
Semilir angin berhembus menggoyangkan pepohonan disekitaran hotel. Kota yang bersih dan asri memang menyajikan udara segar disetiap pagi. Berbeda dengan ibukota yang sedari pagi sudah dipenuhi dengan polusi. Cahaya mentari menyelinap masuk dari celah-celah jendela, menyentuh beberapa bagian tubuh Andry yang tergeletak dan bernaung dibawah selimut. Semalaman dia tidak tidur, tidak henti-henti memikirkan apa yang akan dia lakukan dihari pertama pencarian ini. Bahkan beberapa ide dia tuliskan didalam buku catatan yang kecil. Menulis dan kemudian mencoret kembali jika merasa ide tersebut kurang efektif.
“ Huaaaa.” Erangnya lirih. Andry meregangkan kedua tangannya, perlahan-lahan membuka matanya yang seperti ditimpuk beban berat, lelah dan mengantuk. Ternyata sinar sang surya yang masuk dari celah-celah jendela berhasil menyengat kulit tubuhnya hingga memaksa sang pria yang malang ini bangun dari tidurnya.
“ Aaaa sudah pukul 9. Kenapa aku bisa kesiangan begini sih. Aku sudah melewatkan beberapa jam, itu artinya aku memperlambat temu dengan kekasihku.” Andry terperanjak duduk. Kalang kabut ketika melihat jam yang terpampang pada layar ponselnya.
“ Pantas saja cahaya matahari terasa panas. Sudah hampir siang.” Andry melompat dari tempat tidur dan bergegas menuju kamar mandi.
Hanya butuh waktu 5 menit, Andry sudah keluar dari kamar mandi dengan mengenakan pakaian lengkap. Meskipun terkesan amburadul namun tetap terlihat tampan. Andry bergegas keluar dari hotel dan memulai pencarian yang tidak jelas ini. Menapaki kaki dikota yang sama sekali belum pernah dia datangi. Pagi ini Andry berjalan dengan semangat yang dengan susah payah dia kumpulkan sepanjang malam tadi. Menyusuri jalanan sembari ditemani semilir angin yang berhembus tak karuan, kadang kencang kadang pelan. Seolah berbisik dan menghibur silelaki dengan wajah pucat dipenuhi rasa takut.
Kemana langkah kakiku harus pergi? Aku berada ditengah-tengah kota yang dipadati ribuan manusia. Mana mungkin dengan mudah aku bisa menemukan sosok mungil yang aku cari. Ah tidak-tidak, aku tidak boleh menyerah, aku tak boleh ragu.
“ Huh lelah sekali. Kemana aku harus mencari? Kalau aku mencari menggunakan transportasi pasti semua tidak terjelajahi. Tapi jika jalan kaki, ah bisa-bisa balik nanti aku jadi Anki, Andri sipejalan kaki.” Gumamnya sembari berhenti disebuah toko. Membeli beberapa minuman dingin dan makanan ringan.
Andry meneruskan perjalanannya. Tujuan utamanya saat ini adalah mencari tahu beberapa sekolah menengah atas yang ada disekitarnya. Besok akan mulai mengecek satu persatu sekolah tersebut untuk mencari Fani. Hari pertama mencari, tanpa tujuan yang pasti, tidak ada clue sama sekali, benar-benar membuar Andry frustasi dan hancur hati. Beberapa ide yang dia tulis sedari kemarin sore sama sekali tidak bisa digunakan, tidak efektif dan tidak memungkinkan untuk diteruskan. Akhirnya Andry mengakhiri pencarian untuk hari ini, memilih untuk kembali ke penginapan dan menyusun rencana yang lebih baik, lebih detail dan lebih besar kemungkinan untuk berhasil.
“ Ternyata susah sekali. Baru hari pertama sudah begini lelah, sudah begini putus asanya. Lalu jika terus mencari, harus berapa lama lagi aku tinggal dikota ini?.” Andry melemparkan tubuhnya diatas sofa, melentur dan membal. Kedua tangannya dipaksa menyekap mata, menarik rambutnya, hampir gila.
__ADS_1
Andry meraih sebuah buku catatan kecil yang dia gunakan untuk menumpahkan ide-ide yang menggantung dikepalanya. Dengan tujuan yang sama, Andry mulai menulis beberapa ide yang terlintas dikepala beserta dengan rinciannya. Tidak ingin lagi ide yang dia tuliskan menjadi sebuah kalimat yang hanya akan menjadi sia-sia. Ponsel yang ada digenggamannya dipergunakan untuk mencari tahu sekolah-sekolah menengah atas yang ada disekitarnya. Melihat dan menulis. Ada beberapa daftar sekolah yang masuk dalam listnya, hampir sepuluh sekolah. Semua yang sudah masuk dalam list akan dia datangi besok, mana tau Fani bersekolah disalah satu sekolah yang sudah dia list.
**
“ Bu, aku ada acara camping besok. Mungkin akan pergi beberapa hari, apakah boleh bu?.” Fani bergelayut mendekati sang ibu dan menempel dipunggung wanita yang tengah sibuk memasak itu.
“ Dalam rangka apa?.” Berbalik dan menatap sang anak yang menempel ditubuhnya.
“ Dalam rangka kelulusan siswa tingkat akhir bu, aku dan Irma akan ikut serta dalam acara yang dibuat oleh kakak tingkat bu.” Fani menurun naikkan alisnya, bibirnya tersenyum lebar seolah merayu sang ibu agar segera memberi izin.
“ Ahhh ibu, kan sama saja. Ayah pasti bolehin kok. Ya bu, ya, ya, ya.” Fani terus saja merengek dan menempel ditubuh sang ibu, kedua tangannya memeluk erat wanita paruh baya itu dari belakang, terus merayu dan memohon agar sang ibu memberi izin. Sengaja Fani baru mengatakan satu hari sebelum acara tersebut akan dilaksanakan, sebab dari awal sudah takut jika tidak diizinkan.
“ Hem.” Sang ibu hanya menjawab dengan deheman, merasa gerah melihat Fani yang terus-terusan menempel ditubuhnya.
“ Bu, boleh ya bu. Ibu yang cantik dan baik, bolehkah aku pergi?.” Tidak menyerah. Fani tetap meneruskan rengekannya sampai nanti sang ibu menyetujui dan mengizinkannya untuk pergi bersama teman-teman dan kakak tingkat.
“ Tidak. Tunggu ayah saja, lagian ini kan bukan masalah kecil, semua harus dipertimbangkan dan ibu tidak bisa sembarangan memberi izin.” Menjawab dengan nada tinggi hingga membuat Fani mendadak terdiam tidak bergeming, wajahnya seketika merunduk dan lusuh. Tercium bau-bau kecewa dari wajah sang anak, namun sekali lagi dia tegaskan, bukan karena kejam. Tapi karena dia tidak ingin mengambil resiko jika sembarangan memberi izin, semua harus didiskusikan dulu bersama sang suami.
__ADS_1
“ Bukan karena kejam makanya ibu melarangmu, tapi karena ibu tidak ingin mengambil resiko. Ibu harus bicara dan tanya dulu pada ayahmu. Apa lagi kamu anak perempuan, sudah remaja pula.” Lanjutnya. Mendadak merasa bersalah karena telah membentak sang anak, apalagi melihat wajah Fani yang merah padam seperti menahan kesal.
Fani tidak menjawab apapun, hanya bergegas melangkah pergi meninggalkan sang ibu dan kembali kekamarnya. Tampak beberapa tumpukan baju yang sudah dia pilih, baju yang akan dia bawa saat pergi camping bersama teman-temannya nanti. Kesal, itulah yang dirasakan oleh Fani. Namun semua yang dikatakan sang ibu juga tidak ada salahnya sama sekali. Mengingat dirinya adalah anak perempuan yang sudah remaja bahkan sebentar lagi akan menginjak usia dewasa. Fani mencoba menahan amarah dan kesal yang menggumpal dalam hatinya, mencoba mengerti dengan semua maksud dari sang ibu, menunggu hingga sang ayah pulang dari bekerja.
Sophia Pov.**
“ Hah dia masih belum membuka pesanku dari kemarin sore? Ah kau pasti sengaja kan tidak mau mebaca pesan dariku? Atau jangan-jangan kau sudah melihat isi pesan ini.”
Aku mencoba mengirim ulang beberapa pesan kepada Fani melalui akun yang sudah aku buat atas nama mamaku. Mungkin pesannya tertimbun hingga Fani tidak menyadari ada pesan yang harus segera dia buka, berisi kejutan yang sudah aku siapkan untuknya. Aku terus tersenyum sembari membayangkan jika Fani sedang berduaan dengan Andry dan kemudian membuka pesan ini, hahahaha pasti ada beberapa pukulan dan tamparan yang mendarat diwajah dan tubuh Andry. Sebenarnya bukan karena Andry dipukul dan dimarahi yang membuatku senang, namun berakhirnya hubungan mereka yang membuatku tidak bisa berhenti tertawa girang.
“ Hei, sudah aku kirimkan pesan yang baru namun masih saja belum dibaca? Kalau ini sih benar-benar disengaja.”
Aku terus saja menggumam kesal, sembari menunggu balasan dari Fani. Aku yang akan membuatnya kesal, namun aku malah kesal duluan. Bukan sekali dua kali, namun hampir setiap kali aku ingin membuatnya kesal aku terlebih dulu makan hati. Apa memang sesakit ini perjuangan untuk mendapatkan yang kita inginkan? Ya meskipun caraku ini salah, tapi aku yakin jika tujuan ku sama sekali tidak ada salahnya. Wanita itu yang duluan merebut punyaku, sekarang aku akan rebut kembali. Merebut yang milik kita kan tidak salah? Bahkan ini harus dilakukan.
“ Hehehehehe jika nanti aku tidak berhasil mendapatkan cinta Andry, setidaknya aku sudah berhasil memisahkan mereka. Jadi adil kan, aku tidak mendapatkan dia, Fani juga tidak mendapatkannya.”
__ADS_1