
“ Kemana sih? Kenapa udah seminggu lebih gak ada kabar?.” Gumam Fani sembari menatap layar ponselnya. Tubuhnya bergetar khawatir, sudah beberapa hari Andry tidak mengabari dirinya.
“ Biasanya kalau pun sibuk banget-banget, paling juga 2 hari sekali atau 3 hari sekali tetap ada ngabarin. Kenapa kali ini lama banget ya? Jadi khawatir, pikiranku malah merambat entah kemana-mana.” Batinnya. Pikiran Fani sudah
merambat entah kemana-mana.
“ Apa terjadi sesuatu padanya?.” Fani bergidik, tangannya bergetar hebat. Hanya membayangkan saja membuatnya setakut ini.
Fani hanya menatap layar ponselnya, menunggu Andry menghubunginya. Tangannya dipelintir, bergetar takut. Kenapa harus menunggu Andry yang menghubungi, padahal dia bisa menghubungi Andry duluan. Menunggu adalah hal yang paling menyebalkan, tapi kenapa dia malah memilih untuk menunggu.
“ Andry kemana sih? Jangan bikin gue khawatir dong, please telfon gue sekarang.” Batin Fani memohon. Sorot matanya sendu, benar-benar mengkhawatirkan keadaan Andry yang jauh disana.
Tok…Tok… Tokkk..
Suara ketukan pintu membuat Fani terperanjak kaget. Tampak seseorang perlahan-lahan mendorong pintu dan masuk kedalam kamar.
“ Hei ngapain sih?.” Irma perlahan-lahan berjalan mendekati Fani, tanpa memberi kabar dia sudah bertamu sepagi ini.
“ Woiii kenapa sih ngelamun terus. Udah berapa kali nih gue datang tapi disambutl amunan lo yang gak jelas.” lanjut Irma mulai meninggikan suaranya. Mendekati Fani dan memukul bahunya berkali-kali.
“Jadi pergi gak sih?.” Ketus Irma mulai kesal karena tidak dihiraukan Fani, seolah-olah keberadaannya tidak diakui disana.
“ Woi!.” Teriaknya lantang, itupun masih belum membuat Fani goyang. Malah diasemakin asyik melamun, menatap langit-langit kamar.
“ Keberadaan gue gak diakui ya disini, Cuma dianggap angin lalu doang. Oke mending gue balik aja.” Irma melempar Fani dengan bantal, kemudian bergegas pergi meninggalkan Fani sendirian dikamar.
Fani sama sekali tidak menghiraukan, pikirannya masih terpahat pada Andry yang sampai sekarang belum ada kabar. Benar-benar mengkhawatirkan. Padahal hari ini Irma dan Fani sudah berjanji akan pergi mengunjungi teman dan jalan-jalan. Namun Fani tidak menghiraukan janjinya, tidak menghiraukan Irma yang sudah pergi entah kemana. Fani, masih setia dengan kekhawatirannya.
" Woi lo siap-siap dalam waktu 10 menit atau gue pulang sekarang juga!.” Sebuah pesan masuk dari Irma, berisi
sebuah ancaman yang membuat Fani bergegas melompat dari ranjang.
“ Iya tunggu, gue mandi dulu!.” Balasnya menegaskan.
“ Gue tunggu lo diseberang jalan, kalau dalam waktu 10 menit lo gak sampai, gue langsung tancap gas.” Balas Irma
lagi, isinya semua ancaman agar Fani mempercepat langkahnya.
Drttt…Drtttt… Drrtttt..
Saat asyik bernyanyi-nyanyi didalam mobil, tiba-tiba ponsel Irma berdering. Sebuah panggilan masuk dari Endrico, kenapa sekarang Endrico sering mengubungi Irma?.
“ Ha.” Ucap Irma singkat
“ Dih songong amat.” Ketus Endrico dari telepon.
“ Mau apa lo? Gua lagi gak mood nih, jangan ganggu gue.” Ucapnya tak kalah ketus, mempromosikan diri bahwa dia sedang tidak enak hati.
“ Ngapa lo? Kesambet hahahahhaa.” Endrico malah becanda. Tawanya menggema ditelinga Irma, membuat darah wanita ini semakin mendidih saja.
“ Diam lo! Gak ceweknya gak cowoknya sama aja, bikin gue naik darah!.” Ketusnya kemudian tanpa aba-aba Irma mematikan sambungan telepon.
“ Huh malas gue ngomong sama lo bedua. Emang cocok kok kalian, sama-sama gak jelas. Yang gak cocok tu Fani sama Andry, cocoknya Andry sama gue.” Gumamnya dengan penuh percaya diri.
Iseng-iseng Irma membuka sosial media, mencari nama Andry. Hanya Andry saja. Tidak tau siapa nama lengkap Andry yang sebenarnya. Bermodalkan kata “ Andry”, Irma menggali sosial media, berusaha menemukan akun milik Andry. Dan akhirnya dia menemukan. Namun ketika dibuka, ternyata postingan terakhir 2015. Yaah ternyata
itu akun lama, mungkin sudah tidak dipakai lagi.
“Yah, sekalinya ketemu malah akun lama. Mana foto-fotonya alay pula. Duh tapi kelihatan ya gantengnya sejak dahulu kala wkwkkww.” Irma tersenyum simpul menatap foto kecil Andry yang pernah diunggah diakun lama. Aib paling menakutkan adalah orang-orang yang menemukan foto-foto lama kita, kalau teman yang menemukan sudah bisa dipastikan bahwa itu akan dijadikan bahan cemoohan.
“ Ganteng, wkwkwk tunggu gue ya. Semoga gue bisa milikin lo.” Gumamnya penuh harap.
**
Sejak tadi pagi Andry berkutat dengan laptopnya, meskipun kuliah sudah diliburkan, namun masih ada saja dosen-dosen yang enggan melepaskan mereka bahagia. Ada-ada saja yang disuruhnya.
“ Haaaahhhh akhirnya selesai juga.” Teriak Andry sembari tangannya meregang keatas.
“ Gila, udah libur masih ada aja tugas yang ngejar-ngejar.” Lanjutnya.
Andry meraih ponselnya, memilih untuk menenangkan pikiran dengan bermain game. Namun baru saja hendak memulai permainan, sebuah panggilan dari Ardy merusak segalanya.
“ Emang ni orang gak ada akal ya, udah mau nikah masih aja gangguin gue.” Gerutunya kesal.
“ Woi lo ada masalah apa sih sebenarnya? Udah mau nikah tapi lo masih aja gangguin gue. Ada masalah apasih dihidup lo?.” Ucapnya tanpa jeda ketika telepon sudah tersambung.
“ Weeiittsss santai boy. Gue Cuma pengen lo datang kerumah, soalnya gua grogi. Besok kan acaranya. Kesini dong, ada anak-anak yang lain juga nih. Masa lo udah pulang tapi kagak mau ngumpul bareng kita sih.” Sahut Ardy dari telepon.
“ Hem, lagi malas gue. Jakarta panas banget, hahahhaha.” Andry tertawa terbahak-bahak.
“ Dih songong amat lo mentang-mentang udah 6 bulan tinggal diluar Negeri. Kacang lupa kulitnya lo.” Ketus Ardy geli.
“ Awas aja lo ya dikutuk bumi pertiwi baru tau rasa lo, baru aja lo tinggal disana 6 bulan udah mengagung-agungkan. Lah lo disini udah hidup 17 tahun ****. Kesel gue sama lo lama-lama. Semoga aja kagak disumpahin bumi lo mati
kepanasan.” Lanjutnya semakin kesal, menganggap serius semua yang diucapkan oleh Andry barusan.
“ Hahahaha bodo amat. Malas gue tinggal disini, dah lah bye.” Tanpa aba-aba Andry memutuskan sambungan telepon. Kemudian melanjutkan game yang sempat tertunda.
“ Nanti gue kerumah lo kalau gue udah puas main game hahahaha, siapa suruh lo nikahnya dadakan. Enak aja lo ngelangkahin gue yang setampan ini.” Gumamnya kemudian tertawa terbahak-bahak sembari membayangkan seperti apa wajah Ardy.
Andry sudah kembali?
**
Meskipun raganya sedang berada ditempat keramaian, dikelilingi teman-teman dan bercanda riang. Namun hati dan pikiran Fani masih terpaku pada Andry yang sudah berhari-hari tidak mengabari. Sempat terpikir bahwa Andry tidak lagi setia mencintainya, mungkin sudah menemukan kebahagian disanaa.
“ Kemana sih lo? Tumben banget gak ngabari sampai berhari-hari gini. Biasanya juga gak pernah selama ini, sesibuk apapun lo.” Gerutu Fani dalam hati. Wajahnya tidak bisa dikondisikan, ditekuk murung ditengah-tengah keramaian.
“ Apa harus banget gue yang duluan nanya kabar baru lo mau ngabarin gue? Masa harus gue sih.” Lanjutnya masih
menimbang-nimbang. Dalam keadaan paling ingin seklaipun Fani masih memikirkan gengsi. Gengsi jika menghubungi Andry duluan, masa sih cewek yang duluan menghubungi cowo.
Ternyata teman-teman Fani sejak tadi memperhatikan gerak-geriknya, semua melihat kegelisahan Fani. Seolah ada masalah berat yang sedang dihadapinya.
“
__ADS_1
Fan, kamu kenapa? Berat banget masalah hidup lo kayaknya.” Ketus Irma
mengagetkan Fani yang sedang serius menekuk wajah.
“
Eh enggak kok.” Sahut Fani terperanjak kaget.
“
Kenapa lo kelihatan gelisah banget sih Fan, dari tadi kita-kita ketawa eh lo
doang yang murung gitu. Kalau ada masalah cerita dong ke kita-kita.” Sahut
salah satu teman Fani yang lainnya.
“
Iya nih, dari tadi gue perhatiin lo malah diam-diam. Raga lo doang yang sama
kita disini, tapi pikiran lo udah sampai ke ujung kulon.” Sahut yang lain ikut
meramaikan.
“
Enggak apa-apa kok, Cuma kepikiran sesuatu doang. Oh iya gue ketoilet dulu ya,
pengen cuci muka.” Fani bergegas pergi. Lebih baik menjauh dari pada harus diam
disana dan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka semua.
Fani
perlahan-lahan menuruni anak tangga. Mencari tempat aman untuk bersembunyi dan
menelepon Andry. Karena tidak mungkin dia menelepon Andry secara
terang-terangan. Sebab sejak kejadian dicafe kemarin, Irma sama sekali tidak
menanyakan masalah dirinya. Apakah dirinya pasang dua dan membohongi Irma, sama
sekali tidak bertanya. Seolah-olah Irma tidak ada ditempat kejadian saat itu,
seolah-olah dia lupa. Entah dia sengaja pura-pura lupa atau sengaja tidak ingin
menanyakan masalah pribadinya, entahlah. Yang jelas Fani bersyukur, sebab tidak
harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan Irma yang dia sendiri mungkin tidak tau
akan menjawab apa.
“
Hufffhhhh. Harus jauh-jauh ni. Kalau gue telfon Andry disana, terus tiba-tiba
Harus begitu, lo harus tetap lupa ingatan ya Ir. Ga peduli deh lo Cuma
pura-pura atau apa, ga peduli. Yang penting gue aman sekarang.”
Fani
meraih ponselnya, bergegas menyalakan ponsel dan menelfon Andry. Dengan amat
sangat terpaksa, setelah berpikir lama mengalahkan ego dan gengsinya, akhirnya
Fani merendah juga. Memaksakan diri menghubungi Andry duluan, daripada batinnya
yang tersiksa memikirkan Andry yang sudah berhari-hari tidak mengabari, kemana?
Sesibuk apa sih?.
" Loh gak dijawab.” Gumam Fani. Fani kembali memasukkan ponsel kedalam tas mininya.
“Sekali doang sih gue nelfon lo. Malas banget, masa gue yang ngemis-ngemis sama
lo. Ingat gak sih waktu itu lo yang ngemis-ngemis sama gue, minta gue balik
sama lo. Dan dengan santai lo malah minta gue buat putusin Endrico, ninggalin
Endrico tiba-tiba. Lah sekarang lo malah ngilang tanpa kabar, udah dapat yang
lebih dari gue ya disana. Dasar ya lelaki buaya!.” Batin Fani menggeram. Bukan
main lagi, batinnya menghina Andry habis-habisan, tanpa melihat dirinya. Hanya
bisa melihat kesalahan Andry saja, tanpa melihat kesalahan dirinya sendiri.
Padahal kalau dia berkaca, berpikir, sebenarnya ini hanyalah pembalasan kecil.
Bahkan tidak ada artinya dibanding pengkhia natannya selama ini.
“Ah, kenapa sih gue buang-buang waktu buat mikirin dia. Dia aja kagak mikirin
gue. Huffhhh mending have fun bareng anak-anak yang lain. Bahagiaaaaa.. lagian
kalau dia udah punya pengganti gue, gue gak masalah. Soalnya masih ada Endrico
yang setia menemani gue disini.” Gumamnya sembari bergegas melangkah menjauh
dari tempat persembunyian.
“Eh tapi.” Tiba-tiba Fani menghentikan langkah kakinya, kembali berbalik dan
duduk di tempat persembunyian. Masih ada yang mengganjal dan memaksanya untuk
__ADS_1
tidak pergi.
“Telfon sekali lagi deh.” Fani mengeluarkan ponselnya dan kembali menelfon
Andry. Meskipun mulutnya komat kamit menolak, hatinya tetap masih memikirkan
Andry. Tidak bisa dipungkiri, sebenarnya Fani benar-benar mengkhawatikran
Andry.
“Kemana sih? Kok masih gak diangkat. Apa dia emang lagi sibuk banget ya?.” gumam
Fani, kemudian kembali menelfon Andry.
Sudah
beberapa kali Fani menelfon, namun Andry tidak mengangkat sekalipun. Bahkan
sudah hampir sepuluh kali. Fani rela menyingkirkan gengsinya hanya karena rasa
khawatirnya kepada Andry.
“Kemana sih? Sesibuk apa sih lo? Kalau emang sibuk please kabari gue, gue pasti
ngerti dan gak gangguin lo kok. Kalau begini gue mau nafas aja gak tenang
rasanya, khawatir gue beneran.” Fani menggenggam kedua tangannya, wajahnya
kembali ditekuk sedih.
“Tega banget sih lo sama gue An, padahal lo yang ngemis-ngemis minta balikan. Lo
bilang kita mulai dari awal, kita mulai hubungan yang lebih baik lagi. Tapi
apa? baru berapa bulan di Negara orang aja lo udah lupain gue. Basi tau gak
sih. Bodohnya gue malah percaya sama kata-kata lo yang mau nikahin gue tahun
depan. lah baru setengah tahun aja lo udah menghilang gak jelas gini. Padahal
gue mikirin kata-kata lo hampir setiap hari, bener-bener hampir setiap hari.
Parah ya lo An, dih kesel gue.” Gerutunya. Meskipun menyumpah serapahi Andry,
namun didalam hati Fani tetap berharap jika Andry segera menghubungi.
“Please An, telfon gue sekarang juga. Gue khawatir, gue kangen lo. Please telfon
gue Andry.” Batin Fani memohon sembari memejamkan matanya, berharap Andry akan
segera menghubunginya.
Drtttttt….
Drrttttttt….
Ponsel
Fani berdering, seketika Fani terperanjak bahagia. Senyumnya merekah lebar,
tubuhnya melonjak-lonjak kegirangangan. Hendak berteriak kesenangan, Fani
segera menutup mulutnya agar tidak berteriak keras dan didengar oleh orang
lain. Fani menatap layar ponselnya, ternyata sebuah panggilan dari Endrico.
Bukan kepalang tanggung bahagianya, eh ternyata bukan panggilan dari orang yang
diharapkannya. Seketika Fani lemah gemulai bersama dengan senyumnya yang merekah.
Seolah meratapi kenyataan yang tidak sesuai dengan harapannya.
“Yah, bukan main senangnya. Eh ternyata malah Endrico yang nelfon. Bener-bener
ya, bukan Cuma lo doang yang mainin gue An. Malah semesta ikut-ikutan
mempermainkan gue, arrgghhh.” Fani menggerutu kesal. Menarik nafas panjang dan
segera menjawab panggilan.
“Hallo.” Sahut Endrico dari dalam telepon.
“Iya kak.” Jawab Fani datar, seolah tidak mengharapkan panggilan yang sedang
berlangsung ini.
“Kamu dimana sayang? Udah selesai hangoutnya? Aku jemput ya sayang?.” Ucap
Endrico.
“Eh mau kemana? Belum selesai nih. Nanti aku pulang bareng Irma aja kak, gausah
repot-repot. Kamu istirahat aja dirumah ya.” Dengan cepat Fani menolak tawaran
kekasihnya itu.
“Hei kenapa? Kan aku mau kencan sama pacar aku, besok kan kamu udah balik
Jakarta lagi. Mau ya dinner malam ini, yayaya please?.” Endrico terus merayu
Fani agar mengiyakan permintaannya.
“Hem yaudah deh, jemput setengah jam lagi ya. Sampai ketemu nanti, bye.” Ucap
Fani mengakhiri telepon. Dengan wajah kecewa dan tubuh yang lemah gemulai, Fani
__ADS_1
kembali melangkah mendekati teman-temannya.