Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Mengulang Kisah


__ADS_3

Fani masih terus menikmati pemandangan indah ini, sesekali senyumnya mekar, pipinya merah merona seolah sedang sangat berbahagia. Namun Fani tak sadar jika lelaki yang dilihatnya sudah menggeliat dan bangun sejak tadi. Andry berbalik menatap Fani yang tersenyum terkulum bak orang yang sedang kesambet setan.


“ Hufffhhh.” Andry meniup pelan wajah Fani hingga matanya berkedip-kedip. Masih belum sadar jika orang yang ditatapnya berbalik menatap, Andry terus mengganggu Fani dengan meniup-niup pelan wajahnya.


“ Hufffhhh.” Andry kembali meniup, kali ini Andry juga memberi sentuhan pelan pada bagian wajah Fani, Andry mencubit hidung dan pipi yang menjadi favoritenya selama ini.


“ Hei, sadar. Ngelamunin apa sih? Apa aku setampan itu sampai-sampai kamu pun enggan berkedip.” Andry mulai menggoda Fani. Seketika membuat gadis yang tengah tersenyum manis itu terperanjak kaget.


“ Eh eh gak kok, aku gak ngeliatin kak Andry.” Fani membuang pandang, menyangkal semua yang dikatakan oleh Andry. Jantungnya berdetak kencang, wajahnya merah padam, tangannya keringat dingin. Bisa-bisanya dia tertangkap basah sedang mengagumi Andry.


“ Hayo ngaku aja, lagian dulu kamu juga sering bilang kalau aku ini gantengnya kelewatan.” Andry tersenyum sumringah, seolah mendapat mainan baru. Andry terus menggoda Fani hingga malu-malu dan menutup wajahnya dengan telapak tangan.


“ Engga kok, aku gak lihatin kak Andry.” Fani terus menyangkal. Apapun ceritanya, Andry tidak bisa menyudutkannnya. Meskipun kenyataannya memang iya, tapi tabiat wanita adalah enggan mengakui perbuatannya.


“ Idih jujur aja, aku gak marah kok hahahhaha.” Andry tertawa terbahak-bahak, apalagi menatap wajah Fani yang merah merona, bibirnya gemetar menahan malu, ah benar-benar lucu.


“ Oh iya sejak kapan kamu disini?.” Lanjut Andry perlahan menghentikan tawanya, beralih kepertanyaan lain.


“ Baru aja kok.” Ketus Fani dengan nada datar, matanya berkedip-kedip dan enggan menatap Andry. Fani hanya berani menatap kaca sembari menggigit jari.


Aaaaa memalukan sekali. Hei berhentilah menggodaku, jangan teruskan. Aku malu, iya iya aku akui memang aku sejak tadi mengagumi ketampananmu.


 “ Udah jalanaja deh kak.” Pinta Fani karena sudah tidak tahan dengan Andry yang terus saja  menggodanya.


“ Lah mau jalan kemana? Hahahahha.” Masih berlanjut ternyata. Setelah sekian lama Andry tidak ingin melewatkan hiburannya. Hari ini dia dapat santapan enak, hidangan nikmat ada didepan matanya.


Hahahhaa kena kau. Mari kita main-main dulu, sudah lama tidak. Lagian aku becanda masih batas wajar, bukan seperti kau yang memainkan perasaan. Tunggu sebentar lagi sampai aku puas menjahilimu.


“ Ihhhhh, apasih.” Fani mendengus kesal, wajah pucatnya berubah menjadi masam. Ditekuk sempurna dengan sorot mata yang mematikan. Tanda-tanda merajuk akan tiba.


“ Iya, emang mau kemana sih?.” Andry terkekeh geli, tidak bersuara tapi tubuhnya bergetar hebat.


“ Udah ah, kalau gitu aku turun aja.” Fani semakin kesal. Merasa Andry kali ini dengan sengaj mempermainkannya, tidak. Sebelum terlambat Fani harus meloloskan diri dari lelaki yang sedang menganggapnya mangsa.


“ Eh mau kemana?.” Andry menarik tangan Fani, menahan agar wanita ini tidak keluar dari mobil. Dengan sigap Andry menekan tombol kunci sehingga Fani tidak bisa keluar dari mobil.


“ Apa sih. Lepasin. Aku mau turun aja, lagian kan gak mau kemana-mana juga.” Ucapnya ketus. Wajahnya seolah tidak ingin berdamai, menatap Andry penuh dengan kebencian dan rasa kesal.


“ Eh tunggu dulu. Emang kamu tau kalau aku kesini mau jemput kamu?.” Andry tidak lagi tertawa, kali ini bertanya dengan mimic wajah yang serius. Namun isi pertanyaannya yang becanda, eh bukan becanda tapi bikin Fani merasa malu mendengarnya.


“ Gak tau.” Jawabnya ketus. Fani enggan menatap Andry, pandangannya difokuskan pada ponsel yang ada digenggamannya. Ini salah satu cara agar dia tidak mati kutu ketika dalam situasi yang diangapnya mencekam.

__ADS_1


“ Hem. Jadi kamu mau aku ajak jalan sekarang? Padahal aku tadi niatnya Cuma mau nanya jadinya jam berapa? Apa kamu ada waktu hari ini atau enggak. Eh tapi kamu nya malah penuh semangat dan minta aku ajak sekarang juga.” Ucapnya. Andry sebisa mungkin menahan tawanya, walaupun didalam batinnya sudah ngakak guling-guling.


“ Enggak kok. Yaudah aku turun aja. Perginya lain kali atau lain hari.” Jawab Fani semakin ketus. Entah mengapa hari ini Andry terlihat sangat menyebalkan, becandanya keterlaluan. Sebenarnya bukan perkara becandanya, hanya saja dia yang malu hati dengan ulahnya.


“ Eh tunggu dulu, kenapa buru-buru sih. Kan aku Cuma tanya doang, soalnya aku bingung harus jemput jam berapa. Aku kan gapunya kontak kamu lagi, eh maksudnya kamu yang udah menjauhkan diri dari aku yang bukan siapa-siapa ini.” Jleeebb! Andry perlahan-lahan membuka kesal hatinya selama ini, perlahan namun pasti, perlahan namun cukup menyinggung hati Fani.


“ Jadi ya, aku harus balik lagi deh kezaman 80an kali ya. Kalau mau ngomong sesuatu atau nyampain sesuatu ya harus datang kerumah orangnya. Sedih banget ya harus balik lagi ke zaman batu. Ya gimana  kan, aku adalah pria yang tidak diinginkan.” Lanjut Andry sembari menatap langit-langit mobil. Matanya berkaca-kaca. Padahal dia ingin menyindir Fani, eh malah dia yang jadi mellow sendiri. Tulang kawat otot besi, laki-laki hati hello kitty sih ini.


Fani terdiam mendengar ucapan yang baru saja meluncur dari mulut Andry. Bukannya merasa tersindir, Fani malah merasa jika Andry sedang mempermainkannya. Sudah jelas-jelas Andry yang mengkhianatinya, eh sekarang malah dia membalikkan fakta. Mata Fani memerah, tangannya mengepal kuat dan menggenggam ujung bajunya. Ingin sekali rasanya menampar wajah tampan lelaki yang ada disebelahnya, lelaki si pembalik fakta.


Hei sadarlah diri tau diuntung. Kau yang mengkhianatiku lalu kau pula yang menyindirku. Hei hei hei, jangan pikir aku tidak sanggup membuat bekas luka diwajahmu ya. Tunggu, jangan sampai kesabaranku habis. Aku pastikan kau babak belur karena becandaanmu.


“ Huffhhh, nasib sih. Ada yang baru yang lama dibuang. Baju baru kau sayang sayang, kain lapuk kau buang buang. Ku tersisih tak dipakai lagi, dari pandanganmu dan perhatianmu.” Andry bernyanyi dengan penuh penghayatan, kalau dilihat-lihat sebenarnya menjijikan. Bisa-bisanya lelaki tampan dan kekar seperti dirinya menyanyikan lagu dangdut sebagai pengungkap perasaan, tidak pernah terbayangkan.


“ Heiii,,” Fani sudah mencacarkan telunjuknya. Mulutnya ditutup paksa agar tidak mengeluarkan kata-kata yang tidak diinginkan. Mungkin jika dia mengatakan sudah pasti itu akan sangat menyakitkan.


“ Arrgghhh.” Gerutunya sembari menurunkan telunjuknya yang sudah mencacar kea rah wajah Andry. Sangat berani, ini seharusnya tidak terjadi.


“ Hei kenapa kamu jadi marah? Kan aku Cuma nyanyi doang.” Ucap Andry diikuti tawa kencang. Sama-sama merasa jadi korban, padahal sama-sama salah keduanya.


“ Ah sudah lah. Aku turun aja.” Fani membuka paksa pintu mobil Andry, tapi tidak bisa terbuka.


“ Tunggu dulu.” Lanjutnya. Andry menarik tangan Fani hingga siempunya berbalik menatap wajahnya. Beradu pandang, dihujam tatapan tajam.


“ Lepasin, aku mau pulang aja.” Fani memberontak, tangannya menepis berulang kali agar tangan Andry terlepas dari tangannya. Namun tidak bisa, tenaga Andry lebih besar darinya. Fani hanya bisa pasrah dan membuang pandang, kesal dan malu bercampur menjadi satu.


“ Berhubung kamu udah siap-siap, udah dandan yang cantik, jadi kita pergi sekarang ya.” Andry tersenyum menatap Fani. Dengan lembut jari jemarinya menyentuh dagu Fani dan menariknya kembali untuk menatap dirinya.


Fani hanya tertuntuk malu menatap wajah Andry yang tersenyum penuh kasih sayang, membiarkan dirinya terperangkap dalam suasana yang mencekam. Jantungnya kembali berdetak tidak beraturan, nafasnya sesak, tangannya panas dingin saling menggenggam. Kebiasaan buruk Fani jika terjebak dalam romansa dengan lelaki yang disukainya. Fani tidak bisa menolak, tidak bisa lari dari keadaan. Meskipun yang ada sekarang hanya deru nafas yang memburu dan tatapan mata yang tajam membunuh, Fani tetap masih bisa menikmati suasana ini. Dirinya serasa ditarik kembali kemasa lalu, membawanya untuk kembali mengulang temu.


Huff huff huff. Jantungku serasa ingin copot. Sadar Fan, dia bukan milikmu lagi. sadarlah, kau sudah milik Endi saat ini. meskipun Endi sudah pergi jauh kebelahan Dunia lain, bukan berarti kau bisa seenaknya kembali meromansakan diri dengan mantan kekasih, apalagi sampai menjalin kasih. Ah tidak, jangan, jangan lakukan ini.


“ Kita berangkat sekarang ya.” Andry tersenyum dan melepaskan tangannya dari dagu Fani perlahan. Kemudian menghela nafas panjang, memfokuskan pandangannya untuk mengemudi.


“ Kita mau kemana?.” Tanya Andry sembari melajukan mobilnya pelan.


“ Hem.” Fani hanya berdehem diikuti menggidikkan bahunya.


“ Kamu maunya kemana?.” Tanya Andry lagi. Sesekali menatap kearah wanita cantik yang sedang duduk disebelahnya ini.


“ Terserah kak Andry aja deh. Kan katanya kak Andry pengen ngomong sesuatu, jadi aku ikut aja kemana pun kak Andry pergi. Asalkan jangan lama-lama, harus pulang sebelum sore.” Ucapnya tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan kota yang ramai.

__ADS_1


“ Oke siap.” Andry mengangkat tangannya dan memberi hormat pada Fani. Senyum manis terpancar dari wajahnya, senang mendengar jawaban dari Fani. Setidaknya meskipun Fani telah milik orang lain, dia masih bisa menghabiskan waktu bersama hari ini. Anggaplah sebagai teman lama yang sudah lama tidak bersua. Meskipun nanti yang ingin dia bicarakan adalah masalah hati, semoga Fani tidak memungkiri dan menjawab dengan setulus hati.


Andry menatap jam yang melingkar ditangannya, sudah hampir pukul 11 siang. Seketika Andry punya ide brilian, kemana dia akan membawa Fani duduk bersama dan berbicara dari hati ke hati. Andry melajukan mobilnya ketempat tujuan yang Fani sendiri tidak tau kemana. Dia hanya duduk diam sembari menatap jalanan yang sudah lama tidak dia lewati, pasrah kemana saja Andry akan membawanya, tanpa ingin bertanya dengan lelaki yang ada disebelahnya.


**


“ Fan, bangun. Kita udah sampai.” Andry menepuk bahu Fani pelan, membangunkan dengan penuh kasih sayang. Namun Fani hanya menggeliat dan kembali tertidur pulas. Tadi dia yang menatap Andry kagum, sekarang Andry yang menikmati indahnya ciptaan tuhan.


“ Hei bangunlah, kita sudah sampai. Makin lama kau bangun makin lama pula kita akan pulang.” Lanjutnya sembari terus menatap wajah Fani yang terpejam.


“ Bangunlah, bangun. Masih jam segini udah tidur, hei kebo.” Andry sudah tidak bisa menahan geram. Jari jemarinya mencubit tangan Fani berkali-kali agar gadis lucu ini segera bangun dari tidurnya.


“ Ughhh geramnya, gemas, gemas gemasss.” Andry terus mencubit tangan Fani hingga siempunya meringis kesakitan.


“ Awwww.” Fani meringis, perlahan matanya terbuka dan menatap sekelilingnya. Tangannya mengelus bagian yang terasa sakit, bekas cubitan Andry.


“ Awww sakit.” Fani meringis lagi. Sebenarnya tidak terlalu sakit, hanya saja dia sengaja ingin membuat Andry panic karena dia tau pelakunya adalah Andry yang jahil ini.


“ Eh sorry sorry Fan. Gak sengaja.” Andry mengatupkan tangannya seolah memohon meminta maaf. Tidak menyangka jika cubitan gemas nan manja itu menyakitkan bagi Fani yang menerimanya.


“ Aaaa sakit.” Fani terus mengerang. Membuat suasana semakin dramatis. Itu hanya karena cubitan pelan, belum lagi jika dia membuka matanya habis. Sudah pasti semakin dramatis jika dia melihat kemana Andry membawanya hari ini.


“ Eh maaf Fan. Aku bener-bener minta maaf, aku gak sengaja.” Andry semakin panic. Apalagi melihat Fani yang memejamkan mata dan mencekam bagian yang dicubit Andry. Huh padahal hanya secuil saja. Fani meringkuk mengerang, sudah seperti orang yang sedang datang bulan.


“ Ibu, sakit..” Teriaknya semakin menggema. Tidak ingin melewatkan momen lucu ini, Fani mengintip dari sudut matanya. Melihat seperti apa reaksi Andry, seperti apa wajah khawatirnya. Ternyata masih sama seperti Andry yang dikenalnya, Andry yang takut terjadi apa-apa dengannya.


Hihihi rasakan pembalasanku. Siapa suruh kau menggodaku tadi, sekarang aku balas dengan membuatmu panic. Tapi ternyata kau masih sama ya, paling takut jika terjadi apa-apa denganku. Hihihi mari kita berdrama, aku sudah rindu.


Fani memaksakan diri mengeluarkan air mata, dengan jerih payah akhirnya gugur juga bulir air mata dari ujung matanya. Hal ini semakin membuat Andry khawatir. Benar-benar tidak menyangka jika cubitan kecilnya bisa memberikan efek seperti ini. Padahal jika dia jeli, dari gelagat Fani saja dia sudah bisa menerka kalau Fani hanya bermain drama. Mana mungkin cubitan kecil gemasnya membuat Fani kesakitan hingga meringkuk begini.


“ Maafin aku ya, bener aku gak sengaja. Maafin aku ya Fan. Aku janji gak bakal cubit kamu kek gini lagi.


Fani sudah tertawa terbahak-bahak dalam hatinya, kali ini dia benar-benar puas mengerjai Andry. Ada bagusnya juga Andry mengganggu tidurnya, jadi ada peran baru yang harus dimainkannya. Hahahaha kena kau Andry,


selamat berpanik-panikan. Fani semakin mengerang kesakitan. Tangisnya semakin menjadi-jadi, air mata palsunya bercucuran membasahi pipi. Sudah lama dia tidak terjun kedunia acting, ternyata bagus juga ya.


Hehehehe aku buat kau sampai merasa bersalah, kalau bisa merasa bersalah sampai 7 turunan. Ya walaupun gak masuk akal sih, masa Cuma karena cubitan kecil doang ngerasa bersalahnya seumur hidup hehehehe.


“ Fan maafin aku.” Andry menghambur menarik Fani kedalam pelukannya. Padahal sejak kemarin dia sudah mewanti-wanti ini agar tidak terjadi. Namun karena tidak tahan melihat Fani yang berurai air mata, Andry terpaksa melakukannya walaupun harus menentang pendiriannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2