
Aku pikir semesta enggan membuatku lebih patah, sehingga memberi alasan agar segera pulang. Nyatanya itu alibi saja, rupanya semesta merencanakan sesuatu yang membuatku bukan hanya sekedar patah. Namun, aku hancur berkeping-keping merata dengan tanah, melebur bersama udara-udara.
Andry masih terdiam menatap kedua manusia yang masuk dalam daftar pencariannya, meskipun hanya satu tokoh utama dan satunya peran pendukung saja. Andry mencaci maki dalam hati sembari menatap sepasang manusia yang berdiri tak jauh darinya, hanya beberapa langkah saja. Meskipun Andry belum mengetahui apa hubungan mereka berdua, namun dalam hati dan pikirannya sudah banyak dugaan-dugaan menyakitkan. Bergelantungan dan berkelayut mengotori akal pikiran.
Hei hati, tolong bersabarlah. Jangan biarkan aku menupahkan semua amarahku disini, ditengah keramaian ini. Tolong jangan paksa aku menjadi Andry yang arogan.
Wajah Andry tampak merah padam, kedua tangannya sudah mengepal seolah siap menghantam wajah lelaki yang ada bersama kekasihnya. Apalagi Andry melihat dengan mata kepalanya jika Endrico tanpa segan menggandeng tangan Fani yang notabene masih menjadi kekasihnya, walaupun itu hanya katanya saja, bukan kata mereka berdua.
“ Hufffhhh sabar, jangan kotori tangan bersihmu hanya untuk pria itu. Jangan arogan, kau bisa tanyakan baik-baik, kau masih punya akal pikiran. Jangan rusak imagemu hanya karena seorang lelaki yang belum tentu hubungannya dengan kekasihmu itu. Kau pasti bisa menanyakannya baik-baik tanpa berurat sama sekali.” Gumamnya kemudian menarik nafas panjang. Tubuhnya sudah mulai lemas, tangannya tidak lagi dikepal marah, senyum tipis menghiasi wajah tampannya walaupun sebenarnya ini semua dilakukan dengan amat terpaksa.
“ Ayolah An, kamu pasti bisa. Kamu datang kekota ini untuk minta kejelasan dan penjelasan saja kan? Iya ini waktunya, ini paling tepat. Mendekat dan mintalah kejelasan dan penjelasan, hal lain mungkin tidak dapat dibahas saat ini.” lanjutnya. Andry melangkah perlahan-lahan, mendekati sepasang manusia yang tengah asyik berbincang, entah apa yang mereka bicarakan.
Ternyata Andry tidak seberani yang dipikirkan, untuk bertatap muka dengan gadis yang membawanya hingga kesini saja dia tidak bisa, tidak sanggup. Nafasnya kembali memburu, jantungnya berdetak tidak beraturan, ini sangat gugup, ini kegugupan yang paling selama hidupnya.
“ Loh, kemana mereka?.” Ucap Andry ketika matanya sudah kembali dibuka. Sebelumnya dia menghela nafas panjang sembari merunduk memejamkan mata dan mengumpulkan keberanian. Alih-alih mendapatkan keberanian, malah dia kehilangan sosok yang dicarinya selama ini.
“ Gila ya, gue pejam mata berapa detik doang tu orang langsung menghilang. Ini udah kayak ada konsepnya aja ya.” Gerutunya. Andry mengedarkan pandangannya menatap sekaliling, barangkali kedua manusia itu belum jauh pergi.
“ Kemana lagi nih gue cari tu orang, duh mana waktu makin mepet lagi.” Andry menatap jam yang melingkar dipergelangan tangannya, waktu keberangkatannya semakin dekat. Jika dia terus mencari Fani kemungkinan besar dia akan ketinggalan penerbangan. Itu artinya dia tidak bisa bertemu bunda hari ini, menyia-nyiakan uang dan semakin menumpuk kekhawatiran.
“ Ah sial! Harusnya aku tidak berleha-leha. Harusnya ketika aku lihat langsung sigap aku tangkap,
sekalian minta kejelasan depan lelaki itu.” Andry menggumam kesal, beberapa kali dia menepis angin dengan telapak tangan. Wajahnya merah padam, perasaannya jungkir balik. Seperti ada yang memaksanya untuk tetap diam disini, terus mencari Fani hingga benar-benar bertemu. Namun juga ada yang memaksanya untuk pulang sekarang juga.
Andry berbalik dan kembali naik kelantai atas. Berjalan dengan harapan-harapan semesta yang berbaik htai, kembali mempertemukan sebelum dia sudah harus mengikuti penerbangan. Perasaannya semakin kacau balau, matanya berbinar-binar menatap orang-orang yang dilaluinya. Berharap Fani ada diantara salah satu dari mereka.
“ Fan, ayolah. Sebentar lagi penerbanganku. Biarkan aku berbicara meski hanya beberapa menit saja, semua tergantung kau nantinya. Jika kau menginginkan aku akan kembali datang, jika tidak ini adalah sebenar-benarnya pulang.” Batinnya terus menyulam asa. Bibirnya pucat pasi seiring nafasnya yang kembang kempis.
Ddrrtttt…. Drrrtttt..
Dering ponsel membuat Andry terperanjak kaget. Pandangannya yang semula berkeliaran sekarang fokus
menatap layar, sebuah panggilan dari kakanya Devi. Setelah beberapa kali mencoba menghubungi kembali dan nomornya tidak aktif, akhirnya Devi menghubungi Andry.
__ADS_1
“ Hallo kak, ada apa? Kenapa tadi aku telepon balik nomor kakak gak aktif? Bunda mana? Bunda baik-baik aja kan?.” Andry menyerbu Devi dengan beberapa pertanyaan yang menjadi kecemasannya sejak tadi.
“ Kamu balik aja dulu ya, nanti kita omongin waktu kamu udah sampai Jakarta. Yang penting kamu hati-hati dijalan ya.” Devi menjawab dengan tenang dan menenangkan .
“ Tapi kak bunda gapapa kan? Aku cemas.” Lanjut Andry dengan suara yang terdengar ketakutan.
“ Kak, bunda gimana? Jangan diam-diam aja dong. Jangan bikin aku gak tenang selama diperjalanan.” Lanjutnya terus memaksa Devi untuk buka suara.
“ Bunda harus dioperasi hari ini juga, ada beberapa benjolan dibagian payudaranya.” Devi ikut-ikutan cemas, membuat Andry semakin kalang kabut dan ingin sesegera mungkin pulang dan menemui bunda.
“ Tapi kamu jangan terlalu cemas ya, hati-hati dijalan. Nanti mang ujang yang bakal jemput kamu dibandara.” Devi mengakhiri obrolan dan memutuskan sambungan.
Tanpa berfikir panjang, Andry segera mengambil boarding pass dan menunggu ditempat yang telah dianjurkan. Tidak sabar menunggu penerbangannya, ingin cepat-cepat bertemu dengan bunda. Selama duduk dikursi tunggu, pikiran Andry dan hatinya senantiasa tidak sejalan. Yang satu ingin pulang dan yang satu memaksa bertahan. Padahal kedua-dua pilihannya ada tentang cinta, namun berbeda kadarnya.
“ Mungkin bukan takdirnya. Yang coba semesta sampaikan adalah kau bukan lagi wujud yang sama seperti yang aku inginkan. Kini kau telah berganti jadi milik orang, lelaki yang dulu kau gempar-gemparkan hanya seorang teman. Tapi ternyata benar, kau yang main belakang. Oh begini ternyata pelajaran tentang kehidupan cinta.” Batinnya. Pandangannya tak beralih dari layar ponselnya dan kotak pink yang berisi hadiah-hadiah yang harusnya sudah sampai ketangan tuannya.
“ Benar ya. Harta, tahta, wanita. Heh racun dunia.” Lanjutnya sembari terkekeh dalam hati. Hari ini hatinya benar-benar patah, jauh-jauh datang dengan membawa cinta. Ternyata cintanya benar-benar ingin hilang, yang dia bawa pulang sepucuk pengharapan layu dan asa-asa yang melebur.
Andry menyalakan dan menatap layar ponselnya, meskipun mulut dan batinnya menyumpah serapahi Fani. Namun dalam hatinya masih terbesit cinta mendalam tanpa butir-butir kebencian. Hanya foto dan kenangan yang akan menemani detik waktunya kedepan. Memutar kenangan yang perlahan-lahan juga akan hilang bersamaan dengan jam yang berputar.
**
Fani melenggang santai dengan sebelah tangan memeluk lengan Endrico. Berusaha mengambil hari lelaki yang berada disampingnya, sebab hari pertama menjadi pacar dia sudah hampir membuat Endrico tidak bahagia. Dia menolak dijemput Endri dan akhirnya dia terlambat sampai disini.
“ Coba aja kamu telat parah dan aku udah berangkat. Pasti untuk 365 hari kedepan kamu hidup dengan bayang-bayang penyesalan dan rasa bersalah.” Endrico mencubit pelan hidung Fani, kemudian dibalas senyum oleh wanita yang sejak kemarin dengan senang hati menerima seluruh perlakuan Endrico.
“ Kamu mau nangis dipojokan sampai setahun kedepan, nangis karena menahan rindu yang mendalam.” Lanjutnya sembari terus terkekeh.
“ Idih geer banget sih. Siapa juga yang nangis dipojokan.” Fani menyangkal, kemudian mengejek Endrico dengan menjulurkan lidahnya. Disusul dengan tawa cekikikan setelah Fani puas menjulurkan lidah.
Fani dan Endrico tampak seperti dua manusia yang sudah lama memadu kasih. Tidak ada kecanggungan, padahal bisa disebut ini adalah hari pertama pacaran. Fani terlihat sangat senang, tanpa keraguan sedikit pun. Rasanya tadi malam dia masih ling lung kebingungan dipojok ranjang, memikirkan keputusannya yang tidak sempat dia pikirkan resikonya. Namun hari ini Fani tampil seperti Fani yang baru.
“ Oh iya, nanti setelah sampai aku kabari. Kamu baik-baik disini, jangan mengulah, ingat sekarang kamu adalah milikku.” Endrico merangkul Fani dengan sangat erat sembari tersenyum dan menatap dalam manik mata gadis yang sekarang sudah resmi menjadi pacarnya. Entah sudah pacar yang keberapa, sepertinya yang ke 11 atau yang ke 12. Ya, ini sudah biasa bagi lelaki yang punya asset berharga, selain wajahnya yang tampan Endrico juga berlebihan dari segi material. Dua hal ini yang menjadi daya tarik bagi wanita-wanita, namun ini juga dimanfaatkan Endrico untuk bermain-main dengan wanita. Bahkan dia bisa mendapatkan tanpa mengatakan cinta, cih dasar wanita-wanita gila tampang.
__ADS_1
“ Hem, jangan ngadi-ngadi disana ya. Wkwkwkw menolak lupa kalau sekarang aku adalah nyonya dihati anda.” Fani terkekeh, tangannya mendorong pelan dada Endrico. Kenapa ini? kenapa Fani mendadak seperti wanita nakal? Dia malah bermain-main dengan api. Apa dia juga sudah tersihir wujud Endrico seperti wanita-wanita yang menjadi korban sebelumnya.
“ Wah baru sehari jadi pacar sudah sebahagia ini ya. Aku pastikan kamu bahagia selalu, selagi bersamaku heheheh. Love you darling.” Endrico mencubit pipi Fani, berkali-kali.
“ Hai ma, pa. Ini aku bawakan calon menantu kesayangan mama yang dari tadi mama tungguin.” Endrico berjalan mendekati kedua orang tuanya dengan tangan yang menggandeng erat tangan Fani, mesra sekali. Senyum bahagia tak luput dari wajah sepasang kekasih ini, bahkan kebahagiaan mereka menyamai pengantin baru.
“ Duh menantu mama, kenapa gak bareng kita aja sih tadi. Pasti kamu belum sarapan kan? Sini sarapan dulu.” Ibu Endrico menarik tangan Fani yang disebut-sebutnya calon menantu. Gils baru sehari pacaran aja anak sama maknya udah berani sebut-sebut calon menantu.
Aish. Punten buk saya baru pacaran sehari masa udah dibilang calon menantu sih. Malu sama waktu buk, takutnya ni hubungan Cuma hitungan hari.
Fani bergabung dengan keluarga Endrico, tadi malam makan bersama sekarang sarapan bersama. Satu keluarga yang dihadapinya tampak baik dengannya, entah lah bagaimana sikap mereka dibelakang. Fani menikmati sarapan menjelang keberangakatan sang pacar. Bersenang-senang, melupakan kenangan tanpa terkenang sedikitpun. Benar-benar Fani yang malang, menerima cinta Endrico bukan menambah kebahagiaan. Namun keputusannya menerima cinta Endrico adalah siap akan kehilangan kebahagiaan.
**
Andry duduk termenung dikursi pesawat, menatap langit biru dari jendela sebelahnya. Pandangannya kosong, hatinya bimbang, penyesalan mulai menyerang tak beraturan. Semua rasa yang berkuasa dihati dan pikirannya memaksa dia untuk tetap tinggal dan menemukan Fani yang sudah dekat dalam genggaman. Bahkan Andry sudah melihat Fani dengan mata kepalanya sendiri, hanya saja salahnya Andry terlalu berleha-leha, menikmati keindahan wanita yang dicintainya. Tanpa sadar rasa kagumnya membuat Andry kehilangan orang yang dicarinya beberapa hari belakangan.
“ Huffhh.” Andry menarik nafas panjang. Tangannya masih menggenggam erat ponsel yang terpampang wajah wanita yang tadi katanya ingin dia jadikan kenangan, namun hanya angan-angan, Andry enggan melakukan, belum berani.
“ Tolong lah jangan memberontak sekarang. Jangan jebak aku dalam kebingungan. Seumpama bunda tidak apa-apa aku mungkin akan tetap tinggal disini, akan berdiam diri dan menangkap basah Fani yang sedang asyik dengan lelaki lain.” Lanjutnya. Bukan lagi kesedihan yang menempati teratas hatinya. Namun emosi lebih mendominasi saat ini.
“ Hei bodoh. Apa kau tidak bisa melihat dengan jelas kalau dia sedang berbahagia bersama lelaki barunya. Pantas saja dia mencampakkan ku tiba-tiba, ternyata disini sudah ada tempatnya untuk mencurahkan cinta.” Batin Andry. Wajahnya yang sendu haru mendadak berganti merah padam, menggenggam erat ponselnya yang ada ditangan.
Sorot matanya tajam menatap langit yang semula biru perlahan-lahan menjadi berubah menjadi mendung.
“ Lihatlah, semesta saja tau seberapa rundungnya hatiku. Bukan hanya patah, tapi sudah melebur tak bersisa.” Amarah Andry semakin tidak terkendali, kini tangannya sudah mulai mencabik-cabik ujung bajunya.
“ Heh, aku tak akan pernah datang lagi kekota ini. Tidak akan mencari kau lagi. Pandai sekali kau berlakon, seolah-olah kau korban padahal kau lah yang jahat, kau membuangku hanya demi cinta yang baru. Cih, aku tetap cinta kau, tapi bukan untuk kembali, hanya untuk dikenang. Anggap saja kau cinta pertamaku yang paling berkesan, ku
pikir kau suguhkan ketulusan ternyata kau menyimpan luka yang mendalam.” Jari jemari Andry mulai keram, giginya mengatup menggeram. Ingin sekali rasanya dia lampiaskan, memukul dinding, menendang tiang atau sebagainya. Namun sayang, keadaan tidak memungkinkan. Apalagi ini dikeramaian, didalam pesawat pula. Bisa-bisa dia tidak dizinkan ikut penerbangan, itu sama saja menunda pertemuan dengan bunda.
Andry memejamkan matanya, menarik nafas panjang. Andry berusaha menormalkan suasana hatinya, ingin berangkat dengan perasaan yang tenang tanpa beban. Semua kesakitan yang dia rasakan ingin dia tinggalkan semua disini, dikota ini ditempat wanita yang mematahkan hatinya berkali-kali. Berulang kali Andry menarik nafas panjang, seolah-olah setiap nafas yang dia hembuskan adalah beban-beban yang membuat sakit hatinya. Ternyata cara ini mampu membuatnya sedikit lega, perlahan-lahan hatinya berangsur membaik, senyuman tipis terukir diwajahnya.
“ Huffhh baiklah Fan, mungkin pergi bersekolah diluar negeri akan membuat suasana hatiku menjadi lebih baik. Mungkin ini juga akan membuatku bisa menahan diri untuk tidak mencarimu lagi. Tinggal diluar negeri untuk beberapa tahun tentu akan membuatku lupa tentang kesedihan kan? Hehehe semoga lelaki pilihanmu tidak pernah menyakitimu.” Gumamnya pelan. Andry menyalakan ponselnya, memotret pemandangan langit yang dipenuhi awan-awan pekat dari jendela pesawat. Semenjak patah hati yang berulang kali Andry sicoolman mendadak jadi penyair dan penulis berbasis untaian kegalauan, meski amatir tapi karyanya tidak memalukan jika dipublikasi. Andry, tampanmu ternyata tidak bisa membuatmu menjadi bahagia ya. Materimu yang melimpah ruah ternyata tidak bisa membuat satu wanita untuk setia ya, hehehe ternyata itu bukan tolak ukur.
__ADS_1