Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Kembali Kerumah


__ADS_3

Fani terduduk disofa ruang keluarga, menikmati putaran waktu yang meregangkannya cukup lama dengan kota kelahirannya. Rumah yang penuh cerita, seketika berubah menjadi rumah tinggal yang lusuh dan kumuh. Fani menatap seluruh bagian rumahnya, sedih rasanya. Jika ada pilihan, dia ingin kembali kerumah ini, meskipun hanya sendiri. Bukan karena tidak betah dengan tempat tinggal barunya, tapi karena kenangan-kenangan lama sudah membumbung melampaui bungkusannya. Memintanya untuk kembali dan tetap disini, meskipun macetnya jalanan memuakkan tapi tidak apa.


“ Huffhhh rindu banget kamar gue, udah hampir 5 cm nih debu.” Gumam Fani ketika membuka pintu kamarnya. Tercium bau debu yang pekat, tentu saja karena tidak pernah dibersihkan.


“ Uhuk uhuk.” Fani terbatuk-batuk karena debu kamarnya.


“ Yah bukannya langsung bisa istirahat malah harus bersih-bersih dulu.” Lanjutnya. Fani berjalan perlahan menatap isi kamarnya yang hanya tinggal kasur dan lemari, tanpa pernak pernik dan hiasan. Tidak ada lagi gantungan-gantungan foto yang menghiasi dinding-dinding kamar.


Pelan-pelan sambil membersihkan, Fani mengulang kenangan yang ada disudut kamar. Meniti tempat yang biasa dia gunakan untuk menenangkan diri, sudut kamar yang menjadi saksi seberapa seringnya dia patah hati. Mengulang kisah, membuka kenangan lama, ini adalah yang terbaik saat ini.


“ Akhirnya selesai juga, hufffhh.” Gumam Fani kemudian menghamburkan tubuhnya keatas ranjang.


“ Ah nyaman sekali. Setelah sekian purnama akhirnya bisa merasakan empuknya ranjang kesayangan.” Lanjutnya sembari mengembangkan kedua tangan dan kakinya, menggesek-gesekkan dengan sprei yang baru saja dipasang, dingin, nikmat.


“ Hei langit-langit, apa kabar? Pasti kau tenang karena tidak pernah lagi mendengar keluhan-keluhan dari gadis manis ini.” Ucapnya penuh percaya diri. Benar, mungkin langit-langit kamarnya merasa sangat tentram selama kepergian Fani. Tidak lagi mendengar keluhan, tangisan dan dijadikan tempat menggantungkan harapan-harapan dalam percintaan.


Fani terbaring diranjang, tidur terlentang dan menatap langit-langit kamar. Moment yang paling sakral baginya, menatap langit kamar lalu kemudian membayangkan masa depan. Karena baginya tidak ada ketenangan dalam pemikiran selain dalam posisi santai dan pemandangan yang luas. Meskipun langit-langit kamarnya mulai berganti corak, mulai lusuh. Namun tetap saja, langi-langit kamar adalah tempat paling indah untuk menggantungkan harapan, tempat terbaik untuk membayangkan masa depan.


“ Hum, pengen tinggal disini lagi. Rumah ini paling baik, paling epic, paling menarik. Ah aku ingin pindah kesini lagi.” Gumamnya lagi.


Saat asyik menghibur diri, menggantungkan kembali satu persatu harapannya lagi, Fani dikagetkan dengan kemunculan Andry dipikirannya. Padahal dia sama sekali tidak mengingat masalah pertemuan dengan Andry tadi.


“ Ahhh.” Teriak Fani memenuhi sesisi ruang kamar. Kedua tangannya dipakai untuk menutup matanya, seolah melihat bayangan Andry seperti hantu.


“ Kenapa sih tiba-tiba mikirin dia. Dih.” Gerutunya.


“ Hem, apa ya yang Andry pikirin waktu aku menjawab dengan cepat ajakannya untuk bertemu. Mana mulut bodoh ini bilang besok pula lagi. Aaaaa pasti dia mikir aku cewe gampangan, pasti dia bilang aku nyesal karena mutusin dia. Aaa Fani bodoh, kau membuat dirimu terjebak dalam penilaian buruk.” Gumamnya sembari meringis. Memalukan sekali pikirnya, tidak ada basa-basi, tidak ada penolakan sama sekali, yang ada malah dia yang menyodorkan diri, duh Fani.


“ Ahh matilah, jalan satu-satunya hanya menikmati saja. Apapun yang terjadi besok aku pasrah, lagian aku juga gak tau apa yang akan dia katakan. Eh sudah pasti tentang klarifikasi hubungannya dengan Sophia, hehehe nanti setelah kau membela diri aku yang akan jual mahal.” Lanjutnya sambil terkekeh geli.


**


Andry sudah diperjalanan menuju rumah Fani. Kemarin mereka belum memutuskan pukul berapa akan pergi, yang disepakati hanya akan bertemu hari ini. Dan yang lebih parah lagi, Andry sama sekali tidak bisa menghubungi Fani. Karena terlalu canggung dengan situasi, hanya untuk sekedar menanyakan nomor yang bisa dihubungi pun Andry tidak ingat. Lalu begini lah jadinya, meraba-raba, merasa-rasa sudah tepat atau tidaknya dan yang paling buruk adalah terpaksa datang kerumah Fani hanya untuk menanyakan pukul berapa mereka akan pergi.


“ Gimana caranya? Turun gak ya? Pasti dirumah Fani rame banget.” Gumam Andry ketika hampir sampai kerumah Fani. Deg-degan seperti ingin bertemu calon mertua, padahal dia sendiri tau jika keluarga Fani berkumpul semua dirumah sakit untuk menjaga sang nenek.


“ Oh iya kan nenek masih dirumah sakit, atau jangan-jangan Fani juga disana. Eh kenapa baru kepikiran sekarang sih, kalau gitu kan mending gue langsung kerumah sakit aja tadi.” Andry menepuk keningnya berulang kali.

__ADS_1


“ Jadi gue harus puter balik lagi nih?.” Andry memperlambat laju mobilnya, masih meyakinkan diri kemana harusnya dia pergi. Apakah tetap menuju rumah Fani atau berbalik menuju rumah sakit.


“ Hum yaudah deh, mending cek dulu kerumahnya baru nanti kalau gak ad ague cau kerumah sakit. Gini amat ya mau ketemu, gini susahnya kalau saling gak punya kontak. Arrgghhh kenapa sih lo ganti nomor telepon Fan.” Andry menggerutu kesal. Berulang kali memukul setir kemudi, tidak pernah dia serumit ini. Biasanya jika ingin bertemu ya tinggal telepon saja, ingin ganti wacana ya tinggal telepon saja.


“ Udah kayak hidup zaman batu aja nih gue, gak bisa nelefon.” Lanjutnya dengan canda, kemudian menertawakan dirinya.


Andry mengemudi dengan hati-hati, sesekali memandang kotak pink yang dia letakkan dikursi penumpang. Kotak yang sudah menemaninya menjelajahi cinta, berkelana mencari wanita yang dicintainya, kotak yang berisikan ekspresi cintanya. Hari ini Andry akan memperjelas semua, semalaman dia sudah memantapkan pikiran. Hari ini juga, Andry harus meminta Fani untuk mengatakan yang sebenarnya, mengapa dan kenapa dia melakukan ini semua. Walaupun nanti akhirnya dia yang akan terseleksi, kalah dengan orang baru yang lebih tampan darinya atau mungkin juga lebih secara kebaikannya. Namun hari ini juga, Andry akan memberikan semua yang sepatutnya sudah dia berikan sejak kemarin. Hadiah-hadiah yang belum sempat dia berikan kepada Fani yang sudah menganggapnya bukan siapa-siapa lagi.


“ Selamat, akhirnya kau akan bertemu tuanmu.” Batinnya sembari tersenyum menatap kotak pink yang sudah dia hiasi sedemikian rupa. Kotak yang sempat komuk saat dibawa kesana-kemari menemani langkahnya, tapi sudah diperbaiki dan ditata dengan rapi.


Andry sudah memasuki pekarangan rumah Fani, tampak sangat sunyi seperti tidak berpenghuni.


“ Yah, bener kan gak ada dirumah. Sudah pasti dirumah sakit.” Gumamnya menyesal tidak mengikuti kata hatinya, seharusnya dia sudah berbalik arah sejak tadi sehingga tidak buang-buang waktu begini.


“ Yaudah balik lagi deh, kemarin nyari lo sampai ke Pontianak, sekarang udah di Jakarta nyari lo juga susah. Emang serumit itu ya berhubungan sama lo, apa emang lo nya yang sengaja ciptain jarak antara kita?.” Andry menghela nafas panjang dan mengusap dadanya agar lebih sabar.


Andry menunggu sejenak, menatap jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Sudah pukul 10 pagi, mungkin jika menunggu sebentar lagi aka nada orang yang kembali kerumah ini. Takutnya nanti jika dia balik kerumah sakit eh  malah orang yang dirumah sakit balik kerumah ini. Kan makin bingung deh.


**


“ Uaaggghhhhh..” Fani meregangkan tubuh-tubuhnya. Membersihkan kamar sepanjang malam membuatnya sangat kelelahan hingga tertidur sampai hampir siang.


“ Duh mati gue. Nenek lagi sakit begini masih bisa-bisanya gue kesiangan. Mana handuk gue? Adik mana adik?.” Teriaknya kalang kabut. Fani mondar mandir sembari memegang kepalanya pusing. Bukannya menelepon balik sang ibu, Fani malah bingung tak menentu.


“ Aaaaaaaa ibu, nenek tunggu aku.” Teriaknya semakin kencang. Fani berlari menuju kamar mandi, namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara klakson mobil dari halaman depan. Bukan sekali, tapi berulang kali. Itu tandanya bukan mobil yang lewat, tapi mobil yang mampir.


“ Aih mobil siapa itu?.” Ucapnya sembari mencoba mengenali suara klakson mobil.


Fani berjalan perlahan menuju halaman depan, berjalan seolah-olah orang yang datang adalah maling yang harus disingkirkan. Langkahnya perlahan, handuknya dilingkarkan dikepala, sudah mirip inang-inang saja. Fani mengintip dari jendela, matanya menyipit menyorot sosok yang ada didalam mobil merah yang terparkir dihalaman rumahnya.


“ Siapa tuh?.” Tanyanya pada hordeng jendela.


“ Perasaan gak ada deh orang yang gue kenal pake mobil yang begitu, apa jangan-jangan orang yang salah alamat.” Lanjutnya terus mencacarkan telunjuk.


Piiiittttttt…. Pittttt…


Mobil itu terus membunyikan klakson, memekkan telinga orang-orang yang mendengarkannya. Makin lama temponya makin cepat saja dan juga membuat Fani semakin geram.

__ADS_1


“ Ahhh siapa sih, kalau emang nyari seseorang mbok ya langsung turun ketuk pintu rumahnya terus pastiin bener gak orangnya. Bukannya malah klakson sana, klakson sini. Memekakkan telinga aja pagi-pagi. Tunggu aja, gue jitak pala lo ya.” Gerutu Fani kesal.


Fani membuka pintu dengan penuh kekesalan, berjalan kencang kehalaman depan, mendekati mobil yang membuatnya pagi-pagi sudah emosi. Mengenakan kaos longgar dan hotpants, ditambah lagi handuk yang melingkar dikepala dan tangan yang tegak pinggang, sudah seperti preman pasar saja gayanya.


“ Eh lo kenapa berisik banget sih.” Fani mencacarkan telunjuknya kepada sang pengendara mobil. Berdiri tepat didepan, tegak pinggang adalah gaya andalan.


“ Heh, keluar lo. Mau apa lo ha?.” Lanjutnya terus marah-marah. Sorot matanya tajam seolah ingin menerkam orang yang berada dibelakang kemudi.


Sementara Andry hanya bisa terkekeh geli dari dalam mobil. Menatap wanita berani yang berdiri tegak pinggang, seperti ingin mengajaknya berkelahi. Awalnya Andry kaget melihat Fani yang keluar dengan pakaian pendek begini, apalagi gelagatnya seperti orang yang ingin berkelahi. Namun Andry juga menikmati situasi ini, bukannya turun Andry malah semakin membuat Fani kesal. Andry terus menekan klakson mobil, membuat Fani terperanjak kaget dan semakin memakinya kesal. Tawa Andry memenuhi ruang mobil, santapan pagi yang menyenangkan.


“ Heh keluar lo.” Fani berganti posisi. Sekarang memukul kaca pintu kemudi, sudah tidak tahan lagi dengan kelakuan si usil didalam mobil merah ini.


“ Heh keluar lo. Apa masalah hidup lo ha?.” Lanjutnya. Fani memukul kaca semakin kencang hingga Andry tidak lagi bisa menahan.


Andry perlahan-lahan menurunkan kaca mobil, menahan bibirnya sebisa mungkin agar tidak melebar dan ternganga ketawa. Hingga akhirnya baaaaa ,,,,, Andry tetap tidak bisa menahan tawa ketika melihat wajah kesal gadis yang sejak tadi memakinya ini.


“ Ihhhhhhhhh! Kak Andry.” Ucap Fani ketika melihat sosok yang membuatnya emosi adalah Andry sang mantan kekasih. Fani menurunkan telunjuknya yang mencacar sejak tadi, tangannya mengepal dan terpaksa menepis angin.


“ Hahahahahhahaha.” Tawa Andry menggema, perutnya seolah digelitik hingga dia tidak bisa menahannya. Wajah manyun Fani adalah favoritenya selama ini, namun ternyata wajah Fani ketika marah-marah begini jauh lebih menarik, jauh lebih menggemaskan.


“ Ihhh ngeselin.” Fani bermasam muka, kakinya menghentak-hentak kesal. Kemudian tanpa banyak bicara dia berlari kembali kedalam rumah. Tidak menawarkan Andry untuk masuk atau meminta untuk menunggu.


Sedangkan Andry masih sibuk dengan tawanya yang tak henti-henti. Setelah sekian lama bersedih hati, merasa sepi, hari ini dia merasakan kembali tawa lepas. Bahagianya yang sempat pergi kini kembali lagi. Benar kata orang, jika sudah cinta tidak peduli apakah sudah berpunya.


Hah akhirnya setelah sekian lama aku bermuram durja, hari ini aku kembali merasakan ikhlasnya tertawa. Dan hari ini aku dibuat bahagia oleh wanita yang sama, wanita yang juga pernah membuatku kecewa.


Entah apa yang Fani lakukan didalam rumah, Andry hanya bisa menunggunya. Apalagi tadi Fani tiba-tiba pergi, tidak memberi tahu apakah Andry harus menunggu didalam rumah atau menunggu diluar saja. Andry menyandarkan tubuhnya dikursi, matanya memerah lelah, berkali-kali menguap mengantuk. Hingga tanpa sadar Andry sudah tertidur dengan mulut menganga dan sedikit mendengkur, begitu lelah.


“ Haik kenapa dia diam, akhirnya dia lelah juga ya membuat keributan.” Ucap Fani sembari tersenyum tipis dan berjalan kearah mobil.


“ Loh mana orangnya?.” Lanjutnya ketika mengintip dari kaca depan, tidak terlihat tanda-tanda seseorang ada didalam mobil itu.


Fani membuka pintu dan menemukan Andry dalam kondisi tertidur. Terdengar dengkuran halus dari mulutnya, kedua tangannya melipat memeluk dada, kelihatannya sangat lelah. Fani hanya bisa tersenyum menatap lelaki yang pernah direbut dari sahabatnya ini, tersenyum dan membayangkan kisah-kisah manis dan romantisnya ketika masih menjadi sepasang kekasih, lagi-lagi Fani bernostalgia dengan pikirannya.


Kau masih sama ya, masih ganteng juga. Aku pikir setelah lama tidak melihatmu aku akan menjadi biasa saja, ternyata masih sama. Aku masih seperti dulu, selalu kagum setiap melihatmu, selalu jatuh cinta setiap menatapmu.


Fani menekuk kedua tangannya dan menopang dagunya. Menatap pemandangan indah dipagi ini, menatap ciptaan tuhan ditemani desir mesin mobil. Katanya anggap saja sebagai bayaran setelah sekian lama tidak menatap wajah Andry, balasan untuk pengkhianatan yang dilakukan oleh Andry. Padahal kemarin rasa benci menggebu-gebu dalam hatinya, namun setelah bertemu semua sirna seketika. Benih-benih benci yang sempat tumbuh perlahan mati dan melebur dengan tanah. Yang ada hanya perasaan gugup, sama seperti waktu pertama dia menyadari bahwa dia telah jatuh cinta dengan lelaki yang ada disebelahnya. Lagi-lagi hati Fani mudah diobrak-abrik, wanita yang tidak bisa meneguhkan hati. Gampang suka, gampang cinta, gampang benci dan gampang luluh juga.

__ADS_1


Lalu kau ingin aku melakukan apa sekarang? Kembali jatuh cinta denganmu? Tak perlu kau minta, tak perlu kau tuntun. Ribuan kali pun aku menatapmu, aku masih sama, tetap jatuh cinta, berkali-kali, berulang kali.


__ADS_2