
Suasana mencekam antara Andry dan Fani. Atmosfer disekeliling mereka seolah berubah dan terasa panas dingin. Andry menatap Fani penuh kemarahan, wajahnya memerah dan giginya menggeram menahan kesal. Sedangkan Fani hanya diam menunduk ketakutan, wajahnya pucat dan dipenuhi keringat. Fani benar-benar ketakutan, matanya berkaca-kaca dan ingin menangis. Pria yang ada dihadapannya ini seolah ingin menerkamnya hingga mati. Beruntungnya bel berbunyi dan Fani segera pamit untuk kembali ke kelasnya. Namun Andry segera menghentikan langkahnya, menarik dan menggenggam kuat tangan Fani.
“ Aw sakit.” Fani meringis dan menghentikan langkahnya.
“ Aku tunggu kamu diparkiran, kamu masih punya hutang penjelasan.” Gumamnya menggeram kemudian menghempaskan tangan Fani kuat hingga sang empunya kembali meringis. Andry berlalu pergi meninggalkan Fani yang tak dapat lagi membendung tangis. Akhirnya pecah dan berurai air mata.
Berhubung hari ini adalah hari pertama masuk sekolah, mereka hanya masuk setengah hari saja. Mungkin sebentar kali semua siswa akan dipulangkan. Fani berjalan pelan menuju kelas, sesekali menyeka air matanya yang sudah tak dapat dibendungnya lagi. Ingin menangis tersedu-sedu menyesali semuanya. Padahal dia benar-benar mencintai Andry saat ini. Meskipun awalnya hanya sebatas taruhan.
Ya tuhan kenapa harus serumit ini. Padahal aku benar-benar mencintainya saat ini. Haruskah aku menjauh dan mengalah dari keadaan yang rumit ini. Apakah bahagia ku hanya sampai disini?
Fani berjalan gontai dan duduk dikursinya. Menatap kosong dan lemah tak berdaya. Pernyataan Sophia tadi benar-benar membombardir isi hatinya, merasa bersalah dan menyesali perbuatannya. Pikirannya luntang lantung saat harus membayangkan hubungannya yang telah hancur.
Apa kau benar-benar akan meninggalkan ku Andry? Padahal aku sangat mencintai.
__ADS_1
Sementara dari sudut sana Sophia tampak tertawa senang menatap Fani yang murung dan sedih. Hatinya merasa sangat puas setelah berhasil membalaskan dendamnya kepada wanita yang disebutnya pengkhianat itu. Sophia meraih ponsel dan memotret wajah Fani yang murung sedih. Ingin dilihatnya terus-terusan agar sakit hatinya perlahan memudar.
“ Jangan kira kau akan bahagia diatas penderitaan ku hei pengkhianat.” Gumam Sophia sambil terus memotret wajah suram Fani.
“ Kau akan merasakan sakit lebih dari yang aku rasakan. Belum lagi kau harus menghadapi tatapan kebencian dari Andry setiap hari.” Sambungnya bergumam dalam hati. Setelah puas memotret wajah Fani yang murung dan dipenuhi beban pikiran, Sophia mengambil tas dan beranjak menuju parkiran karena siswa sudah dipulangkan. Hatinya tak henti-henti menertawakan Fani yang menjemput karmanya hari ini.
Andry berjalan dengan penuh rasa kesal, tak menyangka jika dirinya juga dipermainkan oleh wanita yang sama dengan teman-temannya. Menyesal jika dia mengurungkan niatnya kemarin, hingga sekarang dia pun terhitung
menjadi korban Fani. Entah karma yang didapatnya atau apalah penyebutannya. Awalnya dia yang berniat ingin membuat Fani jatuh cinta dan meninggalkan Fani saat lagi sayang-sayangnya. Lalu kenapa jadi berbalik begini? Malah dia yang terjebak dalam permainannya sendiri. Dia mengetahui sebuah kebenaran saat lagi sayang-sayangnya.
“ Harusnya dia yang jadi korban. Lalu kenapa aku yang terhitung dalam korbannya sekarang. Dasar kau gadis sialan! “ Gumamnya tetap terus memukul dinding hingga puas.
“ Tapi aku mencintaimu Fani. Kenapa kau melakukan ini.” Sambungnya lirih. Matanya berkaca-kaca menahan sedih. Cintanya yang baru saja tumbuh harus dipijak hingga mati.
__ADS_1
“ Aku mencintaimu. Kenapa kau lakukan ini.” Terus menggumam lirih sambil memukul dinding pelan.
“ kau harus jelaskan semuanya padaku Fani.” Ucapnya beranjak dan pergi. Menuju kelas dan mengambil tas. Kemudian bergegas menuju parkiran dan menunggu Fani dimobilnya. Masih menunggu kejelasan dari Fani yang sama sekali belum berbicara, menyanggah atau mengiyakan apa yang dikatakan Sophia tadi. Tangannya terus mengepal kesal, mencari sosok Fani yang masih belum terlihat dari tadi.
Fani yang cukup lama termenung pun dikagetkan oleh seorang petugas kebersihan yang melewati kelasnya. Memanggil Fani yang tampak melamun, kemudian mengatakan jika semua siswa sudah dibolehkan pulang. Fani tersadar dan mengedarkan pandangannya kesekeliling, menatap ruang kelas yang kosong tanpa penghuni lain selain dirinya. Fani bergegas beranjak dan meraih tas nya, berjalan meinggalkan kelas menuju parkiran. Meskipun Andry marah besar, dia harus tetap menjelaskan semuanya kepada Andry. Mengakui semua kesalahan yang
diperbuatnya. Mau tidak mau dia harus menerima konsekuensi dari semua perbuatannya. Fani berjalan menuju mobil Andry yang tampak sudah menyala, masuk dan terduduk diam tanpa kata. Fani hanya melirik sekilas lelaki yang ada disebelahnya, tampak sangat marah dan wajahnya memerah. Tanpa berbicara, Andry melajukan mobilnya menjauhi sekolah. Fani hanya diam menghadapi kemarahan lelaki yang dicintainya itu.
Aku sangat takut saat kau marah begini. Tolong jangan buat aku mati ketakutan, aku masih ingin hidup meski kau membenciku.
Andry semakin kuat menekan gas dan menambah kecepatan mobilnya. Wajahnya masih sama, ditekuk kesal dan memerah. Pandangannya hanya fokus menatap jalanan, sama sekali enggan melirik manusia yang ada disebelahnya. Andry belum pernah semarah dan sekecewa ini, namun Fani benar-benar menghancurkan hatinya. Padahal dia sangat tulus mencintai Fani, meskipun niat awalnya memang tidak baik.
Memang niatku kurang baik, namun aku serius mencintaimu. Kenapa kau malah menghancurkan hatiku. Aku tak pernah sekecewa ini, aku ingin mencaci maki tapi aku enggan menyakiti kau Fani. Kau wanita yang pertama kali aku cintai, cinta pertama.Aku sangat mencintaimu Fani, sangat.
__ADS_1
Fani masih saja ketakutan, tangan kecil itu mencekam ujung baju putih abu-abunya. Belum pernah dia melihat Andry sekesal ini. Andry yang dilihatnya saat ini berbanding terbalik dengan Andry yang tadi pagi dan kemarin-kemarin. Bahkan ini lebih menyeramkan dari rumor-rumor yang beredar. Fani memilih diam dan menatap jalanan yang makin lengang, menyadari jika entah kemana Andry membawanya pergi, semakin menjauhi perkotaan. Ingin bertanya namun takut Andry marah besar, akhirnya dia hanya diam dan berpasrah diri.
“ Turun.” Ketus Andry saat mobilnya berhenti diperbukitan yang dipenuhi pepohonan. Tak ada orang disana kecuali mereka berdua. Fani yang takut hanya mengikuti apa yang diperintahkan Andry , turun dan duduk dibangku panjang bawah pepohonan rindang. Udara panas yang tadi menyelimuti mereka berdua sudah berangsur dingin seiring kencangnya terpaan angin. Saking diam tak bergeming ditempat masing-masing.