Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Pencarian Hari Kedua ( part2)


__ADS_3

Ah tidak mungkin aku mengatakan begitu. Aaa kenapa mulutku mendadak kaku dan mati kutu begini sih? Kan aku hanya tinggal mengatakan jika dia bukanlah orang yang aku cari. Kenapa aku suka menyulitkan sesuatu yang mudah sih.


“ Iya, aku Fani. Kamu siapa ya? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?.” Ujar gadis yang ada dihadapan Andry itu. Menatap dengan penuh keheranan sosok pria yang disebut-sebut mencari dirinya itu, sangat asing, tidak kenal dan tidak pernah melihat sebelumnya.


“ Aku Andry. Maaf mengganggu waktu istirahatmu, aku mau cari seseorang yang bernama Fani. Tapi bukan kamu orangnya. Maaf ya.” Andry memberanikan diri mengatakan jika wanita itu sama sekali bukanlah wanita yang dia cari, jangankan iya, mendekati mirip pun bahkan tidak.


“ Oh gitu. Aku Fani Octaviani, tidak apa-apa.” Jawabnya tersenyum, kemudian bergegas pergi. Berlari sembari melambaikan tangan kepada Andry yang masih berdiri diam.


“ Kenapa aku harus berkelahi dengan batinku, ternyata semudah ini mengatakan jika dia bukan wanita yang aku cari. Ah dasar bodoh!.” Gumamnya sembari tersenyum. Kemudian berpamitan kepada satpam dan bergegas pergi  meninggalkan sekolah ini. Bergegas pergi menuju sekolah selanjutnya yang ada dalam daftar listnya. Semakin cepat maka semakin baik.


Baru 3 sekolah yang aku datangi, namun ada-ada saja yang membuat luntur asaku, ada saja yang aneh-aneh. Hei Fani, apa kau membiarkanku bertemu dengan orang-orang aneh? Atau kau ingin aku bertemu dengan semua penduduk kota ini, baru kau akan muncul menampakkan batang hidung dihadapanku? Gila saja! Bagaimana jika ada puluhan atau bahkan ratusan sekolah yang harus aku kencahi? Ah mati saja, bisa-bisa aku gila.


 Andry meneruskan langkah kakinya. Bergegas menuju simpang depan sekolah, mencari transportasi yang bisa membawanya kealamat tujuan. Andry memilih naik ojek agar lebih cepat, terlebih matahari sudah naik dan hampir diatas kepala. Sudah sangat siang, waktu yang dia punya hanya tinggal beberapa jam saja. Sudah setengah siang, namun belum mendatangi setengah dari sekolah-sekolah yang ada dalam daftar listnya.


“ Sudah sampai dik.” Ucap pengendara motor bebek itu, mengagetkan penumpang dikursi belakang yang tengah tertunduk diam.


“ Eh iya pak. Ini sudah benar alamatnya kan pak?.” Sahut Andry sambil tergesa-gesa turun dari atas motor. Merogoh saku celana dan kemudian mengeluarkan selembaran uang berwarna biru.


“ Iya sudah benar, ini sesuai alamat kok.” Lanjutnya kemudian meraih selembaran uang itu.


“ Terimakasih pak.” Andry menunduk dan kemudian meraih kembali beberapa lembar uang kembalian.


Andry berjalan pelan, mendekati pagar. Kali ini dia berada tepat didepan sekolah yang kecil dan kumuh. Ternyata ditengah-tengah kota seperti ini ada juga sekolah kecil dan kumuh begini. Seperti tidak ada penghuni, senyap dan sepi. Andry dengan penuh keragu-raguan berjalan mendekat. Pandangannya menyapu sekeliling, berharap dia segera menemukan seseorang yang bisa ditanyai.


“ Seperti sekolah mati.” Gumam Andry sembari menatap kedalam pekarangan sekolah.


“ Bahkan pagarnya sampai berlumut begini, sampah dimana-mana. Kotor sekali, seperti tidak terurus.” Lanjutnya. Seketika bulu kuduk Andry berdiri, seperti ada selayang udara dingin yang menyentuh kulitnya hingga menyeruakkan bulu-bulu romanya.


Eh kenapa jadi merinding begini sih. Masa anak laki takut sih, apalagi masih siang begini. Gila saja! Mungkin Cuma perasaan aku aja, lagian dingin juga disini.


Andry menggenggam kedua tangannya, sesekali mengelus-elus tangannya berulang-ulang agar merindingnya hilang. Menatap sekeliling, tidak ada orang. Yang ada hanya pohon-pohon rindang dan menjulang. Menghembuskan udara dingin yang menyengat sampai ketulang. Perasaannya mulai sudah tidak enak, tadi takut akan gagal namun sekarang takut dengan keadaan.


“ Mbah-mbak. Aki, nenek, om, tante, bang, kak jangan ganggu saya. Saya kesini Cuma mau cari seseorang, bukan ganggu kehidupan kalian, maafkan saya.” Gumamnya lirih. Pandangannya tertuju pada pohon-pohon besar yang rindang. Sebenarnya dia sudah curiga jika sekolah keempat yang dia datangi ini adalah sekolah yang sudah tidak terpakai lagi, namun Andry mencoba menepiskan kecurigaannya. Mencoba mencari tahu tentang kebenaran sekolah kumuh dan kecil ini.


“ Hei nak, apa yang kamu lakukan disini?.” Tiba-tiba terdengar suara dari arah belakang, membuat Andry terperajak kaget dan sontak berbalik. Sudahlah menahan takut sedari tadi, ada pula yang datang tiba-tiba.


“ Eh jangan takut. Saya orang yang tinggal didekat sini. Itu rumah saya.” Lanjutnya mencoba menenangkan Andry yang tampak ketakutan. Bibirnya mendadak pucat seketika setelah melihat sosok kakek tua yang ada dihadapannya.


“ Itu rumah saya, jangan takut.” Ucapnya mengulangi sembari menunjuk rumahh yang ada diseberang sekolah. Sebuah rumah berukuran sedang dengan banyak tanaman depan rumahnya, mungkin termasuk orang yang rajin bercocok tanam.

__ADS_1


“Eh iya kek.” Jawab Andry terbata-bata. Nafasnya berpacu dengan detak jantungnya. Seumur-umur ini adalah rasa takut terbesarnya. Tangannya panas dingin, mengira jika sosok yang ada didepannya itu adalah hantu. Ngawur saja, masa ketemu hantu siang-siang bolong begini sih.


“ Saya lihat kamu kebingungan, makanya saya datang menghampiri. Apa ada sesuatu yang bisa saya bantu?.” Ucapnya tersenyum.


“ Saya ingin mencari seseorang disini, jadi saya berencana mengunjungi sekolah-sekolah menengah atas yang ada dikota. Lalu sekolah ini masuk daftar saya, tapi saya lihat sekolah ini kumuh sekali bahkan seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan disini.” Andry mencoba menjelaskan tujuan dan permasalahan yang membawanya hingga sampai


ketempat ini.


“ Benar sekali nak. Sekolah ini sudah ditutup sejak beberapa tahun ini. Penyebabnya adalah pelecehan seksual yang dilakukan beberapa tenaga pendidik kepada siswinya bahkan bisa disebut pelecehan masal, kemudian sekolah ini ditutup paksa oleh warga-warga karena memakan beberapa korban.” Sahut lelaki tua itu mencoba menjelaskan.


Seketika Andry kembali merinding dan merasa takut. Benar saja kecurigaannya, ternyata tempat seram ini


mempunyai kisah pilu dibaliknya. Lengkap sudah kisah kelananya, mulai dari yang putus asa, kesal, malu sampai dengan ketakutan. Setiap tempat yang dia datangi memberikan kesan-kesan yang berbeda, mungkin ditempat-tempat yang berikutnya juga akan ada kisah-kisah lainnya.


“ Terimakasih kek, saya permisi dulu.” Andry bergegas pergi dan menjauh dari lokasi yang membuat bulu romanya berkali-kali merinding. Langkahnya dipercepat bak orang yang sedang berlari, berkali-kali pula bahunya bergidik. Rasa takut bercampur geli, apalagi ini adalah tempat yang sebelumnya tidak pernah dia datangi.


Wah, dari pada ketemu yang horror begini lebih baik ketemu satpam yang galak-galak ajadeh. Gapapa aku kesal sepanjang hari dari pada ketakutan setengah mati begini. Duh aku diikutin gak ya sama setan-setan yang disana tadi? Bisa mati ketakutan aku nanti. Atau sebenarnya kakek tadi adalah salah satu hantu penunggu sekolah itu, iiiihhh seram.


**


“ Ih apaan sih? Ini beneran akun mamanya gak sih? Kenapa malah ngirim foto ini lagi sih? Sengaja ya mau bikin aku naik pitam lagi. Hei Sophia, apa kau belum puas menghancurkan hubunganku? Selain kau yang menyebalkan ternyata ibu mu juga tak kalah menyebalkan.” Fani bergumam sembari menekan-nekan layar ponselnya. Beberapa


“ Ada apa sih Fan? Apa yang bikin kamu menggerutu sebegitunya? Kecilkan suaramu, semua menatap dan terganggu.” Irma menggenggam erat lengan Fani agar teman yang ada disebelahnya itu mengecilkan volume suaranya.


“ Lihat ini, apa kau tau seberapa besar bongkahan kesal yang ada didalam hatiku? Ingin membeludak dan melebur rasanya.” Fani menyodorkan ponselnya kehadapan Irma. Menunjukkan pesan yang berisi foto-foto scandal antara Andry dan (mantan) sahabatnya. foto-foto yang sebelumnya membuat hubungannya terpaksa harus kandas dan putus sepihak.


“ Siapa ini? Apa dia Andry kekasihmu?.” Irma meraih ponsel yang disodorkan oleh Fani. Foto-foto tersebut mengecil dan membesar mengikuti gerak tangannya. Matanya menyipit menatap lekat-lekat sosok lelaki dan wanita yang ada dalam foto tersebut.


“ Hem.” Fani berdehem dan mengangguk mengiyakan. Wajahnya merah padam dan kesal. Rasanya ingin sekali memukul benda-benda yang ada disekitarnya, namun harus bisa menahan emosi agar seluruh penumpang bus tidak merasa terganggu dengan tingkahnya.


“ Lebih tepatnya mantan kekasihku. Bukan kekasihku!.” Fani menjawab dengan ketus. Menatap Irma dengan penuh kesinisan, mencoba meyakinkan jika Andry bukan kekasihnya dan hanyalah mantan.


“ Iya, iya. Tapi siapa wanita yang ada difoto bersama kekasihmu ini? Eh maksudnya mantan kekasihmu.” Irma segera menutup mulutnya dengan tangan dan tertawa pelan. Merasa lucu ketika melihat wajah Fani yang merah padam menahan kesal, apalagi sorot matanya yang tajam seperti ingin menerkam musuhnya.


“ Dia? Dia adalah (mantan) sahabatku. Dia yang sudah merebut kekasihku, dialah orang ketiga yang menghancurkan hubunganku.” Fani menggeram. Kedua tangannya erat mengepal, giginya mengatup geram. Sorot matanya enggan padam, tajam dan kejam.


“ Haih? Ternyata kau juga punya mantan sahabat? Yang benar saja.” Irma tertawa meskipun dipenuhi dengan rasa bingung. Bagaimana bisa mantan kekasih dan mantan sahabat berada dalam frame yang sama.


“ Lalu kenapa mereka ada dalam frame yang sama?.” Irma semakin mendekat dan berharap mendapatkan jawaban dari rasa penasarannya. Merasa jika cerita Fani akan menjadi cerita yang menarik untuk menemaninya perjalanannya yang masih tersisa beberapa jam lagi.

__ADS_1


“ Karena mereka adalah pengkhianat. Mereka berselingkuh, mereka main dibelakangku. Ini adalah penyebab kenapa aku memutuskan Andry secara sepihak, sudah lama, mungkin sudah dua bulan atau tiga bulan yang lalu.” Fani terus menggerutu kesal. Mulutnya seakan tidak ingin diam, ingin mencaci maki dua manusia yang bergoyang mengejek dipikirannya.


“ Ha? Jadi ini selingkuhan pacar lo? Gila aja, cantikan lo kemana-mana kali Fani. Saraf tu mata cowo.” Irma terbelalak mendengar pernyataan yang baru saja keluar dari mulut Fani. Bahunya bergidik geli membayangkan masalalunya yang sama. Kekasihnya selingkuh dengan wanita yang bisa disebut lebih jelek disbanding dirinya.


“ Hiiiihhh.” Irma bergidik geli, berulang kali.


“ Hei kenapa kau yang menggidikkan bahu begitu?.” Fani menatap Irma dengan wajah bingung. Sebelah tangannya diangkat dan diletakkan didahi Irma, memastikan apakah temannya mendadak demam atau disambet setan.


“ Inget mantan yang selingkuh sama adik kelas, mana jelek lagi cewenya. Idih cantikan aku kemana-mana.” Irma mengatakan dengan tegas dan penuh percaya diri, tidak lupa juga mengibaskan rambut ikal sebahunya.


“ Yah, kirain kesamber setan. Eh ternyata kesambet mantan hahahaha.” Fani tertawa terbahak-bahak hingga membuat beberapa pasang mata melekat kepada dirinya dan Irma. Fani menutup mulutnya dengan kedua tangan, kemudian menunduk malu. Namun meskipun begitu tawanya belum padam, badannya masih bergoyang-goyang mengikuti tawanya. Rasa kesal dan marah seketika berubah menjadi gelak tawa.


“ Diam. Lo kan juga diselingkuhin, gak usah ngejek nasib kita sama kok.” Ketus Irma yang merasa malu setelah Fani mengejeknya.


“ Oh iya btw kenapa akun itu ngirimin foto ini? Aku jadi penasaran. Siapa dia?.” Irma mencoba kembali kepada pembicaraan sebelumnya. Selama ini Fani tidak pernah bercerita apapun tentang masalah pribadinya, mungkin ini adalah saat yang tepat untuk megorak-arik kisah pribadinya.


“ Hem, ini adalah akun mamanya Sophia. Cewe ini namanya Sophia.” Fani menujuk layar ponselnya yang disana terpampang wajah Andry dan Sophia.


“ Nah Sophia itu adalah sahabat aku waktu SMA. Dari awal dia emang udah suka sama nih si Andry. Sampai lah suatu


" ketika dia ngajak taruhan buat dapetin tuh kontak cowo, sebenarnya sih itu Cuma alibi dia aja buat nambah keberanian deketin Andry. Dan aku menerima tantangan itu, ya iseng-iseng doang sih.” Fani mematikan layar ponselnya, meletakkan kembali kedalam tas mini yang ada dipangkuannya.


“ Terus terus apa gimana lagi?.” Irma tiba-tiba buka suara, tidak sabar ingin mendengar cerita lengkap tentang hubungan cinta segitiga antara Fani dan sahabatnya. Tubuhnya semakin mendekat dengan Fani, tangannya menggenggam erat jari jemari Fani seolah meminta Fani untuk segera melanjutkan ceritanya.


“ Nah beberapa hari setelah menerima tantangan itu, aku bingung gimana cara deketin tu cowo. Eh ternyata pucuk dicinta ulam pun tiba, gak perlu usaha si mangsa datang dengan sendirinya. Selang beberapa minggu Andry nyatain cinta, dan sialnya aku menerima cinta lelaki gila itu.” Fani menghela nafas panjang, sementara disebelahnya Irma hanya terdiam mendengarkan cerita yang menarik disela-sela kebosanannya.


“ Makin lama aku makin suka, makin cinta. Awal hubungan aku berusaha menutupi dari Sophia, eh ternyata dia tau tentang hubungan aku dan Andry. Dia marah besar. Membuka tentang taruhan antara aku dan dia tepat dihadapan Andry.” Lagi-lagi Fani menarik nafas panjang. Menunduk kesal membayangkan.


Harus banget ini aku ungkit-ungkit lagi? Ah nyeri di ulu hati.


“ Terus terus gimana? Gara-gara itu kamu putus sama Andry?.” Irma menyelala. Semakin penasaran dan tidak sabar ingin mendengar kelanjutannya.


“ Bukan.” Sahut Fani dengan cepat.


“ Putus karena aku kesal. Sophia sering posting foto berdua-duaan dengan Andry. Makanya aku putusin secara sepihak aja. Foto berdua, kesekolah bareng, cih.” Lanjutnya kembali tersulut emosi. Mengingat bagaimana cara Sophia memamerkan hubungan gelap mereka yang sebenarnya terang.


“ Kamu udah tanya kejelasannya sama Andry? Mereka memang selingkuh?.” Irma mulai mengerti dengan permasalahan sepasang kekasih ini.


“ Enggak. Kalau udah berdua dan mesra ya sudah pasti ada hubungannya.” Tegas Fani.

__ADS_1


“ Hem lagi bicarain apa sih kalian berdua?.” Suara lelaki terdengar dari belakang, membuat mereka mendadak terdiam.


__ADS_2