
Andry melenggang ria memasuki mall dipusat kota. Udara panas seketika berganti menjadi sejuk ketika tubuhnya sudah melewati pintu utama. Andry menarik nafas panjang, ah lega sekali rasanya.
“ Ternyata semua mall sama aja ya, ramai pengunjungnya. Seolah gak ada matinya.” Andry menatap sekeliling. Ramai orang-orang yang berkeliaran dilantai dasar, ada yang memburu barang diskonan, makan dan sebagainya.
“ Huffhh. Agak gak pede juga ni jalan sendirian wkwkwkw. Aku kan jarang ngemall, itupun kadang Cuma nemenin bunda, kak Devi dan juga Fani.” Andry menghela nafas panjang, sendiri emang menyakitkan,
“ Eh tu kan. Jadi inget Fani lagi.” Ucapnya ketika sadar bahwa dia menyebutkan nama Fani lagi.
Andry melenggang bak selayaknya gaya orang-orang tampan. Melenggang dengan semua ke-sok coolannya, walaupun sebenarnya dia memang terlihat keren. Kedua tangannya dimasukkan kedalam saku jaket yang dia kenakan. Beruntung gayanya hari ini tidak sembrawut. Dari atas hingga bawah sesuai kodrat wajahnya. Kaos hitam dipadu padankan dengan jaket jeans oversized, celana jeans dan sepatu hitam yang menambah aroma-aroma lelaki tampan pada dirinya.
“ Untung hari ini gue pakai baju yang sesuai kodrat, kemarin-kemarin sembarangan, asal-asalan doang karena buru-buru.” Batinnya sembari tersenyum simpul dan menatap tubuhnya dari pantulan kaca-kaca yang dilewatinya.
“ Ganteng gini masa disia-siain Fani sih. Duh yang lain aja rebutan pengen jadi pacar gue.” Andry terkekeh dan bergidik geli mendengar ucapannya sendiri. Tapi semua yang dikatakannya tidak bisa dipungkiri, benar juga.
Andry terus berjalan sembari melihat-lihat apa yang cocok untuk dijadikan oleh-oleh. Menatap kiri dan kanan, mendekat beberapa toko yang terdapat barang-barang unik didalamnya. Masuk, keluar kemudian lanjut lagi berjalan. Itu saja yang dilakukan Andry hingga dia bosan. Sudah hampir satu jam dia berkeliling, namun belum satupun benda yang dia rasa cocok untuk diberikan pada bunda. Akhirnya Andry memilih untuk menonton film saja, menenangkan pikirannya yang sudah seperti benang kusut. Lagi-lagi dia belum pernah menonton sendiri, dan hari ini semua yang belum pernah dia lakukan sendiri terpaksa dan harus dia lakukan sendiri.
“ Astaga, yang masuk bioskop rata-rata punya gandengan semua. Lah gue mau gandeng siapa?” Andry memasamkan muka, meskipun guyonanan tapi tetap membuatnya iba. Dia yang ngomong dia yang ngerasa.
“ Sedih banget ya nasib saya.” Andry menatap kedua tangannya. Bersedih iba kemudian mengangkat tangan kanannya seolah menggandeng seseorang. Anggap saja sedang menggandeng wanita, meskipun ini hanya fiktif dan hayalan semu saja.
“ Ah bodo amat deh. Yang penting senang-senang. Yang penting benang kusut dikepala gue perlahan-lahan lurus lagi deh, atau anggap saja aku sedang berusaha menggunting yang kusut, berbahagialah Andry yang tampan.” Batinnya kembali percaya diri. Bisa-bisanya hanya hitungan detik level percaya dirinya berubah-ubah. Sama hal dengan semangat yang dia punya, turun naik.
Andry sudah membeli tiket dan beberapa cemilan untuk disantapnya. Tiket sengaja dia beli 3 sekaligus, karena ingin kursi kiri kanannya kosong. Ingin menonton dikeramaian tapi enggan berdekatan, ah sudah seperti alergi sosial saja. Andry duduk dikursi miliknya. Kursi sebelah kiri dia letakkan makanan dan kursi sebelah kanan dia letakkan minuman. Ketiga kursi yang dia pesan akhirnya bermanfaat semua, anggap saja tidak mubazir baginya.
“ Permisi mas, apa boleh saya duduk disebelah sana. Saya dan pacar saya terpisah, jika mas berkenan saya ingin menukar tempat duduk dengan yang disana agar bisa duduk berdampingan dengan pacar saya.” Ucap seorang lelaki dengan tubuh berisi yang duduk disebelah kursi tempat minuman milik Andry. Ternyata kekasihnya duduk disebelah kursi yang diletakkan makanan oleh Andry.
“ Ini kursi milik teman saya, mereka belum datang jadi saya belum bisa memutuskan.” Ketusnya sombong. Bukan hanya didaerah asal saja tapi didaerah orang lain juga.
“ Boleh ya mas, kasian pacar saya disana sendirian. Nanti teman mas suruh duduk disini saja mas.” Ucap pria itu terus meminta, namun Andry tetap kekeh dengan ketidakmauannya.
“ Nanti tunggu teman saya aja ya mas, saya gak bisa sembarangan menukar tempat duduknya.” Andry tetap bersikukuh tidak ingin memberi, dengan nada santai dia menjawab sembari menyeruput minumannya.
__ADS_1
“ Saya minta tolong mas, kasian pacar saya. Masa nontonnya terpisah sih.” Lelaki itu terus merayu, berharap Andry bersedia menukar tempat duduknya. Mungkin saja dalam hatinya kesal, sebab hanya ada makanan dikursi yang ingin dia tempati.
“ Nanti ya tunggu temen saya dulu.” Andry meraih makanan dari kursi yang direngek lelaki tersebut. Melemparkan beberapa butir popcorn kedalam mulutnya, kaki menyilang dan bibir tersenyum riang, jahat sekali.
Hahahaha enak saja. Terus gue harus liatin kalian pacaran gitu selama film tayang? Belum pernah dibentang jarak kan? Nah coba sekarang. Masih mending dibentang jarak berapa meter dan berapa jam doang. Lah gue jutaan meter, berbulan-bulan pula. Hari ini aku berbaik hati, aku berbagi sedih bersama kalian. Hahahaha selamat mengasihi dengan aku disini.
Andry berpura-pura mengabaikan dua manusia yang ada disisi kiri dan kanannya. Padahal Andry memperhatikan gerak gerik mereka berdua. Kadang berbicara melalui pesan, kadang berbisik dari kejauhan. Sebenarnya kasihan tapi karena hilang harapan jiwa usilnya keluar. Bukan hanya menonton film yang tayang, Andry juga menonton drama antara sepasang kekasih yang tidak bisa saling menggenggam seperti pasangan lainnya.
Kasihan sih, Cuma ya ini gak seberapa dibanding gue. Mereka yang hitungan jam aja udah segini risih, gelisah. Apalagi aku yang menahan selama ratusan hari, ratusan jam. Ah ternyata aku punya jiwa yang kuat juga ya.
Benar-benar merasa puas dengan apa yang dilihatnya, siwanita yang bermurung durja, silelaki yang sibuk mencari cara. Ternyata drama sepasang kekasih ini jauh lebih menarik dibandin film layar lebar yang ada dihadapannya. Andry memanjangkan telinga, terdengar bisik-bisik tetangga, mencaci maki dirinya, menyumpah serapahi dirinya, betapa kejamnya dia tidak mengizinkan silelaki pindah disamping wanitanya. Kenapa? Susuram itukah hidupnya sampai-sampai tidak rela melihat orang lain bahagia. Andry hanya bisa terkekeh dalam hati sembari menikmati popcorn yang ada ditangannya, setidaknya ini membuatnya sejenak lupa tentang perjuangan pahitnya.
Sesuram apa hidupku? Hei memang hidupku suram, kalau aku ceritakan pahitnya perjuangan mungkin kalian bisa membawa pulang sebaskom air mata, menyedihkan.
“ Mas, film sudah cukup lama tayang tapi teman-teman mas belum kelihatan. Mungkin mereka tidak datang,
bisakah saya pindah kesana?.” Lelaki itu buka suara, berbisik pelan menghadap telinga Andry yang sejak tadi memanjang mendengarkan. Mungkin sudah kehilangan cara untuk menenangkan siwanita yang sejak tadi bermasam muka, merajuk bahasanya.
“ Hem, saya gak berani mas. Takutnya mereka datang tiba-tiba dan lihat kursinya ditempati orang lain, maaf mas saya gak berani.” Andry masih menolak, tetap tidak ingin melihat sepasang kekasih ini duduk berdampingan, masih ingin menyiksa batin mereka, ah Andry benar-benar tega.
“ Loh kenapa ngegas mas? Ini beneran udah punya orang loh. Lagian ngapain juga pilih tempat duduk yang berjarak, itu sih salah sendiri mas. Malah marah-marah sama saya. Nih saya punya 3 tiket.” Sahut Andry santai, kemudian mengeluarkan lembaran tiket dan menunjukkan tepat dihadapan lelaki tersebut.
“ Ah mati saja orang seperti kau, gak punya hati.” Lelaki itu semakin menggeram. Beranjak dan berlalu meninggalkan Andry yang terduduk santai dengan popcorn dipangkuannya. Kemudian disusul siwanita yang sejak tadi bermuram durja, mungkin mereka sudah sepakat untuk keluar dan tidak melanjutkan kencan menyebalkan ini.
Andry hanya bisa tertawa melihat ulah sepasang kekasih itu, bersantai ria dengan popcorn dipangkuannya. Sudah hilang layar tancap dadakannya, Andry kembali fokus dengan layar lebar yang ada dihadapannya.
**
“ Hahahahaha mana tu orang, pengen gue ketawain habis-habisan.” Andry terkekeh sembari melangkah meninggalkan studio. Percuma membeli tiket sampai 3, namun tidak menonton film seutuhnya. Meskipun merasa rugi, namun dalam hatinya juga merasa puas. Ada hiburan dialam hiburan.
“ Ah lanjut cari ole-ole buat bunda ajadeh. Tapi lumayan lah buat hiburan, timbang galau seharian.” Lanjutnya. Andry melenggang sembari sesekali tersenyum riang, masih terbayang bagaimana wajah muram siwanita karena terpisah dari pacarnya. Belum lagi wajah lucu si pria yang mencoba menenangkan wanitanya, mencari cara agar wajah muram itu berganti menjadi bahagia. Tapi sayangnya sejak kenal muram durja siwanita sama sekali tidak tampak tersenyum atau hanya sekedar tersenyum paksa. Puas, benar-benar puas mengerjainya.
__ADS_1
“ Hahahah ternyata begitu ya tipe-tipe budak cinta. Ceweknya marah cowoknya yang kalang kabut cari cara biar tu mulut enggak menjalar kemana-mana. Eh berarti dulu gue gitu juga dong? Kan gue tipe bucin akut hahahaha.” Andry terkekeh. Batinnya berkecamuk dengan rasa bahagia dan kesal karena terpaksa membuka kembali celengan memorinya.
“ Huffhh tapi Fani kalau lagi muram gitu sih jadi imut lucu menggemaskan gitu. Lah yang tadi bikin aku pengen nabok astagaa, Fani emang terbaik dah pokoknya. Emang hati gak pernah salah pilih, paling si Fani yang salah karena milih gue wkwkwkw.” Andry bergelut dengan pikirannya sendiri. Setidaknya dia sudah tidak terlalu risau lagi pasal kegagalannya, yang ada dipikirannya saat ini hanya hiburan dan ole-ole untuk bunda tercinta.
Andry turun kelantai dua, menuju tempat yang biasa disebut surga wanita. Menatap sandal dan tas-tas yang berkilauan, pantas saja mata wanita berbinar-binar kalau dihadapkan dengan benda-benda ini. Andry mengambil dua buah tas dengan kedua tangannya, menimbang-nimbang yang manakah yang paling cocok jika dipakai oleh bunda. Tipe-tipe anak romantic nih, selain demen kasih kado kepacar dia juga demen kasih hadiah untuk bunda, Devi sih sekali-kali doang.
“ Ini bagus nih kayaknya.” Gumamnya sembari meutar-mutarkan tas berwarna kuning kunyit yang ada ditangan sebelah kirinya.
“ Sayang, ini bagus gak?.” Tiba-tiba dari arah belakang terdengar seorang wanita sedang memanggil kekasihnya. Andry berbalik menatap tapi hanya sekelibat, kemudian fokus kembali dengan tas yang ada ditangannya.
“ Teriak-teriak dimall, manggil sayang pula. Duh maksudnya apaan coba? Mau pamer kalau dia punya pacar? Hei lebih dari setengah penduduk bumi saat ini juga punya pasangan, tapi kenapa kau terkesan lebay bin alay.” Gumamnya kemudian bergidik geli. Seolah sambil berharap dalam hatinya agar kejadian memalukan itu tidak terjadi padanya.
Meskipun bergidik geli, Andry tetap masih penasaran dengan wanita yang disebutnya alay itu. penasaran seperti apa wujud pacarnya hingga dia sanggup berteriak mengumbar kekasihnya dikeramaian. Wkwkwkwkw diam-diam Andry julid juga ya, lagi-lagi sisi lain Andry terungkap, tidak terduga. Andry kembali berbalik, menatap sang wanita alay bersama dengan kekasihnya, yang menurut Andry biasa saja. Namun ada sesuatu yang menyita perhatiannya. Sepasang kekasih yang cukup berjarak dengannya, sepasang kekasih yang tampak tengah asyik memilih makeup.
“ Eh itu kok mirip Joo ya?.” Gumam Andry. Matanya membesar dan mengecil untuk memfokuskan penglihatannya. Perlahan-lahan tangannya meletakan kembali tas yang dipilihnya. Pandangannya hanya fokus pada sosok lelaki yang jauh didepannya.
“ Itu Joo bukan sih? Dari perawakannya sih itu kayaknya emang beneran Joo.” Andry masih berusaha memfokuskan pandangannya. Khilafnya dia enggan mendekat dan memastikan, hanya berdiam diri ditempat sembari menunggu matanya bekerja dan memastikan jawaban.
Hampir 5 menit Andry menatap sepasang kekasih itu, fokus utamanya adalah sang lelaki yang dari kejauhan mirip sekali dengan Joo kakaknya Fani. Entah karena shock atau apa, Andry tidak bisa berfikir apa-apa. Hanya bisa menatap dan melihat gerak gerik mereka. Hingga akhirnya sepasang kekasih itu berlalu pergi, berjalan pelan dan
masuk kedalam keramaian. Andry sontak kaget dan segera berlari mengejar. Otaknya yang seketika berhenti bekerja tiba-tiba berputar kembali sebagai mana mestinya.
“ Ah yang benar saja. Aku kehilangan mereka.” Andry berlari dikeramaian. Menatap orang-orang yang dilewatinya sembari mengingat pakaian yang dikenakan Joo dan kekasihnya.
“ Aku harus bisa menemukan mereka, aku tidak boleh kehilangan jejak. Bagaimanapun caranya.” Andry terus berlari, nafasnya mulai tersengal-sengal namun sosok yang dicarinya masih belum terlihat. Sudah jauh bahkan sudah sekali berkeliling, namun Andry kehilangan jejak.
“ Ah sial! Aku kehilangan mereka. Padahal mereka hanya berjalan, aku berlari. Lalu aku kehilangan jejak? Hal kecil saja dunia tidak adil ya.” Gerutunya. Andry berhenti didepan pintu utama, menghela dan mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Lagi-lagi rasa kesal dan kecewa baku hantam dipikirannya.
“ An*eng! Kenapa sih aku selalu aja kehilangan jejak. Padahal ini kesempatan emas, datangi, pastikan dan kalau memang benar aku langsung bisa ikut pulang dengannya.” Kesal dan sesal semakin menyelimuti pikirannya, berkali-kali Andry menepis angin dengan telapak tangannya.
“ Lagian kenapa sih aku bengong gak jelas tadi. Harusnya kan aku langsung deketin, pastiin. Bukan malah diam perhatiin dari kejauhan, terus pas mereka jalan akunya yang kalang kabut lari-larian. Bodoh!.” Batinnya terus berkecamuk. Menyumpah serapahi dan mencaci maki diri sendiri adalah yang paling tepat saat ini.
__ADS_1
Andry terburu-buru keluar dari mall. Mengelilingi parkiran, berharap dia bertemu kembali dengan sepasang kekasih tadi. Terus mengitari hingga dua kali, namun hasilnya nihil. Andry akhirnya memutuskan untuk kembali kepenginapan, mengingat matahari sudah hampir tenggelam. Berjalan sembari meredam kesal dan sesal, mengatur nafasnya yang tidak beraturan, terus berharap jika dia dipertemukan dengan clue-clue untuk menemukan seseorang yang dia cari.
Kalau itu memang benar Joo, berarti kemungkinan mereka tinggal disekitar sini. Setidaknya tidak jauhdari perkotaan, mungkin bisa saja memang tinggal perkotaan. Baiklah, aku akan tetap melanjutkan kelana ini, hingga semakin banyak clue-clue yang aku temui. Sampai nanti, akhirnya aku bertemu dengan Fani, disini dikota ini.