Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Kembali ke Kota (part2).


__ADS_3

Sudah lama Andry dan Fani berkeliling kampung, matahari sudah naik hingga diatas kepala. Panas mulai menyentuh menyengat tubuh mereka. Kembali kedalam mobil dan mendinginkan tubuh yang dipenuhi keringat itu. Andry melajukan mobilnya menyusuri jalanan kampung, menatap hamparan sawah dan para petani yang sibuk bekerja. Menikmati pemandangan yang sebentar lagi akan dia tinggalkan.


“ Kita pulang ya.” Ujar Andry sambil melajukan mobil kesayangannya.


“ Iya sayang.” Jawabnya sambil menyeka dahi yang dipenuhi keringat.


“ Sekarang aku udah boleh pulang kan?.” Tanya Andry meyakinkan jika nanti tidak akan drama seperti tadi pagi lagi.


“ Iya boleh. Tapi waktu aku balik ke kota kamu harus kerumah ya.” Jawabnya meminta Andry berjanji. Dengan cepat Andry mengangguk dan mengiyakan permintaan kekasihnya itu.


Andry menghentikan mobil hitam itu tepat didepan rumah neneknya Fani. Rumah yang tampak sunyi karena semua penghuni pergi kekampung sebelah. Sementara Joo entah pergi kemana. Andry dan Fani segera masuk kedalam rumah dan langsung menuju dapur. Mengambil minuman dingin didalam kulkas dan segera meneguknya.


“ Aaahhhh nikmat sekali.” Fani meneguk habis minuman yang ada digelasnya.


“ Loh aku kok gak dikasih minum sih?.” Katanya protes melihat Fani yang meminum segelas air es.


“ Oh iya aku lupa hehehe.” Menuangkan air kedalam gelas dan memberikannya kepada Andry yang duduk dikursi.


“ Hem.” Andry hanya mendengus kesal. “ Terimakasih sayang.” Sambungnya lagi setelah meneguk air yang diberikan oleh Fani.


“ Aku mau balik nih. Tapi gimana cara pamitnya.” Gumamnya sambil berfikir.

__ADS_1


“ Yaudah aku telepon ibu aja ya.” Fani meraih ponsel yang ada ditas nya, mencari kontak ibu dan mulai menelepon. Beberapa kali Fani menelepon tapi ibu tidak menjawab.


“ Gak diangkat ibu ni. Kamu pulang aja nanti aku bilangin ibu dan yang lainnya.” Fani memberi solusi. Andry hanya mengangguk dan beranjak dari tempat duduknya.


“ Aku balik dulu ya, bilang sama ayah ibu dan yang lainnya.” Ucap Andry sambil berjalan menuju mobilnya.


Fani mengantarkan Andry hingga di teras rumah. Berulang kali menahan sedih ketika harus ditinggal oleh Andry. Matanya tampak berkaca-kaca melepas kepergian kekasih hatinya itu. Hem maklum namanya juga sedang dimabuk cinta.


“ Aku berangkat dulu ya. Kamu hati-hati dirumah.” Andry menarik Fani kedalam pelukannya. Membelai rambut bergelombang terasa basah karena keringat.


“ Jangan lupa sampaikan salam pada yang lain ya. Sampai ketemu dikota.’’ Memeluk lebih erat dan mengecup kening gadis yang dicintainya itu.


“ Hati-hati ya.” Hanya kata-kata itu yang keluar dari mulutnya. Matanya berkaca-kaca namun kepalanya tetap bersandar nyaman didada sang pangeran.


“ Jangan lupa kabari kalau udah sampai ya.” Fani memeluk Andry dengan sangat erat. Tangisnya pecah seolah tidak akan bertemu lagi selama-lamanya.


“ Iya sayang. Aku berangkat dulu ya.” Kembali memberi sebuah kecupan dikening Fani.


Andry menyalakan mesin dan melajukan mobilnya. Meninggalkan Fani yang sedih dan berkaca-kaca. Dengan berat hati menekan gas melajukan mobilnya, tampak Fani melambaikan tangannya. Semakin cepat hingga Fani tak lagi terlihat. Ingin rasanya tinggal disini lebih lama, namun dia sudah berjanji akan menemani ayah keluar kota. Andry mengendarai dengan pikiran yang menjalar antara cinta dan orang tua. Semakin menekan gas menambah kecepatan mobilnya, membelah jalanan perkampungan yang sunyi dan lengang.


****

__ADS_1


Fani masih diam terpaku menatap kepergian lelaki yang dicintainya itu. Meski mereka baru menjalin kasih, namun rasa rindu kian menggebu-gebu. Pandangannya kosong dengan mata yang masih berkaca-kaca. Dari kejauhan tampak mobil berwarna putih milik keluarganya berhenti didepan rumah. Ayah, ibu dan yang lainnya tampak keluar dari mobil itu. Berjalan mendekat dan menghampiri Fani.


“ Fan, mana Andry?.” Tanya ibu mendekat sambil mengedarkan pandangan mencari sosok Andry.


“ Barusan aja berangkat bu.” Jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan.


“ Yah, ibu buru-buru pulang malah Andry nya udah berangkat duluan.” Ujar ibu terdengar kecewa.


“ Tadi aku udah telepon berkali-kali tapi ibu gak angkat.” Sahutnya lagi.


“ Yaudah besok saja ibu bawakan oleh-oleh waktu kita balik ke kota.” Ucapnya sambil berlalu pergi. Meninggalkan Fani yang masih belum merelakan kepergian Andry.


“ Melamun aja. Nanti kesambet baru tau rasa.” Ayah memukul pundak Fani yang tengah melamun menatap jalanan itu. Fani terperanjak kaget saat ayah mendorong pelan bahunya.


Fani menghentikan lamunannya dan berjalan menuju kamar. Merebahkan tubuhnya diatas ranjang berukuran sedang dan menatap langit-langit kamar. Pikirannya masih tertuju pada kata pulang dan kembali ke kota. Fani


beranjak dan mengambil setangkai bunga mawar dan sekotak coklat yang dia letakkan diatas meja rias, kemudian kembali merebahkan tubuh diatas kasur yang cukup empuk. Berulang kali mencium aroma bunga yang ada ditangannya itu. Meraih ponsel dan menatap foto-foto keseruan mereka tadi siang. Tersenyum dan sesekali tergelak tawa saat mendapati foto lucu dirinya dan Andry. Tak lupa Fani juga mengumpulkan foto-foto mereka dalam satu album dan berniat akan mencetak semuanya besok setelah kembali ke kota. Fani memilih beberapa foto dan


membagikannya di momen sosmed. Membuat beberapa kata romantis sebagai ucapan terimakasih telah begitu mencintainya.


Teruntuk pria yang menjadi alasan dibalik tawa. Terimakasih untuk setangkai bunga yang indah, terlebih untuk cinta yang meluah. Dari aku yang merasa sangat dicintai.

__ADS_1


“ Ternyata kau adalah nikmat yang tiada tara. Meskipun kau datang seperti bala, namun akhirnya kau membuatku cinta setengah gila.” Gumamnya sambil tersenyum melihat foto Andry yang diambilnya secara diam-diam saat dimobil tadi.


“ Semoga kau tak membuatku menganggapmu sebagai bala lagi dikemudian hari.” Gumamnya lagi sampai mencium layar ponselnya yang terpampang foto Andry. Kemudian memejamkan matanya dan memilih tertidur untuk melupakan rasa sedihnya ditinggal sang kekasih. Tenggelam dalam mimpinya siang itu, membawa semua kebahagian-kebahagiannya bersama Andry tadi. Tertidur pulas hingga sore hari, siap menemui senja dan rindu yang mulai mencabik-cabik hati.


__ADS_2