
Fani dan Endrico meninggalkan kantin, masih tidak ada rasa curiga tentang apa yang menyebabkan banyak pasang mata menatap dan sesekali terdengar bisik-bisik tetangga. Fani dengan santai melenggang tanpa menghiraukan tatapan-tatapan ketidaksukaan siswi yang dilewatinya. Berjalan pelan dibelakang Endrico dan sesekali tersenyum kepada siswa-siswa yang ditemuinya.
" Eh Fani sini dong, kenapa malah jauh banget dibelakang aku." Langkahnya terhenti, berbalik dan menatap Fani. Meminta sang teman baru mensejajari langkahnya.
" Iya kak." Menjawab sekenanya ditambah dengan senyuman sumringah, melangkah cepat mensejejari lelaki yang ada didepannya.
" Masa jauh dibelakang sih, kamu tu bukan pengawal aku jadi kita harus berjalan berdampingan." Tangannya dengan lancang menggenggam tangan Fani. Menarik pelan dan melangkah menuju kelas.
" Eh kak, gak enak dilihat orang." Dengan cepat mengibaskan tangan Endrico yang menggenggam erat tangannya, tersenyum paksa karena sama sekali tidak suka dengan kesemena-menaan Endrico. Sejak awal mereka kenalan Endrico tanpa ragu sudah berani menarik dan menggenggam erat tangan Fani. Benar-benar sembarangan.
" Maaf ya." Ucapnya singkat. Tersenyum dan meminta Fani mengikuti langkah kakinya.
" Ini kelas kamu kan? Oh iya nanti kamu pulang bareng aku ya, aku mau tau dimana rumah kamu." Sambungnya saat sudah berhenti didepan pintu kelas Fani. Belum sempat gadis itu menjawab dia sudah menyela kembali dan segera beranjak pergi.
" Aku temui nanti setelah bel pulang ya. Bye." Ucapnya sambil berlari pelan menjauhi Fani yang masih menimbang-nimbang jawaban. Belum sempat menjawab apapun lelaki itu sudah menghilang.
Aku belum menjawa tapi kau sudah lari duluan. Aneh !
Fani berjalan menuju tempat duduknya, tampak dari kejauhan Arif melambaikan tangan dan meminta dia agar segera mendekat. Senyum tipis terukir diwajah mulusnya, langkah kakinya dipercepat menuju sosok yang tengah menanti kehadirannya.
__ADS_1
" Hei Fani, kamu dari mana aja?." Tanya Arif sembari menatap Fani seolah seperti tersangka.
" Aku? Aku baru saja dari kantin." Jawabnya bingung menatap raut wajah kesal Arif.
" Emang ada apa?." Sambungnya sembari menatap Arif penuh tanda tanya.
" Apa kau keluarganya Ico?." Tanyanya semakin mengintrogasi. Mereka sama-sama menatap penuh kebingungan.
" Siapa Ico? Aku bahkan tak mengenalinya." Jawabnya semakin bingung. Mengingat sosok siapa saja yang dikenalnya dihari pertama sekolahnya ini.
" Ini. Apa kau tau kalau kau menjadi bahan cibiran digrup sekolah hari ini." Wajahnya tampak kesal dengan apa yang dia katakan, menunjukkan layar ponselnya yang terpampang foto Fani dan Endrico tengah jalan bergandengan tangan, duduk berdua dikantin.
" Emang kenapa? Salahku apa?." Tanyanya semakin tak terima. Tangannya dengan cepat meraih ponsel milik Arif dan memastikan jika yang ada didalam foto itu adalah dirinya dan Endrico.
" Apa-apaan ini? Bahkan kalian punya grup khusus sekolah?." Matanya semakin terbelalak kaget, mengingat disekolah lamanya hanya ada grup kelas. Disini malah ada grup sekolah, berisi ribuan siswa-siswi didalamnya.
" Jadi kau bukan saudaranya Ico? Lalu dari mana kau mengenalinya?." Karena ikutan panik dia juga ikutan bertanya. Mencoba mencari akar permasalahan yang ada, mencari titik terang dan meluruskan semua asumsi rakyat-rakyat grup sekolah.
" Aku baru saja mengenalinya tadi saat jam istirahat, lalu dia mengajakku kekantin bersama. Dimana letak kesalahannya?." Masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi sebenarnya, mengapa dan bagaimana dia bisa menjadi topik hangat digrup sekolah barunya.
__ADS_1
" Apa kau benar-benar tak tau? Apa kau tau siapa Endrico sebenarnya?." Menatap Fani tajam, suaranya semakin pelan dan terdengar seperti bisikan. Fani hanya menggeleng-geleng menjawab pertanyaan yang cukup menambah ketegangan suasana disekitarnya.
" Huffhh." Hanya mendengus dan menekan-nekan kepalanya dengan kedua tangan. Seperti ada sesuatu yang berat yang dipikirkannya, lebih tepat seperti ada masalah besar yang menimpanya, eh lebih tepat menimpa Fani.
" Apa kau tau Endrico adalah lelaki paling bejat disekolah ini, semua wanita bisa dia dekati. Bahkan sudah beberapa kali melakukan kekerasan pada siswi yang memnjadi korbannya. Dia mendekati wanita, berkencan bersama lalu melakukan kontak fisik. Jika sang wanita menolak dia tidak segan-segan melakukan kekerasan." Ucapnya lirih sambil sesekali mengedarkan pandangan, meyakinkan jika situasi aman terkendali.
" Ha? Ini nyata atau cerita fiksi sih Rif ? Kenapa dia masih tetap diterima disekolah ini, seharusnya kalau sudah ada bukti dan pengkauan korban dia bisa dihukum sesuai perbuatannya." Jawabnya seolah tidak terima dengan semua pernyataan yang dikatakan oleh Arif.
" Shhhhttt. Gak ada yang berani sama dia, orang tuanya adalah pemilik sekolah ini. Jadi tidak ada yang berani mengeluarkannya, bahkan ada beberapa guru yang malam menegurnya." Spontan menutup mulut Fani yang berbicara keras hingga urat-urat lehernya terlihat.
" Apa kau tau? Kau bahkan menjadi bahan tawaan digrup sekolah, ada yang mengasihanimu ada juga yang mengatakan kau harus mencoba nikmatnya menjadi korban Endrico. Sudah banyak siswi-siswi yang menjadi korbannya." Sambungnya dengan raut wajah yang serius, memperlihatkan beberapa reaksi orang yang ada digrup itu.
" Jika dia berkuasa kenapa kalian menghujatnya digrup sekolah?." Masih bertanya-tanya dan membaca situasi disekolah barunya ini. Membingungkan.
" Meskipun ini grup khusus sekolah tapi ada satu yang tidak diizinkan bergabung, ya silelaki itu Endrico. Semua kami diskusikan disini, terkadang kami juga mengata-ngatainya disini. Akan aman terkendali selama dia tidak mengetahui tentang grup ini, jika tau sudah pasti kita dan seisi sekolah menjadi korban kemurkaannya." Masih berusaha menjelaskan beberapa point yang wajib diketahui Fani tentang sekolahnya ini.
Ha apa? Orang yang berkuasa disini? Lalu kenapa dia bersikap sangat baik tadi, apa aku adalah target selanjutnya. Cih, aku baru saja disini tapi aku sudah dalam masalah. Sepertinya aku lupa meninggalkan masalah dirumah lama, lihatlah dia bahkan mengikuti kemana aku pergi. Aaaahh aku tak mau jadi korban selanjutnya, mendengarkannya saja ngeri apalagi membayangkannya. Ah tidak.
Fani tertunduk lesu dan menatap bumi sayu. Pikirannya masih terpaku tentang berita murahan yang baru saja tersebar, disudut lain hatinya juga merasa rindu dengan sekolah dan teman-teman lamanya. Wajahnya bermuram durga, menatap layar ponsel yang terpampang foto bersama teman-teman lamanya. Ingin kembali kesana, namun keadaan belum memungkinkan. Fani hanya bisa pasrah dan mencoba menjalani kehidupan normal sebagaimana mestinya. Dibukanya menu whatsapp, mencari kotak Andry dan mengirimkan beberapa pesan. Hanya perihal suasana hatinya disekolah baru, bagaimana lingkungan dan penghuninya, serta perkara yang tak pernah ada matinya, apalagi jika bukan perkara rindu dan temu. Berharap segera bisa meluangkan waktu dan menjalin temu.
__ADS_1