
Fani
sudah tiba dikediamannya, nafasnya tersengal-sengal karena mengangkat beban
yang cukup berat.
“
Hufffhhhh nyampai juga nih dikamar kesayangan gue. Huhhh sabar ya, beberapa
bulan lagi gue bakal tinggal menetap disini lagi kok.” Gumamnya dengan nafas
tersengal-sengal.
Fani
dengan tubuh gontai melangkah menuju kamar mandi, ingin mencuci wajahnya.
“
Haaaahhhhh, ngantuk banget sih.” Gumamnya dengan mulut yang ternganga lebar.
“
Coba aja gue masih baik-baik sama Sophia, pasti hal yang paling pertama gue
lakuin ketika balik kesini adalah bertemu dengan Sophia. Hmm jadi kangen juga
sih sama Sophia, ya meskipun dia ngeselin banget.” Lanjut Fani seketika
teringat dengan teman lamanya Sophia.
“
Eh kenapa malah jadi inget Sophia sih. Heemm kangen banget beneran, apa gue
main aja kerumah dia ya. Tapi gue masih kesel tauuu.” Fani merengut gak jelas.
wajar saja sih kalau kangen sama teman lamanya. Apalagi dulu mereka berdua
memang sangat dekat dan akrab.
Fani
meraih ponselnya, dengan ragu-ragu dia hendak menghubungi Sophia melalui sosial
media. Ingin berdamai dan melupakan masalalu yang membuat mereka terpisah.
Meskipun semua yang dilakukan Sophia keterlaluan, namun gak ada salahnya jika
Fani memaaafkan. Lagiapula sekarang dia juga sudah baik-baik saja dan kembali
lagi dengan Andry, sudah tau jika ini semua hanya kesalah pahaman saja.
Mungkin, waktu itu Sophia khilaf. Atau karena rasa sukanya yang berlebihan lah
yang menjerumuskan dirinya hingga melakukan hal-hal yang tidak menyenangkan.
“
Hum, kan gue korban. Kenapa gue sih yang harus mulai duluan, hanya demi baikan
laki, hanya demi berteman seperti dulu lagi.” Batin Fani. Benar juga, yang
salah kan Sophia kenapa harus Fani yang duluan memulai untuk memperbaiki
hubungan lama yang sudah rusak ini.
“
Coba aja lo minta maaf sama gue Sop, pasti dengan senang hati gue maafin lo. Ya
walaupun sebenarnya lo keterlaluan, tapi gue masih bisa mempertimbangkan
persahabatan kita yang udah lama kok. Sumpah gue kangen banget sama lo Sop.
Udah berkali-kali gue balik lagi ke kota ini, hal yang paling gue kangenin
adalah main dan jalan-jalan bareng lo.” Fani menyeka ujung matanya, tanpa sadar
ternyata bulir-bulir hangat itu sudah jatuh membasahi pipi mulusnya.
“
Hufffhhhhh gue harap lo juga ngerasain hal yang sama Sop. Gue harap lo juga
kangen sama persahabatan kita, kegilaan kita, gak tau malunya kita kalau udah
berdua. Gue kangen banget sama Lo.” Fani tidak bisa mengendalikan diri.
Tangisnya pecah dan terisak-isak. Pandangannya terpaku pada ponselnya,
terpampang wajah dirinya dan Sophia ketika baru masuk sekolah. Wajah yang masih
lugu dan tampak sangat akrab.
“
Kanget banget masa-masa sekolah. Kangen teman-teman yang lainnya.” Fani
berteriak, memenuhi ruang kamarnya. Tangannya sibuk menggeser-geser memori
lama, mengingat-ingat kenangan apa saja yang ada disetiap fotonya. Mulai dari
foto ketika baru berteman, baru masuk sekolah hingga sampai dengan foto
terakhir sebelum mereka memiliki masalah.
“
Sebenarnya yang salah adalah perasaan, andai gue gak punya perasaan sama Andry.
Gue pastiin kita bakal tetap berteman baik, meskipun cinta lo gak dibalas oleh
Andry. Jadi yang salah sebenarnya gue, hati gue, perasaan gila gue.” Fani
memukul-mukul pahanya kesal, menghukum dirinya sendiri atas kesalahan yang dia
lakukan.
“
Kalau gue diposisi lo pasti gue juga bakal ngelakuin hal yang sama kayak lo,
gue pasti marah banget kayak lo. Masalah hati, masalah perasaan emang yang
paling sensitive. Lo gak salah Sop, yang salah itu gue. Gue yang salah.” Fani
membenamkan wajahnya kedalam bantal, memukul-mukul ranjangnya dengan keras.
Setelah sekian lama, setelah banyak pula masalah yang dilaluinya, hari ini Fani
tiba-tiba menyadari semuanya. Mengakui semua kesalahannya.
“
Bukan lo yang salah, gue yang salah.” Ucapnya tersedu-sedu.
Fani
meraih kembali ponsel yang dilemparnya kesudut ranjang, mengobrak abrik sosial
medianya. Mencari akun yang pernah dipakai Sophia untuk mengorek informasi
tentang kehidupannya sekarang. Fani mulai mengetik pesan, penuh keragu-raguan.
Berkali-kali dia merasa dirinya tidak sepenuhnya bersalah, kemudian menghapus
kembali pesannya. Perasaan Fani bolak balik, antara iya dan tidak. Takutnya
jika dia yang memulai perdamaian, Sophia semakin ngelunjak, makin sombong dan
merasa jika dia adalah korban. Namun jika bukan dia yang memulai, mereka
mungkin tidak akan pernah berdamai.
“
Hufffhh baiklah, Fan lo harus yakin. Hanya untuk sekedar minta maaf gak bakal
ngurangi apapun dari diri lo. Hanya minta maaf gak bakal ngejatuhin harga diri
lo, hanya karena minta maaf lo gak akan rugi dari segi apapun kok. Demi
persahabatan yang udah lama disia-siakan, lo harus berani memulai duluan Fan.”
Batin Fani mendorong untuk terus melanjutkan niat baiknya. Namun wajar saja
__ADS_1
masih ada keragu-raguan dalam dirinya. Apalagi Fani hanya seorang manusia,
wajar jika masih ada sifat sombong atau angkuh dalam dirinya.
Akhirnya,
setelah cukup lama. Bahkan berjam-jam memikirkan, bersemedi didalam kamar, Fani
memberanikan diri mengirimkan pesan kepada Sophia.
“
Semoga aja ini benar akun lo ya Sop.” Fani menghela nafas panjang, kemudian
dengan cepat mengirimkan pesan.
Hallo Sop. Apa kabar? Ini akun lo
kan?
Udah lama banget ya gak
kabar-kabaran begini. Gue di Jakarta sekarang, lo sibuk? Ada waktu gak? Gue
pengen ketemu lo Sop. Ada yang pengen gue omongin sama lo. Mungkin ini akan
sedikit canggung, tapi gue yakin kita bisa kok. Gue harap lo bisa meluangkan
waktu berharga lo sebentar aja. Sampai jumpa. Salam sayang, Fani Almaera.
**
Sophia
menghirup udara dibalcon kamarnya, duduk sembari menatap kendaraan yang lalu
lalang dengan segelas air ditangan. Menikmati hari demi hari, membahagiakan
diri. Tersenyum tersipu malu, sesekali menatap birunya langit. Entah apa yang
sedang dipikirkan Sophia, tampak seperti orang yang sedang jatuh cinta.
Treng..
Sebuah
notif dari ponselnya, membuyarkan lamunan indah Sophia, membuat siempunya tubuh
langsung mengalihkan pandangan pada ponsel yang tergeletak diatas meja kecil
didepan Sophia.
“
Hem, baru aja dipikirin eh udah langsung ngehubungin.” Sophia terkulum-kulum
manja, mengatakan dengan penuh percaya diri jika notif barusan adalah dari
seseorang yang sedang dipikirkannya. Menduga tanpa melihat.
“
Heih bukan dari doi ternyata.” Sophia mengangkat alisnya bingung. Menarik layar
ponselnya kebawah, melihat pesan dari siapa. Mencoba membaca tanpa membuka
pesan.
“
Ha dari Fani?.” Sophia membelalakkan matanya kaget. Ini lebih mengejutkan dari
apapun. Seorang Fani mengirimkan pesan dan ingin bertemu dengan dirinya. Tak
disangka-sangka, tanpa pernah terfikir olehnya jika Fani akan melakukan ini.
“
Ini beneran Fani? Ah apa jangan-jangan gue salah lihat, halu ya gue?.” Sophia
mengucek-ucek matanya memastikan. Masih dan sama sekali tidak percaya dengan
apa yang dilihat olehnya.
“
dia tuh, wajar deh gue jadi ngelantur gini.” Batin Sophia masih menolak percaya
dengan kenyataan yang dilihatnya.
“
Ma..” Teriak Sophia memanggil sang ibu. Karena tidak mendengar jawaban apapun,
Sophia berlari menghambur keluar dari kamar, mencari sang ibu hingga kehalaman
belakang.
“
Maaaa.” Teriak Sophia sekali lagi.
“
Iyaaaa.” Terdengar suara sahutan dari arah kamar. Sophia berlari mengejar,
ingin meminjam mata sang ibu hanya demi membuktikan jika pesan ini benar dari
Fani atau bukan.
“
Ma, coba lihat deh. Eh maksudnya coba mama baca, ini pesan dari siapa?.” Ucap
Sophia sembari menyodorkan ponselnya kehadapan sang ibu.
“
Hem dari Fani nak.” Jawabnya dengan polos.
“
Kamu kenapa? Kamu udah rabun ya? gak jelas kalau ngelihat apa gimana? Kita ke
dokter mata ya sekarang.” Lanjut sang ibu malah mengkhawatirkan penglihatan
Sophia.
“
Eh enggak ma, Cuma mau mastiin aja. Takutnya salah lihat. Soalnya aku kan baru
banget bangun tidur ma, mana tau salah kan. Pesan dari Fani eh aku balasnya
Deni.” Sophia berdalih, kemudian bergegas pergi meninggalkan sang ibu yang
bingung dengan tingkahnya.
“
Da ma, makasih ya.” Sophia melambai-lambaikan tangan dan bergegas mengunci diri
didalam kamar.
“
Ha? Dari Fani? Gak salah ni gue? Beneran ? serius ini gue gak salah?.” Sophia
menepuk-nepuk pipinya, menyadarkan diri barangkali dia sedang bermimpi.
“
Kenapa tiba-tiba dia ngirim pesan begini sih?.” Batin Sophia kebingungan.
Sophia
menggigit bibirnya bergantian, jantungnya berdetak semakin kencang dan tidak
beraturan. Badannya panas dingin seolah bertemu seseuatu yang menakutkan
baginya. Kenapa? Kenapa hanya karena melihat pesan dari Fani saja membuatnya
sampai gemetaran hebat begini? Apa karena rasa takutnya? Apa karena rasa
bersalahnya dimasa lalu?.
“
__ADS_1
Balas engga ya?.” Sophia menghela nafas panjang, tubuhnya direbahkan senyaman
mungkin.
“
HUfffhhh hufffhhh. Kenapa dia tiba-tiba ngajak ketemu? Aku jadi takut. Takut
kalau dia merencanakan sesuatu.” Gumamnya lirih. Pikirannya tetap saja mengarah
pada yang buruk. Semakin jauh pikirannya menyimpang semakin tidak tenang pula
dirinya, semakin kencang detak jantungnya.
“
Mana mungkin dia punya tujuan baik. Sedangkan aku dimasa lalu sudah membuatnya
cukup sulit. Kenapa baru sekarang? Sudah pasti karena ada sesuatu yang dia
rencanakan. Tidak, tidak. Aku tidak boleh gegabah. Aku tidak boleh percaya
sepenuhnya pada dia. Bisa jadi dia sedang merencanakan hal besar untuk membalas
dendam selama ini, terus sekarang adalah saatnya dia untuk merealisasikan
rencana-rencananya.” Pikiran Sophia semakin tidak terkendali, hanya ada
opsi-opsi buruk yang bergayang-gayang dikepalanya. Mungkin ini semua
berhubungan dengan rasa bersalah yang selama ini Sophia coba pendam, seolah
mangkir, enggan mengakui kesalahannya.
Sophia
melempar ponselnya menjauh, tubuhnya direbahkan memanjang. Sophia menarik
selimut, menaungkan seluruh tubuhnya hingga tidak terlihat sedikitpun.
Perasaannya campur aduk, antara senang, sedih, bersalah, menyesal dan lainnya.
Jauh dilubuk hatinya yang paling dalam, sebenarnya Sophia sangat merindukan
Fani. Ingin sekali rasanya mengiyakan, bertemu dengan Fani, berpelukan bercanda
dan bersuka ria seperti sebelumnya. Namun ada gengsi yang menghalangi dirinya,
gengsi berlebihan yang menyebabkan dia memilih untuk menahan dirinya.
**
“
Hei.” Sophia melambaikan tangan kepada Fani. Senyumnya mekar sempurna, Sophia
benar-benar merindukan sahabatnya.
“
Haaiiii.” Balas Fani melambaikan tangan, senyumnya juga mekar sempurna.
Perlahan-lahan mereka saling melangkah mendekat, hingga pada titik temu. Fani
dengan pernuh semangat merengkuh tubuh Sophia, memeluknya sangat erat.
“
Kangen banget.” Lanjut Fani tersedu-sedu.
“
Iya gue juga kangen banget sama lo Fan. Maafin gue ya, maafin kesalahan yang
pernah gue perbuat. Gue terlalu naif, gue mengorbankan persahabatan kita hanya
karena seorang lelaki.” Sahut Sophia dipenuhi rasa bersalah. Sudah berurai air
mata, hingga membasahi bahu Fani.
“
Udah jangan bahas masalah itu lagi. Ini semua juga salah gue, harusnya gue gak
ngehianatin lo kayak gitu. Maafin gue ya Sop, maafin gue.” Fani semakin memeluk
Sophia erat. Dipinggir pantai, ditiup angin kencang, mereka berpelukan, saling
mengakui kesalahan dan merangkai kembali tali persahabatan.
“
Udah. Sekarang kita mulai dari awal. Persahabatan kita, semuanya. Gue pengen
kayak dulu lagi, gue mau kita sama tanpa ada yang berubah.” Fani melepaskan
pelukan, kemudian membimbing tangan Sophia untuk duduk dipepohonan.
“
Gue pengen kita senang-senang hari ini. Mulai dari hari ini, saat ini kita
kembali menjadi sahabat. Jangan pernah biarkan semuanya rusak seperti dulu,
hanya karena lelaki atau masalah lainnya. Gue pengen kita saling terbuka,
jangan pernah menutupi apapun dari gue begitupun sebaliknya. Gue sayang lo Sop,
lo sahabat terbaik gue. Maafin gue ya.” Fani menggenggam erat tangan Sophia,
berurai air mata. Benar-benar mengharukan. Akhirnya kedua sahabat ini bisa
saling memaafkan, saling melupakan kesalahan.
“
Gue juga minta maaf. Gue gak mau lagi hidup dibayang-bayangi rasa bersalah, gue
mau kita baikan lagi kayak dulu Fan. Maafin gue.” Sophia tidak bisa menahan
diri, air matanya juga berjatuhan dipipi. Pertemuan ini benar-benar membuatnya
terharu.
“
Janji?.” Sophia mengacungkan jari kelingking. Tersenyum manis, tapi matanya
sembab sembari menatap Fani dalam.
“
Janji? Janji apa?.” Tanya Fani kebingungan. Namun Fani juga tetap mengacungkan
jari kelingkingnya, melingkarkan pada kelingking Sophia meskipun belum tau apa
yang harus dijanjikannya.
“
Janji setelah ini kita gak akan pernah berkelahi lagi. Gak ada rahasia antara
kita. Kalau suka bilang kalau enggak suka bilang, harus saling jujur dan
terbuka. Janji? Setelah ini gue gak mau lagi ada perselisihan antara kita
berdua. Salam sahabat, sahabat selamanya.” Sophia memberi beberapa aturan,
kelingkingnya dengan erat melingkar.
“
Oke. Sahabat selamanya.” Sahut Fani sembari mengangguk mengiyakan. Sophia dan
Fani mengucapkan janji, akhirnya mereka kembali menjadi sahabat.
Sophia
dan Fani bersenda gurau, tertawa bersama, menikmati angin pantai, bermain-main seperti
sebelumnya. Tanpa ada rasa canggung, tanpa ada rasa malu, mereka berperilaku
seperti biasanya, seperti tidak pernah terjadi apa-apa antara mereka berdua.
Berlari kesana-kemari, tertawa riang gembira, hari ini Fani dan Sophia berasa
menjadi orang paling bahagia.
__ADS_1