
Sudah seminggu Andry terbaring dirumah sakit, sudah bosan jiwa dan raganya terbaring diranjang. Terlebih hanya menatap langit-langit dan selang infus ditangan. Hanya menatap perawa-perawat yang bergantian keluar masuk ruangan. Hari ini Andry sudah boleh dipulangkan, keadaannya sudah kembali normal. Meskipun wajah dan tubuhnya masih memperlihatkan ketidak bugaran dirinya.
“ Ah akhirnya aku bisa bersetubuh denganmu lagi hei kasur empukku.” Ucapnya girang sembari berlari pelan menghambur diatas ranjang. Mengelus ranjang empuk dan dingin itu dengan kedua tangan dan kakinya. Wajahnya dibenamkan kedalam bantal yang ikut dingin karena cukup lama ditinggalkan.
“ Hei apa kalian tidak merindukanku?.” Lanjutnya memukul ranjang dan kemudian memukul bantal serta guling. Selain tidak sehat raga tampaknya Andry juga tidak sehat jiwa ya hehehehe.
“ Huw akhirnya besok bisa sekolah. Selamat berakhir masa-masa sekolahku. Besok Ujian Nasional dan aku akan menjadi mahasiswa segera.” Ucapnya beranjak dan memukul dadanya pelan, tampak seperti menyombong dan senang.
Andry merebahkan tubuhnya kembali, seperti biasa hobinya adalah menatap langit-langit kamar yang disana dia gantungkan beberapa harapan. Sejak beberapa bulan lalu, selain dari harapan lulus di Perguruan Tinggi terkenal, dia juga menggantungkan harapan pertemuan. Ya, Andry akan pergi menemui Fani dikota yang tidak dia tahu sama sekali. Petualangan dan pencarian ini akan segera dia mulai. Tidak peduli seberapa kejam kota yang akan dia datangi, yang penting tujuannya adalah bertemu dengan Fani dan meminta penjelasan atas semua yang terjadi.
“ Huffhhh segeralah berlalu hei Ujian, aku akan segera berlayar mencari kekasih hatiku. Ya meskipun aku kecewa tapi aku tetap cinta.” Ucapnya terus tertawa cengengesan. Meraih salah satu foto Fani yang bergelantungan di dinding. Menatap penuh rindu, penuh haru.
“ Hei gadis kurang ajar! Lihat saja nanti akan kubalas kekejamanmu.” Lanjutnya menekan pelan polaroid yang ada ditangannya. Menyalurkan kekesalannya walau hanya pada foto yang dia pegang.
“ Apa kau tau aku sudah seminggu terbaring dirumah sakit. Harusnya kau menemaniku, ya meski hanya lewat telepon saja. Tapi sayang, kau kejam. Aku yang malang.” Ucapnya lirih, matanya berkaca-kaca mengingat dirinya yang malang. Silih berganti orang-orang yang datang menjenguknya kemarin, hanya Fani yang tidak datang. Padahal karena dia orang tersayang harusnya dia yang paling menunjukkan kasih sayang.
“ Ah baiklah lupakan. Aku bisa memaafkan, aku maklumi. Mungkin kau sedang bosan dengan keadaan, yayaya aku masih bisa berfikir jernih. Selagi itu tentang dirimu mungkin aku masih bisa menggiring pikiranku keranah positif.” Sambungnya tersenyum dan kembali menyelipkan polaroid itu kegantungan yang ada didinding.
Meskipun kemarin sempat tersulut emosi dan ikut membenci, namun sekarang Andry sudah jauh lebih baik. Sudah bisa menerima semua yang dilakukan Fani, tapi tetap saja dia butuh penjelasan dan kejelasan. Sudah sejak kemarin dia memantapkan diri untuk berangkat mencari Fani. Memang terdengar naif sekali, hanya karena seorang
wanita saja sanggup membuang tenaga dan waktu untuk mencari yang tidak jelas dimana rimbanya. Ya, tetap saja kembali lagi pada pokok permasalahannya. Tapi ini semua masalah hati, masalah yang tidak ada solusinya selain bertemu dan berbicara dari hati ke hati.
“ Hihihi aku tidak ingin bertemu. Baiklah meskipun hadiah yang kemarin belum sempat aku berikan, namun kali ini aku akan pergi tetap dengan membawa hadiah yang lain.” Ucapnya sangat girang. Merasa percaya diri jika dirinya akan segera bertemu dengan Fani sang kekasih hati. Merasa jika dia akan menemukan Fani dengan sangat mudah tanpa halangan dan tanpa hambatan. Terlebih lagi sang ayah dan bunda sudah mengizinkan dirinya pergi dengan alasan masalah hati.
Setidaknya aku cukup percaya diri untuk menemuimu. Aku akan pergi dengan dituntun rasa rindu, menuju jalanan yang bergerigi, berkerikil dan berbatu.
**
“ Ha, ini kan Mamanya Sophia.” Ucap Fani yang membesarkan kedua mata menatap layar ponsel yang digenggamnya.
“ Sejak kapan mamanya Sophia punya sosial media. Eh ini akun baru ya.” Lanjutnya melihat profile wanita separuh baya itu.
“ Hmm baiklah, aku konfirmasi saja. Durhaka dong saya kalau nolak.” Ucapnya sembari mengonfirmasi dan mengikuti kembali akun wanita yang merupakan ibu dari mantan sahabatnya dulu.
__ADS_1
“ Yang salah anaknya sih, gak mungkin dong ibunya juga ikutan dimusuhi.” Sambungnya. Meskipun saat ini dia sangat membenci Sophia, namun dia tidak ingin melibatkan orang lain dalam perang batin dan kebencian ini. Ya padahal awalnya hanya Sophia yang membenci dirinya, hanya dia yang menerima tatapan kebencian. Tapi sekarang semua sudah seimbang, mereka saling tidak suka dan membenci. Semua semenjak unggahan-unggahan yang membuatnya tersulut emosi, ditambah rasa yakin jika Andry dan Sophia memang memiliki hubungan spesial setelah kepergian dirinya.
Huh sudah berbulan-bulan aku mencoba melupakan, namun tetap masih terasa ya. Ternyata pengkhianatan memang sesakit ini.
Benar kata orang, semut diseberang terlihat namun gajah dipelupuk mata tidak. Kesalahan kecil orang lain terlihat, namun kesalahan kita sendiri tidak. Itulah yang terjadi pada Fani, hanya merasa disakiti dan tersakiti. Merasa dikhianati dan menjadi korban. Padahal sebelumnya dia juga telah mematahkan hati orang lain, menghancurkan harapan sahabatnya. Walaupun sebenarnya mereka berputar pada kesalahan yang sama, namun pembelaan pada diri mereka juga ada.
“ Besok udah mulai ujian, itu artinya Andry akan segera lulus dan menjadi mahasiswa. Gak terasa ya ternyata aku sudah berlari selama berbulan-bulan. Berlari menjauh entah kemana tapi sebenarnya hatiku masih diam tidak bergerak. Raga saja yang pergi tapi hati masih terpaku disini.” Ucapnya lirih, matanya tampak berkaca-kaca mengingat sang kekasih yang dia tinggal tiba-tiba.
“ Aku bahkan sudah lupa berapa nomor teleponmu.” Sambungnya kali ini menangis. Mencoba menahan sesak didada namun tidak bisa, terpaksa harus meluapkan dengan tangisan dan air mata.
“ Aku pikir aku bisa, ternyata tidak. Aku mencoba beranjak dari kesakitan tapi aku tidak tau cara melepas jeratan yang kau pasangkan.” Tangisnya lebih kencang. Air matanya bercucuran. Rasa kesal dan sesalnya bercampur menjadi satu, terlebih lagi rasa rindu yang sudah ditumpuk-tumpuk beberapa waktu.
Cukup lama Fani meraung menangis didalam kamarnya, meratapi nasib percintaannya yang berakhir dengan pengkhianatan belaka. Matanya tampak sembab dan memerah, tangannya menggenggam kuat ponsel yang terpampang foto Andry yang satu-satunya masih tersisa didalam ponselnya. Namun seketika tangisnya berhenti, giginya mengatup menggeram. Sorot matanya mendadak tajam seperti kesetanan. Entah apa yang tiba-tiba merasuki pikirannya, membuatnya terdiam sejenak. Tangannya mengepal menggenggam pinggiran ranjang.
“ Ah untuk apa aku membuang air mata dan menangisi dirinya, mungkin saja disana dia sedang tertawa bersama Sophia. Atau mereka tengah berkencan dan bergandeng tangan mesra. Ah aku yang menjijikan, aku yang bodoh, aku yang malang.” Ucapnya seketika. Kedua tangannya dengan cepat menyeka air mata yang berhenti mengalir namun masih bergelantungan dipipinya.
“ Ih menjijikan sekali menangisinya. Aku menangis disini, eh mereka bersenang-senang disana.” Gerutunya kesal, melempar semua bantal dan guling yang ada didekatnya. Kemudian berbaring dengan posisi tengkurap, tangannya tetap menggenggam erat ponsel yang masih terpampang nyata wajah Andry yang tampan.
“ Hei kau, memang hati tidak pernah salah. Sejak pertama kali aku mendengar namamu, aku sudah membencimu. Tapi tidak bisa dipungkiri ini semua kesalahanku, karena terlampau benci aku jadi malah menerima tantangan wanita gila itu. Dan kesalahan terbesarku adalah jatuh cinta pada pria sepertimu. Sekali pemain wanita tetap pemain wanita. Aaaaa Fani bodoh.” Lanjutnya menyumpah serapahi dirinya, mengakui semua kesalahannya yang menyebabkan dia harus berada dalam posisi menyebalkan seperti ini.
“ Hallo Fani, apa kabar sekarang?.” Ucap wanita paruh baya itu melalui pesan.
“ Hai tante, kabar baik. Gimana kabar tante sekeluarga?.” Jawabnya kemudian balik bertanya.
“ Tante dengar kamu sudah pindah keluar kota ya, tante baru saja tau dari Sophia beberapa waktu lalu.” Sebuah pesan kembali masuk dari akun tersebut.
“ Hehehe iya tante, aku sudah pindah beberapa bulan yang lalu. Sekarang tinggal dikota Pontianak. “ Balasnya lagi.
Huffh bahkan saling chat-chatan dengan ibunya saja kesalnya kebawa-bawa. Mau gak mau ya harus aku balas pesannya, aku kan benci anaknya bukan ibunya.
“ Wah, jauh ya. Semoga sehat selalu, titip salam untuk ayah, ibu dan yang lainnya ya Fan. Lain kali kalau tante kesana tante main-main kerumah kamu deh.” Balas wanita paruh baya itu lagi, seolah masih ingin terus mengobrol lewat pesan-pesan.
“ Iya tante. Semoga bisa ketemu ya tante.” Membalas sesingkat mungkin untuk mengakhiri obrolan yang menyebalkan ini.
__ADS_1
Fani beranjak dan mengambil laptop yang belakangan ini sangat jarang disentuhnya. Namun pandangannya terpaku pada sebuah kotak kecil yang ada disudut meja belajarnya. Sebuah kotak yang berisi hadiah dari Endrico yang sama sekali belum pernah dipakainya. Bahkan hanya untuk sekedar melihat saja dia enggan, katanya hanya mengingatkan pada kenangan, hanya membuka luka lama. Ingin membuang namun merasa tidak enak hati. Jadi satu-satunya jalan adalah membiarkan tetap ada didalam kamar, disudut meja belajar, tertutup dan berdebu.
Maaf ya kak Endi, bukan sengaja untuk menepikan pemberian kak Endi. Tapi setiap kali melihat benda kecil itu aku selalu tersulut emosi, rasanya emosionalku diobrak-abrik, nafasku sesak dan pikiranku tertarik kembali pada kenangan yang pelik.
Suara denting ponsel kembali membuyarkan lamunan Fani yang sedari tadi menatap kotak kecil disudut meja tersebut. Dengan cepat dia berlari menghambur keatas ranjang dan meraih ponsel genggamnya. Pikirnya pesan penting, ternyata sebuah pesan dari akun yang sama. Pesan masuk dari ibunya Sophia. Padahal dia sudah mencoba mengakhiri pembicaraannya. Kali ini Fani membaca pesan dengan alis yang turun naik bergantian. Dahinya mengkerut memperhatikan.
“ Nak Fani, tante minta alamat kamu yang dikota Pontianak dong. Mungkin bulan depan tante ada kunjungan kesana, kalau ada waktu tante akan mampir dan berkunjung kerumahmu.” Sebuah pesan yang cukup asam hingga membuat kening Fani mengkerut.
Ini langsung nanya alamat lagi. Hem lagi-lagi aku gak mungkin bohong kan. Padahal aku udah berusah menghindari semua orang-orang yang ada dikehidupanku sebelumnya, tapi apa boleh buat. Ini diluar kendali.
Meskipun dengan ragu-ragu akhirnya Fani memberikan alamat kepada akun yang dia anggap milik ibunya Sophia itu. Tanpa rasa curiga sedikitpun. Padahal itu bukanlah ibu Sophia yang sesungguhnya, ada orang lain dibalik ini semua. Akun itu dikelola oleh Sophia sendiri, memang sengaja dia buat untuk mencari informasi mengenai kehidupan Fani. Karena tidak mungkin menggunakan akun pribadinya, akhirnya Sophia memanfaatkan nama ibunya.
Flashback
“ Eh ini kan akunnya Fani. Oh ternyata akun baru ya, pantas saja yang lama gak pernah terlihat lagi aktivitasnya.” Ucap Sophia sembari mengangguk-anggukkan kepala. Membuka profil akun yang ternyata terkunci tersebut.
“ Yah malah diprivate lagi akunnya.” Lanjutnya menghembus nafas panjang. Menatap dalam layar ponsel yang hanya terpampang nama panggilan Fani dan tahun lahirnya. Selebihnya tidak dapat dia lihat lagi, baik itu postingan atau unggahan cerita Fani.
“ Padahal kan ini sumber informasiku. Aku bisa tahu semua kesehariannya melalui akun ini.” Ucapnya terdengar kecewa. Berharap dia bisa mendapatkan informasi tanpa harus mengikuti akun musuhnya tersebut.
“ Masa sih aku harus follow pakai akunku. Ih malu dong, kan aku lagi musuhan. Masa iya aku follow musuh sih. Idih gak banget deh.” Lanjutnya menggidikkan bahunya jijik.
“ Itu sama aja sih menjatuhkan harga diri sendiri dihadapan musuh.” Ucapnya lirih.
Sophia hanya bisa merenungi layar ponselnya sembari mencoba menggali-gali ide dari kepalanya. Apa yang harus dia perbuat selanjutnya. Bagaimana dia bisa mendapatkan informasi tanpa harus menjatuhkan harga dirinya. Ibaratkan bagaimana caranya membunuh mangsa tanpa menyentuhnya. Sesekali keningnya diketuk dengan jari telunjuknya, seolah membantu otaknya untuk menemukan ide dengan segera.
“ Ahaa aku buat akun baru saja. Aku buat akun dengan nama orang lain. Pasti tidak ketahuan jika aku adalah dalang disebaliknya.” Ucapnya tegas. Merasa dapat angin yang menyejukkan, mendapat ide berlian.
“ Eh tapi kan kalau pakai nama orang lain aku mau posting foto siapa? Kalau gak ada foto sama sekali malah dia jadi curiga kalau ini akun palsu.” Lanjutnya lagi, seketika bunga yang mekar mendadak layu. Ide yang cemerlang mendadak berdebu.
“ Apa lagi tampaknya saat ini dia selektif menerima teman disosial media. Kalau aku tetap pakai ide ini besar kemungkinan akan gagal sih.” Ucapnya lagi.
Sophia tampak berfikir dan menimbang-nimbang apa yang harus dilakukannya. Besar kemungkinan ide pertamanya akan gagal, mau tidak mau dia harus mencari ide yang lain. Ide yang menjamin jika dia akan berhasil menggali semua informasi. Terlebih bagaimana caranya untuk membuat Fani tidak curiga sama sekali. Kepalanya dipaksa berputar mencari ide yang menjamin. Seketika wajah Sophia tersenyum girang, garis bibirnya ditarik panjang, matanya sipit tenggelam, tangannya mengepal senang. Sebuah nama muncul
__ADS_1
dikepalanya, siapa lagi yang bisa dimanfaatkannya kalau bukan Mamanya.