
Al bersandar diranjang dengan sebelah tangannya menggenggam ponsel. Sejak tadi sore Al berniat menghubungi
Fani, namun dalam hatinya merasa ragu. Teringat dengan kalimat-kalimat yang diucapkannya sore itu. Kalimat yang mungkin membuat Fani kaget hingga melarikan diri kekamar mandi. Mengaku salah dengan ucapan mulutnya yang tak bisa diajak kompromi itu. Berulang kali Al menyalakan ponsel, mencari kontak Fani. Berulang kali pula dia menekan tombol kembali. Bingung dan ragu. Mengutuki diri sendiri pun percuma saja pikirnya. Semua juga sudah terjadi, apa mau dikata.
" Telfon atau kirim pesan ya?." Batinnya bertanya. Tangannya dilipat didepan dada, satu tangan menggenggam ponsel diletakan didagu runcingnya itu.
" Fan, lo marah gak ya sama gue? Gue takut ni mau menghubungi lo." Gumamnya sedih. Al terus saja
menatap layar ponselnya yang bertuliskan kontak Fani beserta nomor telfonnya. Kadang niatnya menggebu-gebu ingin menelfon Fani, kadang menggebu-gebu pula jari tangannya mengurungkan. Sudah hampir 15 menit Al bercengkrama dengan batinnya, tawar-menawar hingga akhirnya Al sepenuhnya berani untuk menghubungi Fani.
" Udah keceplosan juga, mending dilurusin deh sekalian. Lebih cepat lebih baik dong." Gumamnya. Al menyalakan
ponsel dan mencari kembali kontak Fani, dengan cepat jempolnya ingin menekan tombol panggil. Tapi Al langsung menekan tombol kirim pesan. Mungkin sebaiknya cek suasana hati Fani dulu deh.
" Eh jangan langsung telfon deh. Takutnya dia masih marah, gue kirim pesan ajadeh," Dengan lihai jempol-jempol Al mengetik pesan singkat untuk dikirimkan kepada Fani.
" Hai Fan, gimana keadaan lo?." Al langsung menekan tombol kirim. Mematikan lagi layar ponselnya dan memejamkan matanya sembari menunggu balasan pesan dari Fani. Beberapa menit sudah berlalu, namun Fani tak kunjung membalas. Al kembali mengirimkan sebuah pesan singkat, berharap Fani akan segera membalas pesannya.
" Kenapa Lo gak balas pesan gue Fan? Lo masih marah ya sama gue?." Batinnya bergumam.
Fani masih belum membalas pesan darinya, Al yang sudah tak sabar langsung memberanikan diri untuk menelfon Fani. Beberapa kali Al mencoba menghubungi namun tak ada jawaban dari Fani. Al mencoba sekali lagi, beruntungnya Fani menjawab telfonnya kali ini.
" Hallo kak." Sahut Fani dari telepon.
" Hallo Fan, lagi sibuk ya?." Tanya Al.
" Eh engga kok kak. Gue tadi nonton film jadi gak denger kalau kak Al nelfon berulang kali." Jawab Fani.
__ADS_1
" Ada apaan kak?." Sahutnya lagi.
" Hem,, gini Fan. Gue mau bilang sesuatu yang penting sama lo." Al terbata-bata.
" Yaudah bilang aja kak." Jawabnya santai.
" Fan?." Al memanggil dan Fani hanya menjawab dengan berdehem.
" Sebenernya gue mau bilang yang lo gak tau selama ini. Kita juga udah lama kenal, sering main bareng, becanda, makan bareng dan sebagainya. Jadi wajar kalau gue punya perasaan lebih sama lo Fan. Gak salah kan Fan kalau gue suka sama lo? Gue suka lo Fan, Gue cinta sama lo. Gue mau kita lebih dari sekedar teman Fan. Gue mau lo jadi pacar gue Fan." Al Menyatakan semua isi hatinya tanpa perlu berlatih dulu. Kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya benar-benar tulus. Tak perlu membaca naskah, Al mengatakan semuanya dengan lugas dan jelas tanpa terbata-bata. Lancar seperti perosotan anak Tk.
Tak ada suara apapun yang keluar dari telfon setelah pernyataan cinta dari Al. Fani tak menjawab apapun, Al pun terdiam kaku. Cukup lama keheningan ini terjadi, Al kembali membuka suara. Ingin tahu jawaban dari pernyataan cintanya.
" Fan, lo dengar gue kan? Lo mau kan Fan jadi pacar gue? Jawab Fan, Jawab !." Al berbicara tegas.
" Maaf kak, gue gak bisa jawab sekarang. Gue minta waktu dulu buat mikirin ini." Suara Fani terdengar sendu.
" Oke, dua hari lagi gue tagih jawaban dari lo ya Fan." Al terdengar riang.
" Baiklah. Gue tunggu pembalasan cinta dari lo Fan." Dengan berat hati Al mengiyakan. Padahal sebenarnya dia tak sabar ingin mendengar jawaban Fani secepatnya.
" Iya kak, gue tutup dulu ya." Memutuskan panggilan telfon.
FANI POV
Setelah mengantarkan Andry dan melewati beberapa drama alay, Aku mengurung diri dikamar. Aku meraih laptopku yang sudah beberapa hari tak kusentuh itu. Membuka dan memutar film yang ada dilaptopku. Oh ya, beberapa cemilan yang dibawa Andry tadi menjadi temanku untuk menonton malam ini. Aku terlalu fokus menonton dan mengunyah, hingga aku tak sadar ponsel ku berdering. Sebuah pesan masuk, aku tak sadar dan tetap meneruskan tontonan ku. Hingga saat film hening tak bersuara, aku mendengar ponsel ku berdering. Sebuah panggilan masuk dari Al. Setelah kejadian kemarin, dia baru menghubungiku hari ini. Ku geser tombol hijau dilayar ponselku untuk menghubungkan telfon.
" Hallo kak." Ku buka pembicaraan.
" Hallo Fan, lagi sibuk ya?." Tanya kak Al dari telepon.
__ADS_1
" Eh engga kok kak. Gue tadi nonton film jadi gak denger kalau kak Al nelfon berulang kali." Jawabku saat melihat beberapa panggilan tak terjawab darinya.
" Ada apaan kak?." Tanyaku lagi.
" Hem,, gini Fan. Gue mau bilang sesuatu yang penting sama lo." Suara kak Al terdengar terbata-bata.
" Yaudah bilang aja kak." Jawabku. Dalam hatiku penuh rasa gugup.
" Fan?." Al memanggil namaku lagi. Aku yang gugup hanya menjawab dengan berdehem.
Ya tuhan, kejutan apa lagi ini. Aku gugup sekali. Kenapa dia terdengar sangat serius.
" Sebenernya gue mau bilang yang lo gak tau selama ini. Kita juga udah lama kenal, sering main bareng, becanda, makan bareng dan sebagainya. Jadi wajar kalau gue punya perasaan lebih sama lo Fan. Gak salah kan Fan kalau gue suka sama lo? Gue suka lo Fan, Gue cinta sama lo. Gue mau kita lebih dari sekedar teman Fan. Gue mau lo jadi pacar gue Fan."
Al berbicara banyak sekali, tapi aku inti dari pembicaraannya itu. Al menyatakan perasaannya lagi. Aku kaget,
mataku membulat sempurna. Seolah mati kutu, aku diam seribu bahasa. Terasa ada yang menusuk dadaku, seperti ada yang menggelembung dalam hatiku. Harus aku ledakkan. Aku ingin mengatakan bahwa aku juga mencintainya. Namun kata-kata ibu kemarin menahanku, mengunci mulutku dan memaksaku untuk berdusta. Aku membohongi diriku sendiri. Banyak sekali yang bergelayut dalam pikiran ku, aku masih terdiam. Suara al kembali membuyarkan lamunanku, aku tersentak kaget.
" Fan, lo dengar gue kan? Lo mau kan Fan jadi pacar gue? Jawab Fan, Jawab !." Suara Al kali ini terdengar tegas, membuatku tersentak dan meninggalkan lamunanku.
" Maaf kak, gue gak bisa jawab sekarang. Gue minta waktu dulu buat mikirin ini." Aku menjawab dengan nada lemah.
" Oke, dua hari lagi gue tagih jawaban dari lo ya Fan." Katanya memutuskan.
" Dua hari terlalu singkat, gue jawab seminggu lagi ya kak." Aku mencoba menawar.
" Baiklah. Gue tunggu pembalasan cinta dari lo Fan." Katanya lirih.
__ADS_1
" Iya kak, gue tutup dulu ya." Dengan cepat aku putuskan sambungan telfon. Aku melempar ponselku, mencoba mencari keadilan dalam hidupku. Bagaimana bisa kehidupan sebegini rumit. Aku tak bisa berbuat apa-apa, mulutku terpaksa dikunci. Aku terpaksa menelan rasa, demi ibu.
Bahkan harus ku khianati diri sendiri. Ibarat layang-layang, belum sempat terbang tapi harus jatuh karena tak ada udara. Tak ada restu.