Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Late Birthday


__ADS_3

Setelah bersusah payah meyakinkan Andry jika Fani


benar-benar akan kembali lagi bersamanya, akhirnya Andry mengerti juga.


Meskipun ada beberapa persyaratan yang diberikannya, tidak masalah, dengan


senang hati Fani menerimanya.


“ Terimakasih ya sayang.” Andry merengkuh Fani


kedalam pelukannya, seperti sebelumnya Andry sangat manja dengan wanita yang


disebutnya kekasih ini.


“ Iya kak.” Fani membalas pelukannya, saling


tersenyum bahagia. Padahal dalam hati Fani berkecamuk memikirkan tentang


Endrico yang harus segera ditinggalkannya.


Aku


saja bingung dengan perasaanku, padahal aku mencintai Andry tapi aku gak rela


harus ningglin Endi. Jadi akhirnya aku yang berkelahi dengan batin. Kepala


ingin yang ini tapi hati ingin yang ini, gak pernah kerja sama dengan baik.


Sudah hampir sore, sudah cukup lama Fani dan Andry


bermesraan dibangku taman. Sekian bulan terpisah akhirnya Andry bisa meminta


ganti rugi untuk rindunya. Meminta hak untuk pelukan dan kasih sayang yang sudah


lama tidak dia dapatkan. Andry sangat senang, begitupun dengan Fani. Walaupun


ada sedikit kecamuk hati, tidak terlalu berarti.


“ Gruukkkk,… grukkkk..” Perut Fani berbunyi disaat


yang tidak tepat. Saat mereka sedang asyik berpelukan, menatap danau kecil


ditaman. Ah mengganggu saja.


“ Eih kamu lapar ya.” Andry tertawa mengejek Fani.


Kemudian menatap jam yang melingkar dipergelangan tangannya, sudah hampir pukul


3 sore. Wajar saja Fani kelaparan.


“ Astaga, lelaki macam apa aku ini. Bawa anak gadis


orang tapi lupa kasih makan hehehehe.” Lanjut Andry semakin terkekeh,


bisa-bisanya dia lupa mengajak makan Fani.


“ Ayuk kita makan, maafkan aku sayangku.” Ucapnya


kembali terkekeh.


**


Sophia tengah sibuk menyiapkan barang-barangnya.


Rencananya dia akan menghabiskan libur semesternya dengan mengunjungi beberapa


Negara bersama teman-temannya. Sudah sejak lama rencana ini dia buat, hanya


saja karena alasan terlalu kecil orang tua Sophia melarangnya. Namun saat ini


dia sudah mendapatkan izin, Sophia akan menjelajah beberapa Negara yang paling


dikaguminya.


“ Ahhh akhirnya aku akan berlibur juga.” Gumam


Sophia lega sembari menutup kopernya.


“ Ya meskipun akhirnya Cuma pergi bertiga.”


lanjutnya.


Sophia meraih ponselnya, ingin menghubungi kedua


temannya yang lain. Tapi malah meleset jadi melihat-lihat story, dan akhirnya


sore ini dia mendapat kejutan dari Andry.


“ Hah?.” Sophia terperanjak duduk. Mulutnya


ternganga melihat siapa sosok yang tengah bersama Andry.


“ Fani?.” Sophia kembali berteriak kaget. Tangannya


mengucek-ucek matanya, mana tau salah lihat.


“ Apa? Ini tidak mungkin! Tidak mungkin mereka


baik-baik saja.” Sophia semakin tidak terima, berusaha meyakinkan dirinya agar


tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


“ Bagaimana bisa? Ini gak mungkin. Gak mungkin.” Teriaknya


frustasi, Sophia menjambak rambutnya sendiri.


“ Ini pasti foto lama, pasti foto lamaa.” Teriak


Sophia semakin menjadi-jadi, semakin frustasi.


Sophia berusaha mencari informasi, apa benar Fani


sedang berada di Jakarta saat ini atau tidak. Meskipun pikirannya memaksa untuk


yakin jika itu adalah foto lama, namun batinnya tidak ingin. Harus ada bukti


dulu baru percaya.


“ Pada siapa aku harus bertanya? Arrgghhhhhh.”


Sophia melempar ponselnya kesudut ranjang. Harusnya dia senang karena akan


liburan besok, tapi ada-ada saja yang merusak moodnya.


“ Arrrgghhhhhhhhhhh kenapa sih aku gak pernah


menang? Padahal aku korbannya sejak awal.” Tanya Sophia pada seluruh penghuni


kamarnya. Katanya dia adalah korban sejak awal, mungkin iya, sebab orang-orang


yang angkuh tidak pernah menyalahkan diri sendiri.


**


Andry berjalan perlahan mendekati Fani yang duduk


dengan beberapa menu yang sudah terhidang dimeja makan. Lama sekali dia pergi,


mungkin sudah puluhan kali pula perut Fani berteriak ingin makan. Dari kejauhan


terlihat Fani tengah duduk menunggu sembari memainkan ponselnya, wajahnya


ditekuk masam. Mungkin  karena dia sudah


sangat lapar tapi harus tetap menuggu Andry kembali, katanya sih pergi ke


toilet.


“ Selamat ulang tahun.” Tiba-tiba Andry muncul dari


belakang Fani, memeluk dari belakang dengan sebuah kue kecil lengkap dengan


lilin yang menyala ditangannya.


Fani kaget bukan main, awalnya berpikir siapa yang


ulang tahun. Dirinya? Rasanya tidak mungkin karena sudah lewat beberapa bulan.


“ Hah siapa yang ulang tahun?.” Tanya Fani dengan


polosnya.


“ Kamu dong sayang, selamat ulang tahun yang

__ADS_1


terlambat ya.” Andry semakin mengeratkan pelukannya.


“ Sekarang berdo’a dan tiup lilinya.” Lanjut Andry.


Fani hanya mengangguk dan mengikuti perintah Andry, memejamkan matanya berdoa


dan kemudian meniup lilinnya.


“ Terimakasih kak.” Ucap Fani penuh haru. Ternyata


Andry masih mengingat ulang tahunnya, meskipun sudah terlambat bahkan sangat


terlambat, Andry masih tetap ingin merayakannya.


“ Kak? Kok kak sih? Sayang dong.” Andry terkekeh.


“ Masa karena udah dapat yang baru jadi lupa caranya


panggil sayang sama aku.” Andry terus menggoda Fani.


“ Ih apasih.” Fani membuang pandang, wajahnya merah


merona menahan malu dan bahagia. Jika tidak ditempat umum sudah pasti Fani


menghambur memeluk lelaki misterius yang kadang romantic kadang sinis ini.


“ Sekarang makan kuenya.” Andry duduk dihadapan


Fani. Meminta wanita yang dalam seminggu akan resmi menjadi kekasihnya itu


untuk memotong cake mini miliknya itu.


“ Maaf kalau aku telat ngucapinnya ya, soalnya kamu


baru muncul kepermukaan bumi. Kemarin ketelan kayaknya.” Andry tertawa


terbahak-bahak. Menjahili Fani adalah hobinya.


“ Sejak aku tinggal sudah jadi banyak bicara ya.


Sudah pandai pula bercanda.” Sahut Fani dengan wajah datar, sebenarnya ini bisa


disebut sindiran.


“ Lah kok baru sadar. Kemarin-kemarin kemana aja?.”


Andry tidak mau kalah.


“ Kemarin buat ngomong aja mikir dulu, dihitung


berapa kata yang akan diluncurkan. Kalau kebanyakan pasti kembali


diperhitungkan sampai benar-benar tepat. Dasar tidak ingin rugi air liur.” Fani


menjulurkan lidahnya mengejek Andry. Memang benar sih, awalnya Andry adalah


lelaki yang pendiam. Bahkan rumor disekolah mengatakan jika Andry adalah lelaki


sombong, jarang ngomong. Tapi jika dilihat kenyataannya hari ini, ingin sekali


rasanya menoyor kepala orang yang menyebarkan rumor hoax itu. jelas-jelas Andry


adalah pria pecicilan yang banyak omong, sekarang sih.


“ Sudah berapa umurmu?.” Tanya Andry mengalihkan


pembicaraan.


“ 16.”


“ Nanti diumur 17 aku akan menikahimu.” Ucap Andry


tiba-tiba tanpa tawa tanpa canda.


Fani terbelalak, seolah tidak percaya dengan apa


yang baru saja didengarnya. Andry akan menikahinya? Ha? Yang benar saja.


“ Ha?.” Fani mengerutkan keningnya, tangannya


menggelayut dan memeriksa suhu tubuh Andry, barang kali dia sakit atau kesamet


setan toilet.


lamar dan nikahin kamu.” Ucap Andry dengan santai tanpa ragu-ragu.


Fani masih tidak percaya. Tangannya dipaksa menampar


pipinya agar dia segera sadar dari mimpinya.


“ Awwww.” Fani terperanjak kaget ketika Andry


mencubit kuat lengannya. Kuat sekali hingga dia merasakan sakit.


“ Awwww.” Teriaknya makin menjadi. Fani menatap


Andry dengan wajah kesal, ingin marah rasanya.


“ Udah sadar kan? Gak mimpi kan?.” Ucap Andry sangat


santai. Alisnya turun naik sembari tersenyum menatap Fani yang masih


kebingungan.


“ Menikah? Umur 17? Ha gimana? Gimana? Ini lagi


mimpi kan?.” Fani meluncurkan banyak pertanyaan untuk dirinya sendiri. Apa ini?


Maksudnya Andry sudah meng-keep dirinya dari sekarang?.


“ Iya Fani Almaera. Aku akan menikahimu nanti kalau


umurmu sudah 17 tahun. Tepatnya setelah kamu menyelesaikan sekolah menengah


atas. Apa kamu paham sampai disini?.” Andry berbicara perlahan-lahan,


menjelaskan dengan sangat jelas maksud dari perkatannya.


“….” Fani menggeleng mengatakan jika dia masih belum


paham, tepatnya tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


“ Dasar telmi.” Sudah mulai kesal, Andry menoyor


kepala Fani hingga oleng kebelakang. Sudah dijelaskan sejelas-jelasnya, masih


kurang jelas? Ah mati saja.


“ Beneran ga paham. Kak Andry mau ajak aku nikah?.”


Tanya Fani dengan polosnya, padahal Andry sudah menjelaskan sejelas-jelasnya.


“ Iyaaa letey.” Andry kembali menoyor kepala Fani.


“ Aaaaa apa ini maksudnya? Aku beneran bingung.”


Fani memijat keningnya pusing.


“ Iya aku melamarmu, aku akan menikahimu nanti


setahun lagi. Sudah jangan tanya lagi, sekarang makan dan aku akan


mengantarkanmu pulang.” Ucap Andry kemudian dengan lahapnya dia makan.


Mengabaikan Fani yang masih kebingungan, entah apa lagi ini.


Fani masih dengan pikirannya yang berkecamuk,


nafasnya hanya tinggal satu-persatu. Andry ingin menikahinya tahun depan?


Ucapan Andry seolah membombardir isi tubuh Fani, panas dingin. Tangannya saling


memilin, bibirnya bergetar hebat. Kaget bukan main. Belum selesai masalah satu


udah datang lagi masalah lain. Belum bisa mikir alasan buat putusin Endi malah


udah datang lamaran Andry.


Ya


tuhan? Ini nikmat apa cobaan? Aku belum bisa menuntaskan yang satu udah datang


lagi masalah yang baru. Ambil saja nyawaku tuhan. Aku bingung.

__ADS_1


Andry menatap Fani lama, gadis itu hanya


mengaduk-aduk makanannya saja. Tatapannya kosong, mungkin masih memikirkan


tentang apa yang baru saja dia katakan.


Hehehehe


tadi nafasnya menderu-deru waktu aku ajak balikan, sekarang nafasnya tinggal


satu persatu saat aku lamar. Menggemaskan. Nikmatilah sesaknya, nanti juga


bakal bahagia.


“ Buka mulut, aaaaa.” Andry menyodorkan sesendok


makanan dihadapan Fani. Meminta untuk membuka mulut dan melahap makanan yang


dia berikan.


“ Buka mulutnya.” Andry memaksa. Fani membuka mulut


dan melahap kasar makanan yang disuapkan Andry. Pandangannya masih tetap fokus


pada sendok dan garpu yang saling beradu, berdenting.


“ Makan dong. Abis ini aku ajak beli ice cream.” Tawar


Andry. Mengkhawatirkan juga setelah melihat Fani terlalu lama melamun. Namun


tidak begitu menarik bagi Fani, dia masih diam, mengunyah makanan yang ada


dimulutnya.


“ Makan dulu beby. Abis ini kita belanja ya.” Tawar


Andry. Namun lagi-lagi Fani tidak bergeming, masih sibuk dengan isi kepalanya


yang menggebu-gebu.


“ Makan yaa. Abis ini aku ajak ketemu bunda dan yang


lainnya.” Tawar Andry terakhir kalinya. Namun siapa sangka tawaran bertemu


bunda berhasil membuat Fani sadar dari lamunannya.


“ Hem iya iya.” Jawab Fani penuh semangat. Matanya


membulat sempurna, senyumnya mekar dan tangannya saling bertepuk pelan. Senang


seolah mendapat mainan yang dia inginkan.


**


“ Oh iya, ini apaan sih kak?.” Fani meraih kotak


kecil yang diberikan Andry tadi dari dalam tas mininya. Masih belum sempat


membuka dan melihat isinya, padahal dia sudah penasaran sejak tadi.


“ Hem buka aja. Kan itu milik kamu sekarang.” Jawab


Andry santai. Pandangannya hanya fokus menatap jalanan, membiarkan Fani sibuk


dengan kotak kecil yang baru saja dia beli untuk Fani kemarin.


Fani membuka kotak itu perlahan, melihat sebuah


gelang didalamnya.


“ Ha gelang?.” Ucap Fani. Tangannya mengambil benda


kecil yang meringkuk-ringkuk didalam kotak kecil tersebut.


“ Iya. Selamat ulang tahun ya.” Andry menarik pelan


kepala Fani, kemudian mengelus rambutnya dengan penuh kasih sayang.


“ Kenapa sih suka banget kasih hadiah-hadiah gini?.”


Fani mengambil gelang dan melingkarkan dipergelangan tangannya. Sebelumnya dia


telah menerima cincin dan kalung, lalu hari ini dia menerima gelang. Apa Andry


ingin Fani menjadi toko emas berjalan?.


“ Karena kamu yang aku sayang hahahahhaa.” Andry


mulai lagi, menggoda Fani hingga wajahnya memerah  malu.


“ Ih apasih, dari tadi godain mulul.” Ucap Fani


tersipu malu. Wajahnya makin tidak terkondisikan, tersenyum linyum sambil terus


menatap gelang baru yang lucu.


“ Terimakasih ya.” Fani memanyunkan bibirnya,


matanya tertutup seolah-olah ingin mencium Andry yang ada dihadapannya.


“ Eih ingin menggoda ya? Berani-beraninya menantang


singa jantan. Sudah tidak sabar ya? Baiklaahhhh.” Andry membalas menggoda Fani.


Tiba-tiba mobilnya berbelok dan berhenti dipinggir jalan.


“ Ha? Kenapa berhenti sih?.” Tanya Fani tersontak


ketika mobil mendadak berhenti. Matanya terbuka dan menatap wajah Andry yang


sudah berubah, seperti penjahat yang senang karena mendapatkan korban.


“ Aaaaa kak Andry kenapa sih? Jangan macam-macam


yaaa.” Teriak Fani menarik tubuhnya menjauh dari Andry. Kedua tangannya


menyilang didada, berusaha melindungi asset yang dimilikinya.


Andry terus saja tersenyum jahat, menggigit bibir


wajahnya hingga membuatnya seolah-olah sedang tergoda dengan gadis yang ada


didekatnya. Hanya ada mereka berdua didalam mobil, jalanan pun tidak terlalu


ramai. Fani bergetar ketakutan, dikepalanya bergelayut pikiran-pikiran kotor


yang mengasumsikan bahwa Andry akan melecehkannya ditempat ini.


“ Aaaaaaaaaa,, ibuuuuuu.” Teriak Fani semakin


kencang, memenuhi seisi mobil, memekakkan telinga Andry yang berada didekatnya.


“ Jangan. Jangan sentuh aku, aaaaa jangannn.” Fani


terus berteriak. Tangannya semakin erat melindungi tubuhnya. Sementara Andry


masih sama, masih dengan wajah mesumnya.


“ Jangan kak, jangan. Aaaa ibu ayah tolong aku.”


Fani berurai air mata ketika Andry sudah mulai menyentuhnya, ya meski hanya


menyentuh tangan saja.


“ Jangan, jangan lakukan itu. Aku masih kecilll..”


Fani menangis, matanya ditutup kuat. Fani tidak ingin lagi melihat wajah mesum


Andry, tidak pernah menduga jika Andry akan melakukan hal serendah ini.


“ Aaaaaaaaaaaaa.” Teriak Fani ketika merasa Andry


memegang kedua bahunya, mencekam. Bahkan deru nafas Andry bisa terdengar oleh


Fani, hangatnya nafas Andry bisa terasa oleh Fani. Mereka benar-benar dekat


sekali.


“ Aaaaaaaaaa ibuuu.” Terus berteriak hingga gendang


telinga Andry hampir pecah. Kemudian Andry dengan pelan penuh kelembutan


membelai pipi Fani,  membuat bulu roma

__ADS_1


merinding. Hingga tiba-tiba Andry membekap mulut Fani dengan tangannya.


__ADS_2