
******
Andry berangkat lebih awal hari ini. Dengan penuh semangat menyusuri jalanan dengan mengendarai mobil hitam mewahnya. Dambil sesekali menyusun rencana kecil untuk memberi pelajaran kepada Fani si pematah hati. Mobilnya sudah memasuki pekarangan sekolah dan menuju area parkir. Dari kejauhan Andry melihat Ardy sedang memarkirkan motornya. Andry bergegas mendekati temannya itu.
Wahhh.. pas banget ketemu ni anak. Beraninya bohongin gue, bahkan sampai detik ini dia belum ngirimin kontak tu cewe. Awas aja lo ya, gue jitak kepala lo.
" Woi Di ! " Teriaknya sambil mempercepat langkah kakinya.
" Apaan? " Melepaskan helm dan mendekati Andry.
" Parah lo ya. Katanya lo mau ngirimin kontak Fani." Gumam nya kesal.
" Sorry An, gue sibuk tadi malam jadi lupa deh ngirimin kontaknya." Ardy mengelus tengkuknya dan menyeringai.
" Sok sibuk banget lo. Pokoknya kirimin sekarang juga titik. " Andry menghentikan langkahnya dan memaksa Ardy mengeluarkan ponsel pintar itu dari saku celananya.
" Mending kenalan langsung ajadeh An. Masa cowo kenalan pakai cara beginian. Ga gantle banget lo bre." Ardy memberi penawaran dan tetap melanjutkan langkah kakinya.
Dua lelaki itu menyusuri koridor sekolah menuju kelasnya. Tak ada pembicaraan setelah penawaran dari Ardy tadi. Andry tampak sedang mencerna dan menimbang penawaran temannya itu. Terlihat dari raut wajah Ardy yang berfikir dan berjalan sambil sesekali menggesek-gesek kedua telapak tangannya. Ardy sudah masuk kedalam kelas dan duduk dikursi ternyaman miliknya. Sementara Andry masih tampak menimbang-nimbang niat tidak baiknya.
Harus banget kenalan secara langsung? Kan gue gak pede. Malah gue yang jadi takut duluan, Ga berkah kayaknya niat gue. Andry.
" Harus kenalan langsung Di?." Mendekati Ardy yang tengah sibuk bermain ponsel.
" Ya terserah sih. Tapi menurut gue sebagai laki lo harus gantle dong. Kenalan langsung biar lebih afdhol hahaha." Tertawa dan tetap menatap layar ponselnya itu tanpa memandang sosok disebelahnya.
" Okedeh." Andry menngaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
Udah jelas-jelas antiwanita, malah sok-sok an mau kasih pelajaran ke wanita. Dasar pendek akal. Yang digantungin siapa yang kepanasan siapa wkwkwkwk. Defenisi teman sejati nih anak. Adry.
" Nah gitu dong. Nanti jam istirahat gue ajak deh lo ketemu Fani. Mau ngajak lo kenalan secara resmi hahaha." Ardy terkekeh sambil mengelus-elus perutnya.
__ADS_1
" Hemm." Andry hanya berdehem kesal. Lalu kembali ke tempat duduknya. Terus dihantui rasa penasaran seolah-olah Fani melayang-layang dipikirannya. Beberapa ide muncul dikepalanya, berusaha menyusun rencana sebaik mungkin untuk memberi pelajaran kepada si Ratu pemberi harapan palsu itu. Entah apa yang membuatnya begitu percaya akan kebenaran cerita Heru dan Abim temannya itu. Seolah-olah Fani adalah wanita murahan yang mudah bergonta-ganti lelaki sesukanya.
Gue bakal balas lo cewe murahan. Gue sebagai kaum lelaki akan memperahankan harga diri lelaki. Enak aja lo sembarangan kasih harapan ke temen-temen gue lalu seenak jidat lo patahin hati mereka. Gue mewakili pria yang lo patahin hatinya hari ini resmi berjuang untuk balas dendam sama lo wanita murahan.
*********
Bel istirahat sudah berbunyi. Dengan cepat Andry menghampiri Ardy yang masih bersantai dikursinya sambil bermain ponsel. Andry menarik tangan Ardy untuk segera keluar dan menagih janji untuk mengajaknya berkenalan dengan Fani.
" Woi sakit. " Ardy meringis dan mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Andry.
" Ayo cepetan. Kan lo janji mau kenalin gue ke Fani." Andry berjalan menarik tangan Ardy hingga si empunya tangan meringis berkali-kali.
" Gak sabaran banget sih lo. Makin yakin deh ini cinta berkedok dendam." Ardy menhentikan langkahnya.
" Banyak bac*t banget sih lo." Melepaskan tangan Ardy dari genggamannya.
Mereka berjalan beriringan menuju kelas Fani. Sambil sesekali Ardy mengejek Andry hingga wajahnya memerah.
*******
" Gak kekantin? " Sambung Sophia.
" Ngagetin aja lo Sop. Engga deh, lo aja deh yang kekantin." Melipat kedua tangan diatas meja lalu meletakkan dagu diatas tangan nya.
" Berat banget masalah hidup lo kayaknya." Sophia terkekeh melihat tingkah Fani barusan.
" Lo mau nitip gak? " Tanya Sophia.
" Diam lo. Beliin gue sosis bakar." Menekuk wajahnya lalu merogoh saku mengeluarkan selembar uang 50 Ribu.
" Oke siap Tuan Putri " Mengambil lembaran kertas tersebut dan membungkuk eolah-olah memberi hormat kepada Tuan Putri.
__ADS_1
Fani masih tenggelam dalam lamunan nya. Menimbang-nimbang lagi tantangan dari sahabat gilanya itu. Sebenarnya Fani tak tega jika harus bermain soal perasaan. Ingin menarik kembali kata-katanya kemarin, tapi menyerah bukan lah karakter dari seorang Fani.
" Woooiiiii..." Ardy menepuk bahu Fani yang masih melamun.
" Aaaaa membuat ku kaget saja." Fani terperanjak kaget.
" Siapa suruh melamun. Ntar kesambet baru tau rasa " Ardi terkekeh melihat reaksi Fani.
" Ngapain kesini? Tumben banget." Tanya Fani yang masih sesekali terlihat menghela nafas.
" Kok tumben sih. Kan juga sering sih gue kesini " Ardy duduk disebelah Fani tanpa menghiraukan sosok yang datang bersamanya.
" Hem " Andry berdehem untuk mencuri perhatian dua manusia didepannya itu. Seolah memberi kode bahwa dia ada diantara mereka.
" Oh iya Fan. Kenalin nih si tampan dari gunung hantu hahahaha" Ardy terkekeh diikuti fani yang tertawa tanpa suara.
" Hai. Aku Fani." Tersenyum dan mengulurkan tangannya.
" Hai. Gue Andry temen sekelas nya Ardy." Menyambut tangan Fani dan bersalaman.
Atmosfer diruangan seolah berubah. Awal mula pertarungan perasaan akan dimulai. Fani merasa udara disekelilingnya berubah. Panas dingin rasa tubuhnya. Bagaimana tidak, baru saja memikirkan tantangan dari Sophia sekarang si target sudah ada didepan mata.
Baru aja mikirin tentang taruhan. Sekarang sang mangsa malah ada didepan mata. Gila, salting gue.
Ardy dan Fani sibuk mengobrol dan bercanda, sekali-kali Andry ikut nimbrung ditengah-tengah mereka.
Heh cewe murahan. Selamat datang dipermainan yang menyenangkan.
Bersambung..
__ADS_1