
Al merasa tidak puas, kembali diambilnya ponsel dan mencari
kontak Fani yang sudah sangat lama tidak pernah dia hubungi. Menatap kontak
Fani lama sembari menimbang-nimbang apa yang terjadi jika dia menelepon Fani. Wajar
saja jika Al merindukan Fani, sebab sudah sangat lama sekali dia tidak bertemu
dengan Fani. Tidak pernah lagi mendengar suaranya, atau bahkan hanya sekedar
melihat Fani lewat diberanda sosial media pu tidak ada. Benar-benar putus tali
pertemanan dan persahabatan diantara mereka bersama dengan pernyataan penolakan
cinta Fani.
“ Aku telepon Fani gak ya? Atau besok saja aku langsung
bertemu dengannya ketika aku berkunjung kerumahnya.” Gumamnya bertanya apakah
dia harus menelepon atau tidak.
“ Tapi aku benar-benar merindukannya.” Lanjutnya seketika
melemah. Pasalnya beberapa kali Al bermimpi tentang Fani. Apalagi setelah
keputusannya untuk memilih melanjutkan sekolah kejenjang yang lebih tinggi ke
Negara lain. Hanya hitungan minggu lagi dia akan menghabiskan masa-masa SMAnya,
lalu akan disibukkan dengan pengurusan kuliah dan akan berangkat ke Negara
tujuan.
“ Telepon aja deh. Lagian juga beberapa minggu lagi aku akan
sibuk ke luar Negeri mengurus kuliah. Mana sempat bertemu dengannya.” Ucapnya kemudian
memutuskan untuk menelepon Fani. Meskipun sudah sangat canggung dan tidak tau
apa yang harus dia katakan, Al tetap mencoba menghubungi Fani. Namun yang ada
hanya suara wanita yang menyebutkan jika nomor Fani sedang tidak aktif dan
berada diluar jangkauan.
“ Loh kok malah gak aktif sih? Ini jaringan atau memang nomornya
sudah tidak aktif lagi ya?.” Tanya Al sembari mencoba menghubungi lagi. Masih
sama, operator mengatakan jika nomor Fani sedang tidak aktif dan berada diluar
jangkauan.
“ Gak pas banget ya waktunya. Giliran gue gak mau nelepon tu
nomor aktif, giliran gue nelepon tu nomor malah gak aktif.” Lanjutnya menarik
nafas panjang dan kemudian tidak lagi mencoba menghubungi Fani.
Al sibuk bermain game diponselnya, game yang sejak dulu
sering dia mainkan sendiri atau pun bersama teman-temannya termasuk Joo. Hanya sekedar
untuk membunuh rasa bosan. Al terus memainkan game, tapi pikirannya masih tertuju
kepada Fani yang nomornya sudah tidak aktif lagi. Memikirkan apakah Fani sudah
mengganti nomornya atau teleponnya hanya mati karena kehabisan daya. Sesekali pikirannya
yang jahat juga menarik Al menuju kenangan lama, ketika mereka sering bermain
__ADS_1
bersama hingga kesekolah berdua. Pikirannya mencuri-curi celah untuk membuat
semua usaha move on nya sia-sia.
“ Huh semakin rindu ya.” Gumamnya menikmati kenangan yang
diingatnya sedikit demi sedikit.
“ Nanti gue telepon lagi deh.” Lanjutnya sembari tersenyum
dan meneruskan permainannya.
Tangan dan mata Al terus fokus pada game dan layar ponsel,
sementara pikirannya terus fokus membongkar tumpukan-tumpukan kenangan yang
sempat disingkirkan oleh Al. Membuka kembali satu persatu kenangan yang membuat
Al menggebu-gebu, terutama hasratnya ingin memiliki Fani. Rasa yang sudah susah
payah dia pudarkan sekarang kembali diperjelas dan menebal bersama pikirannya
yang masih sibuk membuka lembaran-lembaran kenangan. Lalu untuk apa dia
menghilang selama ini? Untuk apa dia menjauh dan melupakan Fani? Untuk apa dia
lakukan semua jika akhirnya rasa yang dia punya tetap sama untuk orang yang
sama.
“ Huh kapan ya gue bisa berkunjung kerumah Fani.” Ucapnya sembari
menyelesaikan permaiannya. Kemudian membuka menu kalender untuk melihat kapan
waktu yang tepat untuk dia berkunjung ke kota tempat Fani dan keluarganya
tinggal sekarang.
“ Ah terlalu lama, ini saja masih akhir pekan. Aku harus
menahan 7 hari baru bisa berjumpa dengan mereka.” Ucapnya sembari
menggeleng-geleng. Sebelah tangannya mengelus elus dagu dan dahinya tampak
mengkerut. Melihat-lihat kapan waktu yang tepat untuk dia berkunjung.
“ Ya tuhan aku hampir lupa. 3 hari lagi kan ulang tahunnya
Fani.” Ucpanya seketika tersentak kaget sendiri. Baru menyadari jika 3 hari
lagi adalah ulang tahun Fani.
“ Apa aku berkunjung tepat dihari ulang tahunnya saja ya? Sembari
membawa kado dan kue.” Lanjutnya masih menimbang-nimbang kapan waktu yang
cocok.
“ Oke aku akan berkunjung dihari ulang tahunnya.” Memastikan
jika dia akan berkunjung tepat dihari ulang tahun Fani nantinya.
Al menjadi kalang kabut sendiri setelah memutuskan akan
pergi dalam dua hari lagi. Sibuk memesan tiket dan mempersiapkan segala
sesuatunya. Terlebih lagi dia harus membawa hadiah yang spesial untuk Fani
gadis yang saat ini sudah samar-samar dicintainya. Al bergegas menuju pusat
kota, mengendarai sepeda motor sport miliknya. Melaju kencang ditengah jalanan
__ADS_1
yang cukup ramai, entah kemana arahnya yang jelas mencari hadiah untuk diberikan
kepada Fani nantinya.
“ Meskipun kau jahat padaku, tapi aku tetap berbaik hati
padamu.” Ucapnya sembari menghentikan kuda besinya tepat didepan toko jam. Bergegas
turun dan masuk kedalam toko, melihat-lihat apakah ada yang cocok untuk Fani.
“ Aku tidak mengerti
cara memilih pakaian atau pun yang lainnya. Jadi sebaiknya aku berikan jam
saja.” Gumamnya dalam hati sambil mengedarkan pandangannya menyusuri semua
jam-jam yang ada didalam meja kaca.
Al terus menatap dan menimbang-nimbang apakah cocok jika
dilingkarkan dipergelangan Fani atau tidak. Ingin hadiahnya kali ini menjadi
hadiah tervaforit tahun ini. Pandangan Al terhenti pada sebuah jam yang
berwarna rosegold, tampak sederahana namun terkesan mewah. Senyumnya mekar
setelah membayangkan jam itu melingkar dipergelangan tangan Fani, pasti sangat
cocok.
“ Mbak saya mau lihat jam yang ini.” Ucapnya kepada salah
satu karyawan toko, sembari tangannya menunjuk jam yang ingin dia lihat.
“ Baik mas.” Sahut wanita itu. Mengambil dan menyerahkan
kepada Al.
Al memutar-mutar jam tersebut, memastikan jika jam yang
dipilihnya itu bagus. Mencoba melingkarkan dipergelangan tangannya, mengingat
warna kulitnya dengan Fani hampir sama. Ternyata warna yang dia pilih memang
sangat cocok untuk kulitnya, berarti juga cocok dikulit Fani.
“ Saya mau yang ini mbak.” Ucapnya lagi sambil menyerahkan
kembali jam itu kepada karyawan toko.
“ Baik mas, tunggu sebentar saya buat kan notanya.” Sahutnya
mengambil kemudian pergi meninggalkan Al yang tampak tersenyum girang.
“ Hehehehe semoga kau suka hadiah dariku ya.” Batinnya tersenyum
membayangkan wajah Fani yang tersenyum senang saat melihat hadiah yang diberikannya.
Setelah selesai membayar, Al melenggang keluar dari toko
dengan membawa sebuah bag ditangan. Berisikan sebuah jam dengan merek terkenal
untuk diberikan kepada wanita yang sudah menghabiskan waktunya hampir satu
tahun untuk move on, namun seketika dia merusak semuanya. Kembali lagi ingin
bertemu atau nanti bahkan rasa cintanya masih sama. Semua usahanya
mengkarantina hati hanya menjadi sia-sia. Huh ingat sedikit rusak move on
sebelanga. Dasar Al tidak konsisten.
__ADS_1