
Setelah bersusah payah meyakinkan Andry jika Fani
benar-benar akan kembali lagi bersamanya, akhirnya Andry mengerti juga.
Meskipun ada beberapa persyaratan yang diberikannya, tidak masalah, dengan
senang hati Fani menerimanya.
“ Terimakasih ya sayang.” Andry merengkuh Fani
kedalam pelukannya, seperti sebelumnya Andry sangat manja dengan wanita yang
disebutnya kekasih ini.
“ Iya kak.” Fani membalas pelukannya, saling
tersenyum bahagia. Padahal dalam hati Fani berkecamuk memikirkan tentang
Endrico yang harus segera ditinggalkannya.
Aku
saja bingung dengan perasaanku, padahal aku mencintai Andry tapi aku gak rela
harus ningglin Endi. Jadi akhirnya aku yang berkelahi dengan batin. Kepala
ingin yang ini tapi hati ingin yang ini, gak pernah kerja sama dengan baik.
Sudah hampir sore, sudah cukup lama Fani dan Andry
bermesraan dibangku taman. Sekian bulan terpisah akhirnya Andry bisa meminta
ganti rugi untuk rindunya. Meminta hak untuk pelukan dan kasih sayang yang sudah
lama tidak dia dapatkan. Andry sangat senang, begitupun dengan Fani. Walaupun
ada sedikit kecamuk hati, tidak terlalu berarti.
“ Gruukkkk,… grukkkk..” Perut Fani berbunyi disaat
yang tidak tepat. Saat mereka sedang asyik berpelukan, menatap danau kecil
ditaman. Ah mengganggu saja.
“ Eih kamu lapar ya.” Andry tertawa mengejek Fani.
Kemudian menatap jam yang melingkar dipergelangan tangannya, sudah hampir pukul
3 sore. Wajar saja Fani kelaparan.
“ Astaga, lelaki macam apa aku ini. Bawa anak gadis
orang tapi lupa kasih makan hehehehe.” Lanjut Andry semakin terkekeh,
bisa-bisanya dia lupa mengajak makan Fani.
“ Ayuk kita makan, maafkan aku sayangku.” Ucapnya
kembali terkekeh.
**
Sophia tengah sibuk menyiapkan barang-barangnya.
Rencananya dia akan menghabiskan libur semesternya dengan mengunjungi beberapa
Negara bersama teman-temannya. Sudah sejak lama rencana ini dia buat, hanya
saja karena alasan terlalu kecil orang tua Sophia melarangnya. Namun saat ini
dia sudah mendapatkan izin, Sophia akan menjelajah beberapa Negara yang paling
dikaguminya.
“ Ahhh akhirnya aku akan berlibur juga.” Gumam
Sophia lega sembari menutup kopernya.
“ Ya meskipun akhirnya Cuma pergi bertiga.”
lanjutnya.
Sophia meraih ponselnya, ingin menghubungi kedua
temannya yang lain. Tapi malah meleset jadi melihat-lihat story, dan akhirnya
sore ini dia mendapat kejutan dari Andry.
“ Hah?.” Sophia terperanjak duduk. Mulutnya
ternganga melihat siapa sosok yang tengah bersama Andry.
“ Fani?.” Sophia kembali berteriak kaget. Tangannya
mengucek-ucek matanya, mana tau salah lihat.
“ Apa? Ini tidak mungkin! Tidak mungkin mereka
baik-baik saja.” Sophia semakin tidak terima, berusaha meyakinkan dirinya agar
tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“ Bagaimana bisa? Ini gak mungkin. Gak mungkin.” Teriaknya
frustasi, Sophia menjambak rambutnya sendiri.
“ Ini pasti foto lama, pasti foto lamaa.” Teriak
Sophia semakin menjadi-jadi, semakin frustasi.
Sophia berusaha mencari informasi, apa benar Fani
sedang berada di Jakarta saat ini atau tidak. Meskipun pikirannya memaksa untuk
yakin jika itu adalah foto lama, namun batinnya tidak ingin. Harus ada bukti
dulu baru percaya.
“ Pada siapa aku harus bertanya? Arrgghhhhhh.”
Sophia melempar ponselnya kesudut ranjang. Harusnya dia senang karena akan
liburan besok, tapi ada-ada saja yang merusak moodnya.
“ Arrrgghhhhhhhhhhh kenapa sih aku gak pernah
menang? Padahal aku korbannya sejak awal.” Tanya Sophia pada seluruh penghuni
kamarnya. Katanya dia adalah korban sejak awal, mungkin iya, sebab orang-orang
yang angkuh tidak pernah menyalahkan diri sendiri.
**
Andry berjalan perlahan mendekati Fani yang duduk
dengan beberapa menu yang sudah terhidang dimeja makan. Lama sekali dia pergi,
mungkin sudah puluhan kali pula perut Fani berteriak ingin makan. Dari kejauhan
terlihat Fani tengah duduk menunggu sembari memainkan ponselnya, wajahnya
ditekuk masam. Mungkin karena dia sudah
sangat lapar tapi harus tetap menuggu Andry kembali, katanya sih pergi ke
toilet.
“ Selamat ulang tahun.” Tiba-tiba Andry muncul dari
belakang Fani, memeluk dari belakang dengan sebuah kue kecil lengkap dengan
lilin yang menyala ditangannya.
Fani kaget bukan main, awalnya berpikir siapa yang
ulang tahun. Dirinya? Rasanya tidak mungkin karena sudah lewat beberapa bulan.
“ Hah siapa yang ulang tahun?.” Tanya Fani dengan
polosnya.
“ Kamu dong sayang, selamat ulang tahun yang
__ADS_1
terlambat ya.” Andry semakin mengeratkan pelukannya.
“ Sekarang berdo’a dan tiup lilinya.” Lanjut Andry.
Fani hanya mengangguk dan mengikuti perintah Andry, memejamkan matanya berdoa
dan kemudian meniup lilinnya.
“ Terimakasih kak.” Ucap Fani penuh haru. Ternyata
Andry masih mengingat ulang tahunnya, meskipun sudah terlambat bahkan sangat
terlambat, Andry masih tetap ingin merayakannya.
“ Kak? Kok kak sih? Sayang dong.” Andry terkekeh.
“ Masa karena udah dapat yang baru jadi lupa caranya
panggil sayang sama aku.” Andry terus menggoda Fani.
“ Ih apasih.” Fani membuang pandang, wajahnya merah
merona menahan malu dan bahagia. Jika tidak ditempat umum sudah pasti Fani
menghambur memeluk lelaki misterius yang kadang romantic kadang sinis ini.
“ Sekarang makan kuenya.” Andry duduk dihadapan
Fani. Meminta wanita yang dalam seminggu akan resmi menjadi kekasihnya itu
untuk memotong cake mini miliknya itu.
“ Maaf kalau aku telat ngucapinnya ya, soalnya kamu
baru muncul kepermukaan bumi. Kemarin ketelan kayaknya.” Andry tertawa
terbahak-bahak. Menjahili Fani adalah hobinya.
“ Sejak aku tinggal sudah jadi banyak bicara ya.
Sudah pandai pula bercanda.” Sahut Fani dengan wajah datar, sebenarnya ini bisa
disebut sindiran.
“ Lah kok baru sadar. Kemarin-kemarin kemana aja?.”
Andry tidak mau kalah.
“ Kemarin buat ngomong aja mikir dulu, dihitung
berapa kata yang akan diluncurkan. Kalau kebanyakan pasti kembali
diperhitungkan sampai benar-benar tepat. Dasar tidak ingin rugi air liur.” Fani
menjulurkan lidahnya mengejek Andry. Memang benar sih, awalnya Andry adalah
lelaki yang pendiam. Bahkan rumor disekolah mengatakan jika Andry adalah lelaki
sombong, jarang ngomong. Tapi jika dilihat kenyataannya hari ini, ingin sekali
rasanya menoyor kepala orang yang menyebarkan rumor hoax itu. jelas-jelas Andry
adalah pria pecicilan yang banyak omong, sekarang sih.
“ Sudah berapa umurmu?.” Tanya Andry mengalihkan
pembicaraan.
“ 16.”
“ Nanti diumur 17 aku akan menikahimu.” Ucap Andry
tiba-tiba tanpa tawa tanpa canda.
Fani terbelalak, seolah tidak percaya dengan apa
yang baru saja didengarnya. Andry akan menikahinya? Ha? Yang benar saja.
“ Ha?.” Fani mengerutkan keningnya, tangannya
menggelayut dan memeriksa suhu tubuh Andry, barang kali dia sakit atau kesamet
setan toilet.
lamar dan nikahin kamu.” Ucap Andry dengan santai tanpa ragu-ragu.
Fani masih tidak percaya. Tangannya dipaksa menampar
pipinya agar dia segera sadar dari mimpinya.
“ Awwww.” Fani terperanjak kaget ketika Andry
mencubit kuat lengannya. Kuat sekali hingga dia merasakan sakit.
“ Awwww.” Teriaknya makin menjadi. Fani menatap
Andry dengan wajah kesal, ingin marah rasanya.
“ Udah sadar kan? Gak mimpi kan?.” Ucap Andry sangat
santai. Alisnya turun naik sembari tersenyum menatap Fani yang masih
kebingungan.
“ Menikah? Umur 17? Ha gimana? Gimana? Ini lagi
mimpi kan?.” Fani meluncurkan banyak pertanyaan untuk dirinya sendiri. Apa ini?
Maksudnya Andry sudah meng-keep dirinya dari sekarang?.
“ Iya Fani Almaera. Aku akan menikahimu nanti kalau
umurmu sudah 17 tahun. Tepatnya setelah kamu menyelesaikan sekolah menengah
atas. Apa kamu paham sampai disini?.” Andry berbicara perlahan-lahan,
menjelaskan dengan sangat jelas maksud dari perkatannya.
“….” Fani menggeleng mengatakan jika dia masih belum
paham, tepatnya tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
“ Dasar telmi.” Sudah mulai kesal, Andry menoyor
kepala Fani hingga oleng kebelakang. Sudah dijelaskan sejelas-jelasnya, masih
kurang jelas? Ah mati saja.
“ Beneran ga paham. Kak Andry mau ajak aku nikah?.”
Tanya Fani dengan polosnya, padahal Andry sudah menjelaskan sejelas-jelasnya.
“ Iyaaa letey.” Andry kembali menoyor kepala Fani.
“ Aaaaa apa ini maksudnya? Aku beneran bingung.”
Fani memijat keningnya pusing.
“ Iya aku melamarmu, aku akan menikahimu nanti
setahun lagi. Sudah jangan tanya lagi, sekarang makan dan aku akan
mengantarkanmu pulang.” Ucap Andry kemudian dengan lahapnya dia makan.
Mengabaikan Fani yang masih kebingungan, entah apa lagi ini.
Fani masih dengan pikirannya yang berkecamuk,
nafasnya hanya tinggal satu-persatu. Andry ingin menikahinya tahun depan?
Ucapan Andry seolah membombardir isi tubuh Fani, panas dingin. Tangannya saling
memilin, bibirnya bergetar hebat. Kaget bukan main. Belum selesai masalah satu
udah datang lagi masalah lain. Belum bisa mikir alasan buat putusin Endi malah
udah datang lamaran Andry.
Ya
tuhan? Ini nikmat apa cobaan? Aku belum bisa menuntaskan yang satu udah datang
lagi masalah yang baru. Ambil saja nyawaku tuhan. Aku bingung.
__ADS_1
Andry menatap Fani lama, gadis itu hanya
mengaduk-aduk makanannya saja. Tatapannya kosong, mungkin masih memikirkan
tentang apa yang baru saja dia katakan.
Hehehehe
tadi nafasnya menderu-deru waktu aku ajak balikan, sekarang nafasnya tinggal
satu persatu saat aku lamar. Menggemaskan. Nikmatilah sesaknya, nanti juga
bakal bahagia.
“ Buka mulut, aaaaa.” Andry menyodorkan sesendok
makanan dihadapan Fani. Meminta untuk membuka mulut dan melahap makanan yang
dia berikan.
“ Buka mulutnya.” Andry memaksa. Fani membuka mulut
dan melahap kasar makanan yang disuapkan Andry. Pandangannya masih tetap fokus
pada sendok dan garpu yang saling beradu, berdenting.
“ Makan dong. Abis ini aku ajak beli ice cream.” Tawar
Andry. Mengkhawatirkan juga setelah melihat Fani terlalu lama melamun. Namun
tidak begitu menarik bagi Fani, dia masih diam, mengunyah makanan yang ada
dimulutnya.
“ Makan dulu beby. Abis ini kita belanja ya.” Tawar
Andry. Namun lagi-lagi Fani tidak bergeming, masih sibuk dengan isi kepalanya
yang menggebu-gebu.
“ Makan yaa. Abis ini aku ajak ketemu bunda dan yang
lainnya.” Tawar Andry terakhir kalinya. Namun siapa sangka tawaran bertemu
bunda berhasil membuat Fani sadar dari lamunannya.
“ Hem iya iya.” Jawab Fani penuh semangat. Matanya
membulat sempurna, senyumnya mekar dan tangannya saling bertepuk pelan. Senang
seolah mendapat mainan yang dia inginkan.
**
“ Oh iya, ini apaan sih kak?.” Fani meraih kotak
kecil yang diberikan Andry tadi dari dalam tas mininya. Masih belum sempat
membuka dan melihat isinya, padahal dia sudah penasaran sejak tadi.
“ Hem buka aja. Kan itu milik kamu sekarang.” Jawab
Andry santai. Pandangannya hanya fokus menatap jalanan, membiarkan Fani sibuk
dengan kotak kecil yang baru saja dia beli untuk Fani kemarin.
Fani membuka kotak itu perlahan, melihat sebuah
gelang didalamnya.
“ Ha gelang?.” Ucap Fani. Tangannya mengambil benda
kecil yang meringkuk-ringkuk didalam kotak kecil tersebut.
“ Iya. Selamat ulang tahun ya.” Andry menarik pelan
kepala Fani, kemudian mengelus rambutnya dengan penuh kasih sayang.
“ Kenapa sih suka banget kasih hadiah-hadiah gini?.”
Fani mengambil gelang dan melingkarkan dipergelangan tangannya. Sebelumnya dia
telah menerima cincin dan kalung, lalu hari ini dia menerima gelang. Apa Andry
ingin Fani menjadi toko emas berjalan?.
“ Karena kamu yang aku sayang hahahahhaa.” Andry
mulai lagi, menggoda Fani hingga wajahnya memerah malu.
“ Ih apasih, dari tadi godain mulul.” Ucap Fani
tersipu malu. Wajahnya makin tidak terkondisikan, tersenyum linyum sambil terus
menatap gelang baru yang lucu.
“ Terimakasih ya.” Fani memanyunkan bibirnya,
matanya tertutup seolah-olah ingin mencium Andry yang ada dihadapannya.
“ Eih ingin menggoda ya? Berani-beraninya menantang
singa jantan. Sudah tidak sabar ya? Baiklaahhhh.” Andry membalas menggoda Fani.
Tiba-tiba mobilnya berbelok dan berhenti dipinggir jalan.
“ Ha? Kenapa berhenti sih?.” Tanya Fani tersontak
ketika mobil mendadak berhenti. Matanya terbuka dan menatap wajah Andry yang
sudah berubah, seperti penjahat yang senang karena mendapatkan korban.
“ Aaaaa kak Andry kenapa sih? Jangan macam-macam
yaaa.” Teriak Fani menarik tubuhnya menjauh dari Andry. Kedua tangannya
menyilang didada, berusaha melindungi asset yang dimilikinya.
Andry terus saja tersenyum jahat, menggigit bibir
wajahnya hingga membuatnya seolah-olah sedang tergoda dengan gadis yang ada
didekatnya. Hanya ada mereka berdua didalam mobil, jalanan pun tidak terlalu
ramai. Fani bergetar ketakutan, dikepalanya bergelayut pikiran-pikiran kotor
yang mengasumsikan bahwa Andry akan melecehkannya ditempat ini.
“ Aaaaaaaaaa,, ibuuuuuu.” Teriak Fani semakin
kencang, memenuhi seisi mobil, memekakkan telinga Andry yang berada didekatnya.
“ Jangan. Jangan sentuh aku, aaaaa jangannn.” Fani
terus berteriak. Tangannya semakin erat melindungi tubuhnya. Sementara Andry
masih sama, masih dengan wajah mesumnya.
“ Jangan kak, jangan. Aaaa ibu ayah tolong aku.”
Fani berurai air mata ketika Andry sudah mulai menyentuhnya, ya meski hanya
menyentuh tangan saja.
“ Jangan, jangan lakukan itu. Aku masih kecilll..”
Fani menangis, matanya ditutup kuat. Fani tidak ingin lagi melihat wajah mesum
Andry, tidak pernah menduga jika Andry akan melakukan hal serendah ini.
“ Aaaaaaaaaaaaa.” Teriak Fani ketika merasa Andry
memegang kedua bahunya, mencekam. Bahkan deru nafas Andry bisa terdengar oleh
Fani, hangatnya nafas Andry bisa terasa oleh Fani. Mereka benar-benar dekat
sekali.
“ Aaaaaaaaaa ibuuu.” Terus berteriak hingga gendang
telinga Andry hampir pecah. Kemudian Andry dengan pelan penuh kelembutan
membelai pipi Fani, membuat bulu roma
__ADS_1
merinding. Hingga tiba-tiba Andry membekap mulut Fani dengan tangannya.