Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Bertamu Untuk Kedua kalinya.


__ADS_3

Andry membuka kembali album Fani sewaktu kecil. Meskipun dia sudah pernah melihatnya, Andry tetap membuka dan melihat untuk kedua kalinya. Berkali-kali senyuman tipis terukir diwajahnya, Andry menatap Fani kecil yang lucu dan menggemaskan. Terutama foto Fani yang sedang kesal dan memonyongkan bibirnya. Andry sampai terkekeh melihat foto yang menggemaskan itu. Diraihnya ponsel dari kantong dan memotret beberapa foto kecil Fani. Andry masih tersenyum menatap album usang yang bahkan sudah mulai pudar itu.


“ Menggemaskan sekali kau gadis tengil.” Andry mengegeram melihat hasil potretan nya.


“ Bahkan sampai sekarang kau tetap menggemaskan kalau bibirmu maju 10 centi.” Andry terkekeh pelan.


Andry hampir melupakan tujuan utamanya memacari gadis tengil itu. Bahkan setelah resmi berpacaran Andry terlihat sangat tulus layaknya kekasih yang benar-benar mencintai. Entah niat hatinya sudah berubah atau memang dia tengah dimabuk cinta? Atau memang jalan rencananya seperti ini?.


“ Hei maaf ya lama nunggunya.” Fani mendekati Andry yang masih memegang album usang itu.


“ Eh kok..” Pembicaraannya terhenti dan segera merampas album itu dari tangan Andry.


“ Ambil aja tuh albumnya, yang penting aku udah punya fotonya.” Andry mengejek sambil menunjukan hasil potretannya kepada Fani.


“ Aaaa aku kan malu.” Fani mencoba merampas ponsel Andry dan memukul bahu Andry berkali-kali. Merasa malu saat melihat muka kesalnya dengan mulut monyong dilayar ponsel pacar dadakan nya itu.


“ Gak bisa, gak bisa.” Andry kembali mengejek dan berlari. Fani mengejar Andry dan berkali-kali mengitari kursi yang ada diruang tamu. Bersenda gurau dan kejar-kejaran layaknya pasangan yang tengah kasmaran. Sesekali Fani berhenti menghela nafas dan Andry tetap menertawakan tingkah menggemaskan gadis tengilnya itu.


Saat asyik bermain kejar-kejaran, ibu datang dengan sebuah nampan ditangan. Ibu hanya menggeleng melihat kekanak-kanakan antara mereka berdua. Kemudian meletak kan nampan yang berisi minuman dan kue diatas meja.


“ Ini kenapa pada kejar-kejaran sih?.” Ibu menghentikan kejar-kejaran diantaramereka.


“ Minum dulu nak Andry. Pasti haus kan?.” Ibu menyodorkan segelas air saat Andry kembali duduk dengan nafas yang terdengar memburu.

__ADS_1


“ Makasih tante.” Andry mengambil gelas dari tangan ibu sambil menghela nafasnya.


“ Ini kamu juga. Tamu malah diajak main kejar-kejaran.” Ibu mencubit pelan pipi Fani yang duduk disebelahnya.


“ Aw sakit bu.” Fani mengelus pipinya.


Beberapa saat kemudian Nampak seorang lelaki paruh baya berkemeja memasuki rumah. Ayah Fani baru saja pulang dari bekerja. Melihat ada tamu dan segera ikut nimbrung ditengah-tengah mereka. Nampaknya kedua orang tua Fani menyukai Andry ya hehehe.


“ Wah ada tamu ternyata.” Ayah berjalan mendekat.


“ Eh om udah pulang?.” Tanya Andry dan beranjak untuk mencium punggung tangan lelaki parubaya itu.


“ Udah lama kamu disini?.” Ayah Fani duduk disebelah Andry.


“ Hehehe udah lumayan om.” Jawabnya cengengesan.


“ Tapi om, aku gak bisa main catur.” Sahut Andry setengah berteriak.


“ Mumpung om mandi kamu belajar dulu sama Fani.” Sahut ayah Fani dari kejauhan.


“ Hahaha hari gini laki gabisa main catur? Apa kata dunia?.” Fani balik menertawai Andry.


“ Hem.” Andry hanya berdehem dan memalingkan muka dari Fani.

__ADS_1


“ Hehehe gak apa-apa nak Andry, kamu bisa belajar sama Fani. Mumpung belum sore banget kan bisa main-main dulu.” Ibu Fani menyela.


“ Ah gak mau. Biarin aja dia malu karena kalah telak.” Fani kembali tertawa terbahak-bahak. Andry yang kesal melihat ejekan dari gadis itu pun sontak melemparkan bantal kursi hingga mengenai wajah Fani.


“ Hahaha rasain tu.” Andry tertawa diikuti ibu. Sedangkan Fani menekuk wajahnya kesal dan tak lupa memonyongkan bibirnya. Andry sengaja membuatnya kesal, karena kecanduan melihat wajah menggemaskan pacar dadakannya itu.


“ Yaudah ibu tinggal dulu ya. Fan kamu ajarin ni Andry main catur. Jangan sampai kamu malu kalau anak didikmu kalah lawan ayah.” Ibu terkekeh dan beranjak meninggalkan Andry dan Fani diruang tamu.


“ Belajar aja sendiri.” Fani memalingkan wajah dan melipat kedua tangannya didepan dada. Benar-benar sangat membuat Andry gemas. Andry hanya bisa tersenyum menatap gadis dihadapannya itu. Entah kenapa hatinya merasa bahagia setiap kali berhasil membuat Fani diselimuti rasa kesal.


“ Udah ah. Jangan gemesin terus dong.” Andry terkekeh.


“ Ajarin saya ya tuan guru.” Andry mengatupkan kedua tangan membuat gerakan memohon.


“ Gak.” Fani semakin besar kepala dan kembali memalingkan wajahnya.


“ Hehehe.” Andry hanya terkekeh sembari mengeluarkan ponselnya dan memotret wajah kesal Fani yang ada dihadapannya itu.


“ Nah sempurna. Foto wajah kesal Fani kecil dan foto wajah kesal Fani dewasa.” Andry terkekeh menatap layar ponselnya. Fani menyadari jika Andry memotretnya pun langsung mengejar dan mencoba merampas ponsel berwarna hitam itu.


“ Aaaa hapus gak! Aku marah ni.” Fani terdengar mengancam sambil tetap mengejar Andry yang mengelilingi kursi diruangan itu.


“ Marah aja. Aku gak takut.” Andry menjulurkan lidah mengejek Fani.

__ADS_1


“ Awas ya. Aku gak akan mengampuni mu Andry.” Fani mengejar sekuat tenaga dan melempar Andry dengan bantal-bantak kursi.


Mereka berlarian kesana kemari layaknya anak kecil. Membuat seisi ruangan jadi berantakan. Sejenak saling melupakan niat buruknya masing-masing. Melupakan apa yang membuat hati kesal dan penyesalan. Melupakan kebencian dan balas dendam. Yang ada hanya luapan kebahagiaan layaknya sepasang kekasih yang saling mencinta dan berkasih sayang. Lupa tentang pelarian, gadis tengil dan lelaki sialan. Yang terlihat hanya ketulusan dan rasa nyaman. Entah ini akan jadi awal perjalanan cinta mereka yang sesungguhnya atau jadi awal sakit hati yang mendalam?


__ADS_2