
“ Hei Fan. Gimana keadaan mu? Baik-baik aja kan?.” Ucap Irma mendekati Fani. Membawa sekantong plastik berisi buah dan makanan yang dibelinya tadi.
“ Eh kenapa lo ada disini Ir?.” Jawabnya kaget ketika melihat sosok Irma yang sudah ada didalam kamarnya.
“ Kenapa lo bisa kesini? Lo tau dari mana kalau gue sakit?.” Sambungnya bertanya.
“ Ya tau dong, kan tadi walikelas bilang kalau lo gak masuk karena sakit hari ini.” Duduk ditepi ranjang. Membantu Fani yang tampak ingin bergerak menyandar.
“ Oh iya, selamat ulang tahun ya Ir.” Ucapnya lirih. Senyum manis terukir diwajah pucatnya itu. tangannya mencoba meraih tangan Irma dan bersalaman.
“ Hehehehe gue kira lo gak tau ulang tahun gue.” Ucapnya terkekeh, membalas genggaman tangan Fani. Suhu tubuhnya terasa panas sekali, wajahnya juga tampak pucat, bibirnya pecah-pecah.
“ Sejak kapan lo sakit? Perasaan kemarin masih baik-baik aja.” Berpindah memegang kedua kaki Fani dan memijat-mijat pelan.
“ Gue juga gak tau, tiba-tiba pagi tadi badan gue udah panas dan menggigil parah.” Jawabnya lirih.
“ Duh sakit kangen pacar yang jauh disana gak nih?.” Ejeknya diikuti tawa. Bibirnya tersenyum terkulum menatap wajah Fani yang mendadak kemerahan karena malu.
“ Ih apaan sih, siapa juga yang kangen.” Ucapnya ketus. Mendadak suaranya yang semula lirih berubah menjadi tegas ketika disinggung masalah pacar.
“ Ini gue bawain makanan yang banyak buat lo yang lagi sakit, semoga cepat sembuh ya.” Meletakkan plastik bawaannya diatas meja sebelah ranjang Fani.
Fani dan Irma berbincang-bincang didalam kamar. Sesekali terdengar gelak tawa mereka hingga keluar. Ditemani dengan snack-snack yang dibawa Irma menambah kekhidmatan obrolan mereka. Pembicaraan mereka random, mulai dari membicarakan pacar, gebetan hingga mantan. Paling banyak menyebabkan mereka tergelak tawa adalah saat membicarakan tentang mantan Irma yang playboy gak ketulungan, hingga dengan ditaksir oleh tukang angkot yang biasa mangkal disekolahan. Kedatangan Irma benar-benar menjadi obat bagi Fani, perutnya sampai sakit karena terlalu banyak tertawa. Melihat Fani yang asyik tertawa dan menikmati ceritanya pun mendadak Irma banting setir jadi pelawak yang professional hari ini. Demi menghibur sahabatnya yang sedang sakit, semakin cepat Fani sembuh semakin cepat pula Irma melaksanakan pesta ulang tahunnya yang ke 17.
***
Endrico sudah memasuki pekarangan rumah Fani yang tampak asri. Disana juga sudah ada mobil Irma yang tadi berpapasan dengannya. Cukup lama terdiam didalam mobil dan mengumpulkan keberanian untuk masuk kedalam rumah Fani. Meskipun masih ada Irma disana, tetap saja Endrico merasa jika Fani tidak menginginkan kedatangannya. Setelah meyakinkan diri, akhirnya Endrico memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumah Fani. Membawa dua kantong plastik besar ditangannya, tak lupa juga buku dan bunga.
Tok… Tok.. Tok.. Endrico mengetuk pintu rumah Fani, jantungnya berdetak tidak beraturan. Pertama kalinya dia cemas ketika datang kerumah seseorang.
“ Iya, tunggu sebentar.” Sahut seseorang dari dalam rumah.
__ADS_1
“ Cari siapa ya.” Tanya seorang remaja lelaki kepada Endrico. Sangat mudah ditebak jika itu adalah abangnya Fani.
“ Fani nya ada bang?.” Balik bertanya. Wajahtnya tersenyum pias.
“ Oh temannya Fani. Ayo masuk Fani ada didalam.” Ucapnya mempersilahkan masuk. Endrico hanya mengangguk dan mengikuti langkah kaki lelaki pemilik rumah itu.
“ Masuk aja, ini kamarnya Fani. Didalam juga udah ada temannya kok.” Sambung Joo saat sudah sampai didepan pintu kamar Fani.
“ Oh iya gue Joo abangnya Fani.” Ucapnya memperkenalkan diri. Mengulurkan tangan untuk bersalaman.
“ Hai gue Endrico teman sekolah Fani.” Sahutnya menyambut tangan Joo dan bersalaman.
“ Fan, ini ada temen lo.” Teriak Joo didepan kamar Fani. Kemudian pergi meninggalkan Endrico yang masih berdiam diri didepan kamar dengan seluruh tangan memegang beban.
“ Duh kenapa gue jadi deg-degan ya.” Batinnya sembari menunggu pintu kamar Fani dibuka.
Dari kejauhan tampak seorang wanita paru baya berjalan mendekat dengan beberapa kantong plastik ditangan. Tampak pula seorang lelaki yang seumuran berjalan mengikuti sang wanita itu. Endrico hanya terdiam menatap
sepasang manusia itu sembari menerka-nerka siapa mereka, apakah orang tua Fani? Batinnya.
“ Itu teman sekolah Fani bu, mau jenguk.” Ucap Joo tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi. Ibu hanya mengangguk setelah mendengar jawaban dari Joo, kemudian berjalan mendekati Endrico yang tampak ling-lung
itu.
“ Hei nak duduklah bersama Joo diruang keluarga, nanti ibu panggilin Fani. Jangan berdiri nanti kakimu sakit.” Ucapnya diakhiri tawa kecil.
“ Eh iya tante.” Jawabnya ikut terkekeh.
“ Kamu namanya siapa?.” Tanya ibu sembari melangkah pelan menuju dapur yang tidak jauh dari kamar Fani. Meletakkan semua kantong plastik itu diatas meja makan, diikuti pula oleh ayah Fani.
“ Duduklah nak, janga berdiri saja.” Sahut ayah.
__ADS_1
“ Iya om.” Jawabnya kemudian mendekati sepasang manusia itu. Mengulurkan tangan memberi hormat dan memperkenalkan diri.
“ Hallo om saya Endrico teman sekolah Fani.” Ucapnya.
“ Hallo tante saya Endrico.” Ucapnya lagi.
“ Oh Endrico, duduk dulu. Mungkin Fani lagi asyik dengan Irma sampai-sampai tidak tau kalau nak Endrico ada disini.” Ucapnya meminta Endrico untuk duduk dan mengambilkan segelas air.
“ Ini tante aku Cuma bisa bawain ini.” Menyodorkan dua kantong plastik berisi makanan yang dibelinya tadi. Teringat dalam salah satu plastik besar itu terdapat sebuah buku dan bunga, dengan cepat tangannya mengambil plastik berukuran sedang itu. Menyematkan kembali dijari-jarinya.
“ Wah banyak sekali, terimakasih ya nak En.” Ucap ibu. Kemudian mengajak Endrico untuk mengikutinya kekamar Fani.
“ Fan, ada teman kamu ni.” Menekan handle pintu hingga terbuka dan masuk kedalam kamar, diikuti oleh Endrico.
“ Eh ini dia udah datang. Hai kak Endri.” Sahut Irma saat melihat sosok Endrico.
“ Oh iya Fan, gue cabut dulu ya. Udah hampir jam 6 sore ni gue harus jemput mama dibutiknya.” Beranjak dan pamit untuk pergi.
Fani terbelalak saat melihat sosok yang datang adalah Endrico, sama sekali tidak terbayang olehnya. Terlebih lagi ketika Irma mengatakan jika dirinya harus pergi dan pasti hanya akan ada dirinya dan Endrico didalam kamar nanti. Sementara ibu pasti akan sibuk mengurusi makan malam dan sebagainya.
“ Hai Fan. Apa kabar?.” Ucap Endrico sembari mendekati ranjang Fani.
“ Hai kak, baik-baik aja kok.” Jawabnya lirih, tangannya yang lemah tampak melambaik-lambai kepada Endrico.
“ Fan gue balik dulu ya, besok gue kesini lagi.” Menggenggam kuat tangan Fani dan melangkah meninggalkan .
“ Kak gue balik dulu ya, titip Fani hehehehe.” Ucapnya kepada Endrico yang tampak berdiri kaku disamping ranjang Fani.
“ Iya Ma, hati-hati ya.” Jawabnya melambaikan tangan mengiringi kepergian Irma hingga tak terlihat lagi dari kamar.
Kenapa gue jadi ciut begini sih, kan Cuma jenguk Fani. Bukan ngelamar ! Hei jantung sebesar kepalan, kenapa detakanmu sangat kencang? Bahkan membuat seluruh tubuhku ikut bergetar
__ADS_1
Fani hanya bis menatap dinding-dinding kamarnya yang dipenuhi dengan stiker-stiker bunga. Enggan melihat sosok Endrico yang ada disebelahnya, jantungnya berdetak sangat kencang seperti orang yang sedang berlari ketakutan.
Hei kenapa kau disini? Tubuhku yang tadinya lemah tidak bisa apa-apa mendadak sudah sanggup berlari jauh rasanya. Kenapa kau disini? Kau adalah makhluk yang paling dicemburui kekasihku, Andry. Apakah kau tau itu?.”