
Cukup lama Andry terdiam menatap gadis yang membelakanginya itu, suara riuh manusia-manusia yang ada disana ditambah dengan suara live music menambah keraguannya. Takut jika nanti saat dia menemui dan menggoda wanita tersebut, tiba-tiba music berhenti dan suara-suara manusia-manusia tidak lagi bising. Takut jika nanti dirinya menjadi sorotan dan akan menjadi buah bibir semua orang-orang yang ada disana.
“ Sana cepetan dong An, ah semen deh lo.” Ujar teman-temannya memaksa Andry untuk segera datang dan menggoda gadis pilihan mereka tersebut.
“ Iya iya.” Ucapnya terpaksa, beranjak dan mencoba mengumpulkan kembali keberaniannya. Andry ternyata tidak
sepemberani yang diucapkannya dalam hati, masih ada rasa takut dan pecundang dalam dirinya. Melihat Andry yang hanya diam berdiri, teman-temannya mendorong Andry agar segera beranjak dan pergi mendekati gadis itu.
“ Sana, cepetan sana ah cemen banget sih lo.” Terus mendorong hingga Andry tidak sanggup lagi menumpu badan dan terpaksa terus berjalan mendekati sekumpulan gadis tersebut.
Andry melangkah pelan sambil memikirkan apa yang harus dia katakan nanti saat dia sudah mendekati kumpulan
gadis itu. Tidak mungkin kan dia langsung mengatakan jika dia ingin mengajak gadis yang mengenakan baju berwarna merah maroon itu kencan besok malam. Ah tidak mungkin sekali, setidaknya harus ada basa basi. Andry ingin berbalik lagi kemejanya, namun seketika dia mengurungkan niat saat melihat teman-teman yang menatapnya dengan tajam dan memaksanya untuk terus berjalan mendekati meja gadis itu. Andry hanya bisa menggenggam kedua tangannya, bagaimana bisa dia menggoda seorang gadis. Pasalnya selama ini dia tidak pernah menggoda wanita selain dari Fani kekasihnya.
Ya tuhan apa yang harus aku katakan, harus menggoda bagaimana? Satu-satunya wanita dimuka bumi ini yang pernah aku goda adalah Fani. Aku tidak bisa menggoda wanita lain, ah berdosalah aku karena mengkhianatinya. Meskipun ini hanya sebuah permainan, tapi kencannya pasti real. Ah aku menyesal memilih tantangan, lebih baik 10 rahasia ku terbongkar dari pada harus menyelesaikan tantangan ini.
“ Hai.” Ucap Andry mencoba santai. Melambaikan tangannya pelan dan tersenyum kepada tiga gadis yang ada dimeja itu. Pandangannya tertuju pada wanita sasarannya. Ternyata berparas cantik dan perawakannya pun hampir mirip dengan kekasihnya Fani.
Gila ini cewe sekilas mirip Fani. Pinter banget tu anak-anak ya nyari target. Makin merasa bersalah dong gue nanti sepanjang kencan. Tiap ngeliat ni cewek langsung ingat Fani. Sialan !
“ Hai.” Sahut gadis itu serentak. Melambaikan tangan dan tersenyum kepada lelaki yang ada dihadapan mereka.
__ADS_1
“ Boleh gabung gak.” Ucapnya sambil memutar bola mata menatap kursi yang kosong diantara mereka.
“ Eh iya boleh kok.” Sahut salah satu dari mereka. Mempersilahkan Andry untuk duduk bergabung bersama mereka.
“ Kenalan dulu ya. Hai gue Andry.” Ucapnya memperkenalkan diri. Sambil menyodorkan tangan setelah menyebutkan namanya.
“ Hai gue Nissa.” Sahut gadis yang ada disebelah kanananya. Menyambut tangan dan saling bersalaman.
“ Hai gue Milla.” Kali ini giliran gadis yang duduk disebelahn kirinya, tersenyum dan saling memperkenalkan diri.
“ Gue Alea, salam kenal.” Ucap gadis yang ada didepannya. Gadis yang mengenakan baju berwarna merah maroon dan gadis yang merupakan target utamannya.
Andry tersenyum dan mencoba mengajak mereka berbicara. Mengenal lebih jauh gadis-gadis yang ada didekatnya. Mencoba menjadi manusia yang asyik, padahal sama sekali bukan karakter dirinya. Andry mengikuti kemana arah pembicaraan gadis-gadis yang ada dihadapannya itu, padahal dalam kepalanya sembrawut memikirkan bagaimana caranya mengajak Alea berkencan. Apa yang harus dia katakana dan apa yang harus dia lakukan. Akhirnya Andry memberanikan diri untuk mengatakan yang sesungguhnya, tidak peduli apakah Alea mau berkencan dengannya atau tidak. Daripada dia tetap berdiam diri berlama-lama dengan gadis-gadis itu.
“ Maksudnya?.” Ucap Milla yang menatap penuh kebingungan. Pasalnya mereka sedang membicarakan masalah sekolah, namun tiba-tiba Andry mengatakan sesuatu diluar konsep mereka.
“ Sebenarnya gue datang dari meja sana.” Ucapnya sambil menunjuk meja sudut dimana teman-temannya berkumpul, meja yang dia tempati sebelumnya.
“ Nah, tadi gue dan teman-teman gue yang lain main Truth or Dare.” Lanjutnya menjelaskan perlahan-lahan meskipun dia tau gadis-gadis itu tengah kebingungan.
“ Terus gue pilih Dare. Dan tantangan yang gue dapat adalah ‘ Ajak kencan salah satu gadis yang ada didekatmu’.” Sambungnya terus menjelaskan maksud kehadirannya ditengah-tengah gadis itu.
__ADS_1
“ Jadi temen-temen gue mutusin kalau gue harus ajak kencan salah satu dari kalian. Dan gadis yang dipilih teman-teman gue adalah Alea.” Lanjutnya sambil matanya memandang Alea yang ada dihadapannya. Takut jika tiba-tiba Alea marah dan merasa tidak senang dengan apa yang diucapkan olehnya.
“ Maaf ni, gue juga kalau bisa milih gue gak mau tantangan ini. Tapi gue gak bisa nolak. Mereka juga minta gue godain lo, tapi gue gak punya ilmu buat godain cewek. Jadi gue mutusin buat terus terang sama tujuan gue biar gak ada yang merasa dibohongi disini.” Ucapnya sangat jujur. Padahal ini adalah jalan ninja yang dia pakai agar tidak bersusah payah merangkai kata-kata untuk menggoda.
“ Kenapa harus gue? Kan masih banyak cewek-cewek lain disini.” Tiba-tiba Alea menanyakan sebuah alasan kenapa dia yang terpilih dari sekian banyak gadis dicafe itu.
“ Ntah lah, gue juga gak tau. Yang jelas gue terima tantangan ini, tapi mereka yang tentuin siapa ceweknya. Dan yang mereka pilih itu lo, mau gak mau gue harus datang dan minta lo untuk kencan bareng gue.” Jawabnya tidak bisa memberikan alasan. Berterus terang lebih baik daripada harus membuat kepalanya sakit memikirkan kosa kata rayuan dan gombalan.
“ Lo mau gak kencan bareng gue besok malam?.” Sambungnya menanyakan langsung pada inti dan tujuan awal yang membawanya hingga kesini.
“ Udah deh terima aja tawarannya. Lagian kan dia juga udah jujur Le, gak ada yang ditutup-tutupi dari tawaran kencan ini.” Sahut Nissa meminta Alea menyetujui tawaran Andry. Merasa jika tidak ada salahnya membantu Andry menyelesaikan tantangannya.
“ Hem iyadeh gue mau. Tapi gue terima tawaran lo Cuma untuk menyelesaikan tantangan lo.” Ucap Alea menyetujui. Seketika wajah Andry tersenyum senang karena berhasil mengajak gadis itu kencan besok malam.
“ Thank ya Alea. Oh iya gue boleh minta kontak lo gak? Biar gue gampang ngehubungi lo besoknya.” Lanjutnya menyodorkan telepon. Meminta Alea menuliskan nomor telepon diponselnya.
“ Oke.” Alea meraih ponsel Andry dan kemudian menuliskan nomor teleponnya.
“ Sekali lagi thanks ya.” Ucap Andry sembari mengambil kembali ponselnya. Kemudian melambaikan tangan dan berlalu pergi meninggalkan ketiga gadis-gadis itu.
“ Ganteng juga ya tu cowok.” Sahut Milla ketika Andry sudah pergi meninggalkan mereka.
__ADS_1
“ Iya, rugi banget kalau lo gak terima tawarannya Le.” Sahut Nissa mengiyakan apa yang dikatakan oleh sahabatnya Milla. Sementara Alea tidak menjawab apapun, hanya tersenyum menatap Andry yang berjalan melangkah membelakangi dirinya.
Ya mana mungkin aku menolak pria tampan sepertimu. Sayangnya kau terlalu jujur, padahal aku juga mengharapkan rayuan dan gombalan dari mulutmu. Rugilah jika aku menolak, hehehe sampai jumpa besok malam.