
Setengah rangkaian upacara sudah terlewati. Fani yang berdiri dibarisan belakang sudah mulai berkeringat dingin dan matanya sudah mulai berkunang-kunang. Fani merasa sempoyongan dan tidak sanggup lagi untuk meneruskan upacara ini. Sophia tidak menyadari bahwa sahabat yang disebelahnya itu sudah tidak berdiri dengan seimbang lagi. Tapi disudut lain Andry yang sedari tadi memperhatikan Fani pun merasa ada yang aneh dengan gerak-gerik Fani.
" Kenapa tu cewe? Oleng gak tuh?." Gumamnya dalam hati.
" Waahh wah jangan-jangan ini efek grogi habis gue senyumin tadi?." Masih bertanya-tanya dalam hati sambil memperhatikan Fani yang sempoyongan. Dengan pede mengatakan semua hal yang berkaitan dengan pemujian dirinya sendiri. Sedangkan gadis yang dibatinkan nya dari tadi sudah tak sanggup lagi menyeimbangkan diri. Mukanya pucat, keringat membasahi sekujur tubuhnya. Dan tiba-tiba terdengar suara seperti benda jatuh ketanah.
Bruuuukkkkkk.....
Fani terjatuh kebelakang. Semua mata tertuju pada suara itu. Andry yang memperhatikan Fani sedari tadi sontak langsung berlari mengejar Fani. Beberapa orang disekitar pun ikut mengerumuni Fani yang sudahh tak sadarkan diri. Beberapa siswi mencoba mengangkat tubuh Fani, namun Fani hanya sanggup diangkat beberapa meter saja dari tempat jatuhnya. Dengan cepat Andry mengankat tubuh Fani sendiriann dan mengisyaratkan agar yang lain kembali kebarisan untuk melanjutkan upacara. Seperti superhero yang tak gentar mengangkat beban, Andry berjalan dengan langkah ringan seolah tak ada beban. Andry berjalan sambil menatap kasihan wajah gadis yang dibencinya itu, wajahnnya sangat pucat dan dipenuhi keringat.
" Kenapa gue jadi kasian ngeliat ni cewe tengil." Batin Andry sambil tetap menyegerakan langkah
nya menuju UKS.
" Bahkan nampaknya aku yang paling khawatir sampai-sampai ngebopong nih cewe sendirian." Batinnya lagi.
Sophia yang berjalan mengikuti langkah Andry pun merasa sangat cemas dengan keadaan sahabatnya. Sesampainya di UKS Andry langsung merebahkan tubuh Fani dan membantu melepaskan sepatu Fani. Andry meminta Sophia mengambilkan minyak kayu putih dan meletakkan nya sedikit dihidung Fani. Sophia mencoba memanggil Fani dan menepuk pelan pipi sahabatnya itu, namun Fani tak bergeming. Ibu guru pun datang membawakan segelas air teh hangat untuk diberikan kepada Fani. Beberapa orang terlihat mengelilingi Fani dan memenuhi ruangan UKS yang kecil itu. Andry duduk dikursi sebelah Fani, menghela nafasnya pelan.
Ternyata berat juga ni cewe tengil. Wah llo hutang budi nih sama gue. Andry.
__ADS_1
"Sophia, apa Fani sudah sadar?." Tanya buk Merry kepada Sophia dan Sophia hanya menggeleng,
" Oleskan minyak dihidungnya dan pijat lembut kepalanya. Oh iya jangan lupa berikan teh hangat ini setelah dia sadar." Ibu Merry menyodorkan segelas teh pada Sophia. Sophia menuruti intruksi dari bu Merry, Sophia mulai memijit kepala Fani. Beberapa menit memijat bagian kepala, Sophia beralih ke kaki Fani yang dingin dan pucat itu. Andry hanya menyaksikan sambil mengatur pernafasannya. Fani menggerak-gerak kan pelan jari tangannya dan membuka matanya perlahan. Di dapatinya Sophia sedang memijit kakinya, sementara disebelahnya ada Andry yang sedang memijat tangan sambil mengipas-ngipaskan wajahnnya.
" Lah kenapa dia ada disini?" Batinnya. Langsung Fani memejamkan kembali matanya.
Eh tengil, gak usah pura-pura lagi deh. Gue udah liat lo buka mata barusan. Eh jangan bilang dia pingsan lagi karna gue pegang-pegang tangannya hahaha.
" Fan lo udah sadar fan?." Tanya Sophia dan Fani membuka kembali matanya. Sophia mendekat dengan Fani dan memijat lengan yang sebelahnya.
" Naikin sedikit kepalamu. Biar aku bantu kamu buat minum teh hangat ini." Ucap Andry sambil tangan
" Iya" Fani hanya menjawab singkat. Dalam hatinya masih merasa keheranan kenapa lelaki ini ada disini.
Sophia membantu Andry mengangkat kepala Fani agar dengan mudah Fani bisa meminum teh hangat itu. Kemudian kembali membantu Fani untuk berbaring. Fani menjentik kan jarinya pelan, mengisyaratkan Sophia untuk mendekatkan wajahnya. Kemudian terdengar suara lirih Fani berbisik ditelinga Sophia.
" Kenapa kak Andry ada disini?." Tanya Fani lirih.
" Waktu lo pingsan dilapangan tadi, dia yang nganterin lo kesini. Kuat ya dia ngangkatin lo sendirian." Sophia terkekeh pelan.
__ADS_1
Tiba-tiba perut Fani terasa perih. Mungkin karena maagnya kambuuh makanya Fani sampai pingsan dilapangan. Fani memegang perutnya dan meringis. Andry yang melihat Fani kesakitan pun langsung mendekat dan bertanya pada Fani.
" Perut kamu kenapa Fan?." Andry mendekat dan menggenggam tangan Fani.
" Perutku perih kak. Aaaaa kayaknya maag kukambuh." Fani meringis dan mengelus perutnya.
" Kamu gak sarapan tadi? " Sambung Andry dan Fani hanya menggeleng menandakan dia belum sarapan.
" Kenapa lo gak sarapan sih Fan." Sophia menyela. Kemudian bergegas ke kelas untuk mengambil dompet dan membeli makan untuk sahabatnya itu.
" Gue kekantin dulu beliin lo makan ya." Sophia menyegerakan langkahnya.
" Kak Andry aku titip Fani sebentar ya." Sambung Sophia dan bergegas menuju kantin tanpa menunggu jawaban dari Andry.
Sekarang hanya tinggal kecanggungan antara Andry dan Fani didalam ruangan ini. Sesekali mereka beradu pandangan yang membuat mereka semakin merasa canggung.
Ini kenapa ceritanya gue jadi perawat ya? Malah buang-buang tenanga gendong ala bridal lagi. Begini ni kalau punya otak sama hati gak bisa kerjasama.
Didalam hati Fani bertanya-tanya kenapa lelaki itu masih berada didekatnya.
__ADS_1
Mesum ni cowo. Kenapa juga dia yang gendong gue kesini. Kan masih ada teman-teman gue yang cewe. Biasanya kalau ada yang pingsan juga dibopong sama cewek-cewek. Ah lelaki mesum !