Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Perpisahan Yang sama, Beda orangnya


__ADS_3

Sudah beberapa hari


berlalu, besok adalah hari dimana Andry dan Fani harus berpisah untuk waktu


yang cukup lama. Dalam waktu dekat juga Fani akan kembali ke Pontianak karena


sudah harus masuk sekolah. Terlebih sang nenek juga sudah jauh perubahannya,


sudah bisa dikatakan sembuh.


“ Gue beliin Andry


apaan ya sebagai kenang-kenangan.” Batin Fani sembari memasukkan beberapa butir


snack kedalam mulutnya.


“ Gak usah kasih


apa-apa kali yaa.” Lanjutnya sembari terus mengunyah.


Fani beranjak dari


duduk santainya, mengambil kotak yang sebelumnya dikembalikan Andry padanya.


Sejak dia mendapatkan kembali kotak itu, Fani belum sempat membukanya, meskipun


dia tau isinya apa saja.


“  Hufh saking sibuknya sampai enggak sempat kan


bongkar-bongkar barang milik gue.” Gerutunya. Perlahan membuka kotak dan


mengeluarkan satu persatu isinya.


Fani menatap dinding


kamarnya, bergelantungan polaroid-polaroid yang terpampang nyata wajahnya


dengan sang kekasih Andry. Foto yang digantung  seadanya, tidak masalah yang penting masih memiliki peran sama seperti


sebelumnya.


“ Maafin aku ya, aku


ngerasa jadi wanita yang jahat banget.” Ucap Fani. Matanya berkaca-kaca sembari


menatap foto-foto yang menghiasi dinding kamarnya.


“ Kenapa sih aku jahat


banget. Kamu sayang banget sama aku, tapi aku? Aku balas kebaikan kamu dengan


pengkhianatan. Kenapa sih kamu malah kekeh mempertahankan wanita yang gak ada


apa-apanya kayak aku ini.” Fani terus saja memaki diri, merasa bersalah, merasa


jika dirinya sama sekali tidak pantas dicintai lelaki sebaik Andry.


Fani memeluk erat gaun


berwarna kuning keemasan yang pernah diberikan Andry padanya. Bukan kepuasan


yang dia dapatkan dari mempermainkan perasaan dua lelaki ini, melainkan


kesedihan. Namun apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. Sebenarnya masih ada


kesempatan Fani untuk menegaskan keinginan hatinya, menentukan pilihan yang


benar-benar baik baginya. Hanya saja dia tidak ingin memikirkan berulang-ulang,


memilih salah satu. Katanya menyesal, namun sifat serakah tetap ada pada


dirinya.


“ Aaaaaaaa siapa yang


harus aku pilih antara kalian berdua.” Teriak Fani menggema, memenuhi seisi


ruang kamarnya. Tangannya dengan histeris menjambak rambutnya, menjerit


frustasi.


Fani menangis


sejadi-jadinya, air matanya sudah tidak terbendung lagi. wajahnya sempau


dibasahi air mata.


“ Maafkan aku, maafkan


aku Andry.” Ucapnya terisak-isak.


**


Sejak pagi Andry


berjibaku dengan koper-koper dan pakaian yang akan dia bawa untuk menemani


hari-harinya. Susun kemudian bongkar, susun lagi bongkar lagi.


“ Ah kenapa banyak


banget sih barangnya.” Gerutu Andry. Tangannya tegak pinggang, menatap masih


banyak pakaian yang berserakan, belum dia masukkan.


“ Udah 3 kali bongkar


ulang, masa sih segitu-segitu aja yang masuk. Mau bawa berapa koper lagi nih?.”


Lanjutnya mendengus kesal. Matanya melirik beberapa koper yang terbuka


dihadapannya, penuh bahkan ingin muntah.


“ Hei Andry, lo kan


laki. Kenapa rempong gini sih, udah kayak cewek aja.” Gumamnya sembari menampar


wajahnya pelan. Menyadarkan dirinya bahwa dia adalah lelaki, tidak perlu


membawa banyak barang seperti wanita.


“ Kurang baju ya


tinggal beli, apa susahnya sih ahahhaha.” Andry tertawa melihat tingkahnya.


Kemudian mengeluarkan semua barang-barang dari koper, memilah-milih mana


pakaian dan barang yang benar-benar dia butuhkan.


“ Asalkan ada uang


semua pasti aman.” Lanjutnya. Andry terus memilah, melempar barang dan pakaian


yang tidak dia perlukan menjauh darinya. Kamarnya menjadi berantakan, bahkan


sudah tidak normal, lebih mirip gudang.


“ Seharian terbuang


sia-sia Cuma perkara menyusun barang yang sebenarnya gak perlu gue bawa


haahaha, anj*y sih.” Andry terus saja menggerutu dirinya, benar-benar rempong


bak seorang wanita.


**


Fani bergegas keluar


dari kamarnya, meraih kunci mobil dan segera pergi. Entah kemana tujuannya belum


tau, yang jelas Fani ingin membeli sesuatu untuk Andry. Anggap saja sebagai


sesuatu yang bisa digunakan Andry untuk melepas rindunya terhadap Fani. Fani


mengemudikan mobilnya dijalanan yang ramai, padat, macet.


“ Isshh malah macet,


mana panas lagi.” gerutunya sembari menambah dingin Ac.


“ Mau beli apa ya? Hmm


kemana nih?.” Tanya Fani pada dirinya sendiri.


“ Beli baju? Sepatu?


Atau jam tangan ya?.” Fani terus bertanya pada dirinya sendiri.


Awalnya dia tidak ingin


membeli sesuatu untuk Andry, namu karena membongkar kenangan-kenangan lama,


Fani jadi bertekad ingin membelikan Andry sesuatu benda. Sebab selama ini Andry


terus memberinya sesuatu, kejutan-kejutan yang mewah sampai dengan yang paling


sederhana. Bukan nilainya yang dikenang, tapi seberapa ikhlasnya.


“ Arggghhh makin


menyanjung Andry makin merasa bersalah diri ini.” Gumamnya lirih.


Drrttttt…. Drttttt…


Ponsel Fani berdering,


sebuah panggilan masuk dari Andry. Baru saja dirinya memikirkan Andry, eh


siempunya nama langsung menghubungi. Maklum kontak batin.


“ Hallo sayang,


dimana?.” Sahut Andry penuh semangat.


“ Hem dijalan nih mau


cari barang pesanan ibu.” Jawab Fani berbohong.


“ Oh mau aku temenin

__ADS_1


gak?.” Sahut Andry lagi, kali ini malah menawarkan diri untuk menemani Fani.


“ Eh gak usah kak, Cuma


beli barang-barang buat dirumah kok. Gak banyak juga.” Fani dengan tegas


menolak.


“ Serius? Kenapa gak


mau aku temenin?.” Andry masih ingin menguntit kemana langkah kaki sang


kekasih.


“ Iya sayang, aku Cuma


bentar doang kok. Mau beli barang-barang buat dirumah, soalnya nenek udah bisa


pulang hari ini.” ucap Fani berbohong lagi, padahal sang nenek baru diizinkan


pulang besok pagi.


“ Yakin nih? Tapi kan


aku mau ikut kamu. Nanti kamu malah capek bawa barang belanjaannya.” Tidak


menyerah, masih menggerema Fani agar mengizinkan dirinya ikut pergi bersama.


“ Udah dirumah aja,


istirahat. Besok kan mau berangkat, jangan capek-capek harus be


“ Hem yaudah kalau gitu


hati-hati ya nyetirnya.” Ucap Andry dengan nada datar, seolah kecewa karena


Fani menolak tawarannya.


“ Oke, nanti aku


telepon lagi ya sayang kalau udah sampai dirumah, bye.” Fani bergegas mematikan


sambungan telepon.


Aku


kan mau pergi beli sesuatu untuk kamu, masa aku ajak kamu sih. Bukan kejutan


lagi dong namanya. Huh, pantang dipikirin ya ni orang. Kalau dipikirin langsung


deh nongol. Ini ilmu batin yang dia miliki atau emang kontak batin antara kami


ya.


**


Andry dan keluarganya


bergegas menuju bandara, ada ayah bunda dan juga kakaknya tercinta. Sejak tadi


malam mereka sudah haru biru, apalagi sang bunda yang benar-benar sedih akan


ditinggal anak bungsunya. Sepanjang jalan mereka hanya mendengar isak tangis


sang bunda, nasihat-nasihat dan rentetan aturan yang harus dipatuhi oleh Andry


selama kuliah. Semua diatur, bahkan hingga jam makan saja ditentukan, tidak


boleh telat, tidak boleh begadang dan sebagainya. Sudah seperti anak kecil


saja.


Sedangkan Fani meminta


agar Andry dan yang lain duluan saja, dia akan menyusul dengan mengendarai


mobilnya sendiri. Segan jika harus satu mobil dengan keluarga utuh sang


kekasih, terlebih lagi Fani ingin membelikan beberapa makanan ringan untuk


dicemil Andry nantinya. Fani melajukan mobilnya dijalanan, menuju sebuah


supermarket dan membeli beberapa makanan yang dia inginkan. Kemudian bergegas


kembali melajukan mobilnya menuju bandara.


“ Duh keburu gak ya,


takutnya telat nih.” Gumam Fani sembari menatap jam tangan yang melingkar


dipergelangan tangannya. Sudah pukul 11 lebih.


“ Ya tuhan semoga


enggak macet deh.” Ucapnya penuh harap.


Fani memutar kemudi,


memilih jalanan kecil untuk menghindari kemacetan. Apapun ceritanya Fani harus


sampai dibandara sebelum pukul 12 siang. Didalam  perjalanan, Fani teringat beberapa waktu


lalu. Saat dia mengantarkan Endrico ke bandara, bahkan dengan tujuan yang sama


dengan tujuan yang sama namun orangnnya berbeda.


Jadi


inget waktu itu, jadi inget gimana haru birunya perpisahan dengan Endrico. Aku


jadi ngebayangin betapa sakitnya hati Andry ketika melihat aku wanita yang


dicarinya dengan lelaki lain. Pasti sakit sekali, pasti nyesek sekali.


“ Maaf ya Andry, aku


benar-benar menyesal telah membuatmu terluka berkali-kali.” Gumam Fani lirih.


Matanya sesekali menatap layar ponsel, berharap Andry menghubunginya.


“ Kira-kira mereka udah


sampai belum ya?.” Tanya Fani pada dirinya.


Fani menambah kecepatan


mobilnya, beruntung hari ini dia tidak bertemu dengan macetnya kota. Hanya


butuh beberapa menit saja, akhirnya Fani tiba dibandara.


“ Hallo, kamu dimana?.”


Tanya Fani ketika Andry mengangkat teleponnya.


“ Ini aku, kamu lihat


kebelakang.” Sahut Andry dari dalam telepon. Tangannya melambai-lambai ketika


Fani membalikkan badan.


“ Gimana? Macet ya?.”


Tanya Andry sembari merangkul kekasihnya.


“ Enggak kok, emang


agak telat aja tadi berangkatnya.” Jawab Fani terengah-engah, sesekali


tangannya menyapu keringat yang bercucuran dikeningnya.


“ Ayo ketemu ayah


bunda.” Andry menggenggam tangan Fani erat, membimbin sang kekasih menemui keluarganya.


“ Eh tunggu dulu.” Fani


menghentikan langkahnya, kemudian diikuti Andry yang juga menghentikan


langkahnya.


Fani menarik Andry


untuk duduk dikursi yang tersedia, kemudian bergegas meraih tasnya.


Mengeluarkan benda kecil yang sudah dia siapkan sejak kemarin, katanya benda


penawar rindu.


“ Kenapa sayang?.”


Andry menatap Fani dengan heran, hanya bisa menatap apa yang sedang dilakukan


kekasihnya.


“ Ini, buat kamu.” Fani


mengulurkan sebuah benda persegi yang dibungkus dengan kertas berwarna merah


hati. Tidak terlalu besar, hanya sebesar kotak jam.


“ Apa ini?.” Andry


meraih benda berbungkus kertas merah hati tersebut, wajahnya masih


bertanya-tanya apa isinya.


“ Hehehe ini hadiah


kecil buat kamu, nanti kalau udah sampai kamu boleh buka. Bukanya waktu kamu mau


tidur ya, terus jangan lupa senyum kalau kamu udah lihat isinya.” Fani menarik


keras garis bibirnya, seolah mengajari Andry untuk tersenyum. Lebih tepatnya


memberi perintah agar nanti Andry tersenyum setelah melihat isi dari hadiah


kecilnya.


“ Huaaa kaget banget


nih dikasih hadiah, tumben banget.” Andry terkekeh, merasa tersanjung dengan

__ADS_1


kebaikan gadis yang dicintainya.


“ Anggap aja ini hadiah


perpisahan. Lagian ini gak seberapa kok, dibanding kak Andry yang terus-terusan


ngasih aku hadiah. Kadang gak tau dalam rangka apa.” Ucap Fani dengan nada


bicara yang manja, ya memang manja.


“ Hei! Jangan bilang


perpisahan. Kalau ini hadiah perpisahan aku gak mau terima.” Andry


membelalakkan matanya, kemudian menyodorkan kembali kotak kecil dari Fani,


enggan menerima katanya.


“ Eh bukan gitu


maksudnya sayang, anggap aja ini penawar rindu. Kalau kamu rindu aku lihat aja


benda ini.” Fani memaksa Andry menerima hadiah darinya.


“ Hem, jangan bilang


ini perpisahan lagi ya. Jangan lupa tahun depan aku bakal datang melamar.”


Andry meraih hadiah itu kembali, kemudian dengan genit mencubit hidung Fani.


“ Ayo, ketemu yang


lainnya. Kasihan mereka nunggu lama.” Andry menarik tangan Fani agar segera


beranjak dan mengikuti langkahnya.


“ Eh tunggu dulu,” Fani


menahan tubuhnya, kembali membuat Andry menghentikan langkah.


“ Kenapa lagi sih


sayangku cintaku manisku.” Andry berbalik dan mencubit kedua pipi Fani, geram


dengan sang kekasih yang selalu tunggu-tunggu dulu.


“ Hehehehe, ini buat


kamu.” Fani tersenyum cengengesan, kemudian mengulurkan kantong kecil berisi


makanan yang tadi dia beli sebelum ke bandara.


“ Apa lagi nih? Kenapa


pacar aku hari ini suka ngasih kejutan sih? Apa ini bentuk rasa senang karena


aku tinggalkan? Sesenang itu kah?.” Tanya Andry penuh heran. Fani bersikap


tidak seperti biasanya, lebih tepatnya sudah lama dia tidak diperlakukan manis


begini.


“ Eh apaan sih. Enggak


dong. Emang salah kalau mau kasih kejutan sama pacar?.” Jawab Fani ketus.


“ Hem iya sih, Cuma


agak aneh aja ya kan. Tumben-tumbenan. Ada lagi gak kejutannya? Biar sekalian.”


Andry mencari-cari benda lain yang dibawa oleh Fani. menggeser tubuh Fani


kekiri dan kekanan, mencari kejutan-kejutan lain yang akan dia dapatkan.


Cupppp…


Sebuah kecupan mendarat


dipipi kiri Andry, membuat siempunya kaget bukan main. Matanya membulat dan


keningnya mengkerut hebat. Saat Andry menatapnya penuh heran, Fani kembali


mendaratkan kecupannya dipipi Andry sebelah kanan.


“ Heheheeh ini


kejutannya.” Fani menatap Andry sembari cengengesan.


“ Oh nakal ya.” Andry


pun terkekeh geli.


Andry dan Fani sudah


bergabung dengan keluarga Andry. Haru biru semakin menyelimuti mereka, apalagi


sang bunda yang belum henti bersedih hati. Padahal dia bisa saja mengunjungi


buah hatinya, lalu apalagi yang harus disedihkannya.


“ Yah aku pergi dulu


ya, jangan lupa kalau ada waktu luang datang untuk menjenguk anak kesayangan


ayah.” Andry menggoda sang ayah, kemudian memeluk dan menciumnya sebagai tanda


perpisahan.


“ Gue cabut dulu ya,


jangan lupa jagain ayah dan bunda. Jangan lupa juga buat ambil obat bunda bulan


depan. Jangan ambil alih kekuasaan gue dirumah ya, mati lo.” Ucap Andry


mengancam sang kakak, kemudian terkekeh geli. Meskipun sering berantem,


sebenarnya Andry sangat mencintai sang kakak. Garang namun sayang. Andry


memeluk Devi penuh kasih sayang, sedangkan sang kakak sudah menangis didada


kekarnya.


“ Jangan nakal lo ya,


awas aja kalau lo banyak tingkah. Gue usir lo dari rumah.” Ucap Devi


terisak-isak. Sedih sekali rasanya harus berpisah dengan sang adik, apalagi


dalam waktu yang cukup lama.


“ Bundaku sayang, anak


bunda yang tampan pergi dulu ya. Bunda jangan sedih-sedih, jaga kesehatan ya


bunda. Nanti kalau ada waktu luang, bunda paksa tu ayah buat datang jenguk anak


bunda yang tampan ini.” Andry mencoba menggoda sang bunda agar tidak lagi


berurai air mata, namun tidak ada hasilnya. Yang ada malah bunda semakin


menangis terisak-isak.


Haru biru semakin


menyelimuti mereka semua, Andry memeluk bunda erat. Mengucapkan beberapa


kalimat-kalimat yang bertujuan untuk menenangkan sang bunda.


“ Ayah jangan lupa ya,


uang jajan jangan telat kirim setiap bulan.” Ucap Andry terkekeh geli. Kemudian


beralih mendekati sang kekasih hati yang sejak tadi sudah berkaca-kaca menatap


drama perpisahan dirinya dengan sang keluarga.


“ Nah ini juga mau


nangis ya?.” Andry menertawakan Fani yang tampak tidak sanggup lagi menahan


sedihnya.


“ Ah sudah-sudah.


Jangan nangis kayak bunda dong, kalau semua nangis aku jadi gak tega mau pergi


nih.” Andry menarik Fani kedalam pelukannya. Seketika tangis Fani pecah saat berada


didalam pelukan Andry.


“ Hei jangan nangis,


ingat janji aku. Tahun depan, gak lama kan?.” Andry mengelus rambut Fani,


mencium kepalanya berkali-kali.


“ Aku pergi dulu ya,


kamu jaga diri baik-baik disini. Ingat jangan macam-macam.” Andry mencium


kening Fani, kemudian melepaskan pelukannya.


“ Bunda, ayah, kalau


nanti ke Chicago jangan lupa aj ak Fani ya.” Andry berteriak pelan kepada sang


ayah dan bunda, tujuannya agar Fani tidak bersedih hati lagi.


“ Udah jangan nangis,


nanti ikut ayah dan bunda ya.” Andry tesenyum, padahal didalam hatinya sangat


sedih, ingin berteriak dan menangis rasanya. Namun demi orang-orang yang


dicintainya dia tidak boleh terlihat lemah.


“ Kamu hati-hati ya,


jaga diri.” Ucap Fani terisak-isak. Kemudian memeluk Andry sekali lagi, erat


sekali.

__ADS_1


“ Ah aku cinta kamu.”


Andry meluruh.


__ADS_2