimana resikonya.” Fani tersenyum manis, kemudian membalas genggaman tangan Endrico.
“ Gak Fan, kamu harus jawab sekarang juga, malam ini juga. Kalau kamu gak jawab sekarang aku gak bakal jalan, kita disini aja semalaman.” Endrico mendengus, wajahnya sebentar panic sebentar sedih. Pandangannya diedarkan keseliling, menatap mobil-mobil yang satu persatu mulai pergi, seolah mengatakan apa kau mau kita tidur didalam mobil diparkiran ini?.
“ Hem, Kak,,” Fani hendak bicara, namun gantian Endrico yang menyela pembicaraan. Hanya dalam waktu beberapa jam mereka bersama, namun sudah sama-sama jadi manusia dengan hobi menyela.
“ Gak, gak ada tapi-tapian. Aku kasih waktu 5 menit, titik.” Endrico menegaskan jika dia tidak ingin menunggu terlalu lama. Kesannya sangat memaksa, namun Fani masih saja tidak memberi respon apa-apa. Segitu cintakah dia dengan lelaki yang ada dihadapannya ini?.
“ 15 menit?.” Rengek Fani menawar.
“ 5 menit.” Ketus Endrico.
“ Hem baiklah 10 menit ya, mulai dari sekarang.” Endrico mencium punggung tangan Fani secara bergantian. Kemudian keluar dari mobil, membiarkan Fani memikirkan jawaban dalam waktu yang cukup singkat ini. Mungkin dia perlu menyendiri memikirkan jawaban.
**
“ Ha apa?.” Andry beranjak dari kasurnya, matanya terbelalak dan beberapa detik kemudian wajahnya tampak khawatir.
“ Gimana keadaan bunda sekarang?.” Lanjut Andry sembari mondar-mandir dan menggigit jari. Matanya berkaca-kaca, bingung harus bagaimana.
“ Okedeh kak, aku pulang besok. Jagain bunda ya, bilang bunda kalau aku pulang secepatnya.” Andry tampak makin khawatir. Tubuhnya gemetar ketika mendengar berita bahwa sang bunda jatuh sakit dan harus dilarikan kerumah sakit.
Andry bergegas memesan tiket online, apapun yang terjadi pokoknya dia harus pulang besok pagi. Masalah kelana dan pencarian tanpa tujuan ini tidak perlu dilanjutkan sekarang, Andry lebih tertarik mengikhlaskan. Nanti jika ada waktu dia akan kembali lagi, mencari cinta yang hilang. Seperti apa yang dikatakannya kemarin, cinta dari Fani hanya memberinya secerca kebahagiaan. Sementara keluarga menyuguhkan cinta luar biasa, tak terbatas, tak terhingga.
“ Oke ambil keberangkatan paling pagi. Secinta-cintanya gue sama lo Fan, gue masih lebih cinta keluarga gue.” Batinnya. Ternyata Andry sudah punya keputusan sebelum besok.
Hah baiklah Andry, perjalananmu sudah panjang, waktumu sudah cukup banyak terbuang. Untuk apa lagi kau mencari yang hilang, untuk apa lagi kau menahan yang ingin pergi. Jalan satu-satunya adalah mengikhlaskan dan merelakan. Biarkan hukum alam bekerja mana tau nanti, suatu saat kita kembali bertemu dan berkesinambungan.
__ADS_1
Andry mulai mengepak semua barang-barang miliknya,bahkan kotak berisi hadiah yang dia bawa untuk diberikan kepada Fani pun terpaksa harus dia bawa kembali pulang bersamanya.
“ Huffhhh terpaksa aku bawa kembali barang-barang yang sudah aku siapkan untuk cintaku ini. Ah baiklah untuk apa mellow begini, gue kan lelaki. Harus tegar, harus ada harga diri.” Andry menghela nafas panjang, sembari terus mengemas barang-barang.
Andry harus berhenti sampai disini, padahal mungkin sedikit lagi dia bisa bertemu dengan Fani, entah itu besok, lusa atau beberapa hari kedepannya. Ada rasa tidak ingin pulang, tapi keluarga adalah tempatnya untuk pulang. Orang yang dia cari juga sudah pergi bersama detik waktu yang kejam. Cinta yang dia cari juga mungkin
sudah melebur bersama asa-asa yang dimiliknya.
“ Maaf, kau belum bisa aku berikan kepada tuanmu. Semoga suatu saat nanti waktu mengizinkan untuk aku dan dia saling mengasihi dan berkasih kembali.” Andry memeluk erat kotak yang berisi hadiah-hadiah untuk Fani itu. Hingga tanpa sadar bulir air mata jatuh membasahi pipinya. Sedalam itukah kesedihan yang dia rasa?.
Andry meraih kembali ponselnya, membuka catatan diponselnya. Menuliskan beberapa kata-kata yang menggambarkan isi hatinya. Semenjak cintanya pergi, Andry sering menuangkan isi hatinya dalam sebuah catatan digital.
“ Yang hilang tak mungkin dipaksa kembali, yang ingin pergi tak mungkin dipaksa untuk tetap disini. Aku hanya perlu menabung memori, bagaimana kejamnya berjuang sendirian, bagaimana pahitnya meniti waktu yang membawanya semakin jauh menghilang.”
Andry berdiri didepan jendela, menatap langit malam dan indahnya lampu perkotaan. Tampak ramai sekali kendaraan dijalanan, dan baru dia sadari jika ini adalah malam minggu. Malam yang biasa dimanfaatkan pasangan muda mudi untuk bertemu, berkasih dan mengasihi. Senyum tipis menghiasi wajahnya, tampak bahagia menatap mereka-mereka yang beruntung dalam perihal cinta. Meskipun dalam hatinya ada luka menganga yang terpaksa dia balut dengan asumsi-asumsi bahagia seadanya. Sembari menguntaikan harapan-harapan, semoga suatu saat nanti semesta ganti cinta yang hilang dengan cinta yang lebih baik lagi. Jikalaupun semesta menuntun kembali cintanya yang hilang untuk pulang, dengan senang hati luka yang mengaga ini menerima kembali, meskipun tidak sepenuhnya mengobati setidaknya yang diinginkan hati telah kembali.
“ Selamat untuk kalian manusia-manusia yang beruntung dalam percintaan. Selamat kalian menang dalam melewati seleksi hubungan. Selamat mengasihi dan berkasih, semoga sampai nanti, semoga kalian tidak dihampiri detik waktu yang kejam, semoga, semoga hanya berpapasan.” Batinnya, tersenyum dan terus menatap langit kota yang mungkin akan dia lihat untuk terakhir kalinya, sebelum besok sudah harus berpamitan, meninggalkan.
**
Fani bersemedi dikursi kemudi, melanjutkan perdebatan dengan batinnya yang seolah tidak pernah usai. Wajahnya pucat cemas memikirkan jawaban apa yang harus dia berikan pada lelaki yang baru saja menyatakan perasaannya itu.
“ Gimana nih? Apa yang harus aku katakana padanya? Aku terima saja? Pasti aku berkecamuk terus dengan batinku. Tapi kau aku tolak nanti aku yang gak tenang, gini-gini kan aku juga nyaman, juga punya benih-benih cinta untuknya. Aku gak mau nanti menyesal setelah kepergiaannya, masa satu tahun harus hidup dengan rasa penyesalan sih.” Batin Fani berkecamuk. Pikirannya kalang kabut. 7 menit berharganya sudah berlalu, waktu berputar begitu cepat. Waktu yang dia miliki untuk berfikir hanya tinggal 3 menit saja.
“ Duh mati deh gue. Ya tuhan apa yang harus aku katakan?.” Fani menggesekkan jari jemari tangannya. Pandangannya tertuju pada Endrico yang sedang berdiri diluar, tampak gelisah dan tidak tenang. Ternyata bukan orang yang diminta jawaban saja yang tidak tenang, yang menunggu jawaban pun demikian.
Tepat 10 menit berlalu, Endrico dengan buru-buru kembali kedalam mobil untuk meminta jawaban dari Fani. Jantungnya berdetak tidak beraturan, takut jika kemungkinan terburuk akan terjadi, cintanya ditolak oleh Fani. Apalagi keburukannya sudah menyebar luas ketelinga para penduduk sekolah, mungkin Fani juga sudah mendengar bagaimana kelakuannya. Endrico menghela nafas panjang, kedua tangannya menggenggam erat kemudi dan mencoba menenangkan diri.
“ Huffhh, gimana Fan? Kamu udah bisa jawab sekarang?.” Endrico beralih menatap Fani yang juga sama gugup dengannya.
“ Fan,” Endrico kembal menggenggam kedua tangan Fani dengan lembut dan penuh cinta. Endrico menatap dalam manik mata Fani yang indah, jauh tenggelam dengan harapan baik yang bergelantungan.
“ Kamu jawab sesuai isi hati kamu aja, aku gak maksa kamu kok. Perasaan kan emang gak bisa dipaksa Fan, yang penting kamu udah tau gimana perasaan aku sama kamu.” Lanjutnya kemudian tersenyum tipis dan mencium punggung tangan Fani berkali-kali, berulang kali.
“ Gimana?.” Endrico mengelus-elus rambut Fani, ah gila saja. Disentuh-sentuh tapi tidak merespon apa-apa. Seolah telah terkena sihir cinta Endi, Fani hanya diam dan menahan senyum senang.
**
Hallo pembaca setia Suamiku Hasil Taruhan, bagaimana kabarnya? Semoga sehat selalu ya.
__ADS_1
Selamat membaca karyaku untuk menemani hari-hari bosan anda, salam cinta dari saya untuk kalian semua.
Jangan lupa like, koment dan vote ya. Love you guys!