Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Disapa Karma?


__ADS_3

Beberapa minggu kemudian..


“ Dimana nenek?.” Fani menghambur memeluk sang ibu yang sedang berdiri didepan pintu. Wajah frustasinya tidak dapat disembunyikan, khawatir menguasai dirinya.


“ Bu? Nenek dimana? Gimana keadaan nenek?.” Fani menggoyang-goyangkan tubuh sang ibu meminta jawaban. Tidak ada jawaban sama sekali, hanya derai air mata yang menjadi jawaban betapa rumitnya keadaan sekarang.


“ Ayah? Nenek gimana? Kenapa baru bilang kalau nenek sakit parah sih? Kemarin ayah dan ibu bilang nenek Cuma sakit biasa. Bohong.” Fani memukul-mukul dada sang ayah yang sejak tadi juga diam tidak bergeming.


Fani menangis sejadi-jadinya. Kepalanya tertunduk menakup dilututnya, membiarkan sedihnya terluahkan. Sejak diperjalanan dia merundung khawatir, tapi sampai dirumah sakit dia jauh lebih khawatir. Ternyata keadaan lebih buruk daripada yang dia bayangkan selama diperjalanan.


“ Fan, tenang dulu dong. Jangan makin bikin orang-orang jadi panic.” Seorang mengangkat dagu Fani, menyeka air mata yang sudah merata membasahi wajah manis itu.


“ Udah tenang dulu, kita sama-sama do’a semoga nenek baik-baik aja ya.” Lanjut lelaki itu sembari menarik Fani kedalam pelukannya.


“ Bang Rafi, kenapa sih semua gak bilang-bilang sama aku kalau nenek dirawat udah beberapa hari.” Fani memeluk erat lelaki yang tak lain adalah sepupunya ini. Sesekali memukul pundak Rafi sebagai bentuk ungkapan kekesalannya.


“ Fan, kamu kan lagi ujian akhir semester dan baru selesai kemarin. Semua orang-orang peduli dan gak mau bikin kamu cemas. Bisa-bisa kamu gagal dalam ujian karena terlalu khawatir dan banyak berfikir.” Rafi mencoba menjelaskan alasan mengapa semua anggota keluarga menyembunyikan keadaan yang sebenarnya.


Nenek Fani sudah terbaring lemah diranjang rumah sakit sejak seminggu yang lalu. Ketika mendapat kabar, kedua orangtua Fani bergegas kembali kekampung halaman. Namun mereka hanya mengatakan jika sang nenek tidak apa-apa, hanya mengidap sakit orang tua pada umumnya. Fani ditinggal bersama adiknya, sementara Joo ikut dengan kedua orangtuanya. Mengingat Joo sudah lulus sekolah menengah atas, sementara Fani dan adiknya baru saja akan memulai ujian.


“ Tapi,,,” Fani belum sempat menyelesaikan ucapannya dan tiba-tiba,


Kreekkkk.. suara pintu terbuka dan semua mata menatap kearah sumber suara. Seorang dokter dan perawat sudah selesai menangani pasien. Melihat peluang, Fani langsung berlari menghambur memasuki ruangan. Sudah tidak sabar ingin melihat orang yang senantiasa menjadi alasannya untuk pulang kekampung halaman. Seorang wanita tua renta yang saat ini terbaring tidak berdaya, berjuang melawan penyakit disisa-sisa hidupnya.


“ Nek,.” Fani menangis menghambur memeluk wanita yang terbaring diranjang rumah sakit itu.


Berulang kali Fani memanggil sang nenek dengan berurai air mata, tapi tidak ada respon sama sekali. Wanita renta itu masih belum sadarkan diri.


“ Fan, jangan nangis disini. Nanti nenek makin enggak nyaman, kita keluar dulu ya biar nenek istirahat.” Rafi merangkul Fani, membantu sang adik berdiri dan menjauh dari pasien yang belum sadarkan diri.


“ Tapi,,” Fani belum sempat menyelesaikan ucapannya, tapi Rafi sudah memaksanya untuk melangkah menjauh dan keluar dari ruangan.


“ Shuttt. Jangan ribut, jangan tapi-tapian. Kita tunggu dulu sampai nenek sadar.” Rafi menyela. Menarik tubuh Fani keluar dari ruangan, meminta sang adik untuk tetap tenang dan menunggu diluar.


Fani terduduk diam didepan ruangan, tertunduk dan menyeka sisa-sia air mata yang mengurai diwajahnya. Bersama dengan anggota keluarga yang lain, bersandar didinding, wajah cemas khawatir. Suasana mencekam, sesekali Rafi mengintai kedalam ruangan, melihat kondisi wanita renta yang mereka khawatirkan.


“ Fan, kamu udah makan?.” Rafi mendekat, memeluk Fani yang masih menangis tersedu-sedu.


Fani tidak  menjawab apapun, hanya menggeleng beberapa kali sebagai jawabannya. Ditengah suasana yang mencekam, penuh kekhawatiran, kecemasan dan sebagainya, seharusnya anggota keluarga harus memperhatikan kesehatan mereka.


“ Yaudah yuk, kita makan dulu. Aku temenin kamu cari makanan ya, nanti kalau gak makan bisa-bisa kamu sakit. Kalau kamu sakit nanti semua makin cemas, yang satunya belum sembuh malah udah nambah satu lagi.” Ucap


Rafi sembari menopang tubuh Fani agar ikut berdiri. Fani hanya diam dan mengangguk, dengan seluruh tenaga yang tersisa dia berdiri dan mendongakkan kepala yang semula hanya merunduk saja.

__ADS_1


“ Makan dulu Fan, bener kata Rafi nanti kalau kamu juga ikutan sakit kan jadi susah. Kamu belum makan kan sejak tadi malam? Makan dulu.” Sahut ibu Fani dari kejauhan. Lagi-lagi Fani hanya mengangguk mengiyakan.


“ Yuk.” Rafi merangkul Fani, meminta sang sepupu berjalan beriringan dengannya.


“ Aku sendiri aja deh bang, nanti kalau ada apa-apa kabari langsung ya. Bang Rafi disini aja.” Fani menepis pelan tangan Rafi yang melingkar dipundaknya, kemudian berlalu pergi meninggalkan semua keluarga yang masih berdiri cemas.


Fani melenggang menuju parkiran. Sepanjang jalan dia hanya menatap kedepan tanpa menghiraukan sisi kiri dan kanan. Bahkan melihat orang-orang yang berpapasan dengannya pun enggan. Tatapannya kosong, hatinya cemas memikirkan keadaan sang nenek. Ditambah lagi sejak kemarin dia saling diam-diaman dengan Endrico, tidak ada komunikasi sama sekali.


“ Huffhhhh jadi kangen rumah lama, apa aku balik dulu ya buat tenangin pikiran. Lagian juga gak niat makan, bawaannya galau dan cemas aja.” Batin Fani. Sebenarnya ayah dan ibu Fani sudah memintanya untuk pulang kerumah dahulu baru datang kerumah sakit. Namun karena terlalu khawatir Fani naik taksi dan langsung menuju rumah sakit.


“ Endrico mana sih? Masa udah dua hari gak ngabarin sama sekali, harusnya kalau aku marah kan dia pujuk gitu biar baikan lagi. Pacaran baru sebulan tapi berantemnya udah gak ketulungan, kebanyakan.” Lanjutnya mendengus kesal. Meraih ponsel dan menatap obrolan terakhirnya dengan Endrico, dua hari yang lalu.


“ Ih kemana sih? Kalau tau bikin badmood berkali-kali gini sih mending gak usah aku terima cintanya. Padahal awalnya aku udah set ni otak, gak bisa karena terhalang jarak. Yah tapi mau gimana lagi, udah gak sadar karena kebanyakan makan rayuan mautnya tu lelaki.” Sambungnya terus menggerutu. Kesalnya tumpang tindih, cemasnya apa lagi.


Fani berjalan dengan wajah ditekuk kesal. Semula cemas dan pucat sekarang berubah memerah marah. Jalan yang semula lemah berubah menghentak-hentak bak balita yang tak dipenuhi keinginannya, marah, merajuk.


“ Ah lupain Endrico. Berhubung udah hampir setahun gak bergerumul dengan jalanan Jakarta, hari ini aku akan berkeliling-keliling menyapa macetnya kota.” Ketusnya sembari mempercepat langkah.


Fani seketika terbelalak saat sudah hampir mendekati pintu keluar, tampak sosok yang bukan asing baginya. Bahkan sudah  tidak asing lagi. Dari kejauhan terlihat sosok lelaki yang tengah asyik berbincang dengan salah satu perawat rumah sakit.


“ Hah itu Andry gak sih?.” Fani mengucek-ucek matanya memastikan jika yang dilihatnya adalah benar Andry.


“ Jangan-jangan ini perasaan berdosa. Masa sih balik Jakarta langsung ketemu karma, ah gak mungkin.” Lanjutnya masih terus mengucek-ucek mata. Perlahan  berjalan mendekat dan mengintip dari dinding-dinding rumah sakit.


“ Tapi, ah. Dia kan sudah milik Sophia, ngapain juga kangen. Dih.” Ketusnya berdalih. Meskipun mulutnya meruncing mengatakan tidak tidak tidak, tapi dalam hatinya berkecamuk kata rindu rindu rindu. Inginnya menyapa, bahkan kalau ada sempat ingin bertanya kabar dan bertukar cerita. Merangkum beberapa bulan yang sempat terpisah, tidak bertemu dan tanpa berkabar.


“ Isshh apaan sih lo Fan. Lagian kan tu orang udah punya pacar, lo juga udah punya Endrico. Jangan ngerusak hubungan orang, jangan pula ngerusak hubungan lo sendiri. Itu cowok yang ngekhianati lo, lo jangan lupa dan sampai kapan pun harus tetap ingat itu.” Batinnya memarahi diri sendiri. Meskipun rindunya membeludak, pengkhianatan yang pernah dilakukan Andry masih bisa menahan. Hingga Fani mengurungkan niat untuk menyapa, memilih untuk pergi dan menghindar saja.


“ Ah mending buru-buru pergi aja, pura-pura gak lihat aja deh.” Fani mempercepat langkahnya keluar dari rumah sakit. Mengemudikan mobilnya sendiri dijalanan kota yang macet, yang katanya sangat dia rindukah. Menyapa kota lama, macet dan polusi udara.


**


 “ Ha? Ini beneran dok?.” Andry terbelalak mendengar pernyataan dokter yang mengatakan jika sang bunda harus segera melakukan operasi.


“ Kemarin katanya bunda Cuma kelelahan saja, kurang istirahat dan tidak ada gejala penyakit yang serius. Lalu kenapa bunda harus segera di operasi? Gak becanda kan dok?.” Andry masih bersikukuh menepis pernyataan yang sebenarnya sangat tidak ingin dia dengar. Matanya memerah lelah, sedih.


“ Iya dik Andry. Sebelumnya saya sudah mengatakan kepada anggota keluarga kamu yang lain. Mungkin mereka belum sempat memberitahu kamu yang sebenarnya.” Sahut lelaki muda yang mengenakan setelan berwarna putih dihadapan Andry itu.


“ Jadi keluarga yang lain sudah tau tentang penyakit bunda yang sebenarnya? Mereka sudah tau kalu bunda harus segera dioperasi?.” Tanya Andry beruntun. Tangannya menggengam erat saku jaket yang dikenakannya.  Marah bercampur sedih, kesal bercampur sesal. Masih mencoba menahan diri, tidak meluahkan disini dihadapan dokter yang tidak bersalah ini.


Ah! Kenapa mereka gak bilang dari awal? Kenapa mereka mencoba menyembunyikan kebenarannya dari aku? Pantas saja bunda bersikukuh melarangku menjemput obat hari ini, ternyata ada yang mereka sembunyikan. Aaaaahhhhh.


Dokter muda itu hanya menjawab dengan senyuman dan anggukan. Hal seperti ini bukan baru kali ini dia temui, sudah sering bahkan hampir setiap pasien menutupi kebenaran tentang penyakitnya dari orang yang tersayang. Tidak ingin membuat mereka terlalu khawatir adalah alasan yang paling klasik dan sering ditemui. Besar kemungkinan keluarga Andry juga memakai alasan ini.

__ADS_1


Andry tertunduk lesu, pikirannya melayang entah kemana-mana. Ingin marah dengan keluarganya, namun tidak mungkin juga. Mengingat kondisi sang ibu yang sedang tidak baik-baik saja, mana mungkin dia menambah luka dengan memarahinya. Akhirnya Andry memilih untuk pergi menenangkan pikiran. Tidak langsung pulang adalah pilihan terbaik saat ini. Mencoba untuk mengontrol emosi agar tidak lepas kendali nanti ketika dirumah, ketika dia bertanya apa alasannya.


“ Apa sih alasan mereka nyembunyiin masalah seserius ini?.” Batin  Andry. Melangkah perlahan menyusuri koridor rumah sakit sembari menerka-nerka apa penyebabnya.


Andry mempercepat langkah menuju mobil kesayangannya. Perasaannya tidak menentu, kacau. Khawatir dan sedih bercampur menjadi satu.


**


 Sudah lebih dari satu jam Fani bergerumul dengan kemacetan kota, keinginannya benar-benar dikabulkan semesta. Katanya rindu macet Jakarta, hari ini dia benar-benar dibiarkan melepas rindunya. Terik matahari menyengat tubuhnya. Bulir-bulir keringat meluruh diujung wajahnya, jatuh membasahi pipinya.


“ Idih gila panas banget.” Gerutunya sembari menyeka ujung wajah yang dipenuhi bulir-bulir keringat.


“ Nyesel deh nyetir sendirian, udah panas gak ada temen ngomong pula. Alone nih.” Lanjutnya sembari terus menekan klakson mobil tidak sabaran.


“ Buruan woi, gue mau cepat nih. Masa mau pergi makan doang sampai 3 4 jam sih.” Fani terus menggerutu kesal. Gerah bercampur lelah, terbitlah marah-marah. Sorot matanya tajam menatap jalanan, entah siapa yang dia pandang sinis. Hanya mobil-mobil dijalanan yang saling beradu argument lewat klakson-klakson, sangat memuakkan dan menguras kesabaran.


Tiba-tiba Fani teringat tentang Andry yang dia temui dirumah sakit tadi. Setelah melihat tanpa menyapa, timbul pula rasa sesal dalam benaknya. Andai Andry tidak mengkhianatinya, sudah pasti tentu pulang kekota ini jadi kebahagiaan terbesarnya. Datang untuk menemui orang tersayang, kembali untuk melebur rindu yang menggunung tinggi. Tapi sayangnya kenyataan berbeda, tidak ada lagi rindu yang akan dilebur tak ada lagi temu yang berujung haru.


“ Aaaa kan jadi terbayang-bayang. Rindu.” Ucapnya lirih seolah menangis. Tak lama kemudian matanya berkaca-kaca, sedihnya tak terbendung lagi. kali ini rindunya benar-benar nyata.


“ Andai kau tak berkhianat pasti pertemuan yang tak disengaja ini menjadi bahagia yang tak tergambarkan. Andai saja, andai saja, pasti aku berlari menghambur memelukmu, melepas rindu. Tapi lagi-lagi semua hanya andai-andai saja.” Fani tak mampu menahan tangis, sejak pengandai-andaiannya dimulai bulir air matanya sudah menderai membasahi pipinya. Air mata dan air keringat menyatu diwajahnya.


“ Dih ngapain juga sih panas-panas begini nangisin cowo yang udah nyakitin gue. Gak banget deh nangisin pacar orang, pacar temen lama pula.” Ucapnya cepat tersadar. Fani bergegas menyapu habis semua air yang ada diwajahnya. Air mata dan air keringat semua sudah tidak bersisa, wajahnya kembali kering kerontang.


“ Mati ajadeh. Sial banget gak sih ketemu dia dirumah sakit. Sedih gue seketika berubah jadi emosi. Bawaannya pengen marah nonjok orang deh.” Gerutunya sembari memukul setir kemudi berkali-kali. Melampiaskan emosinya dengan memukul benda disekitar.


2 jam berlalu, Fani akhirnya berhasil meloloskan diri dari kemacetan kota. Ampun beribu ampun Fani tidak ingin lagi pergi sendirian. Setidaknya jika ada teman, bosannya bisa tersingkirkan. Sepertinya lebih baik dibanding sendirian, menatap macetnya jalanan, mendengar hiruk pikuknya kendaraan. Ingin lekas, ingin cepat. Fani memutar kemudi, berbelok kerumah makan sederhana favoritenya. Sudah ratusan hari tidak menapaki kaki ditempat ternyaman baginya ini. Fani semakin tergesa-gesa, wajah yang semula ditekuk sudah berubah menjadi senyum kegirangan. Sudah tidak sabar ingin menyantap makanan kesukaan.


“ Ah akhirnya bisa balik lagi kesini.” Gumamnya sembari mempercepat langkah.


“ Seafood terenak, mari sambut kedatanganku.” Lanjutnya terus tersenyum sembari menatap sekeliling.


“ Aaaaa aku datang.” Fani setengah berlari memasuki rumah makan. Menapaki anak tangga sekali dua.


Bruuukkkk…..


Fani menabrak seseorang yang berjalan dari arah depan. Fani kehilangan konsetrasi karena terlalu asyik bermain ponsel dan merekam video. Mungkin karena terlalu rindu tempat itu, terlalu bahagia dan semangat hingga mengharuskannya untuk mengabadikan moment yang entah kapan akan dia dapati lagi.


“ Aduhh.” Fani meringis kesakitan. Ponsel dan tas mininya terpelanting cukup jauh. Beruntung Fani hanya terjatuh dilantai dan tidak menggelinding ditangga.


**


Hallo semua pembaca setia Suamiku Hasil Taruhan, bagimana kabarnya? Semoga sehat selalu ya.

__ADS_1


Selamat har lebaran untuk yang merayakan. Hari ini update lagi, jangan lupa tinggalkan jejak ya. Like, coment dan vote agar aku semakin semangat dalam berkarnya. Terimakasih, salam cinta.


__ADS_2