Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Mengutuk, terkutuk !


__ADS_3

Sudah sepuluh menit Fani berdiam diri didalam kamar mandi. Ibu hanya diam memperhatikan gelagat aneh sepasang manusia itu. Kemudian suara pintu terbuka, Fani berjalan tergopoh-gopoh. Dengan cepat ibu membantu menuntun Fani menuju kekamar. Al terlihat melamun ditepi ranjang berwarna pink milik Fani itu, sontak berdiri saat melihat Fani dan ibu yang berjalan mendekat.


" Al, kamu udah makan?." Tanya ibu sambil membantu Fani duduk diranjang.


" Eh udah kok tan, aku pamit pulang dulu ya." Al meraih tangan ibu dan mencium punggung tangannya.


" Fan, lo cepat sembuh ya. Gue balik dulu." Al mendekat dan mengelus pelan rambut bergelombang Fani.


" Iya kak, makasih ya." Lirihnya.


Al melangkah meninggalkan ibu dan Fani dikamar bernuansa pink itu. Dengan cepat dia melajukan kuda besinya meninggalkan rumah Fani. Sepanjang jalan Al tak henti-hentinya mengukuti kebodohan dan kecerobohan dirinya. Harusnya Al mengatakan disaat yang tepat. Mengutuk, menggerutu dan mencaci maki dirinya. Al melangkah cepat menuju kamarnya, menghempaskan tubuhnya di ranjang dan menjambak rambutnya frustasi.


" Aaaaaa bodoh sekali.. Bodohhhh.." Al berteriak dan terus menjambak rambutnya kesal.


" Pasti dia kesal dengan ucapan mulut bodoh ini." Sambungnya.


" Terkutuklah mulut bodoh ini. Aaaaaa.." Al kembali berteriak.


Al tertidur dengan penguutukan yang seakan tiada henti. Tenggelam dalam mimpinya hingga sore hari. Pikirnya masih tertuju pada perasaan Fani tadi siang. Mungkinkah Fani merasa kesal atau biasa saja.


" Aku harus gimana? Mungkin lebih baik aku biarin dulu sampai Fani membaik." Gumamnya

__ADS_1


****


Sudah hampir gelap sekali, Fani terbangun dari tidurnya. Kaget saat mendapati Sophia tertidur disebelahnya. Entah sejak kapan Sophia datang dan tertidur disampingnya. Fani dengan pelan mendorong tubuhnya untuk duduk. Meraih segelas air diatas meja disamping ranjangnya.


" Capek buk hehehe." Gumam Fani saat melihat Sophia yang tertidur lelap dengan mulut yang menganga.


Terdengar suara pintu dibuka, ibu mendekati Fani yang sudah duduk dipinggir ranjang. Membawa sepiring buah dan segelas air hangat.


" Fan, udah bangun? Ni makan dulu buahnya biar bertenaga." Ibu menyodorkan seppotong apel kepada Fani.


" Sejak kapan ni anak tidur disini bu?." Mengambil apel dari tangan ibu dan menghentikan pandangan kearah Sophia.


" Yudah biarin aja dulu, kamu ganti pakaian sana." Ucap ibu diikuti anggukan Fani.


Semu sudah berkumpul dimeja makan, termasuk Sophia. Semua menyantap makan malamnya dengan semangat kecuali Fani. Badannya yang kurang sehat membuat selera makan nya hilang. Hanya mengaduk-aduk makanan nya. Perutnya masih kosong dan belum terjamah nasi seharian. Akhirnya ibu memaksa Fani makan dengan menyuapi gadis kecilnya itu.


" Ye anak ibu udah gede masih aja disuapin." Ejek joo pada sang adik dan Fani hanya membalas dengan tatapan protes.


" Hahahaha anak manja ih." Sophia pun ikut menertawai sahabatnya itu. Kemudian suasana yang sebelumnya hening menjadi riuh dengan canda tawa penghuni meja makan.


Setelah selesai makan malam, Sophia pamit untuk pulang karena sudah malam. Mengingat rumahnya yang lumayan jauh dan jalanan yang sunyi membuat Sophia menyegerakan pulang.

__ADS_1


" Tan, aku pulang dulu ya." Sophia membersekan semua piring yang ada dimeja.


" Kok buru-buru sih." Sahut Fani lirih.


" Udah malam nih, gue takut pulang sendirian." Jawabnya.


" Yaudah kamu dianterin Joo aja ya nak Sophia." Ibu tersenyum dan Sophia membalasnya dengan anggukan.


" Aku pulang dulu ya tante."


" Gue pulang dulu ya Fan, bye." Sophia melambaikan tangan meninggalkan ibu dan Fani dimeja makan.


Fani hanya melihat ibu yang mondar mandir membersihkan meja makan. Keadaannya yang sedang lemah membuatnya hanya duduk menonton pekerjaan ibu.


" Bu." Suara Fani bergetar. Tak ada jawaban, tapi ibu berjalan mendekat dan duduk disebelah Fani. Fani meaih tangan ibu dan meletak kan dikepalanya. Seolah paham ibu maksudnya, ibu memijat pelan kepala Fani. Sudah beberapa menit ibu memijat kepala Fani, kembali terdengar suara Fani memanggil.


" Bu," Belum sempat Fani mengatakan apa yang ingin ia katakan, ibu langsung menyela pembicaraan.


" Ada apa nak. Kamu mau cerita masalah Al yang bilang sayang dan suka tadi?." Jawaban ibu sontak membuat Fani mengangkat kepala dan membelalak kan matanya. Bagaimana ibunya bisa tau tentang hal ini.


Ha? Bagaimana ibu bisa tau tentang hal ini? 

__ADS_1


__ADS_2