Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
What?


__ADS_3

Fani


sudah tiba dikediamannya, nafasnya tersengal-sengal karena mengangkat beban


yang cukup berat.



Hufffhhhh nyampai juga nih dikamar kesayangan gue. Huhhh sabar ya, beberapa


bulan lagi gue bakal tinggal menetap disini lagi kok.” Gumamnya dengan nafas


tersengal-sengal.


Fani


dengan tubuh gontai melangkah menuju kamar mandi, ingin mencuci wajahnya.



Haaaahhhhh, ngantuk banget sih.” Gumamnya dengan mulut yang ternganga lebar.



Coba aja gue masih baik-baik sama Sophia, pasti hal yang paling pertama gue


lakuin ketika balik kesini adalah bertemu dengan Sophia. Hmm jadi kangen juga


sih sama Sophia, ya meskipun dia ngeselin banget.” Lanjut Fani seketika


teringat dengan teman lamanya Sophia.



Eh kenapa malah jadi inget Sophia sih. Heemm kangen banget beneran, apa gue


main aja kerumah dia ya. Tapi gue masih kesel tauuu.” Fani merengut gak jelas.


wajar saja sih kalau kangen sama teman lamanya. Apalagi dulu mereka berdua


memang sangat dekat dan akrab.


Fani


meraih ponselnya, dengan ragu-ragu dia hendak menghubungi Sophia melalui sosial


media. Ingin berdamai dan melupakan masalalu yang membuat mereka terpisah.


Meskipun semua yang dilakukan Sophia keterlaluan, namun gak ada salahnya jika


Fani memaaafkan. Lagiapula sekarang dia juga sudah baik-baik saja dan kembali


lagi dengan Andry, sudah tau jika ini semua hanya kesalah pahaman saja.


Mungkin, waktu itu Sophia khilaf. Atau karena rasa sukanya yang berlebihan lah


yang menjerumuskan dirinya hingga melakukan hal-hal yang tidak menyenangkan.



Hum, kan gue korban. Kenapa gue sih yang harus mulai duluan, hanya demi baikan


laki, hanya demi berteman seperti dulu lagi.” Batin Fani. Benar juga, yang


salah kan Sophia kenapa harus Fani yang duluan memulai untuk memperbaiki


hubungan lama yang sudah rusak ini.



Coba aja lo minta maaf sama gue Sop, pasti dengan senang hati gue maafin lo. Ya


walaupun sebenarnya lo keterlaluan, tapi gue masih bisa mempertimbangkan


persahabatan kita yang udah lama kok. Sumpah gue kangen banget sama lo Sop.


Udah berkali-kali gue balik lagi ke kota ini, hal yang paling gue kangenin


adalah main dan jalan-jalan bareng lo.” Fani menyeka ujung matanya, tanpa sadar


ternyata bulir-bulir hangat itu sudah jatuh membasahi pipi mulusnya.



Hufffhhhhh gue harap lo juga ngerasain hal yang sama Sop. Gue harap lo juga


kangen sama persahabatan kita, kegilaan kita, gak tau malunya kita kalau udah


berdua. Gue kangen banget sama Lo.” Fani tidak bisa mengendalikan diri.


Tangisnya pecah dan terisak-isak. Pandangannya terpaku pada ponselnya,


terpampang wajah dirinya dan Sophia ketika baru masuk sekolah. Wajah yang masih


lugu dan tampak sangat akrab.



Kanget banget masa-masa sekolah. Kangen teman-teman yang lainnya.” Fani


berteriak, memenuhi ruang kamarnya. Tangannya sibuk menggeser-geser memori


lama, mengingat-ingat kenangan apa saja yang ada disetiap fotonya. Mulai dari


foto ketika baru berteman, baru masuk sekolah hingga sampai dengan foto


terakhir sebelum mereka memiliki masalah.



Sebenarnya yang salah adalah perasaan, andai gue gak punya perasaan sama Andry.


Gue pastiin kita bakal tetap berteman baik, meskipun cinta lo gak dibalas oleh


Andry. Jadi yang salah sebenarnya gue, hati gue, perasaan gila gue.” Fani


memukul-mukul pahanya kesal, menghukum dirinya sendiri atas kesalahan yang dia


lakukan.



Kalau gue diposisi lo pasti gue juga bakal ngelakuin hal yang sama kayak lo,


gue pasti marah banget kayak lo. Masalah hati, masalah perasaan emang yang


paling sensitive. Lo gak salah Sop, yang salah itu gue. Gue yang salah.” Fani


membenamkan wajahnya kedalam bantal, memukul-mukul ranjangnya dengan keras.


Setelah sekian lama, setelah banyak pula masalah yang dilaluinya, hari ini Fani


tiba-tiba menyadari semuanya. Mengakui semua kesalahannya.



Bukan lo yang salah, gue yang salah.” Ucapnya tersedu-sedu.


Fani


meraih kembali ponsel yang dilemparnya kesudut ranjang, mengobrak abrik sosial


medianya. Mencari akun yang pernah dipakai Sophia untuk mengorek informasi


tentang kehidupannya sekarang. Fani mulai mengetik pesan, penuh keragu-raguan.


Berkali-kali dia merasa dirinya tidak sepenuhnya bersalah, kemudian menghapus


kembali pesannya. Perasaan Fani bolak balik, antara iya dan tidak. Takutnya


jika dia yang memulai perdamaian, Sophia semakin ngelunjak, makin sombong dan


merasa jika dia adalah korban. Namun jika bukan dia yang memulai, mereka


mungkin tidak akan pernah berdamai.



Hufffhh baiklah, Fan lo harus yakin. Hanya untuk sekedar minta maaf gak bakal


ngurangi apapun dari diri lo. Hanya minta maaf gak bakal ngejatuhin harga diri


lo, hanya karena minta maaf lo gak akan rugi dari segi apapun kok. Demi


persahabatan yang udah lama disia-siakan, lo harus berani memulai duluan Fan.”


Batin Fani mendorong untuk terus melanjutkan niat baiknya. Namun wajar saja

__ADS_1


masih ada keragu-raguan dalam dirinya. Apalagi Fani hanya seorang manusia,


wajar jika masih ada sifat sombong atau angkuh dalam dirinya.


Akhirnya,


setelah cukup lama. Bahkan berjam-jam memikirkan, bersemedi didalam kamar, Fani


memberanikan diri mengirimkan pesan kepada Sophia.



Semoga aja ini benar akun lo ya Sop.” Fani menghela nafas panjang, kemudian


dengan cepat mengirimkan pesan.


Hallo Sop. Apa kabar? Ini akun lo


kan?


Udah lama banget ya gak


kabar-kabaran begini. Gue di Jakarta sekarang, lo sibuk? Ada waktu gak? Gue


pengen ketemu lo Sop. Ada yang pengen gue omongin sama lo. Mungkin ini akan


sedikit canggung, tapi gue yakin kita bisa kok. Gue harap lo bisa meluangkan


waktu berharga lo sebentar aja. Sampai jumpa. Salam sayang, Fani Almaera.


**


Sophia


menghirup udara dibalcon kamarnya, duduk sembari menatap kendaraan yang lalu


lalang dengan segelas air ditangan. Menikmati hari demi hari, membahagiakan


diri. Tersenyum tersipu malu, sesekali menatap birunya langit. Entah apa yang


sedang dipikirkan Sophia, tampak seperti orang yang sedang jatuh cinta.


Treng..


Sebuah


notif dari ponselnya, membuyarkan lamunan indah Sophia, membuat siempunya tubuh


langsung mengalihkan pandangan pada ponsel yang tergeletak diatas meja kecil


didepan Sophia.



Hem, baru aja dipikirin eh udah langsung ngehubungin.” Sophia terkulum-kulum


manja, mengatakan dengan penuh percaya diri jika notif barusan adalah dari


seseorang yang sedang dipikirkannya. Menduga tanpa melihat.



Heih bukan dari doi ternyata.” Sophia mengangkat alisnya bingung. Menarik layar


ponselnya kebawah, melihat pesan dari siapa. Mencoba membaca tanpa membuka


pesan.



Ha dari Fani?.” Sophia membelalakkan matanya kaget. Ini lebih mengejutkan dari


apapun. Seorang Fani mengirimkan pesan dan ingin bertemu dengan dirinya. Tak


disangka-sangka, tanpa pernah terfikir olehnya jika Fani akan melakukan ini.



Ini beneran Fani? Ah apa jangan-jangan gue salah lihat, halu ya gue?.” Sophia


mengucek-ucek matanya memastikan. Masih dan sama sekali tidak percaya dengan


apa yang dilihat olehnya.



dia tuh, wajar deh gue jadi ngelantur gini.” Batin Sophia masih menolak percaya


dengan kenyataan yang dilihatnya.



Ma..” Teriak Sophia memanggil sang ibu. Karena tidak mendengar jawaban apapun,


Sophia berlari menghambur keluar dari kamar, mencari sang ibu hingga kehalaman


belakang.



Maaaa.” Teriak Sophia sekali lagi.



Iyaaaa.” Terdengar suara sahutan dari arah kamar. Sophia berlari mengejar,


ingin meminjam mata sang ibu hanya demi membuktikan jika pesan ini benar dari


Fani atau bukan.



Ma, coba lihat deh. Eh maksudnya coba mama baca, ini pesan dari siapa?.” Ucap


Sophia sembari menyodorkan ponselnya kehadapan sang ibu.



Hem dari Fani nak.” Jawabnya dengan polos.



Kamu kenapa? Kamu udah rabun ya? gak jelas kalau ngelihat apa gimana? Kita ke


dokter mata ya sekarang.” Lanjut sang ibu malah mengkhawatirkan penglihatan


Sophia.



Eh enggak ma, Cuma mau mastiin aja. Takutnya salah lihat. Soalnya aku kan baru


banget bangun tidur ma, mana tau salah kan. Pesan dari Fani eh aku balasnya


Deni.” Sophia berdalih, kemudian bergegas pergi meninggalkan sang ibu yang


bingung dengan tingkahnya.



Da ma, makasih ya.” Sophia melambai-lambaikan tangan dan bergegas mengunci diri


didalam kamar.



Ha? Dari Fani? Gak salah ni gue? Beneran ? serius ini gue gak salah?.” Sophia


menepuk-nepuk pipinya, menyadarkan diri barangkali dia sedang bermimpi.



Kenapa tiba-tiba dia ngirim pesan begini sih?.” Batin Sophia kebingungan.


Sophia


menggigit bibirnya bergantian, jantungnya berdetak semakin kencang dan tidak


beraturan. Badannya panas dingin seolah bertemu seseuatu yang menakutkan


baginya. Kenapa? Kenapa hanya karena melihat pesan dari Fani saja membuatnya


sampai gemetaran hebat begini? Apa karena rasa takutnya? Apa karena rasa


bersalahnya dimasa lalu?.


__ADS_1


Balas engga ya?.” Sophia menghela nafas panjang, tubuhnya direbahkan senyaman


mungkin.



HUfffhhh hufffhhh. Kenapa dia tiba-tiba ngajak ketemu? Aku jadi takut. Takut


kalau dia merencanakan sesuatu.” Gumamnya lirih. Pikirannya tetap saja mengarah


pada yang buruk. Semakin jauh pikirannya menyimpang semakin tidak tenang pula


dirinya, semakin kencang detak jantungnya.



Mana mungkin dia punya tujuan baik. Sedangkan aku dimasa lalu sudah membuatnya


cukup sulit. Kenapa baru sekarang? Sudah pasti karena ada sesuatu yang dia


rencanakan. Tidak, tidak. Aku tidak boleh gegabah. Aku tidak boleh percaya


sepenuhnya pada dia. Bisa jadi dia sedang merencanakan hal besar untuk membalas


dendam selama ini, terus sekarang adalah saatnya dia untuk merealisasikan


rencana-rencananya.” Pikiran Sophia semakin tidak terkendali, hanya ada


opsi-opsi buruk yang bergayang-gayang dikepalanya. Mungkin ini semua


berhubungan dengan rasa bersalah yang selama ini Sophia coba pendam, seolah


mangkir, enggan mengakui kesalahannya.


Sophia


melempar ponselnya menjauh, tubuhnya direbahkan memanjang. Sophia menarik


selimut, menaungkan seluruh tubuhnya hingga tidak terlihat sedikitpun.


Perasaannya campur aduk, antara senang, sedih, bersalah, menyesal dan lainnya.


Jauh dilubuk hatinya yang paling dalam, sebenarnya Sophia sangat merindukan


Fani. Ingin sekali rasanya mengiyakan, bertemu dengan Fani, berpelukan bercanda


dan bersuka ria seperti sebelumnya. Namun ada gengsi yang menghalangi dirinya,


gengsi berlebihan yang menyebabkan dia memilih untuk menahan dirinya.


**



Hei.” Sophia melambaikan tangan kepada Fani. Senyumnya mekar sempurna, Sophia


benar-benar merindukan sahabatnya.



Haaiiii.” Balas Fani melambaikan tangan, senyumnya juga mekar sempurna.


Perlahan-lahan mereka saling melangkah mendekat, hingga pada titik temu. Fani


dengan pernuh semangat merengkuh tubuh Sophia, memeluknya sangat erat.



Kangen banget.” Lanjut Fani tersedu-sedu.



Iya gue juga kangen banget sama lo Fan. Maafin gue ya, maafin kesalahan yang


pernah gue perbuat. Gue terlalu naif, gue mengorbankan persahabatan kita hanya


karena seorang lelaki.” Sahut Sophia dipenuhi rasa bersalah. Sudah berurai air


mata, hingga membasahi bahu Fani.



Udah jangan bahas masalah itu lagi. Ini semua juga salah gue, harusnya gue gak


ngehianatin lo kayak gitu. Maafin gue ya Sop, maafin gue.” Fani semakin memeluk


Sophia erat. Dipinggir pantai, ditiup angin kencang, mereka berpelukan, saling


mengakui kesalahan dan merangkai kembali tali persahabatan.



Udah. Sekarang kita mulai dari awal. Persahabatan kita, semuanya. Gue pengen


kayak dulu lagi, gue mau kita sama tanpa ada yang berubah.” Fani melepaskan


pelukan, kemudian membimbing tangan Sophia untuk duduk dipepohonan.



Gue pengen kita senang-senang hari ini. Mulai dari hari ini, saat ini kita


kembali menjadi sahabat. Jangan pernah biarkan semuanya rusak seperti dulu,


hanya karena lelaki atau masalah lainnya. Gue pengen kita saling terbuka,


jangan pernah menutupi apapun dari gue begitupun sebaliknya. Gue sayang lo Sop,


lo sahabat terbaik gue. Maafin gue ya.” Fani menggenggam erat tangan Sophia,


berurai air mata. Benar-benar mengharukan. Akhirnya kedua sahabat ini bisa


saling memaafkan, saling melupakan kesalahan.



Gue juga minta maaf. Gue gak mau lagi hidup dibayang-bayangi rasa bersalah, gue


mau kita baikan lagi kayak dulu Fan. Maafin gue.” Sophia tidak bisa menahan


diri, air matanya juga berjatuhan dipipi. Pertemuan ini benar-benar membuatnya


terharu.



Janji?.” Sophia mengacungkan jari kelingking. Tersenyum manis, tapi matanya


sembab sembari menatap Fani dalam.



Janji? Janji apa?.” Tanya Fani kebingungan. Namun Fani juga tetap mengacungkan


jari kelingkingnya, melingkarkan pada kelingking Sophia meskipun belum tau apa


yang harus dijanjikannya.



Janji setelah ini kita gak akan pernah berkelahi lagi. Gak ada rahasia antara


kita. Kalau suka bilang kalau enggak suka bilang, harus saling jujur dan


terbuka. Janji? Setelah ini gue gak mau lagi ada perselisihan antara kita


berdua. Salam sahabat, sahabat selamanya.” Sophia memberi beberapa aturan,


kelingkingnya dengan erat melingkar.



Oke. Sahabat selamanya.” Sahut Fani sembari mengangguk mengiyakan. Sophia dan


Fani mengucapkan janji, akhirnya mereka kembali menjadi sahabat.


Sophia


dan Fani bersenda gurau, tertawa bersama, menikmati angin pantai, bermain-main seperti


sebelumnya. Tanpa ada rasa canggung, tanpa ada rasa malu, mereka berperilaku


seperti biasanya, seperti tidak pernah terjadi apa-apa antara mereka berdua.


Berlari kesana-kemari, tertawa riang gembira, hari ini Fani dan Sophia berasa


menjadi orang paling bahagia.

__ADS_1


__ADS_2