
Sudah beberapa hari
berlalu, besok adalah hari dimana Andry dan Fani harus berpisah untuk waktu
yang cukup lama. Dalam waktu dekat juga Fani akan kembali ke Pontianak karena
sudah harus masuk sekolah. Terlebih sang nenek juga sudah jauh perubahannya,
sudah bisa dikatakan sembuh.
“ Gue beliin Andry
apaan ya sebagai kenang-kenangan.” Batin Fani sembari memasukkan beberapa butir
snack kedalam mulutnya.
“ Gak usah kasih
apa-apa kali yaa.” Lanjutnya sembari terus mengunyah.
Fani beranjak dari
duduk santainya, mengambil kotak yang sebelumnya dikembalikan Andry padanya.
Sejak dia mendapatkan kembali kotak itu, Fani belum sempat membukanya, meskipun
dia tau isinya apa saja.
“ Hufh saking sibuknya sampai enggak sempat kan
bongkar-bongkar barang milik gue.” Gerutunya. Perlahan membuka kotak dan
mengeluarkan satu persatu isinya.
Fani menatap dinding
kamarnya, bergelantungan polaroid-polaroid yang terpampang nyata wajahnya
dengan sang kekasih Andry. Foto yang digantung seadanya, tidak masalah yang penting masih memiliki peran sama seperti
sebelumnya.
“ Maafin aku ya, aku
ngerasa jadi wanita yang jahat banget.” Ucap Fani. Matanya berkaca-kaca sembari
menatap foto-foto yang menghiasi dinding kamarnya.
“ Kenapa sih aku jahat
banget. Kamu sayang banget sama aku, tapi aku? Aku balas kebaikan kamu dengan
pengkhianatan. Kenapa sih kamu malah kekeh mempertahankan wanita yang gak ada
apa-apanya kayak aku ini.” Fani terus saja memaki diri, merasa bersalah, merasa
jika dirinya sama sekali tidak pantas dicintai lelaki sebaik Andry.
Fani memeluk erat gaun
berwarna kuning keemasan yang pernah diberikan Andry padanya. Bukan kepuasan
yang dia dapatkan dari mempermainkan perasaan dua lelaki ini, melainkan
kesedihan. Namun apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. Sebenarnya masih ada
kesempatan Fani untuk menegaskan keinginan hatinya, menentukan pilihan yang
benar-benar baik baginya. Hanya saja dia tidak ingin memikirkan berulang-ulang,
memilih salah satu. Katanya menyesal, namun sifat serakah tetap ada pada
dirinya.
“ Aaaaaaaa siapa yang
harus aku pilih antara kalian berdua.” Teriak Fani menggema, memenuhi seisi
ruang kamarnya. Tangannya dengan histeris menjambak rambutnya, menjerit
frustasi.
Fani menangis
sejadi-jadinya, air matanya sudah tidak terbendung lagi. wajahnya sempau
dibasahi air mata.
“ Maafkan aku, maafkan
aku Andry.” Ucapnya terisak-isak.
**
Sejak pagi Andry
berjibaku dengan koper-koper dan pakaian yang akan dia bawa untuk menemani
hari-harinya. Susun kemudian bongkar, susun lagi bongkar lagi.
“ Ah kenapa banyak
banget sih barangnya.” Gerutu Andry. Tangannya tegak pinggang, menatap masih
banyak pakaian yang berserakan, belum dia masukkan.
“ Udah 3 kali bongkar
ulang, masa sih segitu-segitu aja yang masuk. Mau bawa berapa koper lagi nih?.”
Lanjutnya mendengus kesal. Matanya melirik beberapa koper yang terbuka
dihadapannya, penuh bahkan ingin muntah.
“ Hei Andry, lo kan
laki. Kenapa rempong gini sih, udah kayak cewek aja.” Gumamnya sembari menampar
wajahnya pelan. Menyadarkan dirinya bahwa dia adalah lelaki, tidak perlu
membawa banyak barang seperti wanita.
“ Kurang baju ya
tinggal beli, apa susahnya sih ahahhaha.” Andry tertawa melihat tingkahnya.
Kemudian mengeluarkan semua barang-barang dari koper, memilah-milih mana
pakaian dan barang yang benar-benar dia butuhkan.
“ Asalkan ada uang
semua pasti aman.” Lanjutnya. Andry terus memilah, melempar barang dan pakaian
yang tidak dia perlukan menjauh darinya. Kamarnya menjadi berantakan, bahkan
sudah tidak normal, lebih mirip gudang.
“ Seharian terbuang
sia-sia Cuma perkara menyusun barang yang sebenarnya gak perlu gue bawa
haahaha, anj*y sih.” Andry terus saja menggerutu dirinya, benar-benar rempong
bak seorang wanita.
**
Fani bergegas keluar
dari kamarnya, meraih kunci mobil dan segera pergi. Entah kemana tujuannya belum
tau, yang jelas Fani ingin membeli sesuatu untuk Andry. Anggap saja sebagai
sesuatu yang bisa digunakan Andry untuk melepas rindunya terhadap Fani. Fani
mengemudikan mobilnya dijalanan yang ramai, padat, macet.
“ Isshh malah macet,
mana panas lagi.” gerutunya sembari menambah dingin Ac.
“ Mau beli apa ya? Hmm
kemana nih?.” Tanya Fani pada dirinya sendiri.
“ Beli baju? Sepatu?
Atau jam tangan ya?.” Fani terus bertanya pada dirinya sendiri.
Awalnya dia tidak ingin
membeli sesuatu untuk Andry, namu karena membongkar kenangan-kenangan lama,
Fani jadi bertekad ingin membelikan Andry sesuatu benda. Sebab selama ini Andry
terus memberinya sesuatu, kejutan-kejutan yang mewah sampai dengan yang paling
sederhana. Bukan nilainya yang dikenang, tapi seberapa ikhlasnya.
“ Arggghhh makin
menyanjung Andry makin merasa bersalah diri ini.” Gumamnya lirih.
Drrttttt…. Drttttt…
Ponsel Fani berdering,
sebuah panggilan masuk dari Andry. Baru saja dirinya memikirkan Andry, eh
siempunya nama langsung menghubungi. Maklum kontak batin.
“ Hallo sayang,
dimana?.” Sahut Andry penuh semangat.
“ Hem dijalan nih mau
cari barang pesanan ibu.” Jawab Fani berbohong.
“ Oh mau aku temenin
__ADS_1
gak?.” Sahut Andry lagi, kali ini malah menawarkan diri untuk menemani Fani.
“ Eh gak usah kak, Cuma
beli barang-barang buat dirumah kok. Gak banyak juga.” Fani dengan tegas
menolak.
“ Serius? Kenapa gak
mau aku temenin?.” Andry masih ingin menguntit kemana langkah kaki sang
kekasih.
“ Iya sayang, aku Cuma
bentar doang kok. Mau beli barang-barang buat dirumah, soalnya nenek udah bisa
pulang hari ini.” ucap Fani berbohong lagi, padahal sang nenek baru diizinkan
pulang besok pagi.
“ Yakin nih? Tapi kan
aku mau ikut kamu. Nanti kamu malah capek bawa barang belanjaannya.” Tidak
menyerah, masih menggerema Fani agar mengizinkan dirinya ikut pergi bersama.
“ Udah dirumah aja,
istirahat. Besok kan mau berangkat, jangan capek-capek harus be
“ Hem yaudah kalau gitu
hati-hati ya nyetirnya.” Ucap Andry dengan nada datar, seolah kecewa karena
Fani menolak tawarannya.
“ Oke, nanti aku
telepon lagi ya sayang kalau udah sampai dirumah, bye.” Fani bergegas mematikan
sambungan telepon.
Aku
kan mau pergi beli sesuatu untuk kamu, masa aku ajak kamu sih. Bukan kejutan
lagi dong namanya. Huh, pantang dipikirin ya ni orang. Kalau dipikirin langsung
deh nongol. Ini ilmu batin yang dia miliki atau emang kontak batin antara kami
ya.
**
Andry dan keluarganya
bergegas menuju bandara, ada ayah bunda dan juga kakaknya tercinta. Sejak tadi
malam mereka sudah haru biru, apalagi sang bunda yang benar-benar sedih akan
ditinggal anak bungsunya. Sepanjang jalan mereka hanya mendengar isak tangis
sang bunda, nasihat-nasihat dan rentetan aturan yang harus dipatuhi oleh Andry
selama kuliah. Semua diatur, bahkan hingga jam makan saja ditentukan, tidak
boleh telat, tidak boleh begadang dan sebagainya. Sudah seperti anak kecil
saja.
Sedangkan Fani meminta
agar Andry dan yang lain duluan saja, dia akan menyusul dengan mengendarai
mobilnya sendiri. Segan jika harus satu mobil dengan keluarga utuh sang
kekasih, terlebih lagi Fani ingin membelikan beberapa makanan ringan untuk
dicemil Andry nantinya. Fani melajukan mobilnya dijalanan, menuju sebuah
supermarket dan membeli beberapa makanan yang dia inginkan. Kemudian bergegas
kembali melajukan mobilnya menuju bandara.
“ Duh keburu gak ya,
takutnya telat nih.” Gumam Fani sembari menatap jam tangan yang melingkar
dipergelangan tangannya. Sudah pukul 11 lebih.
“ Ya tuhan semoga
enggak macet deh.” Ucapnya penuh harap.
Fani memutar kemudi,
memilih jalanan kecil untuk menghindari kemacetan. Apapun ceritanya Fani harus
sampai dibandara sebelum pukul 12 siang. Didalam perjalanan, Fani teringat beberapa waktu
lalu. Saat dia mengantarkan Endrico ke bandara, bahkan dengan tujuan yang sama
dengan tujuan yang sama namun orangnnya berbeda.
Jadi
inget waktu itu, jadi inget gimana haru birunya perpisahan dengan Endrico. Aku
jadi ngebayangin betapa sakitnya hati Andry ketika melihat aku wanita yang
dicarinya dengan lelaki lain. Pasti sakit sekali, pasti nyesek sekali.
“ Maaf ya Andry, aku
benar-benar menyesal telah membuatmu terluka berkali-kali.” Gumam Fani lirih.
Matanya sesekali menatap layar ponsel, berharap Andry menghubunginya.
“ Kira-kira mereka udah
sampai belum ya?.” Tanya Fani pada dirinya.
Fani menambah kecepatan
mobilnya, beruntung hari ini dia tidak bertemu dengan macetnya kota. Hanya
butuh beberapa menit saja, akhirnya Fani tiba dibandara.
“ Hallo, kamu dimana?.”
Tanya Fani ketika Andry mengangkat teleponnya.
“ Ini aku, kamu lihat
kebelakang.” Sahut Andry dari dalam telepon. Tangannya melambai-lambai ketika
Fani membalikkan badan.
“ Gimana? Macet ya?.”
Tanya Andry sembari merangkul kekasihnya.
“ Enggak kok, emang
agak telat aja tadi berangkatnya.” Jawab Fani terengah-engah, sesekali
tangannya menyapu keringat yang bercucuran dikeningnya.
“ Ayo ketemu ayah
bunda.” Andry menggenggam tangan Fani erat, membimbin sang kekasih menemui keluarganya.
“ Eh tunggu dulu.” Fani
menghentikan langkahnya, kemudian diikuti Andry yang juga menghentikan
langkahnya.
Fani menarik Andry
untuk duduk dikursi yang tersedia, kemudian bergegas meraih tasnya.
Mengeluarkan benda kecil yang sudah dia siapkan sejak kemarin, katanya benda
penawar rindu.
“ Kenapa sayang?.”
Andry menatap Fani dengan heran, hanya bisa menatap apa yang sedang dilakukan
kekasihnya.
“ Ini, buat kamu.” Fani
mengulurkan sebuah benda persegi yang dibungkus dengan kertas berwarna merah
hati. Tidak terlalu besar, hanya sebesar kotak jam.
“ Apa ini?.” Andry
meraih benda berbungkus kertas merah hati tersebut, wajahnya masih
bertanya-tanya apa isinya.
“ Hehehe ini hadiah
kecil buat kamu, nanti kalau udah sampai kamu boleh buka. Bukanya waktu kamu mau
tidur ya, terus jangan lupa senyum kalau kamu udah lihat isinya.” Fani menarik
keras garis bibirnya, seolah mengajari Andry untuk tersenyum. Lebih tepatnya
memberi perintah agar nanti Andry tersenyum setelah melihat isi dari hadiah
kecilnya.
“ Huaaa kaget banget
nih dikasih hadiah, tumben banget.” Andry terkekeh, merasa tersanjung dengan
__ADS_1
kebaikan gadis yang dicintainya.
“ Anggap aja ini hadiah
perpisahan. Lagian ini gak seberapa kok, dibanding kak Andry yang terus-terusan
ngasih aku hadiah. Kadang gak tau dalam rangka apa.” Ucap Fani dengan nada
bicara yang manja, ya memang manja.
“ Hei! Jangan bilang
perpisahan. Kalau ini hadiah perpisahan aku gak mau terima.” Andry
membelalakkan matanya, kemudian menyodorkan kembali kotak kecil dari Fani,
enggan menerima katanya.
“ Eh bukan gitu
maksudnya sayang, anggap aja ini penawar rindu. Kalau kamu rindu aku lihat aja
benda ini.” Fani memaksa Andry menerima hadiah darinya.
“ Hem, jangan bilang
ini perpisahan lagi ya. Jangan lupa tahun depan aku bakal datang melamar.”
Andry meraih hadiah itu kembali, kemudian dengan genit mencubit hidung Fani.
“ Ayo, ketemu yang
lainnya. Kasihan mereka nunggu lama.” Andry menarik tangan Fani agar segera
beranjak dan mengikuti langkahnya.
“ Eh tunggu dulu,” Fani
menahan tubuhnya, kembali membuat Andry menghentikan langkah.
“ Kenapa lagi sih
sayangku cintaku manisku.” Andry berbalik dan mencubit kedua pipi Fani, geram
dengan sang kekasih yang selalu tunggu-tunggu dulu.
“ Hehehehe, ini buat
kamu.” Fani tersenyum cengengesan, kemudian mengulurkan kantong kecil berisi
makanan yang tadi dia beli sebelum ke bandara.
“ Apa lagi nih? Kenapa
pacar aku hari ini suka ngasih kejutan sih? Apa ini bentuk rasa senang karena
aku tinggalkan? Sesenang itu kah?.” Tanya Andry penuh heran. Fani bersikap
tidak seperti biasanya, lebih tepatnya sudah lama dia tidak diperlakukan manis
begini.
“ Eh apaan sih. Enggak
dong. Emang salah kalau mau kasih kejutan sama pacar?.” Jawab Fani ketus.
“ Hem iya sih, Cuma
agak aneh aja ya kan. Tumben-tumbenan. Ada lagi gak kejutannya? Biar sekalian.”
Andry mencari-cari benda lain yang dibawa oleh Fani. menggeser tubuh Fani
kekiri dan kekanan, mencari kejutan-kejutan lain yang akan dia dapatkan.
Cupppp…
Sebuah kecupan mendarat
dipipi kiri Andry, membuat siempunya kaget bukan main. Matanya membulat dan
keningnya mengkerut hebat. Saat Andry menatapnya penuh heran, Fani kembali
mendaratkan kecupannya dipipi Andry sebelah kanan.
“ Heheheeh ini
kejutannya.” Fani menatap Andry sembari cengengesan.
“ Oh nakal ya.” Andry
pun terkekeh geli.
Andry dan Fani sudah
bergabung dengan keluarga Andry. Haru biru semakin menyelimuti mereka, apalagi
sang bunda yang belum henti bersedih hati. Padahal dia bisa saja mengunjungi
buah hatinya, lalu apalagi yang harus disedihkannya.
“ Yah aku pergi dulu
ya, jangan lupa kalau ada waktu luang datang untuk menjenguk anak kesayangan
ayah.” Andry menggoda sang ayah, kemudian memeluk dan menciumnya sebagai tanda
perpisahan.
“ Gue cabut dulu ya,
jangan lupa jagain ayah dan bunda. Jangan lupa juga buat ambil obat bunda bulan
depan. Jangan ambil alih kekuasaan gue dirumah ya, mati lo.” Ucap Andry
mengancam sang kakak, kemudian terkekeh geli. Meskipun sering berantem,
sebenarnya Andry sangat mencintai sang kakak. Garang namun sayang. Andry
memeluk Devi penuh kasih sayang, sedangkan sang kakak sudah menangis didada
kekarnya.
“ Jangan nakal lo ya,
awas aja kalau lo banyak tingkah. Gue usir lo dari rumah.” Ucap Devi
terisak-isak. Sedih sekali rasanya harus berpisah dengan sang adik, apalagi
dalam waktu yang cukup lama.
“ Bundaku sayang, anak
bunda yang tampan pergi dulu ya. Bunda jangan sedih-sedih, jaga kesehatan ya
bunda. Nanti kalau ada waktu luang, bunda paksa tu ayah buat datang jenguk anak
bunda yang tampan ini.” Andry mencoba menggoda sang bunda agar tidak lagi
berurai air mata, namun tidak ada hasilnya. Yang ada malah bunda semakin
menangis terisak-isak.
Haru biru semakin
menyelimuti mereka semua, Andry memeluk bunda erat. Mengucapkan beberapa
kalimat-kalimat yang bertujuan untuk menenangkan sang bunda.
“ Ayah jangan lupa ya,
uang jajan jangan telat kirim setiap bulan.” Ucap Andry terkekeh geli. Kemudian
beralih mendekati sang kekasih hati yang sejak tadi sudah berkaca-kaca menatap
drama perpisahan dirinya dengan sang keluarga.
“ Nah ini juga mau
nangis ya?.” Andry menertawakan Fani yang tampak tidak sanggup lagi menahan
sedihnya.
“ Ah sudah-sudah.
Jangan nangis kayak bunda dong, kalau semua nangis aku jadi gak tega mau pergi
nih.” Andry menarik Fani kedalam pelukannya. Seketika tangis Fani pecah saat berada
didalam pelukan Andry.
“ Hei jangan nangis,
ingat janji aku. Tahun depan, gak lama kan?.” Andry mengelus rambut Fani,
mencium kepalanya berkali-kali.
“ Aku pergi dulu ya,
kamu jaga diri baik-baik disini. Ingat jangan macam-macam.” Andry mencium
kening Fani, kemudian melepaskan pelukannya.
“ Bunda, ayah, kalau
nanti ke Chicago jangan lupa aj ak Fani ya.” Andry berteriak pelan kepada sang
ayah dan bunda, tujuannya agar Fani tidak bersedih hati lagi.
“ Udah jangan nangis,
nanti ikut ayah dan bunda ya.” Andry tesenyum, padahal didalam hatinya sangat
sedih, ingin berteriak dan menangis rasanya. Namun demi orang-orang yang
dicintainya dia tidak boleh terlihat lemah.
“ Kamu hati-hati ya,
jaga diri.” Ucap Fani terisak-isak. Kemudian memeluk Andry sekali lagi, erat
sekali.
__ADS_1
“ Ah aku cinta kamu.”
Andry meluruh.