
‘ Beberapa bulan kemudian’
Fani melangkah keluar dari kelas dengan wajah yang bahagia. Dia tampak memegang beberapa lembar
kertas, ternyata lembar kertas ujian. Pantas saja tampak sangat bahagia, hampir semua nilai ujiannya diatas 90.
“ Woi, berapa nilai lo.” Irma dari arah belakang menepuk pundak Fani yang berjalan pelan menuju parkiran.
“ Biasa.” Jawabnya penuh kesombongan. Bahunya bergidik, bibirnya menunjukkan kesombongan.
“ Dih songong amat lu.” Ketus Irma sembari memukul keras bahu Fani.
“ Hahahahaha, kenapa lo? Nilai lo jelek ya?.” Ketusnya sambil menjulurkan lidah, mengejek Irma yang nilainya lebih rendah dari dirinya.
“ Diam lo. Ah malas gue.” Irma memalingkan wajah, kemudian bergegas pergi meninggalkan sahabatnya yang menyebalkan itu.
Irma mempercepat langkah kakinya, bergegas menuju kendaraan tersayangnya. Meninggalkan Fani yang masih sibuk tersenyum senang menatap layar ponsel dan kertas lembaran ujiannya.
“ Eh, eh mau kemana lo? Tunggu dong tunggu.” Fani berlari mengikuti Irma yang sudah masuk kedalam mobilnya.
“ Gue nebeng lo ya hehehe. Lupa kalau gue gak bawa mobil.” Tanpa izin Fani duduk disebelah kursi kemudi, terkekeh geli melihat wajah murung Irma.
“ Ya elah, baperan banget lo. Masa dibecandain aja lo sampai ngambek gitu sih.” Fani menggelayut ditubuh Irma, memeluk lengan sahabatnya yang masih kekeh memurungkan muka.
“ Yuk cau. Kita jalan-jalan, cari makan. Hari ini gue yang traktir lo.” Ucap Fani penuh semangat.
“ Ngapain lo ikut gue, sana keluar lo. Makan tu nilai ujian lo.” Ketusnya kesal, Irma menepis pelan tubuh Fani yang menggelayut dilengannya.
“ Dih sombong amat lo, sampai-sampai ngusir gue.”
“ Sana lo, gue gak mau bawa orang sombong kayak lo.” Ketus Irma, ucapannya tajam menyayat jiwa.
“ Dih jangan gitu dong. Gue minta maaf deh, kan becanda doang Ir. Hehehe anak baik, tebengin gue pulang ya. Janji deh gue traktir lo hari ini, sepuasnya.” Fani tersenyum cengengesan, masih menggelayut dilengan Irma, membujuk agar sang sahabat mengizinkannya untuk ikut pulang bersama.
“ Hem.” Irma berdehem, kemudian tanpa mengatakan apapun dia langsung melajukan mobilnya keluar dari pekarangan sekolah, menuju jalanan yang ramai.
Sepanjang jalan Irma hanya terdiam, tidak mengatakan apapun, bahkan tidak menanyakan kemana mereka akan pergi. Meskipun sedang marah, namun Irma tidak ingin melewatkan kesempatan ditraktir oleh Fani. Sedangkan dikursi sebelah Fani sibuk bernyanyi berteriak mengikuti music yang diputar oleh Irma,
sudah seperti konser tunggal saja. Tidak menghiraukan sipemilik mobil yang tengah bermuram durja.
“ Ir, kita ketempat makan biasa aja ya. Biar deket sama mall, soalnya gue lagi pengen banget
shopping.” Ucapnya, suaranya hampir tidak terdengar karena suara music yang terlalu
keras.
“ Ya, ya. Oke Ir? Oke kan?.”
**
Fani dan Irma duduk saling berhadapan dengan beberapa menu makanan yang terhidang dimeja.
Perlahan-lahan marahnya Irma sudah reda, sesekali sudah mau menyambut Fani bicara.
Drttt…. Drttttttt…
Saat hendak menyantap makanan lezat yang ada dihadapannya, tiba-tiba ponsel Irma berdering. Sebuah
panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Awalnya Irma memilih untuk mengabaikan, pikirnya mungkin hanya orang iseng yang tidak ada kerjaan. Namun nomor yang sama memanggil berulang-ulang hingga membuat Irma menggerutu geram. Dengan kasar tangannya mengangkat telepon dan memarahi sipenelepon menyebalkan itu.
“ Hallo siapa sih lo? Mengganggu ketenangan gue aja.” Ucap Irma penuh kemarahan. Suaranya lantang
membentak sipenelepon misterius itu.
Tittttttt… Tiba-tiba telepon terputus, padahal Irma belum sempat mendengar suara sipenelepon
menyebalkan itu.
“ Gak ada akal.”
Gumamnya menggeram, dengan kasar Irma membanting teleponnya diatas meja.
“ Siapa sih?.” Tanya
Fani dengan mulut yang penuh dengan makanan.
“ Mana gue tau, kalau
gue tau siapa tu yang nelepon gak bakal
gue marah-marah begini.” Ketusnya ikut-ikutan membentak Fani yang tidak
bersalah sama sekali, ya emang sih sudah jelas Irma tidak tau tapi Fani tetap
menanyakan siapa penelepon itu.
“ Hem iya juga ya.
yaudah deh sorry, sorry. Gue kan tanya doang.” Gumam Fani lirih, mengalah
mungkin lebih baik untuk saat ini. Tidak perlu lagi menambah masalah.
Huuhh dasar perempuan, sensitive.
Saat sedang asyik menyantap makanan, nomor yang sama kembali menelepon Irma. Geram
dan serasa mendidih darahnya. Wajah Irma memerah kesal, seperti ingin mencaci
maki dan menjambak rambut sipenelepon usil. Hari ini suasana hatinya sedang
tidak baik, lalu entah siapa datang mengganggu ketenangannya.
“ Arrrggghhh anak se*an! Awas saja kalau aku tau kau siapa habis kau.” Ucapnya
menggeram kesal, mulutnya seolah ingin berhenti mengunyah dan membuang semua
makanan yang ada didalam. Ingin mencaci maki sipenelepon tidak jelas ini dengan
sangat lantang, sudah sangat geram..
“ Heh lo siapa sih? Lo mau apa ha? Bisa gak sih lo jangan ganggu ketenangan gue.
Gak ada akal banget sih lo, udah nelepon lo malah diam. Jawab dong!.” Ucap Irma
tanpa jeda, nafasnya terdengar terengah-engah setelah berceloteh panjang.
Bagaimana sang penelepon ingin berbicara, sejak tadi dia mengangkat telepon
kemudian marah-marah tanpa hentinya. Bukan karena tidak ingin bicara, lebih
__ADS_1
tepatnya tidak ada waktu untuk bicara.
“ Heh ngomong lo. Awas aja lo ya, gue matiin lo.” Lanjutnya sudah mulai
mengancam. Padahal hanya gertakan saja, entah siapa yang ingin dimatikannya.
“ Lo ya bener-bener, giliran gue angkat gak ngomong lo. Tadi aja lo nelepon
berulang-ulang kayak orang kesetanan.” Masih kekeh berceloteh, bahkan Irma
tidak memberikan peluang orang tersebut untuk berbicara.
Tittttt… telepon kembali terputus, mungkin sang penelepon pusing mendengar celotehan
Irma yang seolah tiada hentinya.
“ Bener-bener ya ngeselin nih orang.” Gerutu Irma sembari memasukkan banyak
makanan kedalam mulutnya, sorot matanya tajam seolah ingin membunuh orang yang
telah mengganggu ketenangannya.
“ Sabar Ir, mungkin sebenarnya dia ada keperluan yang sangat penting. Hanya saja
dia belum sempat bicara, terlebih lo gak ngasih waktu dia buat bicara. Dari
awal telepon tersambung lo yang doang yang berceloteh. Hahahaha hancur lebuh
dah gendang telinga tu orang abis dengar celotehan lo. Gue aja pusing
hahahaha.” Ujar Fani sembari terkekeh geli. Sejak tadi dia memperhatikan Irma,
benar saja. Irma tidak memberikan kesempatan untuk sipenelepon berbicara, lalu
malah menuduh sipenelepon yang tidak ingin berbicara.
**
“ Eh bentar, gue mau lihat-lihat baju disini dulu.” Fani menarik tangan Irma
menuju tempat yang ingin disinggahinya. Beberapa kantong plastic sudah
bergelantungan ditangan kirinya, mungkin karena terlalu bahagia Fani jadi
semangat berbelanja.
“ Iya lo duluan aja, gue tiba-tiba kebelet pipis. Gue ketoilet dulu ya, jangan
kemana-mana lo.” Irma melempar kantong plastic bawaannya kepada Fani, kemudian
bergegas pergi menuju toilet.
Lagi-lagi
Irma dibuat marah oleh nomor yang meneleponnya tadi. Seolah tiada hentinya
mengganggu Irma, orang itu terus saja menelepon hingga Irma ingin berteriak
kesal.
“ Huffhhh baiklah, kali ini gue gak boleh marah. Irma lo harus sabar menghadapi
karena orang yang usil lo mendadak darah tinggi.” Batinnya sembari menarik
nafas panjang, kemudian dengan tenang Irma menjawab telepon.
“ Hallo,” Sahut seseorang dari dalam telepon. Ternyata benar, bukan karena tidak
ingin bicara tapi karena Irma sejak tadi tidak memberi kesempatan padanya.
“ Hallo.” Sahutnya mengulangi. Terdengar suara lelaki, namun Irma masih mencoba
menelaah siapa orang yang meneleponnya ini.
“ Hallo, ini siapa?.” Tanya Irma sembari mengingat-ingat suara siapa ini, dia
sepertinya tidak asing.
“ Hallo, ini Irma kan?.” Tanya orang itu.
“ Iya, ini gue Irma. Lo siapa?.” Tanya Irma balik. Kali ini dia lebih tenang,
tidak berceloteh seperti sebelumnya.
“ Ini gue Ir, Endrico. Masa lo lupa sih sama gue.” Ketus lelaki yang ternyata
adalah Endrico.
“ Oh jadi yang dari tadi gangguin gue itu lo ya kak Endi. Dih parah sih lo, bikin
darah dikepala gue mendidih, rasanya pengen gue bunuh lo.” Irma terkekeh geli,
apalagi ketika mengingat dirinya tadi memarahi Endi habis-habisan.
“ Pusing gue denger celotehan lo Ir, makanya gue matiin tu telepon berkali-kali.
Untung aja kali ini lo gak ngegas kayak tadi.” Jawab Endrico dengan suara lirih, seolah dia
merasa sedih.
“ Iya maaf kak maaf, kan gue gak tau kalau itu lo. Lagian lo nomor baru sih.”
Irma berulang kali meminta maaf, mengakui kesalahannya.
“ Oh iya Ir, lo apa kabar?.” Tanya Endrico basa-basi, sebelum masuk kepada tujuan
inti.
“ Baik kok, kak Endi apa kabar? Pasti enak dong ya tinggal disana, banyak
cewe-cewe cantiknya.” Cuitan Irma seolah menggoda Endrico, perlahan mengorek
informasi tentang siapa yang menjadi pemilik hati Endrico saat ini.
“ Hahahaha enggak kok Ir, gue mah sibuk gak punya waktu buat main-main begitu.”
Ucapnya sok iya, padahal siapa yang tau kelakuannya selama disana.
“ Oh iya Ir, lo dimana? Sibuk gak?.”
__ADS_1
“ Hem gue lagi dimall nih, sebenarnya gue lagi kebelet pipis. Eh kak Endi nelfon,
ya terpaksa deh gue tahan dikit hahahaa.” Irma menjawab dengan candaan, padahal
tadi bukan main marahnya dengan sipenelepon misteri ini.
“ Wahahaha serius lo? Oh iya sebenarnya gue mau minta tolong sesuatu sama lo.
Boleh gak Ir?.” Endrico sudah masuk pada tujuan inti.
“ Apa tu kak?.”
“ Gue mau ajak lo bikin surprise buat Fani, soalnya gue udah sampai dari tadi
pagi. Gue sengaja gak kasih tau dia kalau gue balik kesini, pengen kasih
kejutan biar dia makin terharu.” Ucap Endrico. Namun ucapaannya membuat Irma
menjadi bingung, apalagi Fani mengatakan jika dia telah memutuskan hubungan
dengan Endrico sejak beberapa waktu yang lalu.
“ Oh iya, kak Endi masih sama Fani ya? kapan terakhir komunikasi?.” Tanya Irma
mencari tahu kebenarannya, tidak ingin langsung menanyakan apakah benar mereka
sudah tidak ada hubungan lagi.
Sebenarnya kejutan dalam rangka apa
sih? Sebagai teman? mantan pacar ? Atau sebagai pacar yang sudah lama tidak
pulang. Gue mulai curiga sama Fani, jangan-jangan dia bohongin gue lagi.
“ Iya gue masih sama Fani, sebenarnya hari ini pas 7 bulan gue jadian sama Fani.
pengen ngasih kejutan dengan kepulangan gue. Gimana Ir? Lo bisa bantu gue
gak?.” Jawab Endrico dengan jujur.
“ Hem, sebenarnya sekarang gue lagi dimall sama Fani. kalau emang kak Endi pengen
kasih kejutan, gue tunggu disini. Nanti kak Endi datang aja, terus kasih
surprise. Ntar gue pura-pura kaget deh, biar gak ketahuan kalau gue yang kasih
tau posisi kita.” Ucap Irma sembari mengepalkan tangannya. Geram dengan Fani
yang tega-teganya membohongi dirinya selama ini. katanya sudah putus dengan
Endi, ternyata belum.
Gila lo ya Fan. Tega banget lo
nyembunyiin masalah ini dari gue. Maksud lo apaan? Lo gak percaya sama gue? Gak
habis pikir ya gue Fan, sanggup lo pasang dua. Lo sadar gak sih kalau
sebenarnya lo udah nyakitin perasaan lo dan kedua lelaki yang lo pacari. Lo
benar-benar bikin gue kaget Fan. Lihat aja, hari ini kita semua bakal sama-sama
kaget setelah nanti, Endi datang menemui kita.
“ Boleh juga Ir, gue datang langsung ya? Terus gue harus ngapain? Lo tetap stay
disana ya, gue langsung meluncur ni.”
“ Oke kak, gue kirim lokasi gue ya. Jangan lupa datang bawa sesuatu biar Fani
makin terkejut, biar kita semua terkejut.” Ucap Irma penuh dengan teka teki.
“ Hem, oke Ir.” Sahut Endrico.
Oke Fan? Selamat, hari ini lo mendapat kejutan. Sebenarnya ini bukan ranah gue, gue gak berhak mencampuri
urusan lo. Cuma gue kesal aja, seolah gue gak dianggap sama lo. Selama ini lo selalu curhat apapun masalah hidup lo, tapi kenapa dibagian ini lo tega bohongin gue sih. Demi kepuasan hati lo sendiri, lo tega bohongin banyak orang disekitar lo. Sadar gak sih, kalau yang paling tersakiti itu adalah hati lo
sendiri. Dasar ****!
Irma kembali mendekati Fani, tampak sahabatnya itu masih sibuk memilah-milih baju.
Dari kejauhan tampak Fani tersenyum senang, entah apa yang membuatnya begitu
bahagia hari ini sampai-sampai berbaik hati mentraktir Irma makan dan
berbelanja.
Senang banget lo hari ini? kenapa? Karena kedua pacar lo ya?
Apa-apa sudah disangkut pautkan dengan Fani yang pasang dua.
“ Hei Ir, kenapa lama? Antri ya?.” Tanya Fani ketika melihat Irma datang
mendekat.
“ Iya.” Sahut Irma seadanya. Kemudian duduk dikursi, hanya menatap Fani yang
sibuk memilah-milih baju.
“ Oh iya abis ini temenin gue beli minum di X ya, udah lama enggak.” Tidak ingin
Fani curiga, Irma mengajak sahabatnya untuk duduk nongkrong disalah satu tempat
ngopi yang ada dimall.
“ Oke, bentar ya gue bayar dulu.” Fani bergegas menuju kasir, meninggalkan Irma
yang terduduk santai sembari memainkan ponselnya.
Irma dengan cepat mengirimkan pesan kepada Endri, menyebutkan dimana mereka akan
menunggu. Tak lupa Irma juga meminta Endrico membelikan seikat bunga atau apa saja
yang menjadi hadiah untuk kekasihnya.
“ Kak, gue sama Fani mau ke X ni. Buruan ya, jangan lupa bawa bunga atau apapun
sebagai hadiah untuk kekasih yang udah lama tidak bersua. See you.”
__ADS_1
Tunggu saja hadiah dari Endi, sekalian hadiah dari gue. Lo pasti senang, lo pasti kaget.