Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Gagal Move On


__ADS_3

Al merasa tidak puas, kembali diambilnya ponsel dan mencari


kontak Fani yang sudah sangat lama tidak pernah dia hubungi. Menatap kontak


Fani lama sembari menimbang-nimbang apa yang terjadi jika dia menelepon Fani. Wajar


saja jika Al merindukan Fani, sebab sudah sangat lama sekali dia tidak bertemu


dengan Fani. Tidak pernah lagi mendengar suaranya, atau bahkan hanya sekedar


melihat Fani lewat diberanda sosial media pu tidak ada. Benar-benar putus tali


pertemanan dan persahabatan diantara mereka bersama dengan pernyataan penolakan


cinta Fani.


“ Aku telepon Fani gak ya? Atau besok saja aku langsung


bertemu dengannya ketika aku berkunjung kerumahnya.” Gumamnya bertanya apakah


dia harus menelepon atau tidak.


“ Tapi aku benar-benar merindukannya.” Lanjutnya seketika


melemah. Pasalnya beberapa kali Al bermimpi tentang Fani. Apalagi setelah


keputusannya untuk memilih melanjutkan sekolah kejenjang yang lebih tinggi ke


Negara lain. Hanya hitungan minggu lagi dia akan menghabiskan masa-masa SMAnya,


lalu akan disibukkan dengan pengurusan kuliah dan akan berangkat ke Negara


tujuan.


“ Telepon aja deh. Lagian juga beberapa minggu lagi aku akan


sibuk ke luar Negeri mengurus kuliah. Mana sempat bertemu dengannya.” Ucapnya kemudian


memutuskan untuk menelepon Fani. Meskipun sudah sangat canggung dan tidak tau


apa yang harus dia katakan, Al tetap mencoba menghubungi Fani. Namun yang ada


hanya suara wanita yang menyebutkan jika nomor Fani sedang tidak aktif dan


berada diluar jangkauan.


“ Loh kok malah gak aktif sih? Ini jaringan atau memang nomornya


sudah tidak aktif lagi ya?.” Tanya Al sembari mencoba menghubungi lagi. Masih


sama, operator mengatakan jika nomor Fani sedang tidak aktif dan berada diluar


jangkauan.


“ Gak pas banget ya waktunya. Giliran gue gak mau nelepon tu


nomor aktif, giliran gue nelepon tu nomor malah gak aktif.” Lanjutnya menarik


nafas panjang dan kemudian tidak lagi mencoba menghubungi Fani.


Al sibuk bermain game diponselnya, game yang sejak dulu


sering dia mainkan sendiri atau pun bersama teman-temannya termasuk Joo. Hanya sekedar


untuk membunuh rasa bosan. Al terus memainkan game, tapi pikirannya masih tertuju


kepada Fani yang nomornya sudah tidak aktif lagi. Memikirkan apakah Fani sudah


mengganti nomornya atau teleponnya hanya mati karena kehabisan daya. Sesekali pikirannya


yang jahat juga menarik Al menuju kenangan lama, ketika mereka sering bermain

__ADS_1


bersama hingga kesekolah berdua. Pikirannya mencuri-curi celah untuk membuat


semua usaha move on nya sia-sia.


“ Huh semakin rindu ya.” Gumamnya menikmati kenangan yang


diingatnya sedikit demi sedikit.


“ Nanti gue telepon lagi deh.” Lanjutnya sembari tersenyum


dan meneruskan permainannya.


Tangan dan mata Al terus fokus pada game dan layar ponsel,


sementara pikirannya terus fokus membongkar tumpukan-tumpukan kenangan yang


sempat disingkirkan oleh Al. Membuka kembali satu persatu kenangan yang membuat


Al menggebu-gebu, terutama hasratnya ingin memiliki Fani. Rasa yang sudah susah


payah dia pudarkan sekarang kembali diperjelas dan menebal bersama pikirannya


yang masih sibuk membuka lembaran-lembaran kenangan. Lalu untuk apa dia


menghilang selama ini? Untuk apa dia menjauh dan melupakan Fani? Untuk apa dia


lakukan semua jika akhirnya rasa yang dia punya tetap sama untuk orang yang


sama.


“ Huh kapan ya gue bisa berkunjung kerumah Fani.” Ucapnya sembari


menyelesaikan permaiannya. Kemudian membuka menu kalender untuk melihat kapan


waktu yang tepat untuk dia berkunjung ke kota tempat Fani dan keluarganya


tinggal sekarang.


“ Ah terlalu lama, ini saja masih akhir pekan. Aku harus


menahan 7 hari baru bisa berjumpa dengan mereka.” Ucapnya sembari


menggeleng-geleng. Sebelah tangannya mengelus elus dagu dan dahinya tampak


mengkerut. Melihat-lihat kapan waktu yang tepat untuk dia berkunjung.


“ Ya tuhan aku hampir lupa. 3 hari lagi kan ulang tahunnya


Fani.” Ucpanya seketika tersentak kaget sendiri. Baru menyadari jika 3 hari


lagi adalah ulang tahun Fani.


“ Apa aku berkunjung tepat dihari ulang tahunnya saja ya? Sembari


membawa kado dan kue.” Lanjutnya masih menimbang-nimbang kapan waktu yang


cocok.


“ Oke aku akan berkunjung dihari ulang tahunnya.” Memastikan


jika dia akan berkunjung tepat dihari ulang tahun Fani nantinya.


Al menjadi kalang kabut sendiri setelah memutuskan akan


pergi dalam dua hari lagi. Sibuk memesan tiket dan mempersiapkan segala


sesuatunya. Terlebih lagi dia harus membawa hadiah yang spesial untuk Fani


gadis yang saat ini sudah samar-samar dicintainya. Al bergegas menuju pusat


kota, mengendarai sepeda motor sport miliknya. Melaju kencang ditengah jalanan

__ADS_1


yang cukup ramai, entah kemana arahnya yang jelas mencari hadiah untuk diberikan


kepada Fani nantinya.


“ Meskipun kau jahat padaku, tapi aku tetap berbaik hati


padamu.” Ucapnya sembari menghentikan kuda besinya tepat didepan toko jam. Bergegas


turun dan masuk kedalam toko, melihat-lihat apakah ada yang cocok untuk Fani.


“ Aku tidak  mengerti


cara memilih pakaian atau pun yang lainnya. Jadi sebaiknya aku berikan jam


saja.” Gumamnya dalam hati sambil mengedarkan pandangannya menyusuri semua


jam-jam yang ada didalam meja kaca.


Al terus menatap dan menimbang-nimbang apakah cocok jika


dilingkarkan dipergelangan Fani atau tidak. Ingin hadiahnya kali ini menjadi


hadiah tervaforit tahun ini. Pandangan Al terhenti pada sebuah jam yang


berwarna rosegold, tampak sederahana namun terkesan mewah. Senyumnya mekar


setelah membayangkan jam itu melingkar dipergelangan tangan Fani, pasti sangat


cocok.


“ Mbak saya mau lihat jam yang ini.” Ucapnya kepada salah


satu karyawan toko, sembari tangannya menunjuk jam yang ingin dia lihat.


“ Baik mas.” Sahut wanita itu. Mengambil dan menyerahkan


kepada Al.


Al memutar-mutar jam tersebut, memastikan jika jam yang


dipilihnya itu bagus. Mencoba melingkarkan dipergelangan tangannya, mengingat


warna kulitnya dengan Fani hampir sama. Ternyata warna yang dia pilih memang


sangat cocok untuk kulitnya, berarti juga cocok dikulit Fani.


“ Saya mau yang ini mbak.” Ucapnya lagi sambil menyerahkan


kembali jam itu kepada karyawan toko.


“ Baik mas, tunggu sebentar saya buat kan notanya.” Sahutnya


mengambil kemudian pergi meninggalkan Al yang tampak tersenyum girang.


“ Hehehehe semoga kau suka hadiah dariku ya.” Batinnya tersenyum


membayangkan wajah Fani yang tersenyum senang saat melihat hadiah yang diberikannya.


Setelah selesai membayar, Al melenggang keluar dari toko


dengan membawa sebuah bag ditangan. Berisikan sebuah jam dengan merek terkenal


untuk diberikan kepada wanita yang sudah menghabiskan waktunya hampir satu


tahun untuk move on, namun seketika dia merusak semuanya. Kembali lagi ingin


bertemu atau nanti bahkan rasa cintanya masih sama. Semua usahanya


mengkarantina hati hanya menjadi sia-sia. Huh ingat sedikit rusak move on


sebelanga. Dasar Al tidak konsisten.

__ADS_1


__ADS_2