
Suhu atmosfer diruangan itu seketika berubah, menjadi panas dingin tidak menentu. Fani hanya diam menunduk sembari menatap kedua tangannya yang saling menggenggam. Bergitupun dengan Endrico yang hanya terdiam menggenggam kedua tangan dan menatap lantai kamar Fani yang berkilau cemerlang. Mendadak dia menjadi ciut ketika dihadapkan dengan Fani, padahal biasanya dia paling bisa bergaya cool dan berwibawa didepan wanita. Hari ini dia tampak seperti bukan dirinya yang biasa, seperti bukan Endrico. Hanya bisa menggenggam tangan dan menggoyang-goyangkan kakinya, tidak berani memulai pembicaraan.
Hei Endrico ! Kenapa kau mendadak menjadi pengecut hari ini? Apa yang terjadi? Bukankah biasanya kau yang paling bisa membuat wanita-wanita jatuh hati?
Sesekali Fani dan Endrico beradu pandang, lalu kemudian tersentak dan saling membuang pandang. Merasa sangat canggung dengan situasi ini, hanya berdua didalam ruangan berukuran sedang 4x4 meter persegi. Nafas Fani seolah memburu kencang, membayangkan jika tiba-tiba Andry menelepon dan mengetahui jika ada laki-laki lain bersamanya, terlebih lagi berdua didalam kamar. Wajahnya bukan hanya pucat karena demam tapi juga pucat karena membayangkan harimaunya mengamuk ketika mengetahui keadaan.
Ah matilah aku dicabik-cabik harimau garang. Semoga saja hatimu tidak mendadak curiga dan meneleponku seketika. Kalau tidak habislah aku menjadi daging-daging yang berserakan.
Endrico mencoba memutar otak, memikirkan apa yang harus dia katakan agar mereka tidak lagi saling diam dan terjebak dalam kecanggungan. Mencoba memikirkan apa yang harus dibicarakan, tidak kaku dan tidak membosankan.
Aku harus mencari topik pembicaraan yang menarik dan tidak membosankan. Ah kenapa aku mendadak keringat dingin sih, hei ini aku si lelaki gantle kenapa aku mendadak jadi pecundang sih. Tolong jangan buat aku malu dihadapan gadis yang aku sukai ini.
“ Sejak kapan kamu sakit Fan?.” Tiba-tiba Endrico bersuara, memecahkan keheningan antara mereka berdua didalam ruangan yang atmosfernya yang berubah-ubah.
“ Gak tau kak. Yang jelas tadi pagi tiba-tiba badan udah panas aja.” Ucapnya lirih, tidak mengalihkan pandangan dari tangan-tangannya yang saling menggenggam.
“ Oh iya udah lama ya gak ketemu, sekalinya ketemu pas dapat kabar kamu sakit.” Sambungnya mencoba mencairkan suasana.
“ Heheheh iya kak Endi, disekolah juga udah jarang ketemu ya.” Jawabnya tersenyum paksa. Memberanikan diri menatap wajah lelaki yang duduk disamping ranjangnya.
Hei, kenapa kau berkeringat dingin seperti orang yang ketakutan? Apa yang terjadi denganmu? Apa kamarku panas? Atau kau sedang menahan ingin buang air besar? Hei katkan saja jika memang iya.
“ Kenapa lelaki ini berkeringat sih? Kamarku kan tidak panas bahkan sejak Irma datang aku sudah menghidupkan pendingin ruangan.” Batinnya sembari mengedarkan pandangan melliat dan memastikan pendingin ruangannya menyala.
“ Aaa..aaku punya sesuatu untuk kamu.” Ucapnya terbata-bata dan gemetar. Tangannya menyodorkan sebuah kantong plastic berukuran sedang. Fani hanya menatapnya dengan penuh heran, dahinya mengkerut dan mencoba menerka apa yang terjadi dengan lelaki itu.
“ Maaf aaku Cuma bisa bawa ini.” Sambungnya sambil menunduduk cemen. Tidak berani menatap gadis yang ada dihadapannya.
__ADS_1
Hei kenapa sekarang kau gugup? Atau kau memang lagi gugup? Wah bukannya kau yang aku dengar dari mulut-mulut orang selama ini adalah lelaki gantle dan berwibawa? Hei hei kenapa kau mendadak menjadi ciut begini?
“ Iya kak Endi, kenapa sih repot-repot bawa ginian.” Ucapnya tersenyum tipis. Meraih kantong plastik yang diberikan oleh Endrico.
Fani meletakkan plastik pemberian Endrico diatas meja, kemudian tangannya pelan meraih sekantong cemilan yang dibawa oleh Irma tadi, menyodorkan kepada Endrico dan memintanya untuk mengambil beberapa. Mereka berbincang-bincang tentang kehidupan Fani yang sebelumnya, mulai dari dimana dia tinggal hingga seluk beluk keluarga.
Uhukk… Uhukk.. Tiba-tiba Fani terbatuk mendengar pertanyaan Endrico tentang berapa mantan yang dia punya.
“ Eh kamu kenapa Fan. Ini minum dulu.” Ucapnya sembari menyodorkan sebuah gelas berisi air minum yang dia dapat dari atas meja. Fani meraih gelas itu, tanpa sadar tangan mereka bersentuhan dan saling beradu pandang, saling menatap dan kemudian kembali membuang muka.
“ Eeh,,” Ucap Fani merasa malu dan meneguk air yang ada didalam gelas dengan cepat.
“ Minum yang banyak.” Lanjutnya Endrico tak kalah malu, melihat Fani dengan tatapan canggung.
“ Makasih ya kak.” Ucap Fani gugup setelah merasa batuknya hilang. Matanya mendadak berubah menjadi merah karena batuk.
Hei pulang lah. Apa kau tau kalau kau adalah manusia yang dicemburui oleh kekasihku Andry? Pulanglah, atau kau ingin aku tidak dihubungi bertahun-tahun kedepan? Tolong pulang lah hei Endrico, apa lagi yang membuatmu bertahan disini.
Endrico menatap lama Fani yang bermasam muka, tampak seperti tidak menginginkan kehadiran dirinya. Seolah sadar diri dan keadaan, Endrico memilih untuk pamit pulang. Menatap jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya. Sudah hampir jam 7 malam, pantas saja sang gadis yang ada dihadapannya ini tidak senang dan tampak ingin sekali menyuruhnya untuk pulang.
“ Eh udah mau gelap ni, aku pulang dulu ya Fan.” Ucapnya mengagetkan Fani yang tenggelam dalam lamunan.
“ Eh iya kak.” Tersentak dan segera menatap Endrico yang sudah berdiri dan akan beranjak.
“ Cepat sembuh ya, banyak-banyak istirahat biar segera masuk sekolah.” Lanjutnya sembari tersenyum dan mendekat dengan Fani. Tiba-tiba tangannya mengelus-elus kepala Fani yang sudah kusut masai sejak tadi. Padahal tadi dia sangat canggung dan tampak ketakutan, tiba-tiba berani mendekat dan malah mengelus kepala Fani. Sudah seperti kekasihnya saja.
“ Eeh iya kak, makasih ya udah datang.” Ucap Fani terbata-bata, kaget dengan apa yang dilakukan oleh Endrico kepadanya barusan. Wajah pucatnya mendadak menjadi merah merona karena malu dan canggung dengan keadaan.
__ADS_1
Heh berani-beraninya kau menyentuh kepalaku. Ini adalah wilayah milik Andry kekasihku. Ah kau benar-benar ingin aku mati konyol dicabik-cabik harimau gila itu ya.
“ Aku pulang dulu ya.” Ucapnya melambaikan tangan dan melangkah keluar dari kamar.
Fani dengan sisa-sisa tenaga yang ada mencoba berdiri dan mengantarkan Endrico hingga kepintu depan. Berjalan pelan dan tertatih sambil memegang dinding untuk penopang.
“ Hei diam lah, beristirahat saja. Kenapa berkeliaran sih.” Ucap Endrico ketika mengetahui bahwa Fani mengikuti langkahnya. Fani tidak menghiraukan, tetap melangkah pelan mendekati Endrico yang sudah jauh didepannya. Akhirnya Endrico berbalik dan membantu Fani dengan memegang kedua pundak Fani.
Eh ini apa lagi? Kenapa kau menyentuhku lebih gila lagi. Iya iya aku lebih baik tiduran saja, kau pulang lah sendiri.
“ Lah mau kemana nak En?.” Sahut ibu dari dapur saat melihat Endrico dan Fani keluar dari kamar.
“ Eh tante permisi pulang dulu ya udah gelap soalnya.” Ucapnya berbalik dan mendekati ibu Fani yang tengah sibuk didapur.
“ Loh kenapa cepat pulangnya? Makan malam dulu baru pulang.” Lanjutnya menawarkan.
Fani menatap ibunya degan sinis, seolah marah kepada sang ibu yang menawarkan Endrico untuk makan malam, itu sama saja menahannya untuk lebih lama dirumah ini. Padahal dia sudah sejak tadi mengharapkan kepergian Endrico dari rumahnya.
Ibu kenapa sih demen banget ngajakin orang makan dirumah. Udah kayak rumah makan ajadeh.
“ Eh gak usah tante, mama papa pasti udah nunggu juga dirumah. Aku pulang aja ya tante.” Menolak dengan mengatakan jika orang tuanya sudah meminta untuk pulang lebih awal.
Hei tante lihatlah tatapan ketidaksukaan anakmu. Sebaiknya aku pulang saja, daripada aku harus makan malam berlaukkan tatapan ketidaksenangan. Aku maklum saja karena dia sedang tidak sehat, mungkin aku mengganggu istirahatnya. Tapi nanti lain kali aku kesini ketika suasana hati anakmu sedang baik.
“ Tapi janji ya lain kali kamu harus kesini lebih lama dan makan bareng kita ya.” Pintanya sebagai penawaran baru.
“ Heheheh siap tante, nanti kalau ada waktu aku main kesini lagi.” Ucapnya mengiyakan agar semua cepat selesai dan segera bisa pulang.
__ADS_1
Endrico berpamitan dengan ibu dan beralih kepada ayah Fani yang tampak sedang bersantai diruang keluarga bersama anggota lainnya. Kemudian dengan penuh semangat Fani mengantarkan Endrico hingga keteras luar. Tersenyum tipis dan melambaikan tangan mengiringi kepergian Endrico hingga tak tampak lagi.