Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Tidak Sengaja


__ADS_3

“ Eh maaf mbak, saya gak sengaja.” Lelaki yang ditabrak Fani sama sekali tidak mendapat efek. Mungkin karena badan Fani yang kecil dan kaget membuat dia terjatuh dilantai. Lelaki itu dengan sigap membantu Fani berdiri, meskipun dia tidak salah dalam hal ini.


“ Maaf mbak.” Lanjutnya meminta maaf sekali lagi. Lelaki itu mengangkat kedua pundaknya, sedangkan Fani masih sibuk meringis dan mengelus kakinya yang terpelingkuk tertimpa tubuhnya.


“ Gapapa bang, saya gapapa kok. Lain kali jalannya lihat-lihat dong bang, masa nabrak saya yang segede ini sih.” Ketusnya kesal. Fani tidak berhenti meringis, keningnya mengkerut kesal dan sakit. Malah menuduh orang menabrak, padahal dia yang tidak melihat jalan. Lagi-lagi dalam hal ini laki-laki yang salah, wanita yang selalu benar.


“ Maaf mbak. Tapi mbak yang nabrak saya.” Ucap lelaki itu tak terima jika dia disalahkan. Membantah dan mengatakan jika sebenarnya Fani yang salah.


Heh wanita. Bener-bener ya dia yang nabrak malah gue yang disalahin.


Fani berdiri tersandar didinding. Sebelah kakinya diangkat, masih meringis kesakitan. Keningnya semakin mengkerut, bibirnya semakin manyun. Kalau tidak memikirkan ini adalah tempat umum, sudah pasti Fani memarahi lelaki itu habis-habisan. Walaupun sebenarnya dia yang salah. Sedangkan lelaki itu masih berjongkok dilantai, mengumpulkan barang-barang Fani yang berserakan. Lama ditatapnya ponsel milik Fani, layarnya retak karena terlalu tinggi terhempas.


“ Hum layarnya retak mbak, maaf ya mbak. Nanti saya kasih biaya perbaikan.” Ucapnya sembari terus memutar-mutar dan melihat ponsel Fani yang ada digenggamannya.


“ Tuh kan. Ihh ngeselin banget sih lo. Udah nabrak gue, hp gue rusak. Ah sial banget ya gue ketemu lo.” Fani sudah tidak tahan lagi. Suaranya meninggi, wajahnya semakin ditekuk. Telunjuknya mencacar kearah lelaki yang masih sibuk menatap ponsel rusak itu.


“ Maaf mbak. Saya bakal ganti rugi kok walapun bukan saya yang salah.” Jawabnya kemudian mengambil tas milik Fani. Berbalik dan berdiri tepat dihadapan Fani.


“ Haaa!.” Fani menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Matanya membulat sempurna, jika tangannya dilepas mungkin teriaknya akan memenuhi seisi rumah makan atau bahkan terdengar hingga kejalanan.


“ Fani.” Respon yang sama dari lelaki yang tidak sengaja ditabrak oleh Fani. Tangannya ikut-ikutan menutup mulutnya, matanya pun membelalak sempurna. Sama-sama kaget dengan pertemuan yang tidak sengaja ini.


“ Fan, ini beneran Fani kan?.” Lelaki itu menggenggam erat kedua pundak Fani, sedangkan Fani masih terdiam tidak bergeming. Masih berjibaku dengan nafasnya yang memburu dan tubuhnya yang mendadak dingin kaku.


“ Fan, kamu kapan balik Jakarta?.” Sambungnya terus menggenggam kuat pundak Fani.


“ Kak Andry.” Suara Fani bergetar. Namun dia mencoba untuk mengatakan apa yang sudah memenuhi ruang mulutnya sejak tadi. Nafasnya memburu dan wajahnya mendadak pucat. Fani kaget seperti melihat setan.


“ Iya ini aku Fan.” Andry menepuk pelan pipi Fani, mengusap perlahan wajah yang mendadak pucat dingin itu.


“ Kamu kapan balik Jakarta? Fan, ngomong dong jangan diam aja.” Andry tidak bisa menahan kebahagiaannya. Sekalipun kemarin dia sudah bertekad untuk mengikhlaskan Fani dengan lelaki lain. Namun itu hanya sebatas pikiran dan khayalan saja. Nyatanya ketika bertemu semua luluh lantak, yang ada hanya rindu dan keinginan untuk menghabiskan waktu bersama.


“ Ta..ta..di kak.” Ucap Fani terbata-bata. Tatapannya kosong, tidak mampu menggerakkan bola matanya kearah lain. Hanya menatap lelaki yang ada dihadapannya ini, lelaki yang tadi dia sumpah serapahi dikemacetan.


Ternyata semakin aku menyumpah serapahi semakin semesta menunujukkan kejamnya melupakan. Kemarin-kemarin jika aku menyumpah serapahimu, yang ada hanya bertambahnya rasa rindu. Tapi hari ini, baru saja aku menyumpah serapahimu, semesta cemooh aku dengan mempertemukan kita.


“ Fan, akhirnya aku ketemu kamu disini. Beruntung aku sering datang ketempat-tempat favoritemu. Ternyata rencana semesta memang tidak bisa terbaca, benar-benar rahasia.” Mata Andry berbinar-binar menatap Fani, wanita yang sejak lama dia cari, wanita yang mengobrak-abrik perasaannya ratusan hari terakhir, wanita yang selalu nangkring dipikirannya, menggayang diisi kepalanya.


Andry tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Kemarin dia menghabiskan waktu berhari-hari hanya untuk meminta kejelasan dari hubungannya dengan Fani, kenapa Fani meninggalkannya dengan cara yang sadis. Inginnya kemarin memarahi Fani, membentak dan membuat Fani mengakui semua yang diperbuatnya. Namun semua itu hanya dalam angan saja, nyatanya setelah bertemu hanya ada rasa rindu yang menggebu-gebu dan bahagia yang tidak tertahankan.


“ Fan, kita duduk dulu ya. Ada yang ingin aku tanyakan sama kamu.” Andry dengan penuh semangat membantu Fani berjalan. Perlahan-lahan hingga sampai dipendopo belakang.

__ADS_1


“ Kamu udah makan? Aku pesenin makan ya.” Andry tampak kalang kabut, semua dia lakukan secara tergesa-gesa. Mungkin canggung karena sudah lama tidak bersua.


Andry meninggalkan Fani dipendopo, meminta Fani untuk meluruskan kakinya dan beristirahat. Fani hanya mengikuti, duduk diam dengan perasaan yang tidak tenang. Kaget bercampur senang. Namun juga ada rasa ketakutan, rasa deg-degan. Nafasnya tidak beraturan, masih belum hilang kaget ngelihat Andry dirumah sakit eh sekarang malah harus bertemu langsung dengan orangnya. Ini sih namanya double kill, sudah jatuh tertimpa tangga.


“ Aaaa apa karena aku menghindar darinya tadi makanya sekarang tuhan benar-benar buat aku bertemu dia. Aaa aku deg-degan.” Fani memegang dada dengan kedua tangannya. Terasa jelas detak jantung Fani tidak beraturan, kadang memburu kadang perlahan.


 “ Ya tuhan kenapa dia makin tampan sih.” Sambungnya beralih memuji Andry. Berbulan-bulan tidak bertemu ternyata Andry semakin tampan.


“ Ah tidak-tidak. Kenapa sih gue malah mikirnya kesana.” Ucapnya tersadar. Fani menggeleng-gelengkan kepalanya, seolah menepis pikiran-pikiran yang meyeleneh.


Fani ingin pergi dari tempat itu, berusaha untuk menghindari permbicaraan lebih jauh dengan Andry. Tidak ingin berbicara jauh apalagi sampai membuka cerita lama yang pedih baginya. Takutnya selain pedih yang dirasa, rasa-rasa yang masih mengambang nanti kembali berpegang teguh lagi padanya. Ujung-ujungnya semakin tersiksa, ingin menjauh tapi sayang ingin kembali takut tersakiti lagi, semuanya serba salah.


Baru saja Fani hendak beranjak pergi, namun digagalkan oleh Andry. Sosok lelaki yang menggayang dipikiran Fani tampak berjalan mendekat dengan sebotol air mineral dan sekantong plastic entah berisi apa, tidak terlihat.


“ Eh mau kemana? Duduk disini aja sambil nunggu makanannya datang.” Andry memegang pundak Fani dan menariknya untuk duduk kembali. Benar-benar tampak penuh kasih sayang tanpa rasa marah sedikitpun. Padahal kemarin tak tanggung-tanggung ingin memarahi Fani hingga dengan memaksanya untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


“ Sini aku lihat kaki kamu.” Andry meraih kaki Fani yang sakit. Memaksa siempunya untuk duduk bersandar dan melonjorkan tubuhnya. Andry memeriksa dengan hati-hati, tidak ingin membuat Fani semakin merasakan sakit.


“ Awwwwhh.” Fani meringis kesakitan ketika Andry  menyentuh bagian kakinya yang sakit.


“ Sorry, sorry. Ternyata memar karena ditimpuk badan kamu sendiri hehehehe.” Andry terkekeh geli sembari membantu memijat pelan sekeliling bagian yang memar.


“ Udah gapapa kok kak, aku gapapa.” Fani menarik kakinya hingga pegangan Andry terlepas. Benar-benar canggung dengan semua perlakuan Andry padanya. Sedangkan Andry tampak biasa saja, seolah tidak ada apa-apa, seperti mereka sedang baik-baik saja.


“ Huffhh ini memar begini apanya yang gapapa. Kamu tetap sama ya, masih ceroboh, masih gak sayang diri sendiri.” Lanjut Andry malah menceramahi Fani. Kemudian memijat kembali kaki Fani dengan manja.


“ Jangan kak.” Fani menolak, menarik kakinya agar tidak disentuh oleh Andry lagi.


Kau masih sama. Masih memanjakan aku seperti dulu, padahal aku bukan lagi siapa-siapamu. Tolong berhentilah, jangan tarik lagi aku kedalam hidupmu.


Fani terdiam menatap Andry yang memperlakukan dirinya dengan sangat baik. Padahal didalam hatinya menggerutu memaki Andry. Bisa-bisanya lelaki ini tidak merasa bersalah sama sekali, sudah mengkhianati lalu tidak tau diri. Wajahnya ditekuk kesal, mulutnya monyong kedepan, tidak suka dengan sentuhan yang diberikan oleh pacar orang. Andai mereka masih baik-baik saja, sudah pasti moment seperti ini yang paling menggugah jiwa, menyembur kebahagiaan. Atau bahkan mungkin sakit sedikit pasti dibesar-besarkan.


“ Permisi mbak mas.” Ucap pelayan rumah makan yang memecahkan keheningan antara dua insan ini.


“ Eh iya mbak.” Andry terperanjak kaget, mendadak berhenti memijat kaki mungil Fani.


Semua makanan sudah tertata rapi dimeja makan, Andry dan Fani duduk saling berhadapan. Setiap kali Fani menarik kaki bersila, Andry selalu memaksa untuk menyelonjorkan. Katanya agar kaki Fani merasa lebih baik, kalau ditekuk pasti semakin sakit. Hari ini, dipertemuan pertama mereka setelah berbulan-bulan, setelah  beberapa


ketidakjelasan mereka rasakan, akhirnya mereka kembali duduk berdua, saling bertatap muka meskipun rasa yang menyeruak antara mereka tidaklah sama. Yang satu sangat bahagia, sedangkan yang satunya terombang-ambing oleh rasa. Kadang bahagia, kadang merasa benci, kadang haru biru.


“ Makan yang banyak ya.” Andry meletakkan beberapa makanan dipiring Fani. Benar-benar memperlakukan Fani bak seorang putri.

__ADS_1


“ Ini semua kesukaan kamu kan, aku sengaja pesan. Pasti kamu kangen karena udah lama gak makan disini.” Lanjutnya sambil terus mengambil dan meletakkan makanan dipiring, terus menerus hingga hampir penuh.


“ Kak, udah kak,” Fani mencoba menghentikan Andry. Namun Andry tidak memperdulikan, dia melakukan apa yang ingin dia lakukan. Karena kerinduan yang mendalam, sayangnya yang menjulang yang membuat Andry tertunduk diam dan selalu ingin memperlakukan Fani dengan sangat baik.


“ Kak,” Fani kembali menghentikan Andry. Kali ini dia menahan tangan Andry yang bergayang dari piring kepiring, menggenggam dengan kuat dan menatap Andry dengan tatapan sedih. Entah apa yang sebenarnya dia rasakan, entah apa yang sebenarnya ingin dia katakan. Yang jelas mimic wajahnya mengatakan jika dia terharu dan sedih dengan perlakuan Andry yang tidak berubah sama sekali.


“ Hum,” Andry hanya bergumam, tangannya telah tertahan. Pandangannya pun seolah ditambat untuk terus menatap Fani yang ada dihadapannya.


“ Udah kok udah cukup. Ini kebanyaka malahan.” Ucap Fani dengan mata berkaca-kaca, padahal hanya mengatakan sudah saja membuatnya sampai bersedih hati.


“ Oke. Kalau begitu makan lah, makan yang banyak dan jangan sampai ada yang tersisa.” Ucapnya sembari tersenyum. Fani hanya mengangguk mengiyakan dan melepaskan genggaman tangannya. Kemudian perlahan mulai menyantap makanan yang membumbung dipiringnya.


“ Anak manis, makan yang banyak.” Ucap Andry dengan manja, kemudian tangannya menggelayut dikepala Fani. Mengelus rambut Fani dengan manja dan penuh kasih sayang. Lagi-lagi Fani terdiam menerima perlakuan Andry, jantungnya yang semula sudah berdetak normal kembali tidak beraturan. Makanan yang masuk kedalam mulutnya seolah ingin dikeluarkan, perutnya mual menahan goncangan-goncangan perasaan yang sudah memiliki tuan. Ingin berbalik kepada pemilik sesungguhnya?.


Andry terus tersenyum menatap Fani yang makan dengan perlahan, padahal wanita yang ada dihadapannya bisa disebut sedang gugup akut. Cinta benar-benar memabukkan, membuat semua kesalahan terlupakan, padahal ada yang sama sekali tidak bisa dimaafkan. Meskipun belum jelas statusnya, belum tau pasti apa alasannya, belum mendapat kejelasan, Andry tetap bahagia bahkan sangat bahagia bisa bertatap muka dengan wanita yang menjadi cinta pertamanya. Hei padahal wanita yang kau tatap penuh cinta ini bukan milikmu lagi, sudah milik orang lain dan kau sudah melihatnya sendiri dengan mata kepala mu wahai manusia yang gila cinta.


 


Drtttt….. drrtttt…


Dering ponsel Fani mencairkan suasana yang emncekam baginya, akhirnya dia bisa lepas dari tatapan Andry yang membuatnya merasa tidak nyaman. Fani bergegas mengangkat telepon, berjalan pelan dengan kaki yang diseret.


“ Hallo,” Fani menjawab dengan suara yang pelan, tidak ingin Andry mendengarkan obrolannya.


“ Hallo sayang, kamu dimana? Kenapa berisik banget sih?.” Sahut Endrico dari dalam telepon. Pantas saja Fani tidak ingin Andry mendengar, ternyata sedikit banyaknya dia juga masih menjaga perasaan lelaki yang sudah dianggap mantan olehnya.


“ Iya aku lagi ditempat makan, baru aja mau makan kamu udah telfon.” Ucapnya dengan nada datar, mengekspresikan diri jika dia sedang tidak enak hati, sedang merajuk sebab Endrico sudah berhari-hari tidak mengabari.


“ Oh gimana kabar nenek? Kamu gimana? Baik-baik aja kan?.” Tanya Endrico sama sekali tidak merasa bersalah, padahal Fani sudah semaksimal mungkin menunjukkan jika dirinya sedang marah.


“ Hem, baik.” Jawabnya singkat. Duduk bersama Andry tidak nyaman, tapi berbicara dengan Endrico semakin membuatnya kesal.


“ Yaudah kamu makan dulu ya, nanti kabari lagi oke bye.” Endrico mengakhiri obrolan, benar-benar tidak merasa bersalah atas ketidakmunculannya selama berhari-hari.


“ Ihh, kamuu..” Fani menggeram kesal. Tangannya sudah mengepal keras dan meninju angin yang lewat. Harusnya Endrico membujuknya dan memberi penjelasan kemana dia beberapa hari ini.


“ Arrggghhh Endrico !.” Fani semakin kesal ketika Endrico menutup panggilan, bahkan dia belum sempat menyelesaikan pembicaraan.


“ Aaaa dasar lelaki menyebalkan.” Ketusnya kesal. Fani mendongak menatap langit-langit dan meringis menangis.


Sementara Andry hanya terdiam, diam-diam menguping pembicaraan Fani dengan lelaki yang ternyata adalah kekasih barunya. Seolah ingin memberi hadiah untuk hatinya, semua dugaannya benar. Ternyata perasaan Fani sudah berpindah tuan, sudah milik orang. Dan yang paling menyesakkan adalah lelaki yang menjadi pacar Fani saat ini adalah Endrico, lelaki yang dulu dia wanti-wanti mendekati Fani, lelaki yang dulu dia cemburui, ternyata benar menjadi kekasih Fani.

__ADS_1


Hei Andry. Kenapa kau tenggelam bodoh karena cinta, padahal kau sudah lihat dengan mata kepalamu kemarin saat dibandara. Wanita yang masih kau kagumi sudah milik orang lain, sudah berpunya, sudah bukan lagi milikmu walau hanya sejengkal saja. Sudah lah mengalah lah, yang kau lihat kemarin benar adanya, hatimu tidak salah. Kau sudah dapat jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan besar, kau sudah dapat kepastian untuk hubunganmu yang sejak lama sudah karam.


__ADS_2