Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Fani Pulang Kampung (part2)


__ADS_3

Fani dan anggota keluarga yang lain tampak sibuk memasukkan barang kedalam mobil mewah berwarna putih itu. Seperti akan pindahan saja, banyak sekali barang yang mereka bawa. Setelah memastikan semua barang sudah dimasukkan, satu persatu mulai menempati kursi penumpang. Mobil yang sangat pas-pasan untuk 6 orang penumpang. Ayah melajukan mobil membelah jalanan yang cukup lengang, menjauhi perkotaan yang ribut dan penuh polusi. Butuh waktu hampir 3 jam untuk sampai kerumah nenek. Fani menikmati pemandangan yang semakin jauh semakin lengang, banyak sawah yang terbentang. Tak seperti perkotaan yang dipenuhi gedung-gedung yang tinggi. Fani meraih ponsel dari tas kecilnya dan memotret sawah-sawah yang menyejukkan pandangan. Mengirim foto dan sebuah pesan kepada kekasihnya.


“ Jangan lupa temui aku dalam waktu dekat.” Mengirim sebuah foto dan pesan.


“ Iya sayangku. Jangan lupa share lokasi kalau udah sampai ya. Hati-hati dan sampai ketemu love.” Andry membalas pesan Fani dan mengirimkan foto selfienya yang sedang tersenyum manis sekali. Fani tersenyum menatap layar ponselnya yang terpampang wajah tampan Andry.


“ Senyumnya nular ya.” Gumam Fani dalam hati. Kemudian mengambil foto selfie dirinya dan mengirimkan kepada Andry. Dibubuhi kalimat “ Siap merindukanmu duhai kekasihku.”


“ Hehehehe udah jago merayu ya.” Balas Andry merasa dirayu oleh wanitanya itu.


Fani kembali menatap pemandangan yang indah dan menyejukkan matanya. Pemandangan yang jarang dia lihat, apalagi dikota. Terakhir kali dia melihat pemandangan yang hampir sama saat Andry mengajaknya kencan dadakan di cafe bernuansa alam terbuka. Fani mengingat awal mula hubungan mereka yang dipenuhi kebencian dan keterpaksaan. Namun sekarang malah saling sayang dan membutuhkan. Senyum manis terukir diwajahnya, Fani membuka galeri ponselnya. Melihat satu persatu foto-fotonya bersama Andry. Yang paling dia suka adalah foto mereka saat dipantai, menggenggam tangan menatap pantai dan dinaungi cahaya kemerahan senja. Menjadikan foto itu sebagai wallpaper ponsel dan profil sosial medianya.


“ Sulit dipercaya, cinta yang durja.” Gumamnya tersenyum menatap kemesraan mereka.


Fani menyimpan ponselnya dan memejamkan matanya. Perjalanan masih tersisa kurang lebih dua jam lagi. Rumah neneknya terletak dipedesaan yang aksesnya tidak terlalu sulit dijangkau. Ayah dan Ibu tampak berbincang-bincang sembari menunjuk hamparan sawah yang ada disepanjang jalan. Sementara Joo dan adik-adiknya memillih tidur sejak mobil mulai bergerak tadi. Mereka memang sengaja berangkat pagi-pagi sekali, ingin menikmati udara dan munculnya sang mentari.


******************


Andry mengambil speakernya dan menyalakan musik dengan suara keras. Suaranya memenuhi rumah yang sepi itu. Kakaknya sudah pergi kekampus begitupun dengan ayah dan bundanya yang sudah pergi bekerja sejak beberapa menit yang lalu. Hanya ada dirinya dan kebosanan dirumah yang besar itu. Andry bernyanyi dan berjoget untuk mengusir rasa bosannya. Seketika dia teringat dengan Ardi dan beberapa temannya yang lain. Andry meraih ponselnya dan meminta teman-temannya untuk datang kerumah.


“ Hallo Di, dimana lo? Sini dong ajak anak yang lain kerumah gue. Lagi bosen nih gue sendirian.” Sahut Andry saat telepon terhubung.

__ADS_1


“ Masih pagi gini lo udah bosen? Tidur aja biar gak bosan.” Terkekeh dari dalam telepon.


“ Tidur juga udah bosen. Sini ajadeh lo. Main Ps sama gue dan anak-anak yang lain.” Jawabnya memaksa.


“ Yah gak bisa bre. Gue sama yang lain udah janji mau futsal digor deket sekolah. Lo gabung aja bareng kita. Hitung-hitung olahraga biar sehat.” Tawarnya pada Andry. Karena bosan sudah menguasai seluruh rumahnya, dengan cepat Andry mengiyakan tawaran Ardi itu.


“ Oh gitu. Iyadeh gue kesana aja ntar main bareng kalian.” Jawabnya menerima tawaran.


“ Oke. Jam 9 ya, gue lagi siap-siap mau jalan nih.” Ardi mengakhiri obrolan.


“ Oke gue juga mau siap-siap. Bye.” Memutuskan sambungan telepon dan segera beranjak untuk bersiap-siap.


Andry mengganti pakaiannya tanpa mandi, pikirnya karena akan berkeringat juga jadi gak perlu mandi. Bergegas mematikan speaker yang memekak kan telinga itu, meraih kunci mobil dan sepatu. Andry menyalakan mesin mobilnya dan segera melajukan menuju gor yang ada didekat sekolah. Hanya butuh waktu 15 menit mobil Andry sudah terparkir dibelakang gor yang megah itu. Tempat biasa dia dan teman-temannya bertanding dengan sekolah lain. Disana sudah terlihat beberapa temannya yang duduk menunggu. Andry segera mendekat dan menyapa semua yang ada disana.


“ Udah kok. Tapi barusan keluar ada telfon dari orang tuanya.” Jawab Dedi teman sekelasnya. Andry hanya mengangguk dan duduk disebelah teman-temannya. Memakai kaos dan sepatu futsal yang sudah cukup lama tak disentuhnya itu.


Dari kejauhan tampak Ardi berjalan mendekat dengan dua orang wanita bersamanya. Andry sama sekali tidak mengenal siapa wanita-wanita yang bersama Ardi itu. Tak terlalu perduli, Andry lanjut mengikat tali sepatunya. Saat Ardi dan wanita itu berhenti didekatnya, ponsel Andry tibaa-tiba berdering dan ternyata itu adalah


panggilan dari kekasih hatinya. Dengan cepat Andry menjauh dan mengangkat telepon.


“ Hallo sayang. Aku udah sampai ni. Kamu dimana? Aku kok udah rindu aja ih?.” Sahut Fani saat panggilan terhubung. Mengucapkan rindu padahal baru 3 jam dia melipir dari perkotaan.

__ADS_1


“ Iya sayang, aku juga rindu. Sekarang aku lagi digor futsal yang dekat sekolah. Bosan dirumah jadi mau main bareng anak-anak yang lain.” Jawabnya tersenyum saat mendengar kata rindu dari kekasih yang dicintainya itu.


“ Yaudah, jangan lama-lama ya. Kabarin kalau udah selesai.” Sahutnya terdengar samar-samar karena sinyal dikampung agak buruk.


“ Siap boss. Love you.” Mengakhiri telepon.


“ Love you too. Bye.” Memutuskan sambungan telepon.


Andry kembali mendekat dengan teman-temannya yang lain. Sedikit penasaran dengan dua wanita yang dibawa Ardi itu. Namun sifatnya yang cuek dan dingin memaksanya untuk tidak peduli.


“ Eh jauh banget lo terima telepon.” Ardi mengejek saat melihat Andry mendekat. Andry tak menjawab sepatah kata pun bahkan tetap berjalan mendekat tanpa reaksi apapun.


“ Oh iya kenalin nih sepupu gue dan temannya. Mereka tinggal dirumah gue selama liburan.” Andry menunjuk kedua wanita itu secara bergantian.


“ Hai aku Dira sepupunya Ardi.” Wanita itu tersenyum dan mengulurkan tangan, disambut Andry dengan baik.


“ Andry.” Jawabnya singkat dan dengan wajah datar.


“ Hai aku selly, teman nya Dira.” Wanita yang satunya juga tersenyum dan mengulurkan tangan kepada Andry.


“ Andry.” Masih menjawab singkat dan dengan wajah yang datar.

__ADS_1


“ Yaudah yuk mulai main, gue gak bisa lama-lama soalnya.” Andry beranjak dan mengambil bola yang ada disudut lapangan. Yang lain mengangguk dan mulai memasuki lapangan. Mereka memulai permainan.


Kedua wanita itu duduk dipinggir lapangan dan memperhatikan permainan, entah apa yang membawa mereka hingga sampai ketempat ini. Namun sesekali terlihat dua wanita itu tersenyum sembari menunjuk Andry yang sedang berlari kesana-kemari mengejar bola. Mereka tertawa dan seperti kagum melihat permainan yang isinya lelaki dengan wajah diatas standar ini. Mereka hampir tak mengalihkan pandangan dari lelaki tampan dengan sekujur tubuh yang dipenuhi keringat itu.


__ADS_2