
“ Aaaaa apa yang harus
aku katakan pada kak Endi? Eh kak kita putus aja ya, soalnya aku udah baikan
lagi sama Andry lelaki yang sangat aku cintai. Begitu? Gila saja, kalau aku
mengatakan begitu sama saja aku menyerahkan diri kepada singa yang sedang
kelaparan.
“ Kalau kamu berani
macam-macam, apa lagi sampai selingkuh, aku bunuh kamu.”
Ucapan Endi ketika
dibandara selalu terngiang-ngiang ditelinga Fani. Tidak peduli situasi dan
kondisi, saat sedang makan, mandi, tidur, bahkan saat sedang buang air besar
pun kata-kata Endrico terngiang-ngiang ditelinganya. Entah karena rasa
ketakutan Fani yang berlebihan, tentu saja. Apalagi bisa disebut dia selingkuh
dengan mantan kekasihnya, selingkuh kan? Ya jelas, dia kan menerima kembali
cinta Andry ketika dia sudah menjalin hubungan dengan Endrico. Fani benar-benar
naif, dia membuat lubang untuk mengubur dirinya sendiri.
“ Aaaaaaaaa
tidaaaakkkk.” Fani menyapu habis semua buku dan peralatan yang ada diatas meja
belajar miliknya. Semua terjatuh kelantai, pecah dan berserakan.
“ Mending gue cekik
leher sendiri deh daripada pusing begini.” Gumamnya sembari menarik rambutnya
kuat. Matanya tidak bisa bohong karena menahan kantuk, Fani masih terjaga sejak
mimpi buruk yang membuatnya kaget dan terjaga dari tidurnya. Katanya sih itu
teguran, agar dia ingat betapa kejamnya ancaman yang pernah diucapkan oleh
Endrico padanya. Entah itu serius atau hanya candaan semata, hanya Endrico dan
tuhan sajalah yang tau.
Drtttt… Drrtttt..
Dering ponsel membuat
Fani keluar dari kegelisahannya, dengan nafas yang memburu Fani meraih
ponselnya. Sebuah panggilan masuk dari Endrico, lelaki yang mengacau pikiran da
nisi hatinya semalaman. Fani menarik nafas panjang, mengatur nafasnya agar
terdengar biasa saja.
“ Hallo sayang, sibuk
banget sih akhir-akhir ini.” Sahut Endrico ketika Fani mengangkat telepon.
“ Hallo, iya nih lagi
sibuk dirumah sakit.” Fani berdalih, semakin lihai berbohong, semakin banyak
kebohongan yang diucapkannya, menumpuk, menggunung, hanya demi sebuah
kebenaran.
“ Oh gitu, kamu
baik-baik aja kan? Oh iya aku minta alamat lengkap kamu yang di Jakarta ya.”
Ucap Endrico penuh semangat, seperti sedang bahagia.
“ Hmm buat apa?.”
“ Ada sesuatu yang
ingin aku kirimkan padamu, jangan lupa kirimkan sekarang.” Tukas Endrico.
“ Apaan kak?.” Fani
masih penasaran, namun Endrico enggan mengatakan.
“ Udah, tunggu aja
paketannya sampai. Oh iya alih kepanggilan video dong ya, kangen banget nih
sama pacar aku. Udah berapa bulan ditinggal.” Endrico malah mengalihkan
kepanggilan video, setelah beberapa hari dia tidak menghubungi Fani, tiba-tiba
meminta panggilan Video.
“ Eh tunggu dulu,” Fani
mencoba menolak, mengingat wajahnya yang
kusut masai akibat tidak tidur semalaman. Fani enggan menerima, tapi juga
merasa tidak enak hati.
“ Haa..hallo.” Ucap
Fani terbata-bata sembari mengusap-usap seluruh wajahnya. Tangannya berkeliaran
memperbaiki rambutnya yang berantakan, tidak ingin terlihat jelek dihadapan
Endrico.
“ Eh baru bangun?
Kenapa muka kamu sembab gitu sih sayang? Atau kamu gak tidur?.” Endrico
mengerutkan keningnya, menatap Fani dengan dekat, ingin melihat jelas.
“ Kamu habis nangis?.”
Tanya Endrico lagi. Melayangkan beberapa pertanyaan yang juga merupakan
pernyataan, kenapa dengan kekasihnya hari ini.
“ Eh engga kok kak, aku
gapapa. Cuma agak capek aja, kepala pusing terus lagi flu. Mungkin kebanyakan
bersin, mata berair makanya jadi sembab begini.” Lagi-lagi Fani menumpuk
kebohongan.
“ Kamu yakin?.” Endrico
memastikan, sepertinya curiga dengan pernyataan yang diberikan oleh Fani
kekasihnya.
“ Iya kak, aku gapapa
kok Cuma lagi gak enak badan aja. Nanti juga mendingan kok kalau istirahat.”
Fani terus menyangkal, menutupi kebenaran demi menghilangkan kecurigaan
Endrico.
“ Oh yaudah kalau gitu
aku matiin dulu ya kak, udah jam 8 nih mau siap-siap kerumah sakit.” Lanjut
Fani tergesa-gesa, sudah tidak tahan lagi ingin buru-buru mematikan teleponnya.
Nafasnya tinggal satu persatu, sesak. Semakin lama dia menatap wajah Endrico,
semakin menyeruak rasa takut dalam dirinya.
“ Yah, baru aja
kangen-kangenan malah minta udahan. Masih kangen nih, ntar telfon lagi yah
cintaku.” Ucap Endrico dengan wajah murung, kemudian terkekeh menggoda Fani.
“ Iya kak. Udah dulu
ya, bye.” Dengan cepat Fani memutuskan sambungan telepon. Sudah tidak tahan
lagi menahan bongkahan yang ingin meledak dari dalam dirinya.
“ Huffhh huffffh
huffff.” Nafas Fani memburu, tangannya mengelus dada menenangkan.
Baru
menatap wajahmu saja aku sudah menggigil ketakutan, membayangkan ancamanmu
__ADS_1
waktu itu. Meskipun mungkin saat itu hanya candaan, tapi jika kau tau bagaimana
aku saat ini pasti ucapanmu segera kau kabulkan.
Fani terduduk dikursi,
tatapannya kosong memikirkan apa yang harus dia lakukan. Sudah terlanjur basah,
apa mungkin dia harus melompat keluar kolam. Sudah terlanjur bilang iya, memutuskan
akan kembali dengan lelaki yang dicintanya. Sudah maju mana mungkin mundur
lagi. Lebih tidak mungkin jika dia memakai kedua lelaki yang ada disisinya saat
ini, ah fakgirl sekali.
**
Andry sibuk dengan
tumpukan kertas yang ada dimeja belajarnya. Semua berkas-berkas yang akan
dibawanya untuk melanjutkan studi ke Chicago. Tak terasa hitungan hari Andry
akan segera meninggalkan kota padat penduduk dan macet yang luar biasa ini.
Terlebih Andry harus meninggalkan kekasihnya dalam jangka waktu yang lama. Jika
kemarin Fani meninggalkannya dalam hitungan bulan, sekarang dia yang akan
meninggalkan Fani dalam hitungan tahun.
“ Huhhh. Kalau aku tau
kau akan kembali, sudah pasti aku akan melanjutkan study disini saja. Tidak
perlu menarik garis jarak hingga sejauh ini, kenapa sih kau kembali disaat yang
tidak tepat. Gak mungkin juga kan aku batalin kuliah disana, kuliah di luar
Negeri kan adalah salah satu keinginanku sejak dulu.” Batin Andry sembari
memilah beberapa berkas yang benar-benar dia butuhkan selama study nanti.
“ Tapi kalau emang
yakin aku bisa aja sih batalin kuliah disana dan pilih Universitas yang deket
rumah aja. Tapi aku enggak yakin sama keputusan aku yang ini.” Lanjutnya
semakin bingung. Seketika tangannya berhenti bekerja, tidak lagi fokus pada
tumpukan kertas yang ada dihadapannya.
Andry mencoba mengambil
keputusan dengan cara paling sederhana, menghitung dengan jarinya, mengulang
dan berulang.
“ Pergi, enggak, pergi,
enggak, pergi enggak, pergi, enggak, pergi, enggak.” Andry berhenti pada jarinya
yang terakhir, menurut caranya ini keputusannya adalah tidak pergi.
“ Ahhh enggak, enggak
ini salah.” Andry menyangkal jawaban dari cara klasiknya ini. Menghitung ulang,
membuat keputusan ulang.
“ Jangan, pergi,
jangan, pergi, jangan, pergi, jangan, pergi, jangan, pergi.” Kali ini Andry
berhenti dijari kelingking dengan keputusannya adalah tetap pergi. Namun
jawaban ini juga tidak memberi kepuasan bagi dirinya, entah jawaban bagaimana
lagi yang dia inginkan.
“ Arrgghhh.” Andry
mengacak-acak rambutnya frustasi. Kedua jawaban itu sama sekali tidak dia
inginkan, namun dari kedua jawaban itu dia juga tidak bisa menentukan
keputusan.
“ Ah tanya bunda
ajadeh.” Andry beranjak, meninggalkan pena dan kertas-kertas yang menumpuk
bunda bisa membantu memberi nasihat hingga dia bisa menentukan keputusan dengan
sebaik-baiknya.
Andry sudah melewati
pintu kamarnya, namun tiba-tiba langkahnya terhenti. Ling lung seketika.
Telunjuknya mencacar kesana-sini, tubuhnya maju mundur berputar-putar
kebingungan.
“ Ah jangan deh, ntar
bunda malah marah. Masa gara cewe doang sanggup batalin keinginan sejak dulu
sih, ini kan masa depan kamu sayang. Pasti bunda ngomong gitu.” Andry menirukan
gaya bicara sang bunda, seolah sudah tau jawaban apa yang akan didapatnya bila
menemui bunda dibawah.
“ Tapi.. aku tanya
bunda aja deh.” Andry kembali melangkah keluar, perlahan meniti anak tangga
hingga sudah sampai setengahnya.
“ Ah jangan deh, gak.
Gak boleh tanya bunda, yang ada aku malah dimarah-marahin nantinya.” Andry
berbalik dan berlari menuju kamarnya. Tangannya dengan lihai mengunci pintu
kamar. Berlari dan menghamburkan tubuhnya diatas ranjang, bernaung dibawah
bantal dan selimut, entah apa tujuannya.
“ Gak. Harus menahan
diri disini. Aku gak boleh kecewain bunda, gak boleh kecewain diri sendiri. 4
tahun gak lama kok, lagian nanti kan sekali setahun juga pulang. Ini kan demi
masa depan, demi kehidupan yang lebih layak.” Ucapnnya menguatkan diri sendiri,
memeberi nasihat dan pemahaman pada diri sendiri.
“ Arrrggghhh jangan
jangan, jangan sampai salah mengambil keputusan.” Andry menutup habis seluruh
tubuhnya dengan selimut. Bernaung dibawah selimut lebih baik baginya.
“ Hem, tapi sebaiknya
aku manfaatkan waktu yang ada. Aku habiskan waktu bersama orang-orang yang aku
cinta, sampai nanti waktunya aku harus pergi, aku bisa membawa
kenangan-kenangan untuk diingat disana. Ya setidaknya pengobat rindu.” Andry
menendang selimut yang menutupi tubuhnya. Beranjak dan kalang kabut mencari
ponselnya, hari ini dia ingin menghabiskan waktu bersama Fani. Ya meski
setengah hari mereka harus duduk berjaga dirumah sakit. Bagi Andry tidak
masalah, yang penting berdua dan bisa menatap wajah kekasihnya.
**
“ Hallo, dengan
siapa?.” Fani mengerutkan keningnya, sudah tiga kali menerima telepon dari
nomor yang sama, nomor yang tidak dikenalinya.
“ Hallo,” Ucapnya terus
berharap ada jawaban dari sipenelepon.
“ Siapa sih iseng
banget.” Gerutu Fani ketika telepon sudah terputus.
__ADS_1
Drtttt… Drttttt…
Nomor yang sama
menelepon Fani, ini sudah kali keempat. Fani mengatup giginya dan mengepal
tangannya, kali ini dia menjawab dengan penuh rasa geram.
“ Gak ada kerja lain
apa selain gangguin gue.” Gerutunya, mengutuk sipenelepon yang sejak tadi tidak
bersuara.
“ Hallo, siapa sih lo?
Ngapain lo nelepon berulang kali, ganggu aja tau gak sih lo!.” Fani menjawab
telepon dengan penuh kemarahan, suaranya lantang. Mungkin bisa membuat gendang
telinga si penelepon pecah seketika.
“ Hallo Fan,” Sahut
seseorang dari dalam telepon. Dari suaranya sih kelihatannya wanita.
“ Hallo Fan, ini gue
Irma. Kenapa sih lo marah-marah. Tadi gak ada suara, sekalinya ada suara malah
memekakkan telinga.” Lanjutnya tidak mau kalah. Irma balik memarahi Fani yang
menaikkan nada suaranya.
“ Eh lo ya bener-bener.
Mentang-mentang lo balik ketempat lama lo jadi lupa sama gue. Eh songong amat
lo.” Irma masih memarahi Fani, kesal karena sudah berapa hari Fani tidak
menghubunginnya.
“ Lah gue udah telepon
lo berkali-kali tapi nomor lo sibuk melulu.” Fani menyangkal, tidak ingin Irma
sepenuhnya menyalahkan dirinya.
“ Oh iya lupa, gue kan
nomor baru hahahahahahaa.” Irma tertawa terbaha-bahak, memarahi Fani karena
enggan menghubunginnya. Bagaimana Fani bisa menghubungi jika Irma tiba-tiba mengganti
nomor teleponnya.
“ **** lo! Mati aja
deh. Berani-beraninya lo marahin gue, padahal sebenarnya lo yang salah.” Fani
merasa menang, sama sekali dia tidak bersalah, jadi tidak masalah jika memaki
Irma sedikit saja.
“ Hahahahhahaa.” Irma
masih terbahak-bahak, benar-benar lucu baginya.
“ Diam lo! Jangan
ketawa. Gue lagi pusing, gak usah bikin gue makin pusing deh.” Bentak Fani,
suaranya terdengar serius hingga membuat Irma menghentikan tawanya seketika.
“ Fan? Lo baik-baik aja
kan?.” Tanya Irma lirih, merasa ada yang gak beres dengan sahabatnya ini.
“ Fan.” Irma memanggil
sekali lagi.
“ Lo tau gak sih gue
pusing banget sekarang. Kadang gue ketakutan, kadang gelisah, kadang capek,
pengen nangis, pengen teriak, arrghhh.” Fani mendengus kesal. Suaranya lirih
seperti menahan tangis.
“ Kenapa Fan? Cerita
dong sama gue. Walaupun kita jauh bukan berarti lo gak bisa cerita tentang apa
yang bikin lo gundah saat ini.” Irma merayu Fani agar mengatakan apa yang
terjadi sebenarnya, khawatir bercampur rasa penasaran.
“ Fan, cerita dong.
Mana tau gue bisa bantu lo dari kejauhan.” Lanjut Irma terus merayu Fani agar
mau buka suara dan menceritakan apa yang sebenarnya mengganggu pikirannya.
“ Hum. Ir, lo tau gak
sih. Pada hari gue sampai disini, gue gak sengaja lihat Andry dirumah sakit
yang sama tempat nenek gue dirawat.” Fani menarik nafas panjang, memberi jeda
pada cerita panjang yang akan menghabiskan banyak tenaga ini.
“ Terus lo samperin
dia? Atau dia yang samperin lo?.” Tanya Irma semakin penasaran.
“ Bukan. Awalnya gue
pengen nyamperin dia, tapi setelah gue pikir-pikir sebaiknya jangan. Udah gak
ada gunanya lagi. Terus gue mutusin buat pergi, makan siang. Gue datang kerumah
makan favorite gue, udah kangen banget. Dipikiran gue udah menggayang kepiting
saos padang, udang goreng dan sup kerang. Sepanjang jalan itu yang gue
bayangin, benar-benar bikin gue ngiler sampai nelan ludah tau gak sih.” Fani
menarik ludahnya, seolah mengatakan jika dirinya saat ini juga sedang
membayangkan betapa enaknya makanan yang dia sebutkan tadi.
“ Eh Fan, lo mau curhat
tentang masalah yang bikin lo jadi kesal atau masalah yang bikin lo jadi lapar
sih. Masih jam segini lo udah ceritain makanan, gue jadi lapar tau!.” Protes
Irma. Pasalnya dia sudah memasang kedua telinga untuk mendengarkan semua
curhatan Fani, dia sudah memokuskan diri terhadap masalah yang dihadapi
sahabatnya ini. Bukannya menyebutkan inti masalah, Fani malah mengajaknya
membayangkan betapa enaknya makanan-makanan yang disebutkan.
“ Oh iya hehehehe.
Kenapa gue jadi ceritain makanan sih, padahal kan itu bukan fokus utamannya.”
Fani terkekeh geli mendengar protes Irma. Fani tersenyum malu sembari menggaruk
tengkuknya yang tidak gatal.
“ Terus gue mutusin
buat makan ditempat langganan, dan lo tau gak apa yang terjadi disana?.” Fani
membuat sedramatis mungkin, mengajak Irma untuk menerka-nerka.
“ Gak tau.” Jawab Irma
ketus.
“ Dan disana gue nabrak
seorang cowok dengan badan kekar dan wajah tampan.”
“ Ganteng gak?.” Tanya
Irma menyela, tidak sabar. Benar-benar manusia dramatis, kebanyakan nonton
sinetron sih.
“ Dan gueee…” Fani
sengaja memotong permbicaraannya, membuat Irma semakin penasaran.
***
__ADS_1
Hallo Pembaca setia Suamiku Hasil Taruhan, apa kabar? Semoga sehat selalu ya.
Hari ini aku bakal up lagi ni, semoga kalian terhibur ya. Oh iya jangan lupa terus dukung aku dengan cara like, koment, vote dan kasih bintang 5. Terimakasih semuanya.